Friday, November 5, 2010

Kategori: ,

Kisah dan Fadhilah di bulan Dzulhijah (Tanggal 3-4 Dzul-hijjah)

Tanggal 3 Dzul-hijjah Allah mengabulkan do'a Nabi Zakariya yang menginginkan seorang putera. Pada saat itu umur Nabi Zakariya sudah sangat tua, 90 tahun. Hampir saja ia putus asa menunggu kehadiran seorang bayi dari darahnya sendiri. Akan tetapi setelah mengetahui putra angkatnya, Maryam mendapatkan rezeki langsung yang turun dari langit, iapun tergugah untuk mendapatkan hal yang sama. Ia berpikir, bukankah Allah tidak terikat hukum kausalitas. Jika Dia berkehendak, apapun pasti terjadi.

Dorongan mempunyai anak itu bertambah besar, tiada malam yang dilewatkan tanpa munajat kepada Allah swt. Ada satu doa yang diulang-ulang pada setiap munajatnya :

"Ya Allah, janganlah Engkau tinggalkan aku seorang diri (tanpa keturunan), sedangkan Engkaulah sebaik-baik pewaris." (QS al-Anbiya:89)

Ketekunan Zakariya tidak sia-sia. Allah mengutus malaikat datang menemuinya untuk memberi kabar gembira bahwa Allah akan memberikan keturunan kepadanya. Malaikat berkata kepada Zakariya :

"Wahai Zakariya, sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu, bahwa Dia akan memberimu seorang putera yang diberi nama Yahya, yang belum pernah diberikan kepada siapapun nama itu." (QS:Maryam :7)

Mendengar kabar ini Zakariya gugup. Dengan penuh keheranan ia bertanya (ayat selanjutnya), "Bagaimana mungkin aku yang setua ini mendapatkan seorang putra, sedangkan istriku juga mandul?"

Malaikat kemudian meyakinkan, "Bukankah Allah yang menciptakan kamu, tentu Dia mampu pula memberimu seorang putra."

Agar hatinya tenang, Nabi Zakariya minta diberi tanda-tanda. Dalam hal ini Malaikat kemudian berkata, "Sebagai tandanya kamu tidak dapat berbicara dengan orang lain selama tiga hari, selama itu kamu dapat memberi isyarat saja." Dan setelah itu benar-benar terlahir putranya,Yahya.

***
Fadhilah:
Barang siapa berpuasa pada tanggal 3 Dzul-hijjah, maka Allah mengabulkan do’anya Wallahu a’lam bish-shawwab.

Tanggal 4 Dzulhijah Nabi Isa dilahirkan. Kelahiran Nabi Isa telah menggegerkan kaumnya, sebab ia lahir tidak seperti bayi-bayi pada umumnya. Ia lahir dari rahim seorang ibu yang masih perawan, yaitu bunda Maryam.

Sejak awal Maryam sangat gelisah akan keadaannya, tapi Malaikat selalu menghiburnya. Pada saat-saat menjelang kelahiran putranya, kegelisahan itu memuncak menjadi tekanan batin yang luar biasa. Tapi Allah tidak terlambat memberi hiburan kepadanya. Dalam hal ini Jibril datang sambil menyeru dari tempat yang rendah, "Sedikitpun janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak bagimu. Maka makan minumlah dan senangkanlah hatimu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah bernadzar kepada Tuhanku Yang Maha Pemurah untuk tidak berbicara dengan seorangpun pada hari ini.'"(QS Maryam: 24-26)

Setelah Isa lahir, bunda Maryam berketetapan hati untuk kembali ke kampung halamannya. Ia pulang dengan keyakinan yang mantap dan mental yang kuat untuk menghadapi tuduhan-tuduhan kaumnya yang sangat menyakitkan. Tuduhan itu memang benar-benar terjadi. Sebagaimana yang diabadikan dalam al-Qur'an, mereka berkata, "Hai Maryam, sungguh kamu telah melakukan suatu yang tercela. Hai putra Harun, ayahmu itu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu bukanlah seorang pezina."

Menghadapi cercaan ini, Maryam hanya memberi isyarat kepada bayinya. Kali ini sang bayi membuat geger untuk kedua kalinya. Bayi yang masih digendongan itu ternyata bisa memberi jawaban : "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi." (QS Maryam: 30)

Sejak saat itu kelahiran Nabi Isa menjadi buah bibir hingga sekarang. Sebagian mengakui bahwa Isa lahir sebagai anak jadah, sedang yang lain menganggap Isa adalah anak Tuhan yang diturunkan di bumi sebagai juru selamat. Hanya kaum muslimin yang diberi petunjuk oleh Allah yang tetap meyakini bahwa Isa adalah manusia biasa, meskipun lahir tanpa ayah. Bukankah Adam lahir tanpa ibu dan ayah? Bukankah Hawa lahir tanpa ibu? Ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berfikir.

***
Fadhilah:
Barang siapa berpuasa pada tanggal 4 Dzul-hijjah, maka Allah meniadakan baginya kefaqiran. Wallahu a’lam bish-shawwab.


Sebagian sumber dari Hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Abbas Ra. yang dikutip oleh Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir, “Durratun Nasihin”, Majlis 72: Fi Fadhilah ‘Isyri Dzil-hijjah.
Anda baru saja membaca Kisah dan Fadhilah di bulan Dzulhijah (Tanggal 3-4 Dzul-hijjah) . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment