Teladan dari Abu Hanifah

Lelaki kurus itu hidup di Kota Kufah, akhir abad ke-7. Tak banyak yang tahu kalau dia yang kali pertama menemukan cara membuat ubin lantai di masa itu. Sebagai saudagar, ia dikenal praktis, meski tidak terperangkap jadi pragmatis. Sepenjuru kota tahu, dialah yang mengogahi kompromi, sekalipun untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya. Tak banyak cakap, namun dikenal bijak beragumentasi --pandai menjaga perasaan mitra diskusi. Dan ia, juga seorang ulama ternama. Dialah Abu Hanifah, dikenal sebagai Imam Hanafi, salah satu pendiri mazhab fiqh Islam.

Adakah ia seorang cerdas? Lebih dari itu, boleh jadi ia orang yang paling berhati-hati menjaga diri dari syubhat, apalagi yang haram. Ia keras terhadap diri sendiri. Suatu hari, telah tiba beberapa ekor domba hasil rampasan yang tercampur dengan ternak milik penduduk Kufah. Berita lekas menyebar dan sampai ke telinga Abu Hanifah. Sontak ia mencari tahu, "Berapa tahun biasanya umur seekor domba?" Seorang penggembala menjawab, "Tujuh tahun!" Lantaran itu, selama tujuh tahun ia mengharamkan daging domba masuk ke lambungnya.

Suatu kali, 10.000 dirham dikirimkan Khalifah Ja'far al Manshur sebagai hadiah. Lelaki itu hanya berucap pendek, "Taruh saja di sudut rumah." Hingga kematiannya, ia tak pernah sentuh. Sepeninggalnya, ternyata ia mewasiatkan puteranya untuk mengembalikan uang itu pada Baitul Maal.

Puncak penolakan Abu Hanifah akhirnya tak terelakkan saat sang khalifah menunjuknya sebagai hakim agung (qadhi al qudha). Ia menolak, karena kekuasaan yang telanjur dianggapnya terlalu banyak distorsi yang kelewatan. Khalifah yang tak terima alasan itu mengirim Abu Hanifah ke bui. Di sana ia dipukul dan dicambuk. Punggungnya menebal beberapa senti, kapalan ternyata, akibat cemeti yang menyabetnya nyaris setiap hari.

Masih di dalam penjara, Khalifah Ja'far menjenguknya. Ia masih membujuk Abu Hanifah untuk menerima tawaran sebagai hakim agung --sekaligus menghadiahi uang dalam jumlah yang lebih besar, 30.000 dirham. Abu Hanifah singkat bertutur, "Apakah kekhalifahan masih memiliki uang yang halal?" Wajah Ja'far al Manshur memucat. Malu, juga marah. Hingga kematiannya, Abu Hanifah tetap hidup dalam penjara, bersama siksa yang tak kunjung reda. Lehernya, sejak itu, dikalungi rantai seorang pesakitan.

Adakah Abu Hanifah keras kepala? Atau, hatinya memang sekeras batu? Tentu tidak. Semua orang tahu, ia keras terhadap diri sendiri, namun ringan memberi fatwa bagi para pengikutnya. Ia lembut bersuara, sekaligus merangsang lawan bicara untuk membantahnya, "Demikianlah pendapat kami (Abu Hanifah), dan ini yang sebaik-baiknya sepanjang pengetahuan kami. Bila datang keterangan yang lebih baik, dialah yang lebih utama diikuti."

Maka, terkenanglah kini seorang ulama yang meneguhkan kemerdekaan berpikir, sebuah kemerdekaan yang mampu mengatasi dua pertarungan besar. Pertama, kemerdekaan yang mampu membebaskan diri dari rasa takut, bersikap tegas atas rayuan, ataupun ancaman kekuasaan. Kedua, kemerdekaan yang membebaskan diri dari sikap "tahu segala hal" dan merasa “paling benar sendiri”. Seolah meneguhkan, berbilang abad kemudian Ar-Rumi pun bertanya, "Tak tahukah engkau, ada banyak jalan menuju Ka'bah?"

Cinta Ibunda



Apa yang menarik dari kisah Harry Potter? Bagi saya, novel anak-anak tersebut telah menyelipkan sebuah adegan menarik sekaligus mengharukan:
Kekuatan cinta seorang ibu. Voldemort --penyihir hitam paling ditakuti--tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatannya ketika ingin membunuh seorang bayi, setelah sebelumnya berhasil menghabisi orang tua bayi itu. Dunia Mistik menjadi gempar atas kekalahan penyihir tersebut. Ternyata, sampai detik-detik menjelang kematiannya, sang Bunda masih terus berupaya menyelamatkan Harry Potter yang masih bayi itu. Kekuatan cinta seorang Ibu, meskipun sang ibu telah tiada, telah mampu melindungi sang anak dari bahaya.

Lepas dari kisah Harry Potter, pernahkah kita menghitung berapa liter beras dan berapa jenis makanan yang telah dimasak oleh seorang ibu untuk anaknya, berapa meter lantai telah di-sapu dan di-pel oleh seorang ibu, berapa banyak keheningan malam dilalui sang ibu yang terjaga untuk anaknya, berapa kali kedua tangan sang ibu terangkat ketika berdo'a, dan berapa banyak air mata mengalir ketika sujud mendo'akan kebahagiaan dan keselamatan anaknya. Sang Ibu telah bertahun-tahun menjelma menjadi perawat untuk penyakit batuk, demam, flu, cacar, ataupun sekedar luka di kaki akibat terjatuh.

Ketika seorang sahabat Nabi ber-thawaf mengeliling Ka'bah sambil menggendong ibunya yang sudah sepuh, ia bertanya pada Rasul yang mulia, "Sudahkah terbayar lunas semua jerih payah ibuku?" Rasul yang mulia menjawab, "Tidak!, bahkan untuk menandingi rasa sakitnya saat melahirkan engkau pun tidak terbayar!"

Dalam bahasa lain, andaikan, sekali lagi, andaikan saja anda mempunyai gunung emas yang kemudian anda berikan semuanya berikut seluruh perbendaharaan harta anda yang lain untuk mengganti semua yang telah dilakukan oleh seorang ibu, niscaya itu semua belum mampu membayar satu malam saja saat-saat ibu mengasuh anda. Tidak pernah ada kata "cukup", "lunas", "terbayar" untuk membalas cinta seorang ibu.

Kita durhaka pada bunda bila bunda tinggal di rumah kecil dan bocor disana-sini, sementara kita tinggal di tempat yang nyaman; kita berdosa bila kita menikmati makan siang yang lezat dan penuh gizi sementara bunda hanya memakan seadanya; kita berdosa bila menghitung biaya sekolah anak dan karena itu menghindar membelikan obat bagi bunda yang tengah sakit; Kita berdosa bila kita dalam perjalanan yang sangat nyaman dalam mobil mewah, sementara bunda naik kendaraan umum yang penuh sesak; kita tergolong anak durhaka bila kita sanggup piknik atau jalan-jalan dengan isteri namun selalu saja punya alasan untuk tidak mengunjungi atau bersilaturahmi ke tempat bunda (atau berziarah ke kuburannya bila bunda telah tiada).
Jangan gunakan logika untuk berkhidmat pada bunda. Balas cintanya dengan cintamu. Kenapa? Karena "Ridha Allah terletak pada ridha orang tua," begitulah ajaran agama kita.

Bagaimana kita bisa membagi cinta kita untuk keluarga, pekerjaan, dan sekaligus untuk ibunda? Jawabannya adalah: kita tidak pernah membagi cinta; tetapi kita selalu melipatgandakannya. Balaslah kekuatan cinta ibunda dengan ketulusan cinta kita; insya Allah --seperti diilustrasikan dalam kisah Harry Potter di atas--cinta sang bunda akan terus melindungi kehidupan kita.

"Ya Rabb, ampuni dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sewaktu kecil"

Kehidupan : Ibarat Semut, Laba-Laba dan Lebah

Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an. An Naml [semut], Al 'Ankabuut [laba-laba], dan An Nahl [lebah].

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Lain lagi uraian Al-Qur'an tentang laba-laba. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh [Al 'Ankabuut; 29:41], ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabisi oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" [An Nahl; 16:68]. Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga. Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'. Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya.

Entah berapa banyak juga tipe 'laba-laba' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berpikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa".

Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan : "Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

Belajar dari Khidhir As

Masih hidupkah Khidhir As? Entahlah, kita mungkin memang pernah mendengar cerita bahwa ada seorang 'alim yang mengaku berjumpa Khidhir. Nama Khidhir memang sudah terlanjur melegenda, meskipun al-Qur'an sendiri tidak pernah menyebut nama Khidhir secara terang-terangan. Al-Qur'an melukiskan Khidhir dengan "...seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS 18:65)

Perhatikan redaksi yang digunakan al-Qur'an. Ternyata, Khidhir atau apapun nama beliau hanyalah satu dari sekian banyak hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu. Boleh jadi banyak sekali hamba Allah yang punya kelebihan seperti Khidhir, tetapi Allah tidak beritakan kepada kita atau kita memang tidak mengetahuinya.

Tapi itulah Khidhir, sebuah nama yang terlanjur melegenda dan menyimpan misteri yang tak kunjung habis dibicarakan.

Dalam surat al-Kahfi diceritakan bagaimana Nabi Musa ingin berguru dengan Khidhir. Khidhir semula menolak, namun Musa terus mendesak. Perhatikan redaksi al-Qur'an ketika mengutip penolakan Khidhir, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS 18:67-68)

Khidhir menolak Musa bukan dengan argumen bahwa Musa itu bodoh atau malas. Khidhir menolak Musa karena Musa tidak akan bisa bersikap sabar. Soalnya, kata Khidhir, bagaimana kamu bisa sabar pada persoalan yang kamu tidak punya ilmu tentangnya?

Begitulah yang terjadi. Musa selalu memprotes dan menyalah-nyalahkan perbuatan Khidhir yang, dipandang dari sudut pengetahuan Musa, merupakan perbuatan yang keliru.

***
Sayang seribu sayang, kita jarang mau belajar dari kisah Khidhir dan Musa ini. Seringkali kita sebar kata "sesat", "kafir", "menyimpang", “sempalan”, "bid'ah" dan lain sebagainya kepada saudara-saudara kita, yang dipandang dari sudut pengetahuan yang kita miliki melakukan kesalahan besar. Kita menjadi emosional, kita menjadi tidak sabar. Pada saat itu, ada baiknya kita ingat kembali kisah Khidhir dan Musa tersebut.

Kisah Khidhir mengajarkan kepada kita bahwa “KESABARAN” merupakan lambang tingginya “PENGETAHUAN”.

Semoga sedikit banyak memberi kemanfaatan pada kita, salam ukhuwah...

Tobatnya Pembunuh 100 Orang

"Dari Abi Said Saad bin Malik bin Sinan Al-Khudri r.a. bahwa Nabiyullah saw bersabda: Dahulu kala, sebelum kamu, ada seorang laki-laki yang membunuh 99 orang. Lalu ia bertanya tentang penghuni bumi yang paling alim. Lalu ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Lalu ia mendatanginya, ia berkata: bahwasanya ia telah membunuh 99 orang, maka apakah ia bisa bertobat? Dia (pendeta) menjawab: tidak! lalu laki-laki itu membunuhnya. Maka sempurnalah (menjadi) 100 orang.

Kemudian ia bertanya tentang penghuni bumi yang paling alim. Lalu dia ditunjukkan kepada seorang laki-laki yang alim. Lalu ia berkata: bawasanya ia telah membunuh 100 jiwa (orang) apakah masih ada baginya tobat? Ia (laki-laki alim) menjawab: ya siapa yang menghalangi antaranya dan antara tobat. Berangkatlah ke negeri ini dan ini, karena di negeri itu banyak yang orang yg menyembah Allah swt, maka sembahlah Allah bersama mereka jangan kembali ke negerimu karena negeri itu negeri jahat.

Lalu ia berangkat. Ketika di tengah perjalanan datanglah malaikat maut. Lalu terjadilah perselisihan (antara) malaikat rahmat dan malaikat azab tentangnya. Malaikat rahmat berkata: Telah datang yang tertobat dengan hatinya menghadap kepada Allah swt. Malaikat azab berkata: Sesungguhnya dia belum membuat kebaikan sedikt pun. Lalu datanglah seorang malaikat kepada mereka dalam bentuk manusia. Ia-kemudian- menajdikan darinya diantara mereka; menjadi penengah. Lalu ia berkata: ukurlah antara dua negeri itu, manakah diantara keduanya yang paling dekat maka ia berhak mendapatkannya. Lalu mereka mengukur maka mereka mendapatinya (laki-laki) lebih dekat kepada negeri yang ia tuju, maka malaikat rahmat mencabutnya (HR Muttafaq Alaih)

Allah ta'ala berfirman:
"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan benar dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu niscaya dia mendapat dosa. Akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amalan saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Furqon 68-70)

Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat atau putus asa dalam bertobat.

Sumber: "Aku Ingin Tobat", penerbit Misykat.

Berhenti berarti kalah!

Pepatah Arab yang artinya, “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu” memang betul adanya. Namun, lantas bagaimana dengan kita yang telah cukup umur? Adakah kata terlambat dalam mengumandangkan sebuah perjuangan?

Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika tersohor dan penemu ilmu aljabar, ternyata baru belajar matematika ketika berusia 24 tahun. Sebelumnya dia adalah pemuda pengangguran yang senang bermain musik. Tapi dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kesia-siaan dan kelalaian. Kemudian dia beralih dan mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih bermanfaat. Usia bukanlah penghalang untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Kelak beliau dikenal sebagai sosok yang menguasai banyak ilmu pengetahuan mulai dari fisika, kimia, astronomi, filsafat, matematika, dan tentu saja pandai memainkan alat musik.

Sebagaimana Al-Khawarizmi, dengan semangat yang kita kobarkan dan usaha yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, insyaallah, semua tidaklah sia-sia. Kita harus bangkit dari keterpurukan dan kemalasan ini. Kita harus raih kemuliaan sebelum ajal datang menjemput.

Mungkin kita bisa mencontoh Imam Bukhari yang biasa bangun dari tidur, lalu menyalahkan lampu dan menuliskan faedah suatu hadits yang terlintas dalam pikirannya, kemudian tidur lagi dan kembali bangun hingga beliau dalam sebagian malam melakukan perbuatan ini sampai 20 kali.

Atau meneladani Imam Abul Wafa bin Aqil al-Hanbali yang berkata, “Tak halal bagiku menyia-nyiakan sejam pun dari umurku. Sampai-sampai bila lidahku sudah tak mampu untuk bertutur kata, dan penglihatanku tak bisa membaca, aku tetap menjalankan daya pikirku meskipun aku berbaring istirahat. Sehingga aku tak akan bangkit kecuali telah terlintas dalam pikiranku apa yang akan kutulis. Pada umur 80 tahun aku amat gemar kepada ilmu, yang tak kualami ketika aku masih berumur 20 tahunan.”

Ataupun mendengarkan cerita dari Syaikh Abdul Adzim tentang Ishak bin Ibrahim al-Muradi, sebagaimana penuturannya, “Aku belum pernah melihat dan mendengar orang yang lebih banyak kesibukannya sepanjang siang hingga larut malam. Aku bertetangga dengan beliau, rumah beliau dibangun setelah 12 tahun rumahku berdiri. Setiap kali aku terjaga di keheningan malam, selalu terbias sinar lentera dari dalam rumahnya, dan beliau sedang sibuk dengan pencarian ilmu; bahkan sewaktu makan beliau selingi pula dengan membaca kitab-kitab.”

So, sebagaimana mereka, jika kita ingin menjadi “orang besar”, maka mau tidak mau kita harus menjadi orang yang tidak terhalang oleh waktu dan peristiwa. Alkisah, menjelang wafat Imam ath-Thabari, Ja’far bin Muhammad memanjatkan doa untuknya. Ath-Thabari kemudian meminta tempat tinta dan selembar kertas dan menulis doa itu. Dia ditanya, “Apa arti semua ini?” Maka dia menjawab, “Sepantasnyalah bagi seorang untuk memungut ilmu hingga menjelang kematiannya.” Beberapa saat kemudian beliau wafat.

Perlu diketahui, bahwa Imam al-Izz Izzuddin Abdussalam meninggal dunia pada usia 83 tahun pada saat beliau sedang berusaha menafsirkan ayat al-Quran, “Allahu nuurus samawati wal ardh” di hadapan murid-muridnya. Achdiat K. Miharja penulis novel Atheis, mampu menulis novel setebal 219 berjudul Manifesto Khalifatullah pada saat berusia 94 tahun!!

Bagi mereka, menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang banyak adalah keutamaan yang besar dan harus mereka jalani hingga maut datang menjemput. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, berkarya dan meraih prestasi. Berhenti berarti kalah! Karena orang yang berhenti sama saja dengan orang yang mati. Wallahu a’lam.

Kisah Nyata dari Amman - Jordan



Sepasang wanita muda sedang bersantai di sebuah bar hotel, dengan pemandangan “Laut Mati” (Dead Sea), sekitar 40 km dari kota Amman. Mereka menikmati “tequilla”, salah satu minuman keras yang paling umum disana ~ sebelum kemudian mereka beranjak pulang.

Ketika dalam perjalanan pulang, keduanya menyaksikan seorang wanita yang tergeletak di tengah jalan, keadaannya sangat mengerikan. Wanita itu sangat dikenal oleh keduanya, seorang PSK yang selalu mabuk dari hasil kerjaannya. Ia tewas ketika menyeberang dalam keadaan mabuk. Tubuhnya yang kurus dengan perut yang buncit itu dihantam sebuah truk hingga terlempar. Tulang kepalanya remuk. Paha kanannya terpisah dari tubuhnya. Perutnya robek serta terlihat kepala bayi kecil tersembul dari perut ibunya yang bermandikan darah dan arak. Pemandangan menyeramkan itu membuat kedua wanita itu jatuh pingsan.

Keesokan harinya kedua wanita itu bertemu di sebuah mall di kota Amman. Akan tetapi yang satu sudah jauh berubah, ia telah mengenakan jilbab. Wajahnya memancarkan cahaya taubat, kelopak matanya membengkak karena banyak menangis. Sehingga wanita kedua tampak kaget, “Hei, apa aku tak salah lihat?” serunya dengan keheranan.

Wanita pertama berkata lirih, “Aku takut dan malu pada-Nya, aku jijik terhadap diriku, aku rindu pada keindahan, pada kesucian dan kemuliaan, hanya Tuhanku yang mau memaafkanku, hanya Dia yang dapat memuliakan dan menyucikanku…” Belum selesai ia berbicara wanita kedua sudah berlalu dari hadapannya.

Tiga bulan berlalu. Kedua wanita itu tak pernah berhubungan lagi. Wanita pertama sedang asyik melewatkan sore harinya bersama Al-Qur’an, yang dulu sore harinya ia habiskan bersama tequilla. Tiba tiba ponselnya berbunyi. Dengan sangat berat ia berhenti dan menjawab telepon, dan ternyata si penelepon adalah temannya yang sudah tiga bulan tak pernah mau berhubungan dengannya.

Temannya berkata, “Bagaimana sih caranya bertaubat?” Dengan gembira wanita shalihah itu menjelaskannya. Tetapi temannya terdiam dan berkata dengan berat, “Sholat?, pake jilbab?, aduh malas ah, aku berat melakukannya.” Wanita shalihah itu terus memberi pengertian. Namun temannya memang kepala batu, seraya berkata, “ngga’ deh, aku belum mau jadi biarawati!”, ia memutus hubungan teleponnya.

Tiga hari kemudian, wanita shalihah itu mendapat kabar bahwa temannya telah menemui ajalnya. Ia bergegas untuk melayat ke rumah temannya. Ia tiba di rumah temannya bersamaan dengan ibu dari temannya tersebut. Namun ternyata mereka datang terlambat, penguburan sudah usai! Selanjutnya apa yang terjadi? Ternyata si ibu memaksa untuk melihat jenazah anaknya untuk yang terakhir kalinya, sehingga membuat para hadirin menjadi bingung. Mereka berusaha menyabarkan si ibu, namun ibu itu terus memaksa dengan terus merobeki bajunya. Akhirnya permintaannya pun dengan berat diterima, kuburan itu di gali lagi.

Dan ketika penggalian sampai pada kayu penutup mayat, mereka tercengang, karena ternyata kayu-kayu itu sudah hancur. Lebih mencengangkan lagi, kain kafannya juga sudah hancur berserakan, mayatnya hangus terbakar, rambutnya kaku bagai sapu ijuk, kedua bola matanya berada dipipinya dalam keadaan kuncup bagaikan buah kering yang terbakar. Lidahnya terjulur keluar dari mulut, mata dan telinganya mengalirkan asap yang berbau daging hangus.

Semua yang menyaksikan pemandangan itu terlonjak mundur. Ibu dan wanita shalihah itu sudah sedari tadi jatuh pingsan. Para penggali kubur yang sebelumnya melompat keluar dari liang itu segera menimbun kembali dengan cepat dan lari meninggalkan pusara.

Wanita shalihah itu semakin giat beribadah, sedang si ibu menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Dan kubur itu menjadi kuburan terakhir yang dimakamkan di pemakaman itu, karena tak ada lagi orang yang mau menguburkan keluarganya di makam itu. Na’udzu billah.

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (QS Al Hasyr-21).

Ada Sajadah Panjang Terbentang

Lagu Bimbo dengan judul tersebut membuat saya merenung akan hubungan saya dengan Allah swt. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya posisi saya di sisi Tuhan. Seorang
sufi berkata, "jika anda ingin tahu bagaimana posisi anda di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hati anda!"

Saya pun mencoba melihat ke dalam hati saya. Bisakah saya merasakan Tuhan hadir di hati saya? Entahlah....Saya memang bukan seorang sufi. Tapi saya percaya bahwa Tuhan semestinya hadir dalam semua perbuatan saya.

***
Sahabat, ketika kita sholat dan puasa, kita tahu Tuhan hadir dalam hati kita. Namun ketika kita berangkat kerja, ke luar dari rumah, kita tak bisa memastikan apakah masih kita bawa Tuhan dalam aktivitas kita.

Apakah Tuhan hadir ketika kita disodori uang komisi oleh rekan sekantor? Apakah Tuhan hadir ketika kita selipkan selembar amplop agar urusan kita menjadi lancar? Apakah Tuhan juga hadir ketika kita ombang-ambingkan mereka yg datang ke kantor kita, terlempar dari satu meja ke meja yang lain?

Lagu Bimbo tersebut mengingatkan kita bahwa hidup ini bagaikan sajadah panjang yang terbentang, dari buaian bunda sampai ke liang lahat. Seharusnya semua aktivitas yang kita lakukan di sajadah panjang ini membawa kita untuk selalu mengingat kehadiran-Nya.

Mengapa Tuhan hanya kita bawa dan kita resapi kehadiran-Nya ketika kita berada di masjid, dan tiba-tiba Tuhan hilang ketika saya berada di luar masjid?

***

Kalau saja lagu Bimbo tersebut saya terjemahkan ke dalam bahasa para khatib Jum'at: "Apapun aktivitas kita, seharusnya kita selalu ingat keberadaan Allah. Itulah makna dzikrullah; mengingat Allah; itu jugalah makna ibadah."

Kalau saya diperbolehkan menerjemahkan lagu Bimbo itu dengan bahasa al-Qur'an, saya teringat satu ayat suci, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" Sayang, penafsiran saya akan kata ibadah masih terbatas pada ibadah ritual. Sayang sekali, sajadah saya tak panjang terbentang. Sajadah saya tak mampu masuk ke gedung-gedung pencakar langit, ke pusat perbelanjaan, ke tempat hiburan dan ke gedung sekolah.

"Tak kulihat suatu benda, kecuali di ujungnya kulihat ada Tuhan!" Ah, ucapan sufi ini lagi-lagi membuat saya malu...Saya tahu bahwa bukan maksud sufi tersebut untuk mengatakan dia telah melihat Tuhan, tapi yang ingin dia ceritakan adalah Tuhan selalu hadir di sekelilingnya.

Adakah sajadah kita sudah panjang terbentang?

Telaga Cermin

Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.

Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. "Hei...ada harimau lain yang tinggal di dalam air."

Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga. "Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini."

Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups.. kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. "Hei...ada harimau yang sedang marah di dalam sana," begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.

"Ah, temanku tadi pasti berbohong." Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu." Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

***
Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.

Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, "Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?" Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, "Sudahkah kutemukan wajah yang bersahabat di dalamnya?"

Kisah: Saad bin Abi Waqqash dan Ibunya

Seorang pemuda berusia tujuh belas tahun menceritakan kisah keislamannya. Saad bin Abi Waqqash nama pemuda itu. Ia berkata, "Pada suatu malam, di tahun ini, saya bermimpi seolah-olah tenggelam di dalam kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ketika saya terbenam di dalam kegelapan itu, tiba-tiba ada cahaya bulan yang menerangiku. Saya kemudian mengikuti arah cahaya itu dan saya dapati di sana ada sekelompok manusia, di antara mereka terdapat Zaid bin Haritsash, Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Saya bertanya, "Sejak kapan kalian ada di sini?" Mereka menjawab, "Satu jam."

Manakala siang telah muncul, saya mendengar suara dakwah Muhammad saw. kepada Islam. Saya meyakini bahwa saya sekarang berada di dalam kegelapan dan dakwah Muhammad saw. adalah cahaya itu. Maka, saya pun mendatangi Muhammad dan aku dapati orang-orang yang kujumpai dalam mimpi, ada di samping beliau. Maka, aku pun masuk Islam.

Tatkala ibu Sa'ad mengetahui hal ini, dia mogok makan dan minum, padahal Sa'ad sangat berbakti kepadanya sehinga dia merayunya setiap waktu mengharapkannya untuk mau makan walau hanya sedikit, tapi ibunya menolak. Manakala Sa'ad melihat ibunya tetap teguh berpendirian, dia berkata kepadanya, "Wahai ibu! Sesungguhnya saya sangat cinta kepadamu, namun saya lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, seandainya engkau mempunyai seratus nyawa lalu keluar dari dirimu satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini demi apapun juga."

Tatkala sang ibu melihat keteguhan hati anaknya, dia pun menyerah lalu kembali makan dan minum meskipun tidak suka. Allah kemudian menurunkan ayat tentang mereka yang artinya, "Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku (Allah) dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kaum mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS.Luqmaan: 15)

Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian-Muhammad Sulthan).

Tawa Menuju Tuhan

Alkisah setelah kehilangan keledainya, Mulla lalu mengangkat kedua tangannya, ia bersyukur kepada Tuhan. "Tuhan aku bersyukur kepada-Mu, aku telah kehilangan keledaiku."
Seorang yang melihat dan mendengar doa Mulla bertanya, "Kamu kehilangan keledaimu, dan kamu bersyukur kepada Tuhan?"
"Aku bersyukur kepada-Nya atas kebijakan-Nya yang mentakdirkan bahwa aku tidak menunggangi keledai waktu itu. Kalau tidak, sekarang aku tentu hilang juga."

Anda boleh tersenyum ataupun tidak, melihat keluguan Mulla ini. Keluguan Mulla adalah ciri lain dari keikhlasannya. Tidak hanya Mulla atau guru sufi lainnya tapi seperti begitulah cara kaum sufi menempatkan dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Dalam sebuah kesempatan kajian tasawuf, seorang teman "spiritual" saya berucap sembari bergurau "Hanya ada satu hal yang membedakan antara masyarakat manusia dengan komunitas primata - kera atau gorilla - ", Apa itu ? humor. Humor adalah ciri khas yang ada pada masyarakat manusia. Di belahan dunia ini kita bisa cari dimana atau apa ada yang bisa membuktikan bahwa pada primata (kelompok kera atau gorilla) ada humor, yang kita saksikan hanyalah keseriusan. Masyarakat gorilla adalah masyarakat tanpa canda dan tawa. Kalau anda masih bisa tertawa anda masih manusia? Bagaimana kalau anda yang sering ditertawakan ? Nah, lanjut kawan saya , sama juga yang membedakan masyarakat awam dengan kaum sufi - kalau sufi dianggap sebagai kelompok minoritas ditengah mayoritas Muslim awam - juga adanya humor, yakni humor sufi.

Melalui humor kaum sufi bercerita tentang kisah-kisah yang tidak saja bisa mentertawakan diri sendiri tapi malah mampu mentertawakan seluruh kehidupan ini.
Buat kaum sufi kehidupan ini adalah sejenis senda gurau, gurauan yang tidak saja memberitahukan akan makna-makna kegenitan duniawi tapi juga berisi kejenakaan dan kesadaran diri yang ingin menyatu dengan-Nya.

Cerita sufi kadang-kadang menggelitik bahkan cenderung "nakal" tetapi kisah-kisahnya mengajarkan banyak kearifan. Kearifan memang tidak harus disampaikan dengan kening berkerut, tapi bisa juga disampaikan melalui cerita jenaka. Kejenakaan humor sufi tidak hanya dipenuhi dengan teori-teori kearifan (hikmah) teoritis, tetapi humor sufi lebih banyak mengajarkan kearifan praktis yang muncul pada sebagian besar kisah-kisah sufi yang amat masyhur.

Di pasar Mulla melihat orang-orang mengerumuni seekor burung kecil, dan mereka berani membelinya dengan harga yang tinggi.
"Tentu harga burung dan unggas sudah naik," pikir Mulla. Dia lalu pulang ke rumah. Setelah dikejar-kejar, akhirnya dia berhasil menangkap kalkunnya yang sudah tua.
Di pasar mereka hanya berani membeli ayam itu dengan harga dua mata uang perak.
"Itu tidak adil," kata Mulla, "Kalkun ini besarnya beberapa kali lipat dari burung yang ditawar dengan harga tinggi itu."
"Tapi burung itu seekor betet, ia dapat berbicara."
Mulla memandang sekilas ke arah kalkunnya yang terkantuk-kantuk di tangannya.
"Kalkun ini bisa berpikir!" kata Mulla.

Kaum sufi tidak hanya mampu bercanda dengan diri/manusia tetapi juga mampu "bercanda" dengan dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Cerita sufi adalah cerita yang banyak dihiasi tentang relasi manusia dengan manusia atau hubungan manusia dengan alam, dan dengan Tuhan. Tidak kita temukan dalam cerita-cerita sufi, para sufi menghindar dari masyarakat manusia, hidup digunung mengasingkan diri, bak para pertapa, "Tidak ada kerahiban dalam Islam", sabda Nabi saw. Oleh sebab itulah Syamsi Tabrizi, teman sekaligus guru Rumi berkata: "Para pertapa yang hidup di gunung merupakan bagian dari gunung, bukan bagian dari manusia. Kalau dia itu manusia, dia akan hidup di antara masyarakat manusia, yang memiliki kesadaran untuk mengenali Allah. Apa yang dilakukan oleh para pertapa di gunung-gunung? Apa hubungan manusia dengan batu-batu karang dan bebatuan?"

"Beradalah di tengah-tengah manusia, maka kamu dapat sindiran." Untuk mengungkap sesuatu yang tersembunyi diperlukan sindiran. Sindiran-sindiran inilah yang mampu mengungkap "kebenaran" tanpa menyakitkan. Dalam kerangka mengungkap kebenaran inilah humor sufi diperlukan. Kadang-kadang kebenaran yang diungkapkan oleh cerita sufi sangat menyegarkan.

Tengoklah cerita berikut ini:

Suatu hari Mulla Nasruddin meminjam jambangan bunga besar dari tetangganya. Besoknya ia mengembalikan jambangan bunga itu beserta sebuah jambangan bunga kecil.
"Yang kecil ini bukan milik kami," kata si tetangga.
"Ya, memang," sahut si Mulla. "Semalam jambanganmu melahirkan yang kecil ini."
Si tetangga merasa senang dan menerima keduanya.
Beberapa hari kemudian Mulla meminjam jambangan besar lagi, tapi dia tidak mengembalikannya keesokan harinya. Ketika si tetangga datang memintanya, Mulla berkata:
"Malang benar jambangan itu, ia sudah tak ada lagi. Semalam ia telah meninggal dunia."
"Bicara apa kamu ini?" protes si tetangga.
"Mana mungkin jambangan bunga bisa mati?"
"Yah, mana mungkin jambangan bunga bisa melahirkan, " jawab Mulla.

Dalam pandangan Soren Keirkegaard, terkadang ketika kebenaran bertemu dengan kepalsuan hasilnya adalah kelucuan. Dalam kepalsuan yang lama tersamar humor benar-benar menjelma menjadi kelucuan yang amat sangat. Soren malah berkata "Ketika muda aku lupa tertawa. Kemudian ketika kubuka kedua mataku dan kulihat realitas . . . aku mulai bisa tertawa, dan terus tertawa sejak itu. Berbeda dengan group lawak yang mengemas tawa sebagai komuditas ekonomi. Lawakan kebanyakan mengemas tawa dengan mengeksploitasi kepalsuan-kepalsuan. Kekurangan aspek fisik manusia dianggap sebagai bahan tertawaan, dan tawa yang diciptakan tidak banyak memuat kearifan spiritual, tawa jenis ini lebih tepat dianggap sebagai ledekan terhadap ciptaan Tuhan, lebih dalam lagi tawa yang dipenuhi pengingkaran terhadap ketuhanan. Dalam bahasa Rumi tawa jenis dianggap tawa tanpa bunga.

Jalaluddin Rumi menulis :

Tawaku seperti bunga
Bukan sekedar tawa mulut
Dari tak maujud aku maujud
Dengan gembira dan penuh keriangan
Namun cinta mengajari
Cara lain untuk tertawa
Sang muallaf tertawa
Kalau beruntung
Bak rumah kerang,
Aku tertawa ketika berduka.

Dunia tawasuf adalah dunia orang-orang yang ingin melakukan perjalanan ruhani yang panjang, mendekatkan diri keharibaan Tuhan, atau lewat konsep yang lain malah menuju "Tuhan" sendiri. Lewat latihan-latihan spiritual (riyadhah) kaum sufi berupaya manangkap realitas lain dari yang ada selama ini, lewat riyadhah inilah yang kadang-kadang sampai dan tidak, dan tidak sedikit yang terjebak dalam kesesatan para sufi mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang teramat sukar untuk diceritakan untuk konsumsi orang awam. Seolah-olah mereka mulai mendapatkan dan merasakan "ruh tasawuf", ruh ini pulalah yang dalam proses perjalanan riyadhah itu banyak diceritakan oleh kaum sufi baik lewat cerita ataupun ucapan-ucapan mereka, kadang-kadang jenaka atau malah sulit diberi makna.

Rasa-rasanya tidak mungkin untuk menangkap ruh tasawuf tanpa humor sufi. Kita tak harus berdebat dengan beragam spekulasi filosofis. Kaum sufi amat menyukai pesan-pesan verbal maupun bukan - biasa dapat membuka kedok orang yang suka pamer ilmu. Humor dalam perpekstif sufi adalah satir tentang hidup dan kehidupan itu sendiri.
Karena sulitnya mengajarkan konsep-konsep tasawuf para guru sufi lebih banyak menempuh jalan bercerita dalam mentransfer ajaran-ajarannya, disamping agar mudah dipahami para murid, juga agar tidak disalahpahami oleh para penentang tasawuf - para pembenci humor -. Dengan cerita atau melalui humorlah para sufi pemula mulai bisa memulai pengembaraan panjang kedunia sufi yang tiada bertepi. Dengan humor pulalah kita bisa memahami pandangan kaum sufi tanpa harus dipenuhi lipatan kulit di dahi kepala atau dengan kening berkerut, Namun kemampuan para sufi untuk menyampaikan hal-hal yang serius dengan hal yang jenaka, yang mengagumkan dengan yang tampaknya konyol, inilah yang membedakan antara tasawuf dari banyak agama dan filsafat pemikiran lainnya. Dengan humorlah para guru sufi mengajarkan konsep tasawuf bagi muridnya tanpa merasa digurui.

Humor dalam perpektif sufi juga merupakan gambaran masyarakat. Dalam sastra Arab atau tulisan para sufi klasik atau, tokoh-tokoh yang banyak disebut dalam cerita-cerita sufi antara lain Mulla Nasruddin Hoja dan Bahlul. Dalam beberapa kisah di berbagai negeri Persia seperti di Iran dan Irak Bahlul seringkala menjadi tokoh dalam sejumlah kisah yag dinisbahkan kepada Mulla Nasruddin (atau sebaliknya). atau di Mesir cerita Bahlul lebih sering serupa dengan nama si Juha yang dalam sastra Arab dikenal sebagai tokoh kocak tetapi bijak, lucu tapi serius, bodoh tapi cerdas

Dalam sebuah kisah dalam Matsnawi Bahlul pernah diceritakan dimana ia pernah berkata kepada beberapa orang bahwa dia berpura-pura sebagai orang tolol, sejak ia dianggap sebagai orang paling arif dikotanya dan karena itu, masyarakat kota mendesak dirinya untuk menjadi hakim, tapi ditolaknya dengan berlagak tolol. Dari kisah-kisah yang dikenal selama ini sedikit sekali kita menemukan mereka tampil benar-benar sebagai orang arif, barangkali karena itulah lakon mereka dalam cerita sufi tidak pernah berakhir apalagi mengalami kematian. Seandainya cerita-cerita mengenai mereka hanya mengandung nilai pendidikan barangkali kisah-kisah itu sudah lama tergeletak berdebu di rak-rak perpustakaan.

Sebuah cerita tentang si Juha, mengantar kita ke akhir tulisan ini : Suatu hari Juha berangkat ke pasar menunggang keledainya, ia menambatkan keledainya dengan seutas tali. Tanpa diketahui, dibelakangnya ada dua orang pencuri. Begitu Juha masuk ke pasar, salah seorang di antara mereka melepaskan keledai dari pengikatnya dan membawanya pergi. Kawannya mengikatkan tali keledai itu ke lehernya sendiri. Kembali dari pasar Juha terkejut. Ia mendapatkan keledainya hilang. Sebagai gantinya, ia melihat orang tidak dikenal dengan tali keledainya. "Siapa anda?" tanya Juha. Orang itu merunduk seperti sedih dan malu, "Saya ini keledai yang engkau miliki. Dahulu saya durhaka kepada orang tua. Saya diubah Tuhan menjadi keledai. Hari ini orang tua saya sudah memaafkan saya. Dan Tuhan mengembalikan saya kepada bentuk semula."
Juha jatuh iba. Ia melepaskan orang itu sambil memberi uang untuk bekal pulang, ia memberi nasihat, "Jadikan kehidupan yang lalu sebagai pelajaran berharga. Janganlah sekali-kali menyakiti orang tuamu."
Keesokan harinya Juha ke pasar lagi. Ia terkejut, seseorang tak dikenal lainnya sedang menawarkan keledainya. Juha yang telah memiliki keledai itu bertahun-tahun, tentu saja mengenalnya dengan baik. Segera ia mendekati keledainya. Ia berbisik ditelinganya, "Sudah kuperingatkan kamu jangan durhaka kepada orang tua. Baru sehari aku bebaskan kamu sudah melakukan dosa yang sama. Sekarang rasakan saja hukumanmu."

Boleh jadi anda cuma tersenyum atau bahkan tertawa renyah, tetapi mudah-mudahan tawa kita adalah tawa yang menuju Tuhan.

Lebih Panas Mana Dengan Api Neraka?

Seorang Raja mengumumkan sayembara:"Barangsiapa yang sanggup berendam di kolam kerajaan sepanjang malam akan dihadiahi pundi-pundi emas." Sayembara ini sepintas terlihat mudah, namun berendam di kolam pada saat musim dingin tentu bukan perkara mudah. Walhasil, tak ada yang berani mencobanya.

Seorang miksin dari pelosok pedesaan, karena tak tahan dengan tangisan kelaparan anaknya, memberanikan diri mengikuti sayembara itu. Pundi-pundi emas membayang di pelupuk matanya. Bayangan itulah yang mendorong dia akhirnya berangkat ke istana.

Raja mempersilahkan dia masuk ke kolam istana. Sekejap saja orang miskin ini masuk ke dalamnya, ia langsung menggigil kedinginan. Giginya saling beradu, mukanya mendadak pucat dan tubuhnya perlahan meringkuk. Tiba-tiba ia melihat nyala api dari salah satu ruang istana. Segera saja ia bayangkan dirinya berada dekat perapian itu; ia bayangkan betapa nikmatnya duduk di ruangan itu. Mendadak rasa dingin di tubuhnya, menjadi hilang. Kekuatan imajinasi membuatnya mampu bertahan. Perlahan bayangbayang pundi emas kembali melintas. Harapannya kembali tumbuh.

Keesokan harinya, Raja dengan takjub mendapati si miskin masih berada di kolam istana. Si miskin telah memenangkan sayembara itu. Raja penasaran dan bertanya "rahasia" kekuatan si miskin. Dengan mantap si miskin bercerita bahwa ia mampu bertahan karena membayangkan nikmatnya berada di dekat perapian yang ia lihat di sebuah ruangan istana.

***
Lama sudah waktu berjalan sejak saya baca kisah di atas sewaktu masih di Sekolah Dasar. Namun baru belakangan saya menyadari kiasan dari cerita itu. Imajinasi dan harapan akan kehidupan yang lebih baik telah menjadi semacam stimulus untuk kita bisa bertahan.

Ketika krisis di semua bidang melanda negara kita ini, sekelompok orang menjadi panik tak karuan. Apa saja dilakukannya untuk mempertahankan kenikmatan hidup, tak peduli halal haram. Akan tetapi, segelintir orang tetap tenang karena sudah lama badan mereka di "bumi" namun jiwa mereka di "langit". Kelompok terakhir ini membayangkan bagaimana nikmatnya hidup di "kampung akherat" nanti, sebagaimana yang telah dijanjikan Allah. "Pundi-pundi kasih sayang ilahi" membayang dipelupuk mata mereka.

Bagaikan si miskin yang tubuhnya berada di dasar kolam, namun jiwanya berada di dekat perapian; bayangan "kampung akherat" membuat mereka tenang dan tidak mau melanggar norma agama. Bagaikan kisah si miskin di atas, boleh jadi Raja akan takjub mendapati mereka yang bisa bertahan di tengah krisis multidimensi ini, tanpa harus keluar dari norma-norma agama.

Ada seorang muslim yang tengah berpuasa, rekan bulenya yang tinggal satu flat berulang kali mengetok pintu kamar hanya untuk memastikan apakah si muslim masih hidup atau tidak. Orang bule itu tak habis pikir bagaimana si muslim bisa bertahan hidup dan tetap beraktifitas tanpa makan-minum selama lebih dari 12 jam? Rindu "kampung akherat" menjadi jawabannya.

Sama dengan herannya seorang rekan mendapati seorang muslimah di tengah siang hari yang panas tetap beraktifitas sambil memakai jilbab. Ketika ada yang bertanya, "apa tidak kepanasan?" Muslimah tersebut menjawab sambil tersenyum,"lebih panas mana dengan api neraka?"

Sahabat, kenikmatan "kampung akherat" rupanya jauh lebih menarik buat seorang muslim/muslimah. Bagaimana dengan kita??

Hikmah: Sapu Lidi



Hari menjelang sore. Di sebuah surau, terlihat seorang lelaki tua bersama empat orang anak remaja. "Sekarang Abah mau menerangkan satu hal yang sangat penting dalam hidup kalian," ujar lelaki yang dipanggil Abah oleh anak-anak tersebut.

"Apa itu, Abah?" tanya salah seorang anak. "Sebelum menjawabnya, Abah ingin setiap kalian membawa sebuah sapu lidi," jawab Abah. Anak-anak itu terlihat sedikit bingung dengan apa yang dikatakan Abah, tapi akhirnya mereka pun menuruti keinginan Abah. Masing-masing anak kembali ke rumah untuk mengambil sapu lidi.

"Nah, syukurlah kalian telah memegang sapu lidi," ujar Abah sambil memandangi anak-anak tersebut. "Tugas kalian adalah menyapu halaman masjid ini sebersih mungkin. Udin menyapu bagian depan, Ahmad menyapu bagian kiri, Ali yang bagian kanan, dan Fahri bagian belakang," kata Abah dengan rinci. "Abah beri kalian waktu selama tiga puluh menit untuk menyapu, setiap satu menit kalian harus mencabut sebatang lidi, dan setiap sapu harus terdiri dari tiga puluh batang lidi. Siapa yang paling banyak menyapu dan paling cepat, maka ia akan mendapatkan hadiah".

Segera saja keempat anak itu mengerjakan apa yang diperintahkan Abah. Dengan tekun dan gesit mereka menyapu halaman sekitar masjid yang cukup luas. Setiap satu menit Abah menepuk tangan sebagai tanda agar keempat muridnya mencabut sebatang lidi. Begitulah proses tersebut berlangsung. Batangan lidi yang berjumlah tiga puluh tersebut, satu demi satu hilang seiiring berlalunya waktu. Pada hitungan ketiga puluh, kumpulan lidi tersebut habis semua.

Setelah itu Abah memeriksa hasil kerja keempat muridnya. Tenyata hasilnya berbeda-beda. Ada yang mampu menyapu seluruh halaman, ada yang hanya setengah, bahkan ada yang hanya sedikit. Abah hanya tersenyum saja. Sejenak kemudian dia memanggil keempat anak tersebut.

"Anak-anakku, Abah lihat kalian sudah menyapu dan hasilnya pun Abah rasa cukup menggembirakan. Halaman masjid menjadi bersih, walaupun Abah melihat bahwa sebagian dari kalian tidak berhasil membersihkan sampah secara keseluruhan," ungkap Abah.

Setelah semuanya berkumpul, Abah bercerita kembali, "Ketahuilah anakku, bahwa salah satu harta yang Allah berikan kepada manusia adalah waktu. Ia adalah modal terbesar yang harus kita gunakan sebaik-baiknya. Barangsiapa yang mampu memanfaatkannya secara baik, maka ia akan bahagia hidupnya; tapi barangsiapa menyia-nyiakan waktunya maka ia akan sengsara.

"Abah, apa hubungan antara waktu dengan sapu lidi?" tanya seorang muridnya. "Itulah yang akan Abah terangkan kepada kalian," kata Abah. Ia pun melanjutkan petuahnya, "Hidup seorang Muslim itu seperti sapu lidi yang kokoh. Setiap hari satu batang lidi gugur, sampai pada satu saat tidak ada lagi lidi yang tersisa. Jadi lidi ini dapat dianalogikan dengan waktu yang membentuk hidup kita. Kalau kita memboroskannya berarti lidi itu hilang tanpa kita sempat menyapu. Karena itu, menyapulah sebanyak dan sesering mungkin sebelum lidi-lidi itu berguguran. Gunakanlah waktu muda kalian untuk berkarya besar, sebelum datangnya waktu tua saat kalian tidak mampu lagi berbuat apa-apa".

Semoga bermanfaat untuk kita, salam ukhuwah..

Gelar Ali bin Abi Thalib

Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mendengar pernyataan yang demikian, sekelompok kaum Khawarij tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan "gerbang ilmu" dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?"
"Setuju!" jawab mereka serentak.
"Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja", saran yang lain. "Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas."
"Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!" sahut yang lainnya.
Hari yang telah ditentukan telah tiba. Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
"Tentu saja lebih utama ilmu," jawab Ali tegas.
"Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, Namrud dan lain-lainnya," Ali menerangkan.
Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri. Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?"
"Lebih utama ilmu dibanding harta," jawab Ali.
"Mengapa?"
"Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya."
Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Orang ketiga pun datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya.
"Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?"
Ali kemudian menjawab bahwa, "Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?"
"Mengapa bisa demikian tuan?" tanya orang itu penasaran.
"Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya."
Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang itu, Ali pun kemudian menjawab, "Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu."
"Apa yang menyebabkan demikian?" tanya orang itu mendesak.
"Karena bila engkau pergunakan harta," jawab Ali, "jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak."

Orang kelima kemudian datang setelah kepergian orang keempat dari hadapan Ali. Ketika menjawab pertanyaan orang ini, Ali pun menerangkan, "Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani."
Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, "Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu."

Dengan pertanyaan yang sama orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, "Pemilik ilmu akan diberi syafa'at oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak."
Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga setelah mendengar setiap jawaban, ternyata alasan yang diberikan Ali selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.

Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, "Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?"
"Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu," jawab Ali.
"Kenapa begitu?" tanyanya lagi.
"Dalam waktu yang lama," kata Ali menerangkan, "harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi."
Orang kesembilan datang dengan pertanyaan tersebut. "Seseorang yang banyak harta", jawab Ali pada orang ini, "akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual."

Sampailah giliran orang terakhir. Ia pun bertanya pada Ali hal yang sama. Ali menjawab, "Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya."

Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, "Andaikata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."

Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan ali memang pantas mendapat julukan "gerbang ilmu". Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.

Tidak Jadi Mencuri Terung, lalu Allah Karuniakan Untuknya Seorang Isteri

Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami' At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan. Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid. Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanana ataupun uang untuk membeli makanan. Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan. Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut. Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. Di situ dia melihat orang-orang wanita, maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi. Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu. Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya. Langsung dia berkata, 'A'udzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?' Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya. Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula. Lalu ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.

Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu, dipanggilah ia dan syaikh itu bertanya, 'Apakah kamu sudah menikah?', dijawab, 'Belum,'. Syaikh itu bertanya lagi, 'Apakah kau ingin menikah?'. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, 'Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?'. Syaikh itu menjawab, 'Wanita ini datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin', kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokkan. Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, 'Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya? Pemuda itu menjawab 'Ya'. Kemudian Syaikh bertanya kepada wanita itu, 'Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?', ia menjawab 'Ya'. Maka Syaikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. Kemudian syaikh itu berkata, 'peganglah tangan isterimu!' Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya. Setelah keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.

Sang isteri bertanya, 'Kau ingin makan?' 'Ya' jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: 'heran siapa yang masuk kerumah dan menggigit terong ini?!'. Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. Isterinya berkomentar, 'Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.

Diceritakan oleh : Syaikh Ali Ath-Thanthawi

Sumayyah binti Khayyat (Wanita Syahidah Pertama dalam Islam)

Dialah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekah. Karenanya, tidak ada kabilah yang dapat membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Sebab, dia hidup sebatang kara, sehingga posisinya sulit di bawah naungan aturan yang berlaku pada masa jahiliyah.

Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindugannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Hudzaifah, sehingga akhirnya dia dinikahkan dengan budak wanita bernama Sumayyah. Dia hidup bersamanya dan tenteram bersamanya. Tidak berselang lama dari pernikahannya, lahirlah anak mereka berdua yang bernama Ammar dan Ubaidullah.

Tatkala Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah saw kepada beliau. Akhirnya, berpikirlah Ammar bin Yasir sebagaimana berpikirnya penduduk Mekah. Karena kesungguhan dalam berpikir dan fitrahnya yang lururs, maka masuklah beliau ke dalam agama Islam.

Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah saw, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh barakah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya, sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulainya sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk yang pertama kalinya.

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat, sehingga orang-orang kafir tidak menanggapinya, melainkan dengan pertentangan dan permusuhan.

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari din mereka, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir tatkala keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad... Ahad...,
beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, Ammar, dan Bilal.

Suatu ketika Rasulullah saw menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa degan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru:

"Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Jannah."

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah saw, maka beliau bertambah tegar dan optimis, dan dengan kewibawaan imannya dia mengulang-ulang dengan berani, "Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar."

Begitulah, Sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya iman, sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Di hatinya telah dipenuhi akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para taghut yang zalim. Mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya ekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah saw.

Tatkala para taghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah, maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah. Maka terbanglah nyawa beliau yang beriman dan suci bersih dari raganya. Beliau adalah wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabbnya. "Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanannya."

Sumber: Nisaa' Haular Rasuul, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

Fathimah az-Zahraa

Beliau adalah sayyidah wanita seluruh alam pada zamannya, putri keempat dari Rasululllah saw dan ibunya Ummahaatul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Allah menghendaki kelahiran Fathimah kurang dari lima tahun sebelum Nabi diutus, dekat peristiwa yang agung, yaitu saat orang-orang Quraisy rela menyerahkan hukum kepada Muhammad tentang perselisihan yang hebat di antara mereka untuk meletakkan Hajar Aswad setelah diadakan pembaharuan Ka'bah.

Rasulullah saw mendapat kabar gembira dengan kelahiran putrinya dan nampaklah barakah dan keberuntungan dengan kelahiran putrinya tersebut. Beliau memberikan julukan kepada Fathimah dengan "az-Zahraa" (bunga). Beliau dikunyahkan pula dengan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Beliau adalah yang paling mirip dengan ayahnya Muhammad saw.

Fathimah tumbuh dan berkembang dalam rumah tangga nabawi dengan sifat yang baik, lemah lembut, dan terpuji. Dengan sifat-sifat inilah beliau tumbuh di atas kehormatan yang sempurna, jiwa yang berwibawa, cinta akan kebaikan, dan akhlak yang baik dengan mengambil teladan dari ayahnya Rasulullah saw dalam seluruh tindak-tanduknya.

Manakala usia Fathimah mendekati lima tahun, mulailah suatu perubahan besar dalam kehidupan ayahnya dengan turunnya wahyu kepada beliau, sehingga Fathimah turut merasakan awal mula ujian dakwah. Beliau menyaksikan dan berdiri di samping kedua orang tuanya serta membantu keduanya dalam menghadapi setiap bahaya. Beliau juga menyaksikan serentetan tipu daya orang-orang kafir terhadap ayahnya yang agung, sehingga beliau berangan-angan seandainya saja dia mampu, maka akan ditebus dengan nyawanya untuk menjaga beliau dari gangguan orang-orang musyrik. Hanya saja ketika itu beliau masih kecil.

Di antara penderitaan yang paling berat pada permulaan dakwah adalah pemboikotan yang kejam yang dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap kaum muslimin bersama Bani Hasyim pada suku Abu Thalib. Sehingga, pemboikotan dan kelaparan tersebut berpengaruh kepada kesehatan beliau. Oleh karena itu, sisa umurnya yang panjang beliau alami dengan fisik yang lemah.

Belum lagi az-Zahraa' kecil keluar dari ujian pemboikotan, tiba-tiba (ibunya) Khadijah wafat yang menyebabkan jiwa beliau penuh dengan kesedihan, penderitaan, dan kesusahan. Setelah wafatnya ibunda, beliau merasakan ada tanggung jawab dan pengorbanan yang besar di hadapannya untuk membantu ayahnya yang sedang meniti jalan yang keras di jalan dakwah kepada Allah. Terlebih-lebih setelah wafatnya pamanda beliau, Abu Thalib, dan istri beliau yang setia yakni Khadijah, sehingga berlipat gandalah kesungguhan Fathimah dalam memikul beban dengan penuh kesabaran dan keteguhan mengharap pahala Allah. Beliau mendampingi sang ayah dan maju sebagai pengganti tugas-tugas ibunya. Dengan sebab itulah Fathimah diberi gelar "Ibu dari ayahnya".

Ketika Rasulullah saw mengijinkan bagi para sahabat untuk hijrah ke Madinah, beliau menjaga rumah yang agung. Tinggal di dalamnya Ali bin Abu Thalib yang mempertaruhkan jiwanya untuk Rasulullah saw. Beliau tidur di tempat tidur Rasulullah untuk mengelabuhi orang-orang Quraisy (agar mereka menyangka, Nabi belum keluar). Selanjutanya, Ali ra menangguhkan hijrah beliau selama tiga hari di Mekah untuk mengembalikan titipan orang-orang Quraisy yang dititipkan kepada Rasullah saw yang telah berhijrah.

Setelah hijrahnya Ali, hanya Fathimah dan saudara wanitanya, Ummu Kultsum, yang masih tinggal di Mekah, sampai Rasulullah saw mengirimkan sahabat untuk menjemput keduanya pada tahun ketiga sebelum hijrah. Ketika itu, umur Fathimah telah mencapai 18 tahun. Beliau melihat di Madinah para Muhajirin dapat hidup tenang dan telah hilang rasa kesepian tinggal di negeri asing. Rasulullah saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, sedangkan beliau ra mengambil Ali ra sebagai saudara.

Setelah menikahnya Rasulullah saw dengan sayyidah 'Aisyah ra, maka orang-orang utama di kalangan sahabat mencoba melamar az-Zahraa', setelah mereka pada awalnya menahan diri karena keberadaan dan tugas Fathimah di sisi Rasullah saw. Di antara sahabat yang melamar az-Zahraa' adalah Abu Bakar dan Umar, akan tetapi Nabi menolak dengan cara yang halus. Kemudian Ali bin Abu Thalib mendatangi Nabi untuk meminang Fathimah. Ali bercerita:
"Aku ingin mendatangi Rasulullah saw untuk meminang putri beliau yaitu Fathimah. Aku berkata, 'Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan beliau saw, maka aku beranikan diri untuk meminangnya. Nabi saw bersabda kepadaku, 'Apakah kamu memiliki sesuatu?' Aku berkata, 'Tidak, ya Rasullah.' Kemudian beliau bertanya, 'Lalu, di manakah baju besi al-Khuthaimah yang pernah aku berikan kepadamu pada hari lalu?' 'Masih aku bawa, ya Rasullah,' jawabku. Selanjutnya Nabi saw bersabda, 'Berikanlah baju tersebut kepada Fathimah sebagai mahar'."

Sumber: Nisaa' Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Mushthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi

Asiyah, Istri Firaun yang Beriman

Suatu ketika Nabi Musa a.s. berhasil mengalahkan para tukang sihir Firaun. Asiyah, yang turut menyaksikan kesuksesan Musa, bertambah tebal imannya. Sebenarnya, telah lama Asiyah beriman kepada Allah SWT, tetapi hal ini tidak diketahui suaminya.

Lama-lama Firaun mengetahui juga akan keimanan Asiyah itu. Firaun murka dan menjatuhkan hukuman kepadanya. Para algojo diperintahkan Firaun untuk segera melakukan penyiksaan kepada Asiyah, yang olehnya dianggap murtad itu.

Tubuh Asiyah ditelantangkan di atas tanah di bawah terik sinar matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke tanah agar ia tak dapat bergerak-gerak. Wajahnya yang telanjang di hadapankan langsung ke arah datangnya sinar matahari. Asiyah pastilah tidak akan tahan akan sengatan panas matahari, dan akhirnya ia akan mengubah keimanannya kepadaku, demikian pikir Firaun.

Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak membiarkan hambanya menderita akibat kekafiran Firaun. Setiap kali para algojo meninggalkan Asiyah dalam hukumannya, segera malaikat menutup sinar matahari itu, sehingga langit menjadi teduh dan Asiyah tak merasakan sengatan matahari yang ganas itu.

Asiyah tetap segar-bugar meskipun sudah dihukum berat. Hal ini membuat Firaun memerintahkan hukuman lain yang lebih berat. Ia memerintahkan agar kepada tubuh Asiyah yang telentang itu dijatuhi batu besar. Tubuhnya pasti remuk, pikir Firaun.

Ketika Asiyah melihat bahwa ada batu besar yang hendak dijatuhkan ke tubuhnya, berdoalah dia kepada Tuhan. "Wahai Allah, Tuhanku! Bangunkah untukku di sisimu sebuah gedung di surga." (At-Taubah: 11).

Segera Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di surga yang terbuat dari marmer berkilauan. Asiyah sangat gembira, lalu rohnya keluar meninggalkan tubuhnya. Asiyah tidak merasakan kesakitan apa pun, karena ketika batu besar itu menimpa tubuhnya, rohnya sudah tidak ada di sana.

Teladan Abu Bakar

Pada suatu waktu, Rasulullah SAW berkhutbah, ''Sesungguhnya, setiap manusia Allah SWT berikan dua pilihan antara hidup di dunia dan melakukan apa pun sesuai kehendaknya, lalu memakan apa pun yang ia inginkan, atau bertemu Tuhannya.''

Mendengar khutbah itu, Abu Bakar meneteskan air mata. Salah seorang sahabat lain berkomentar, ''Apakah kalian tidak kagum melihat Abu Bakar yang saleh ini, ketika Rasulullah SAW dalam khutbahnya mengatakan bahwa manusia itu diberi dua pilihan, antara memilih dunia atau lebih memilih bertemu dengan Tuhannya, Abu Bakar lebih memilih Tuhannya?''

Semua sahabat mengetahui bahwa Abu Bakar adalah salah seorang sahabat yang paling memahami apa yang Rasulullah SAW sabdakan. Tidak lama kemudian, Abu Bakar mendekati Rasulullah SAW dan berkata, ''Wahai Rasulullah, tidak hanya memilih bertemu dengan Allah, saya bahkan akan mendarmabaktikan diri dan hartaku untukmu.''

Mendengar perkataan Abu Bakar, Rasulullah SAW lalu bersabda, ''Rasanya tidak ada seorang pun yang lebih amanah dalam persahabatan dan tanggung jawab terhadap hartanya, selain Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar). Seandainya aku akan menjadikan seseorang sebagai teman sejati, maka akan aku pilih Ibnu Abu Quhafah.'' (HR Tirmidzi dari Abu al-Mu'alla).

Apa yang membuat Rasulullah SAW menyanjung Abu Bakar?

Pertama, dalam sejarah, Abu Bakar adalah orang yang paling dekat dengan Nabi SAW. Ia pula yang menemani Nabi SAW menyusuri padang pasir, keluar dari Makkah menuju Madinah. Ia pula yang mengkhawatirkan keselamatan Nabi SAW sewaktu di Gua Hira. Kecintaannya kepada Rasulullah SAW menjadikannya rela memberikan apa pun demi Rasulullah SAW dan perjuangan Islam.

Kedua, Abu Bakar adalah sosok yang paling dermawan dalam membelanjakan harta bendanya di jalan Allah SWT. Dalam satu riwayat yang lain, Umar bin Khathab pernah bercerita, ''Suatu saat kami pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mendermakan harta kami. Kebetulan aku memiliki harta, dan aku bertekad untuk bisa melampaui kedermawanan Abu Bakar.''

Umar langsung membawa harta miliknya ke hadapan Rasulullah SAW. Melihat kedatangan Umar, beliau bertanya, ''Apakah engkau menyisakan hartamu untuk keluargamu, ya Umar?'' Umar dengan cepat menjawab, ''Ya, wahai Nabi Allah.''

Tidak berselang lama, Abu Bakar datang juga dengan hartanya. Rasulullah SAW juga bertanya, ''Apakah engkau juga menyisakan harta untuk keluargamu, ya Abu Bakar?''

Abu Bakar menjawab, ''Aku hanya sisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka.'' Mendengar hal itu, Umar berkata, ''Demi Allah, saya benar-benar tidak mampu menyaingi kedermawanan Abu Bakar seumur hidupku.'' (HR. Tirmidzi dari Umar bin Khattab).

Abu Bakar memberikan teladan yang sangat berarti kepada kita bahwa harta benda tidak ada nilainya dibandingkan dengan Allah SWT dan Rasul-Nya. Abu Bakar menyadari harta akan bernilai sejati jika didermakan untuk orang lain dengan niat semata-mata karena Allah SWT. Subhanallah..., dapatkah kita seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq?? Wallahu a'lam bish-shawwab.

Kisah Sang Tikus

Seekor tikus mengintip disebalik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan fikirnya? Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus.

Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan; "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!"

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada perangkap tikus didalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!" "Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. " Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa.

Jadi tikus itu kembalilah kerumah, kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.

Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap. Didalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit.

Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang akan memberikan orang yg sakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan bahan untuk supnya itu.

Penyakit isterinya berlanjutan sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih kambingnya untuk memberi makan para tamu itu.

Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang orang yang datang untuk pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat para pelayat itu.

Moral kisah ini:
---------------

Apabila kita mendengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kita fikir itu tiada kaitan dengan kita, ingatlah bahwa apabila ada 'perangkap tikus' didalam rumah, seluruh 'ladang pertanian' bisa saja ikut menanggung risikonya .

PARIS - AFGHANISTAN



Perjalanan hidup manusia sungguh menyimpan banyak misteri. Di tengah keluarga sederhana di pedalaman Afghanistan, gadis Perancis itu menikmati hidupnya. Ia memilih hidup di Afghanistan yang gersang dan terik di musim panas, dan membeku di musim dingin, dan rela meninggakan kota kelahirannya, Paris, yang gemerlapan. Adakah gadis itu sedang frustasi?

Fabian, gadis Perancis yang sekarang berhijab itu sungguh tidak sedang frustasi. Ia justru sedang memulai kehidupannya sebagai muslimah sejati. Mungkin sulit untuk dipahami, tapi demikianlah, Fabian, mantan top model Perancis itu memilih jalan hidupnya dengan kesadaran yang tulus ikhlas. Ketika berumur 28 tahun, ia memutuskan untuk merubah jalan hidupnya dengan meninggalkan glamour-nya dunia mode dan kamera, merambah jalan baru di bawah bimbingan Ilahi Robbi.

Fabian menuturkan perjalanan panjang hidupnya, mulai dari sentuhan pertamanya dengan dunia mode hingga memilih tinggal di Afghanistan, berdampingan dengan keluarga para mujahidin. "Kalau bukan karena rahmat Allah, pasti hidupku seluruhnya akan lenyap dalam rimba kemaksiatan." Fabian memulai penuturannya, "sebuah rimba yang menjadikan manusia lebih bejat dari pada hewan, yang hanya berfikir untuk memuaskan keinginan dan nafsunya, tanpa dituntun oleh nilai kemanusiaan yang luhur."

"Semula aku merasa jalan di depanku terbentang lebar.Dengan singkat dapat kunikmati bagaimana rasanya menjadi orang terkenal. Hadiah-hadiah yang tak pernah kuimpikan sebelumnya, datang bak air bah ... tapi, untuk itu semua, aku harus membayar dengan harga yang teramat sangat mahal."

"Pertama-tama, aku harus membebaskan diriku dari semua harkat kemanusiaanku, karena syarat utama untuk meraih popularitas adalah membuang seluruh naluri kewanitaanku. Aku harus mencampakkan rasa maluku. Dan lebih dari itu semua, aku juga harus membuang jauh perasaan terhadap makhluk manusia; aku tidak boleh mencinta, tidak boleh membenci dan tidak boleh menolak tawaran apa saja."

Penuturan di atas jelas terlahir dari kejujuran nurani. Ia mengaku karena benar merasakannya. Dan ketika ia mengaku, ia jujur dalam pengakuannya. Titik awal perjalanan manusia kembali kepada Khaliqnya, sesungguhnya berasal dari sana, dari keterbukaan, dari kejujuran manusia itu sendiri terhadap nuraninya sendiri, karena nurani itu hanya mempunyai satu karakter: kejujuran fitrah.

"Dunia model telah merubah diriku menjadi seonggok patung yang bekerja hanya untuk satu tujuan, mempermainkan hati dan pikiran orang lain. Dari situ, aku belajar bagaimana menjadi seorang yang dingin, keras hati, congkak tapi kosong dari dalam. Aku hanya bangkai yang berhias pakaian indah, benda mati yang tersenyum, tapi tak pernah merasa tersenyum. Semakin berani seorang model menanggalkan harkat kemanusiaannya, semakin populerlah ia di tengah dunia mode yang begitu dingin dan keras. Jika ia mencoba untuk menolak aturan-aturan yang berlaku, ia harus siap menerima berbagai hukuman dan siksaan, baik mental maupun fisik."

Begitulah Fabian, mantan model Paris itu, menuturkan pengakuannya setelah ia memeluk Islam dan meninggalkan belantara dunia mode yang glamour, dingin dan keras. Pengakuannya sederhana, tapi jelas dan tegas, bagai cermin jernih memantulkan keindahan, karena lahir dari perpaduan antara kejujuran fitrah manusia dengan kebenaran hidayah Allah. Kini Fabian menikmati hidupnya di pedalaman Afghanistan. Barangkali itu merupakan suatu pilihan yang ekstrim, tapi jika di bumi para syuhada itu ia menemukan mata air kehidupan yang hakiki, maka biarkanlah sekali ini, iman mementukan pilihannya. Sebab di sana, tangan fitrah melukiskan wanita sebagai kuntum-kuntum yang menyembunyikan sarinya di balik kelopaknya, lalu iman pun meniupnya, maka jadilah ia bunga-bunga yang mekar, yang menyebarkan semerbak wangi syuhada di taman kehidupan.

[dikutip dari Majalah Sabili No.8/IV Jumadil Awwal 1412 dengan pengeditan seperlunya]
,

Kisah dan Fadhilah di bulan Dzulhijah (Tanggal 8-10 Dzul-hijjah)

Tanggal 8 Dzulhijah Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah supaya menyembelih anaknya, Ismail. Sehari itu ia berpikir-pikir apakah perintah itu dari Allah atau dari syetan. Karenanya hari itu disebut hari tarwiyah (pikir-pikir).

Tanggal 9 Dzulhijah Nabi Ibrahim diberi tahu oleh Allah bahwa perintah itu datang dari-Nya, bukan dari syetan. Justru karena itu hari itu disebut hari 'Arafah (hari tahu). Setelah mengetahui bahwa itu perintah dari Allah, maka Ibrahim bersegera mendatangi anaknya untuk meminta pendapatnya. Alangkah terkejutnya setelah anak tersebut memberi jawaban yang sangat menggembirakan sekaligus mengharukan. Kejadian ini diabadikan dalam al-Qur'an :

"Wahai putraku, sesungguhnya aku bermimpi seolah-olah aku menyembelihmu, maka pikirkanlah pendapatmu. Ia (Ismail) berkata, 'Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan itu, insya-Allah engkau dapati aku akan bersabar.'" (QS ash-Shaaffat: 102)

Pada tanggal yang sama Allah swt menurunkan wahyu terakhir kepada Rasulullah saw. Saat itu beliau sedang di atas kendaraannya. Segera ayat itu disampaikan kepada ummatnya. Abu Bakar menangis karena ia tahu bahwa tugas Rasulullah sudah paripurna, yang tentu saja akan segera kembali menghadap kepada-Nya. Ayat itu adalah :

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku, dan Aku meridhai Islam sebagai agama kalian." (QS Maa-idah: 3)

***
Fadhilah:
Barang siapa berpuasa pada hari tarwiyyah, maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang pahala tersebut tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Barang siapa berpuasa pada hari ‘arafah, maka ia akan mendapat kafarah untuk setahun yang telah lewat dan setahun yang akan datang. Wallahu a’lam.

Tanggal 10 Dzulhijah, adalah hari 'Idul Adh-ha (qurban), dinamakan juga hari Nahar (menyembelih). Pada hari ini ummat Islam diharamkan puasa, tapi dianjurkan melaksanakan shalat 'Idul Adh-ha, dan menyembelih qurban. Semoga kita bisa melaksanakannya.


Sebagian sumber dari Hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Abbas Ra. yang dikutip oleh Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir, “Durratun Nasihin”, Majlis 72: Fi Fadhilah ‘Isyri Dzil-hijjah.
,

Kisah dan Fadhilah di bulan Dzulhijah (Tanggal 5-7 Dzul-hijjah)

Tanggal 5 Dzul-hijjah, Nabi Musa dilahirkan. Ia terlahir di tengah ancaman Fir'aun yang hendak membunuh semua bayi lelaki. Menurut estimasi Fir'aun berdasar ramalan penasehat raja, bayi lelaki yang lahir saat itu bakal menjadi ancaman kerajaan.

Allah swt tidak pernah kalah menghadapi makar siapapun juga. Untuk itu, Allah memberikan ilham kepada ibu Musa agar menghanyutkan bayi lelaki itu di sungai Nil dengan diawasi saudara perempuannya dari jauh. Betapa terkejutnya setelah diketahui bahwa peti bayi itu berhenti di tempat pemandian keluarga Fir'aun.

Pada saat itu istri Fir'aun sedang mandi. Demi melihat peti itu hatinya tertarik untuk mengambilnya. Terbelalaklah ia setelah peti dibuka ternyata berisi bayi yang mungil. Fir'aun dan istrinya sama-sama senang kepada bayi itu.

Keajaiban kembali datang setelah istri Fir'aun mencari perempuan yang mau menyusui bayi yang baru ditemukan. Banyak perempuan yang bersedia tapi justru bayi itu yang menolak. Ia hanya mau disusui oleh satu perempuan, yang kemudian perempuan itu adalah ibu kandungnya sendiri. Bayi ini tumbuh berkembang di kalangan istana, dan kemudian dewasa menentang ayah angkatnya yang angkuh sombong dan memindas rakyatnya.

Tanggal 6 Dzulhijah Allah membuka pintu kebajikan bagi nabi-Nya, sedang tanggal 7 Dzulhijah pintu neraka dikunci sampai lewat tanggal 10. Dua hal ini merupakan harapan setiap orang, yaitu masuk surga dan terhindar dari siksa neraka.

***
Fadhilah:
Barang siapa berpuasa pada tanggal 5 Dzul-hijjah, maka ia dibebaskan dari sifat munafiq dan dari siksa kubur. Barang siapa berpuasa pada tanggal 6 Dzul-hijjah, maka Allah akan memandangnya dengan rahmat dan setelah itu Allah tidak akan menurunkan adzab padanya dalam waktu yang tidak terhingga (selamanya). Barang siapa berpuasa pada tanggal 7 Dzul-hijjah, maka Allah akan menutupkan baginya 30 pintu kesusahan dan membukakan baginya 30 pintu kemudahan. Wallahu a’lam bish-shawwab.


Sebagian sumber dari Hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Abbas Ra. yang dikutip oleh Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir, “Durratun Nasihin”, Majlis 72: Fi Fadhilah ‘Isyri Dzil-hijjah.
,

Kisah dan Fadhilah di bulan Dzulhijah (Tanggal 3-4 Dzul-hijjah)

Tanggal 3 Dzul-hijjah Allah mengabulkan do'a Nabi Zakariya yang menginginkan seorang putera. Pada saat itu umur Nabi Zakariya sudah sangat tua, 90 tahun. Hampir saja ia putus asa menunggu kehadiran seorang bayi dari darahnya sendiri. Akan tetapi setelah mengetahui putra angkatnya, Maryam mendapatkan rezeki langsung yang turun dari langit, iapun tergugah untuk mendapatkan hal yang sama. Ia berpikir, bukankah Allah tidak terikat hukum kausalitas. Jika Dia berkehendak, apapun pasti terjadi.

Dorongan mempunyai anak itu bertambah besar, tiada malam yang dilewatkan tanpa munajat kepada Allah swt. Ada satu doa yang diulang-ulang pada setiap munajatnya :

"Ya Allah, janganlah Engkau tinggalkan aku seorang diri (tanpa keturunan), sedangkan Engkaulah sebaik-baik pewaris." (QS al-Anbiya:89)

Ketekunan Zakariya tidak sia-sia. Allah mengutus malaikat datang menemuinya untuk memberi kabar gembira bahwa Allah akan memberikan keturunan kepadanya. Malaikat berkata kepada Zakariya :

"Wahai Zakariya, sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu, bahwa Dia akan memberimu seorang putera yang diberi nama Yahya, yang belum pernah diberikan kepada siapapun nama itu." (QS:Maryam :7)

Mendengar kabar ini Zakariya gugup. Dengan penuh keheranan ia bertanya (ayat selanjutnya), "Bagaimana mungkin aku yang setua ini mendapatkan seorang putra, sedangkan istriku juga mandul?"

Malaikat kemudian meyakinkan, "Bukankah Allah yang menciptakan kamu, tentu Dia mampu pula memberimu seorang putra."

Agar hatinya tenang, Nabi Zakariya minta diberi tanda-tanda. Dalam hal ini Malaikat kemudian berkata, "Sebagai tandanya kamu tidak dapat berbicara dengan orang lain selama tiga hari, selama itu kamu dapat memberi isyarat saja." Dan setelah itu benar-benar terlahir putranya,Yahya.

***
Fadhilah:
Barang siapa berpuasa pada tanggal 3 Dzul-hijjah, maka Allah mengabulkan do’anya Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tanggal 4 Dzulhijah Nabi Isa dilahirkan. Kelahiran Nabi Isa telah menggegerkan kaumnya, sebab ia lahir tidak seperti bayi-bayi pada umumnya. Ia lahir dari rahim seorang ibu yang masih perawan, yaitu bunda Maryam.

Sejak awal Maryam sangat gelisah akan keadaannya, tapi Malaikat selalu menghiburnya. Pada saat-saat menjelang kelahiran putranya, kegelisahan itu memuncak menjadi tekanan batin yang luar biasa. Tapi Allah tidak terlambat memberi hiburan kepadanya. Dalam hal ini Jibril datang sambil menyeru dari tempat yang rendah, "Sedikitpun janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak bagimu. Maka makan minumlah dan senangkanlah hatimu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah bernadzar kepada Tuhanku Yang Maha Pemurah untuk tidak berbicara dengan seorangpun pada hari ini.'"(QS Maryam: 24-26)

Setelah Isa lahir, bunda Maryam berketetapan hati untuk kembali ke kampung halamannya. Ia pulang dengan keyakinan yang mantap dan mental yang kuat untuk menghadapi tuduhan-tuduhan kaumnya yang sangat menyakitkan. Tuduhan itu memang benar-benar terjadi. Sebagaimana yang diabadikan dalam al-Qur'an, mereka berkata, "Hai Maryam, sungguh kamu telah melakukan suatu yang tercela. Hai putra Harun, ayahmu itu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu bukanlah seorang pezina."

Menghadapi cercaan ini, Maryam hanya memberi isyarat kepada bayinya. Kali ini sang bayi membuat geger untuk kedua kalinya. Bayi yang masih digendongan itu ternyata bisa memberi jawaban : "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi." (QS Maryam: 30)

Sejak saat itu kelahiran Nabi Isa menjadi buah bibir hingga sekarang. Sebagian mengakui bahwa Isa lahir sebagai anak jadah, sedang yang lain menganggap Isa adalah anak Tuhan yang diturunkan di bumi sebagai juru selamat. Hanya kaum muslimin yang diberi petunjuk oleh Allah yang tetap meyakini bahwa Isa adalah manusia biasa, meskipun lahir tanpa ayah. Bukankah Adam lahir tanpa ibu dan ayah? Bukankah Hawa lahir tanpa ibu? Ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berfikir.

***
Fadhilah:
Barang siapa berpuasa pada tanggal 4 Dzul-hijjah, maka Allah meniadakan baginya kefaqiran. Wallahu a’lam bish-shawwab.


Sebagian sumber dari Hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Abbas Ra. yang dikutip oleh Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir, “Durratun Nasihin”, Majlis 72: Fi Fadhilah ‘Isyri Dzil-hijjah.
,

Kisah dan Fadhilah di bulan Dzulhijah (Tanggal 1-2 Dzul-hijjah)

Bulan Dzul-hijjah termasuk dalam empat bulan yang dimuliakan Allah. Didalamnya terdapat berbagai peristiwa bersejarah yang patut untuk direnungkan bersama. Begitu pentingnya hari-hari awal bulan Dzul-hijjah bisa kita lihat dari beberapa catatan sejarah yang dinukil berikut ini.

Pada tanggal 1 Dzul-hijjah, Allah swt mengampuni dosa-dosa Nabi Adam setelah melakukan kekhilafan. Ketika itu Nabi Adam tergoda oleh rayuan Iblis sehingga ia bersama istrinya memakan buah terlarang. Sebagai sanksinya, Adam diusir dari surga dan diturunkan ke bumi.

Nabi Adam segera menyadari kesalahannya, maka iapun meminta ampun kepada Allah atas segala dosanya. Doa yang dimunajatkan Adam sangat terkenal hingga diabadikan dalam al-Qur'an dan diwiridkan kaum muslimin hingga sekarang. Doa itu adalah: "Ya Rabb kami, kami telah berbuat zhalim kepada diri kami sendiri. Jika tidak Engkau ampuni dan Engkau kasihi kami, maka jadilah kami orang-orang yang merugi." QS al-A'raaf: 23)

Tanggal 2 Dzul-hijjah, Allah swt mengabulkan doa Nabi Yunus pada saat ia berada di rongga perut ikan paus.

Sebagai nabi, Yunus tak bosan-bosannya menyampaikan risalah kepada ummatnya. Tapi kenyataan berbicara lain, tak satupun di antara mereka yang menerimanya. Padahal Nabi Yunus sudah memberikan ancaman berupa adzab dari Allah SWT.

Dalam suasana hati yang kalut, ia berniat meninggalkan kaumnya. Iapun mengembara sampai pada akhirnya tiba di suatu pantai. Di sana ia melihat ada perahu layar, dan iapun menumpangnya. Nabi Yunus sangat terhibur dalam perjalanan yang menyenangkan ini. Apalagi pemilik perahu dan penumpang lain menyambutnya dengan ramah-tamah.

Di tengah perjalanan Allah swt membuat ketentuan lain. Angin topan bertiup secara tiba-tiba, membuat perahu oleng. Disepakati oleh nahkoda untuk mengurangi beban. Pertama dengan membuang semua barang bawaan, tapi perahu masih tetap oleng. Maka langkah selanjutnya adalah mengurangi penumpang. Untuk itu perlu diundi, siapa yang harus dilempar ke tengah laut. Nasib jualah yang menentukan bahwa Yunus harus dibuang.

Dalam kegelapan malam, di tengah ombak dan gelombang besar, ia ditelan ikan yang sangat besar. Namun rupanya Allah masih berkehendak untuk menyelamatkan jiwanya. Iapun masih bisa bernafas walau dalam rongga perut ikan. Pada saat itulah ia berdoa kepada Allah: "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri." QS al-Anbiya: 87)

***
Fadhilah:
Barang siapa berpuasa pada tanggal 1 Dzul-hijjah, maka Allah mengampuni semua dosa-dosanya (dosa-dosa kecil), dan barang siapa berpuasa pada tanggal 2 Dzul-hijjah, maka seolah-olah ia beribadah kepada Allah selama setahun penuh tanpa bermaksiat kepada-Nya meski sekerdipan mata. Wallahu a’lam bish-shawwab.



Sebagian sumber dari Hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Abbas Ra. yang dikutip oleh Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir, “Durratun Nasihin”, Majlis 72: Fi Fadhilah ‘Isyri Dzil-hijjah.