Saturday, November 27, 2010

Kategori:

Belajar dari Khidhir As

Masih hidupkah Khidhir As? Entahlah, kita mungkin memang pernah mendengar cerita bahwa ada seorang 'alim yang mengaku berjumpa Khidhir. Nama Khidhir memang sudah terlanjur melegenda, meskipun al-Qur'an sendiri tidak pernah menyebut nama Khidhir secara terang-terangan. Al-Qur'an melukiskan Khidhir dengan "...seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS 18:65)

Perhatikan redaksi yang digunakan al-Qur'an. Ternyata, Khidhir atau apapun nama beliau hanyalah satu dari sekian banyak hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu. Boleh jadi banyak sekali hamba Allah yang punya kelebihan seperti Khidhir, tetapi Allah tidak beritakan kepada kita atau kita memang tidak mengetahuinya.

Tapi itulah Khidhir, sebuah nama yang terlanjur melegenda dan menyimpan misteri yang tak kunjung habis dibicarakan.

Dalam surat al-Kahfi diceritakan bagaimana Nabi Musa ingin berguru dengan Khidhir. Khidhir semula menolak, namun Musa terus mendesak. Perhatikan redaksi al-Qur'an ketika mengutip penolakan Khidhir, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS 18:67-68)

Khidhir menolak Musa bukan dengan argumen bahwa Musa itu bodoh atau malas. Khidhir menolak Musa karena Musa tidak akan bisa bersikap sabar. Soalnya, kata Khidhir, bagaimana kamu bisa sabar pada persoalan yang kamu tidak punya ilmu tentangnya?

Begitulah yang terjadi. Musa selalu memprotes dan menyalah-nyalahkan perbuatan Khidhir yang, dipandang dari sudut pengetahuan Musa, merupakan perbuatan yang keliru.

***
Sayang seribu sayang, kita jarang mau belajar dari kisah Khidhir dan Musa ini. Seringkali kita sebar kata "sesat", "kafir", "menyimpang", “sempalan”, "bid'ah" dan lain sebagainya kepada saudara-saudara kita, yang dipandang dari sudut pengetahuan yang kita miliki melakukan kesalahan besar. Kita menjadi emosional, kita menjadi tidak sabar. Pada saat itu, ada baiknya kita ingat kembali kisah Khidhir dan Musa tersebut.

Kisah Khidhir mengajarkan kepada kita bahwa “KESABARAN” merupakan lambang tingginya “PENGETAHUAN”.

Semoga sedikit banyak memberi kemanfaatan pada kita, salam ukhuwah...
Anda baru saja membaca Belajar dari Khidhir As . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment