Khalifah Umar dan Keadilan

Suatu ketika Umar bin Khattab sedang berkhotbah di masjid di kota Madinah tentang keadilan dalam pemerintahan Islam. Pada saat itu muncul seorang lelaki asing dalam masjid , sehingga Umar menghentikan khotbahnya sejenak, kemudian ia melanjutkan.

"Sesungguhnya seorang pemimpin itu diangkat dari antara kalian bukan dari bangsa lain. Pemimpin itu harus berbuat untuk kepentingan kalian, bukan untuk kepentingan dirinya, golongannya, dan bukan untuk menindas kaum lemah. Demi Allah, apabila ada di antara pemimpin dari kamu sekalian menindas yang lemah, maka kepada orang yang ditindas itu diberikan haknya untuk membalas pemimpin itu. Begitu pula jika seorang pemimpin di antara kamu sekalian menghina seseorang di hadapan umum, maka kepada orang itu harus diberikan haknya untuk membalas hal yang setimpal."

Selesai khalifah berkhotbah, tiba-tiba lelaki asing tadi bangkit seraya berkata; "Ya Amiral Mu'minin, saya datang dari Mesir dengan menembus padang pasir yang luas dan tandus, serta menuruni lembah yang curam. Semua ini hanya dengan satu tujuan, yakni ingin bertemu dengan Tuan."
"Katakanlah apa tujuanmu bertemu denganku," ujar Umar.
"Saya telah dihina di hadapan orang banyak oleh 'Amr bin 'Ash, gubernur Mesir. Dan sekarang saya akan menuntutnya dengan hukum yang sama."
"Ya saudaraku, benarkah apa yang telah engkau katakan itu?" tanya khalifah Umar ragu-ragu.
"Ya Amiirul Mu'minin, benar adanya."
"Baiklah, kepadamu aku berikan hak yang sama untuk menuntut balas. Tetapi, engkau harus mengajukan empat orang saksi, dan kepada 'Amr aku berikan dua orang pembela. Jika tidak ada yang membela gubernur, maka kau dapat melaksanakan balasan dengan memukulnya 40 kali."
"Baik ya Amiral Mu'minin. Akan saya laksanakan semua itu," jawab orang itu seraya berlalu. Ia langsung kembali ke Mesir untuk menemui gubernur Mesir 'Amr bin 'Ash.

Ketika sampai ia langsung mengutarakan maksud dan keperluannya.
"Ya 'Amr, sesungguhnya seorang pemimpin diangkat oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat. Dia diangkat bukan untuk golongannya, bukan untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya, dan bukan pula untuk menindas yang lemah dan mengambil hak yang bukan miliknya. Khalifar Umar telah memberi izin kepada saya untuk memperoleh hak saya di muka umum."
"Apakah kamu akan menuntut gubernur?" tanya salah seorang yang hadir.
"Ya, demi kebenaran akan saya tuntut dia," jawab lelaki itu tegas.
"Tetapi, dia kan gubernur kita?"
"Seandainya yang menghina itu Amirul Mu'minin, saya juga akan menuntutnya."
"Ya, saudara-saudaraku. Demi Allah, aku minta kepada kalian yang mendengar dan melihat kejadian itu agar berdiri."
Maka banyaklah yang berdiri.
"Apakah kamu akan memukul gubernur?" tanya mereka.
"Ya, demi Allah saya akan memukul dia sebanyak 40 kali."
"Tukar saja dengan uang sebagai pengganti pukulan itu."
"Tidak, walaupun seluruh masjid ini berisi perhiasan aku tidak akan melepaskan hak itu," jawabnya .
"Baiklah, mungkin engkau lebih suka demi kebaikan nama gubernur kita, di antara kami mau jadi penggantinya," bujuk mereka.
"Saya tidak suka pengganti."
"Kau memang keras kepala, tidak mendengar dan tidak suka usulan kami sedikit pun."
"Demi Allah, umat Islam tidak akan maju bila terus begini. Mereka membela pemimpinnya yang salah dengan gigih karena khawatir akan dihukum," ujarnya seraya meninggalkan tempat.
'Amr bin'Ash serta merta menyuruh anak buahnya untuk memanggil orang itu. Ia menyadari hukuman Allah di akhirat tetap akan menimpanya walaupun ia selamat di dunia.
"Ini rotan, ambillah! Laksanakanlah hakmu," kata gubernur 'Amr bin 'Ash sambil membungkukkan badannya siap menerima hukuman balasan.
"Apakah dengan kedudukanmu sekarang ini engkau merasa mampu untuk menghindari hukuman ini?" tanya lelaki itu.
"Tidak, jalankan saja keinginanmu itu," jawab gubernur.
"Tidak, sekarang aku memaafkanmu," kata lelaki itu seraya memeluk gubernur Mesir itu sebagai tanda persaudaraan. Dan rotan pun ia lemparkan.

Aku Ingin Dicinta Seperti Sarah Mencintai Ibrahim

Siapa laki-laki yang paling setia di dunia? Saya pernah diajukan pertanyaan seperti itu oleh seseorang. Tentu saja saya tidak akan menjawab bahwa laki-laki itu adalah saya. Saya tak berani bukan karena saya tak sanggup untuk setia terhadap pasangan saya, melainkan belum ada ujian yang saya lewati tentang hal tersebut.

Kepada si penanya, saya memberinya satu nama, Ibrahim As. Nama yang mengiringi nama Muhammad SAW dalam setiap shalawat yang kita baca, adalah nama jaminan untuk urusan cinta dan kesetiaan.

Ia menikahi Sarah atas pertimbangan dakwah. Sebagai pesuruh Allah tentu saja Ibrahim tak akan mencari seorang pendamping yang akan menyulitkan jalannya meraih cinta Allah, seseorang yang takkan memberatkan langkahnya dalam menapaki setiap jengkal menuju cinta-Nya. Dan atas nama cinta kepada Allah, Ibrahim mendapatkan Sarah, wanita yang kadar cintanya kepada Allah sebanding dengan cinta yang dipunyai Ibrahim.

Ujian, tantangan, cobaan datang bertubi, dan yang terberat adalah ujian kesetiaan dari keduanya untuk menunggu hadirnya sang penerus risalah Allah, seorang abdi yang kelak menggantikan peran dirinya menaruh semua amanah Allah di pundaknya. Hingga usianya yang uzur, sang purnama yang dinanti tak juga hadir. Ini juga ujian dari Allah apakah Ibrahim tetap mencintai-Nya, dan apakah Sarah tetap teguh pada cintanya.

Tak seperti kebanyakan lelaki masa kini yang serta merta memvonis untuk menikah lagi dan bahkan menceraikan isterinya lantaran dianggap tak mampu memberinya keturunan, Ibrahim tak demikian. Bahkan, di tengah kerinduannya yang memuncak akan hadirnya sang purnama penerang jalan Allah sesudahnya nanti, ia mendapatkan tawaran yang tak pernah disangkanya dari sang isteri tercinta. Sarah meminta Ibrahim menikahi Hajar, seorang wanita yang dipilih sendiri oleh Sarah yang diyakini mampu memberikan keturunan.

Apakah Sarah tak lagi mencintai Ibrahim? Jangan salah, cinta Sarah yang hakiki adalah cinta kepada Dzat yang menganugerahkan cinta. Ia yakin apa yang dilakukannya akan membantu suaminya untuk mendapatkan pengembang risalah selanjutnya. Dan Maha Benar Allah yang telah menciptakan wanita semulia Sarah, Maha Kuasa Allah yang telah memilihkan Sarah untuk Ibrahim yang mulia, dan Maha Suci Allah yang telah mengirimkan Hajar di tengah-tengah keluarga yang cintanya kepada Allah takkan pernah tersaingi itu. Maka Allah pun menghadiahi buah cinta itu berupa Ismail.

Selesaikah episode cinta itu? Belum! Ujian cinta kemudian berlanjut kepada Ibunda Hajar, ibu dari bayi kecil Ismail yang harus ditinggalkan sang suami dalam waktu lama untuk sebuah perjalanan dakwah. Ibrahim pun tak kalah berat ujiannya tatkala harus meninggalkan anak yang sudah sekian lama dinanti. Atas nama cinta, Ibrahim menyerahkan keselamatan, keamanan, rezeki dan kelangsungan hidup Hajar dan Ismail di tangan Allah.

Ibunda Hajar berlari menempuh jarak yang teramat jauh antara Shafa dan Marwah untuk mendapatkan air bagi Ismail kecil yang menangis kehausan. Bahkan Allah pun mewajibkan setiap manusia yang pergi ke Baitullah ikut merasakan perjuangan ibunda Hajar, ibu dari manusia yang kelak dikenal sebagai salah satu manusia paling sabar di dunia.

Hingga akhirnya Allah membalaskan cinta Hajar atas perjuangannya melalui hentakan kaki mungil Ismail ke muka bumi berupa sumber air zam-zam yang tak pernah kering hingga kini.

Ibrahim kembali ke keluarga tercintanya, tapi ujian baru pun menanti. Belum cukup hamba Allah itu menghabiskan rindunya kepada anak satu-satunya yang sudah tumbuh menjadi anak yang menyenangkan itu. Belum puas Ibrahim meluapkan cintanya kepada Ismail, Allah mengeluarkan perintah yang teramat berat, perintah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, perintah yang jika bukan Ibrahim yang menerimanya pastilah dianggap bisikan setan, perintah yang jelas menguji keimanan Ibrahim untuk cenderung ke mana cintanya, Allah ataukah Ismail?

Atas nama cinta, Ibrahim menceritakan perihal perintah Allah itu kepada Ismail. Anak kecil yang digambarkan Al Quran sebagai anak yang baru berusaha berjalan menyusul ayahnya itu ternyata tak sedikit pun ragu atas kebenaran dari mulut ayahnya, si kecil Ismail ikhlas menjalani perintah Allah yang tak secara langsung didengarnya itu, kecuali dari mulut ayahnya. Disinilah, nilai kepercayaan anak begitu tinggi terhadap seorang ayah terlukiskan.

Sejuta setan mengganggu, sejuta iblis menghasut, sejuta jin menggoda, mencoba meruntuhkan cinta Ibrahim, Ismail dan Hajar. Tapi keluarga Ibrahim adalah keluarga dengan tradisi kemenangan untuk setiap ujian, keyakinan dan cintanya yang teramat tinggi kepada Allah yang menjadikan semuanya begitu berbeda. Keluarga Ibrahim, keluarga tangguh yang mampu menghalau semua godaan, hasutan dan gangguan. Mereka melempari setan dengan batu-batu kerikil, yang kemudian Allah mengabadikannya dalam ibadah jumrah. Bismillaahi Allaahu Akbar!

Alibaba dan Qasim



Ada dua saudara yang nasibnya berlainan. Ali Baba, sang adik, hidup papa dan merana. Sang kakak, Qasim, hidup senang berlimpah harta. Satu hari, Ali Baba pergi ke gurun pasir, tak disangka ia bertemu rombongan penyamun yang menuju sebuah pintu batu dan mengucapkan kata sakti sehingga pintu itu terbuka. Ali Baba yang bersembunyi memperhatikan dengan seksama kelakuan para penyamun itu.

Ketika para penyamun itu keluar, pimpinannya lagi-lagi mengucapkan kata sakti yg sama sehingga pintu batu kembali tertutup. Setelah rombongan penyamun itu pergi, Ali Baba dengan rasa ingin tahu yang besar mulai mendekati pintu batu itu. Ia ucapkan kata sakti yang tadi didengarnya. Ali Baba terkejut ketika pintu batu itu terbuka. Ia lebih terkejut lagi ketika mendapati emas dan perhiasan serta barang-barang yang mahal didalam gua itu. Rupanya, itulah tempat persembunyian atau "gudang harta" para penyamun selama turun temurun dari generasi ke generasi.

Ali Baba mengambil harta itu secukupnya lalu pulang ke rumah. Sayang, akibat keteledoran isterinya, sangkakak, Qasim, mengetahui perubahan yang terjadidengan hidup adiknya itu. Ali Baba yang dulunya miskin kini menjadi hidup lebih dari cukup.

Terdorong rasa iri hati yang menjulang, Qasim bertanya hal ihwal kekayaan adiknya. Ali Baba, terdorong rasa sayang pada kakaknya, menceritakan rahasianya termasuk kata sakti untuk membuka pintu batu.

Malam itu juga, Qasim segera pergi ke "gudang harta" para penyamun itu. Dengan lancar ia ucapkan kata sakti itu. Pintu terbuka. Qasim terperangah. Matanya langsung silau dengan kepingan emas dan barang berharga lainnya. Tak henti-hentinya ia pandangi limpahan harta itu. Lama ia berdiri mengagumi barang mewah yang kini tergeletak didepannya.

Qasim segera sadar dan mulailah ia dengan bernafsu mengumpulkan kepingan emas itu. Ketika telah penuh karung-karung kosong yang ia bawa; ketika peluh telah membasahi tubuhnya, ketika ia telah puas mengagumi harta itu, ia pun hendak keluar. Akan tetapi, kerongkongannya tercekat! Ia lupa kata sakti yang harus diucapkan untuk membuka pintu batu.

Sementara itu, rombongan penyamun telah kembali datang. Sang kepala penyamun mengucapkan kata sakti dan terbukalah pintu batu. Mereka kaget ketika mendapati Qasim di dalam "gudang harta" mereka. Qasim yang tertangkap basah hanya bisa pasrah. Nasib Qasim selanjutnya sudah bisa kitatebak.

Kisah Ali Baba dan Qasim di atas merupakan salah satu kisah yang terdapat dalam "Kisah Seribu Satu Malam". Sebagaimana kisah-kisah yang lain,sebenarnya, dongeng di atas mengajarkan kita banyak hal, asalkan kita maumembaca yang tersirat.

Boleh jadi, pengetahuan yang kita miliki sama. Boleh jadi, kita sama-sama mengetahui rahasia ilahi; boleh jadi pula kita sama-sama hafal kata sakti atau ayat ilahi. Namun, kesucian hatilah yang membedakan kita.

Ali Baba tidak silau dengan harta duniawi. Sementara itu, meskipun Qasim sudah diberi tahu kata sakti, ketika ia silau dengan harta duniawi, mendadak ia lupa kata sakti itu. Pikirannya hanya dipenuhi dengan harta dan harta. Kerakusannya membuat ia memenuhi isi kepalanya dengan segudang rencana. Mungkin ia berencana membangun real estat, boleh jadi ia berencana membangun pusat-pusat pertokoan. Siapa tahu ia juga berencana
membangun jalan tol yang menghubungkan satu kota dengan kota lain dan setiap yang lewat akan dimintakan bayaran. Ketika isi kepalanya penuh dengan hal-hal itu, ia menjadi lupa akan kata sakti.

Ayat Ilahi, atau yang disimbolkan dengan kata sakti di atas, hanya akan menghampiri mereka yang suci hatinya. Boleh jadi, kita sama-sama tahu makna ayat Ilahi, namun nasib kita bisa berbeda.Tinggal pilih: mau menjadi Ali Baba atau Qasim?

Gurau dan Canda Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Baginda menerima hamba, orang buta, dan anak-anak. Baginda bergurau dengan anak kecil, bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua. Akan tetapi Baginda tidak berkata kecuali yang benar saja.
Suatu hari seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata, "Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta", katanya. "Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta", kata Rasulullah SAW. "Ia tidak mampu", kata perempuan itu. "Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta". "Ia tidak mampu". Para sahabat yang berada di situ berkata, "bukankah unta itu juga anak unta?"

Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit. Dia memanggilmu". "Semoga suamimu yang dalam matanya putih", kata Rasulullah SAW. Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya. Suaminya bertanya dengan keheranan, "kenapa kamu ini?". "Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih", kata istrinya menerangkan. "Bukankah semua mata ada warna putih?" kata suaminya.
Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam syurga". "Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua". Perempuan itu lalu menangis. Rasulullah menjelaskan, "tidakkah kamu membaca firman Allah ini,

Serta kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya".

Para sahabat Rasulullah SAW suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na'im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.

AL-QAMAH DIBAKAR RASUL

Dengan tergopoh-gopoh, isteri Al-Qamah menghadap Rasulullah SAW mengabarkan suaminya sakit keras. Beberapa hari mengalami naza' tapi tak juga sembuh. "Aku sangat kasihan kepadanya ya Rasulullah," ratap perempuan itu.
Mendengar pengaduan wanita itu Nabi SAW merasa iba di hati. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk keadaan Al-Qamah. Keadaan Al-Qamah memang sudah dalam keadaan koma. Sahabat Bilal lalu menuntunnya membacakan tahlil di telinganya, anehnya seakan-akan mulut Al-Qamah rapat terkunci. Berulang kali dicoba, mulut itu tidak mau membuka sedikitpun.
Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang melaporkan kepada Rasulullah SAW tentang keadaan Al-Qamah.
"Sudah kau coba menalqin di telinganya?" tanya Nabi.
"Sudah Rasulullah, tetapi mulut itu tetap terbungkam rapat," jawabnya.
"Biarlah aku sendiri datang ke sana", kata Nabi.
Begitu melihat keadaan Al-Qamah tergolek diranjangnya, Nabi bertanya kepada isteri Al-Qamah :
"Masihkah kedua orang tuanya?" tanya Nabi.
"Masih ya Rasulullah," tetapi tinggal ibunya yang sudah tua renta," jawab isterinya.
"Di mana dia sekarang?"
"Di rumahnya, tetapi rumahnya jauh dari sini."
BAKAR SAJA
Tanpa banyak bicara , Rasulullah SAW lalu mengajak sahabatnya menemui ibu Al-Qamah mengabarkan anaknya yang sakit parah.
"Biarlah dia rasakan sendiri", ujar ibu Al-Qamah.
"Tetapi dia sedang dalan keadaan sekarat, apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anakmu ?" tanya Nabi.
"Dia berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.
"Ya, tetapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan dosa anaknya," bujuk Nabi.
"Bagaimana aku harus memaafkan dia ya Rasulullah jika Al-Qamah selalu menyakiti hatiku sejak dia memiliki isteri," kata ibu itu.
"Jika kau tidak mau memaafkannya, Al-Qamah tidak akan bisa mengucap kalimat syahadat, dan dia akan mati kafir," kata Rasulullah.
"Biarlah dia ke neraka dengan dosanya," jawab ibu itu.
Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati ibu itu, Rasulullah lalu mencari kiat lain. Kepada sahabat Bilal Nabi berkata : "Hai bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya," perintah Nabi.
"Untuk apa kayu bakar itu Rasulullah," tanya Bilal keheranan.
"Akan kugunakan untuk membakar Al-Qamah, dari pada dia hidup tersiksa seperti itu, jika dibakar dia akan lebih cepat mati, dan itu lebih baik karena tak lama menanggung sakit", jawab Rasulullah.
Mendengar perkataan Nabi itu, ibu Al-Qamah jadi tersentak. Hatinya luluh membayangkan jadinya jika anak lelaki di bakar hidup-hidup. Ia menghadap Rasulullah sambil meratap, "Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku," ratapnya.
Legalah kini hati Rasulullah karena bisa meluluhkan hati seorang ibu yang menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al-Qamah dan menuntunya membaca talkin. Berbeda dengan sebelumnya, mulut Al-Qamah lantas bergerak membacakan kalimat dzikir membaca syahadat seperti yang dituntunkan Nabi. Jiwanya tenang karena dosanya telah diampuni ibu kandungnya. Al-Qamah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan fasih mengucapkan kalimat syahadat. Ia meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Memang, surga adalah di bawah telapak kaki ibunda. (drt)
Oleh :

ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."

Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."

Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

Tetangga yang Baik

Diriwayatkan dari Sahal bin Abdillah rahimahullah, bahwa dia mempunyai seorang tetangga yang merupakan orang dzimmiy (orang non-muslim yang tinggal di wilayah Islam, memiliki hak keamanan harta dan jiwa dengan membayar jizyah). Dan dari rumah orang dzimmiy itu ada kebocoran yang menimbulkan tetesan air ke rumah Sahal.
Setiap hari Sahal menampung air bocoran itu di dalam suatu wadah agar tidak menyebar di rumahnya. Jika telah penuh Sahal membuangnya pada malam hari agar tidak dilihat oleh orang. Keadaan itu terus berlangsung lama sampai ketika ajal sudah mendatangi Sahal.
Lalu tetangganya yang dzimiiy Majusi itu datang menjenguknya ketika ia sedang sakit menjelang meninggalnya. Sahal menyuruhnya masuk ke sebuah ruangan di rumahnya agar tetangganya itu melihat apa yang terjadi di dalamnya. Begitu Majusi itu masuk, ia langsung melihat adanya kebocoran dari rumahnya dan airnya menetes ke rumah Sahal. Ia paham, hal ini tentu saja mengganggu Sahal. Ia kemudian bertanya, "Apa sebenarnya yang kulihat ini?"
Sahal berkata, "Hal ini sudah berlangsung lama, air menetes dari rumahmu ke rumahku ini. Dan saya menampungnya di siang hari, kemudian membuangnya pada malam hari. Kalaulah bukan karena ajalku telah tiba, dan aku takut orang lain tidak sanggup menerima keadaan ini, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepadamu. Makanya aku melakukan hal telah kau lihat ini."
Orang Majusi itu berkata: "Wahai Syekh! Engkau telah memperlakukan aku dengan toleransi tinggi seperti ini, sedangkan saya tetap saja memegang kekufuranku. Tolong julurkanlah tangan anda, inilah saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah). Setelah itu Sahal kemudian meninggal.

Taubat Sejati Seorang Pemuda

Add caption
Imam Malik bin Dinar mengajari kita dalam bagian ini tentang seorang pemuda kecil di waktu haji, dengan bertutur,

"Ketika kami mengerjakan ibadah haji, kami mengucapkan talbiyah dan berdoa kepada Allah, tiba-tiba aku melihat pemuda yang masih sangat muda usianya memakai pakaian ihram menyendiri di tempat penyendiriannya tidak mengucapkan talbiyah dan tidak berdzikir mengingat Allah seperti orang-orang lainnya. Aku mendatanginya dan bertanya, 'mengapa dia tidak mengucapkan talbiyah ?'"

Dia menjawab, "Apakah talbiyah mencukupi bagiku, sedangkan aku sudah berbuat dosa dengan terang-terangan. Demi Allah! Aku khawatir bila aku mengatakan labbaik maka malaikat menjawab kepadaku, 'tiada labbaik dan tiada kebahagiaan bagimu'. Lalu aku pulang dengan membawa dosa besar."

Aku bertanya kepadanya, "Sesungguhnya kamu memanggil yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dia bertanya, "Apakah kamu menyuruhku untuk mengucapkan talbiyah? "

Aku menjawab, "Ya."

Kemudian dia berbaring di atas tanah, meletakkan salah satu pipinya ke tanah mengambil batu dan meletakkannya di pipi yang lain dan mengucurkan air matanya sembari berucap, "Labbaika Allaahumma labbaika, sungguh telah kutundukkan diriku kepada-Mu dan badan telah kuhempaskan di hadapan-Mu."

Lalu aku melihatnya lagi di Mina dalam keadaan menangis dan dia bekata, "Ya Allah, sesungguhnya orang-orang telah menyembelih kurban dan mendekatkan diri kepada-Mu, sedangkan aku tidak punya sesuatu yang bisa kugunakan untuk mendekatkan diri kepadamu kecuali diriku sendiri, maka terimalah pengorbanan dariku. Kemudian dia pingsan dan tersungkur mati. Akupun mohon kepada Allah agar dia mau menerimanya.

Sumber: Asyabalunal 'Ulama (65 Kisah Teladan Pemuda Islam Brilian), Muhammad Sulthan.

Lukman Hakim dan Keledai

Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.

Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"

Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"

Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"

Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."

Sumber: Didaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas

Al-Bashri dan Gadis Kecil



Sore itu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusust dan terurai, tak beraturan.
Al-Bashri tertarik penampilan gadis kecil tadi. Ia turun dari rumahnya dan turut dalam iring-iringan. Ia berjalan di belakang gadis kecil itu.

Di antara tangisan gadis itu terdengar kata-kata yang menggambarkan kesedihan hatinya."Ayah, baru kali ini aku mengalami peristiwa seperti ini."Hasan al-Bashri menyahut ucapan sang gadis kecil, "Ayahmu juga sebelumnya tak mengalami peristiwa seperti ini."

Keesokan harinya, usai salat subuh, ketika matahari menampakkan dirinya di ufuk timur, sebagaimana biasanya Al-Bashri duduk di teras rumahnya. Sejurus kemudian, gadis kecil kemarin melintas ke arah makan ayahnya. "Gadis kecil yang bijak," gumam Al-Bashri. "Aku akan ikuti gadis kecil itu."

Gadis kecil itu tiba di makan ayahnya. Al-Bashri bersembunyi di balik pohon, mengamati gerak-geriknya secara diam-diam. Gadis kecil itu berjongkok di pinggir gundukan tanah makam. Ia menempelkan pipinya ke atas gundukan tanah itu. Sejurus kemudian, ia meratap dengan kata-kata yang terdengar sekali oleh Al-Bashri.

"Ayah, bagaimana keadaanmu tinggal sendirian dalam kubur yang gelap gulita tanpa pelita dan tanpa pelipur? Ayah, kemarin malam kunyalakan lampu untukmu, semalam siapa yang menyalakannya untukmu? Kemarin masih kubentangkan tikar, kini siapa yang melakukannya, Ayah? Kemarin malam aku masih memijat kaki dan tanganmu, siapa yang memijatmu semalam, Ayah? Kemarin aku yang memberimu minum, siapa yang memberimu minum tadi malam? Kemarin malam aku membalikkan badanmu dari sisi yang satu ke sisi yang lain agar engkau merasa nyaman, siapa yang melakukannya untukmu semalam, Ayah?"

"Kemarin malam aku yang menyelimuti engkau, siapakah yang menyelimuti engkau semalm, ayah? Ayah, kemarin malam kuperhatikan wajahmu, siapakah yang memperhatikan tadi malam Ayah? Kemarin malam kau memanggilku dan aku menyahut penggilanmu, lantas siapa yang menjawab panggilanmu tadi malam Ayah? Kemarin aku suapi engkau saat kau ingin makan, siapakah yang menyuapimu semalam, Ayah? kemarin malam aku memasakkan aneka macam makanan untukmu Ayah, tadi malam siapa yang memasakkanmu?"

Mendengar rintihan gadis kecil itu, Hasan al-Bashri tak tahan menahan tangisnya. Keluarlah ia dari tempat persembunyiannya, lalu menyambut kata-kata gadis kecil itu.

"Hai, gadis kecil! jangan berkata seperti itu. Tetapi, ucapkanlah, "Ayah, kuhadapkan engkau ke arah kiblat, apakah kau masih seperti itu atau telah berubah, Ayah? Kami kafani engkau dengan kafan yang terbaik, masih utuhkan kain kafan itu, atau telah tercbik-cabik, Ayah? Kuletakkan engkau di dalam kubur dengan badan yang utuh, apakah masih demikian, atau cacing tanah telah menyantapmu, ayah?"

"Ulama mengatakan bahwa hamba yang mati ditanyakan imannya. Ada yang menjawab dan ada juga yang tidak menjawab. Bagaimana dengan engkau, Ayah? Apakah engkau bisa mempertanggungjawabkan imanmu, Ayah? Ataukah, engkau tidak berdaya?"

"Ulama mengatakan bahwa mereka yang mati akan diganti kain kafannya dengan kain kafan dari sorga atau dari neraka. Engkau mendapat kain kafan dari mana, Ayah?"

"Ulama mengatakan bahwa kubur sebagai taman sorga atau jurang menuju neraka. Kubur kadang membelai orang mati seperti kasih ibu, atau terkadang menghimpitnya sebagai tulang-belulang berserakan. Apakah engkau dibelai atau dimarahi, Ayah?"

"Ayah, kata ulama, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah engkau menyesal karena kejelekanmu ataukah karena amal baikmu yang sedikit, Ayah?"

"Jika kupanggil, engkau selelu menyahut. Kini aku memanggilmu di atas gundukan kuburmu, lalu mengapa aku tak bisa mendengar sahutanmu, Ayah?"

"Ayah, engkau sudah tiada. Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi hingga hari kiamat nanti. Wahai Allah, janganlah Kau rintangi pertemuanku dengan ayahku di akhirat nanti."

Gadis kecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata, "Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai."

Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis.

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka
,

Detik-Detik Kematian Amru bin Ash

Amru bin Ash ketika akan wafat ia menangis tersedu-sedu, lalu ia memalingkan mukaanya ke dinding, sedang putranya memanggil, "Oh, ayah, bukankah Rasulullah saw. telah memberi kabar gembira padamu akan mendapaatkan ini dan itu (pahala yang besar)?" Lalu ia memandang anaknya dan berkata, "Sebaik-baik yang kami sediakan adalah kalimat syahadat Laa ilaaha illa Allah wa anna Muhammadar Rasulullah, sungguh saya telah mengalami tiga tingkatan dalam hidup ini."

Pertama, saya benci kepada Rasulullah dan tidak ada keinginanku pada waktu itu melainkan mendapat kesempatan untuk membunuh beliau, dan andaikata waktu itu saya mati, niscaya saya jadi ahli neraka.

Kedua, Allah memasukkan Islam ke dalam hatiku, lalu saya datang kepada Rasulullah seraya berkata, "Ulurkan tanganmu, saya akan berbai'at kepadamu." Ketika beliau mengulurkan tangannya, maka aku menarik lagi tanganku. Lalu Nabi bertanya, "Mengapakah engkau hai Amru?" Saya menjawab, "Saya minta suatu syarat." Beliau bertanya, "Syarat apakah itu?" Saya berkata, "Semua dosa saya diampunkan." Lalu Nabi menjawab, "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Islam itu menghapuskan dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu juga menghapuskan dosa-dosa sebelumnya."

Pada tingkatan ketiga ini tidak ada seorang pun yang saya muliakan dan saya kasihi lebih dari Nabi Muhammad saw., hingga saya tidak berani mengangkat mata di hadapannya karena hebatnya. Maka, sekiranya seseorang bertanya kepadaku sifat Nabi saw., saya tidak akan sangggup menerangkannya, sebab saya tidak pernah berani memandang beliau sepenuhnya. Sekiranya saya mati ketika itu, niscaya saya mengharapkan surga.

Ka'ab bin Malik dan Taubatnya

Ka'ab bin Malik ra bercerita tentang tertinggalnya dia dalam Perang Tabuk, "Belum pernah saya tertinggal dari Rasulullah saw dalam suatu peperangan melainkan dalam Perang Tabuk, saya memang tidak turut dalam Perang Badar, tetapi tidak disalahkan, karena Rasulullah saw keluar hanya untuk menghadang Khalifah Qurasy tiba-tiba Allah menghadapkan mereka kepada lawan yang tidak terduga sebelumnya. Saya telah menyaksikan bersama Rasulullah saw malam "Bai'atul Aqabah" ketika saya berbai'at atas Islam, dan saya tidak suka andaikan kejadian "Lailatul Aqabah" itu ditukar dengan Perang Badar meskipun Perang Badar itu lebih dikenal orang."

Adapun cerita mengenai kami tidak ikut Perang Tabuk ialah: "Saya memang belum pernah merasa kuat dan lebih longgar sebagaimana keadaan saya ketika tertinggal dalam Perang Tabuk, demi Allah, saya belum pernah menyiapkan dua kendaraan melainkan untuk peperangan, dan biasanya Rasulullah saw jika akan keluar pada peperangan dengan menyamarkan dengan tujuan yang lain, kecuali dalam perang ini, karena Rasulullah akan melakukannya dalam musim kemarau, dan akan menghadapi perjalanan yang jauh, di samping musuh yang dihadapi jauh lebih besar dan lebih kuat, maka beliau menjelaskan kepad kaum muslimin supaya bersiap siaga sungguh-sungguh dan memberitahukan kepada mereka arah tujuan yang sebenarnya.

Kaum muslimin saat itu cukup banyak tidak tercatat nama mereka dalam sebuah buku, sehingga kalau seorang tidak ikut dalam perang ini, mungkin ia mengira tidak akan diketahui oleh Rasulullah saw selama tidak ada wahyu turun dari Allah.

Rasulullah saw keluar ke medan Perang Tabuk bersamaan dengan musim berbuahnya pohon-pohon. Saya merasa lebih condong pada peperangan ini dan saya pun telah bersiap-siap. Namun, sesampai di rumah saya tidak berbuat apa-apa, saya berkata dalam hati, "Saya dapat mengerjakannya sewaktu-waktu." Saya berlarut-larut dalam keadaan demikian sehingga pagi-pagi Rasulullah dan kaum muslimin sudah bersiap-siap untuk berangkat, saya segera pulang untuk bersiap-siap, tetapi sampai di rumah saya tidak berbuat apa-apa. Maka berangkatlah Rasulullah dan kaum muslimin dan saya merasa masih dapat mengejar mereka, tetapi saya tidak ditakdirkan oleh Allah yang demikian itu. Lalu, sesudah itu bila saya keluar, saya merasa sedih karena tidak mendapat teman kecuali orang-orang munafik dan orang-orang yang telah dimanfaatkan oleh Allah, seperti orang tua dan orang-orang miskin yang tidak dapat ikut serta bersama Rasulullah dalam perang ini.

Rasulullah saw tidak menyebut-nyebut nama saya sehingga sampai di Tabuk, ketika itu beliau tengah duduk di tengah-tengah kaum muslimin, beliau bertanya, "Apakah kerja Ka'ab bin Malik?" Seorang dari Bani Salmah menjawab, "Ya Rasulullah, ia tertahan dengan mantelnya." Lalu Muadz bin Jabal berkata, "Ya Rasulullah, kami tidak mengenal daripadanya, melainkan kebaikan semata-mata." Rasulullah diam, tidak menyahut ketarangan itu, dan ketika itu pula nampak bayang-bayang orang, lalu beliau berkata, "Mudah-mudahan itu Abu Kaitsmah." Dan benar, bahwa itu adalah Abu Kaitsamah al-Anshari yang pernah diejek oleh orang munafik karena ia menderma satu sha' (2,5 kg) kurma.

Ketika sampai berita kepada saya bahwa Rasulullah akan kembali, saya sedih atas keteledoran saya, sehingga ingin mencari jalan untuk menghindari murka beliau dalam hal ini saya telah minta bantuan para sanak kerabat. Tetapi, ketika sampai kepada saya bahwa Rasulullah saw datang, tiba-tiba saya mengambil keputusan dan mengetahui benar-benar bahwa saya tidak akan bisa selamat dari beliau mengaku apa adanya.

Pada waktu pagi Rasulullah memasuki kota Madinah dan terus memasuki masjid sebagaimana biasanya jika beliau baru tiba dari bepergian jauh, dan menanti kedatangan orng yang mengajukan alasan mengapa tidak ikut serta dalam perang. Maka, datanglah orang-orang yang tidak ikut serta dalam Perang Tabuk kurang lebih 80 orang, masing-masing mengajukan alasan dan bersumpah. Maka, Rasulullah menerima alasan mereka yang lahir dan memintakan ampun kepada Allah, dapun soal batin, beliau serahkan kepada Allah, sehingga sampailah giliran saya, ketika saya memberikan salam, beliau tersenyum ramah kepada saya sambil berkata, "Mari sini!" Lalu saya duduk di depannya, maka beliau bertanya, "Mengapa kamu tidak ikut berangkat, bukankah kamu telah menyiapkan kendaraan untuk ikut perang?" Saya menjawab, "Demi Allah, ya Rasulullah, andaikan saya ini duduk di depan seseorang selain engkau, niscaya dapat mengemukakan alasan-alasan untuk menyelamatkan diri dari murka-Nya, karena saya termasuk orang yang pandai berdebat, tetapi demi Allah, saya yakin jika saya berdusta kepada engkau, mungkin engkau menerima serta ridha terhadap saya, tetapi Allah akan murka terhadap saya, dan jika aku berkata sebenranya, mungkin engkau menyesal kepadaku, tetapi saya berharap Allah mau mengampuni saya. Demi Allah, sebenarnya tidak ada alasan bagi saya dan belum pernah saya merasa sehat dan ringan sebagaiamana keadaan saya ketika tidak turut beserta engkau berangkat ke Tabuk", maka Rasulullah menjawab, "Kamu telah berkata sebenarnya, maka pergilah sampai Allah memberi keputusan perkaramu ini." Ketika saya bangun diikuti oleh beberapa orang dari Bani Salamah sambil berkata, "Demi Allah, kau belum melakukan dosa selain ini, mengapa kau tidak meminta maaf saja kepada Rasulullah? Cukup bagimu jika beliau memintakan ampun bagimu." Mereka menyalahkan perbuatan saya, hingga hampir saja saya akan kembali kepada Rasulullah untuk menarik kembali pengakuan saya semula. Lalu, saya bertanya keopada mereka, "Adakah orang yang menerima keputusan sebagaimana saya?" Mereka menjawab, "Ada, yaitu Murarah bin Rabi'ah al Amiry dan Hilal bin Umayyah al Waqifi", maka ketika mereka menyebut nama dua orang yang saleh yang telah ikut serta dalam Perang Badar, maka saya merasa tenang, sebab ada dua orang yang dijadikan teladan, dan akhirnya saya tidak jadi menarik pengakuan saya.

Kemudian Rasulullah melarang sahabat-sahabatnya berbicara kepada kami bertiga, maka orang-orang mulai berubah sikap dan menjauhi kami, sehingga suasana kota Madinah berubah bagi saya seolah-olah saya seperti orang asing selama 50 hari, kedua teman saya hanya tinggal di rumah saja sambil menangis, sedangkan kami yang lebih muda darinya dikatakan lebih kuat dari keduanya, maka saya tetap keluar dari rumah untuk menghadiri salat jamaah, pergi ke pasar namun tidak ada seorang pun yang mau berbicara dengan saya, dan saya juga mendatngi majlis Rasulullah saw memberi salam kepadanya sambil memperhatikan bibirnya kalau-kalau ia menggerakan bibirnya menjawab salam saya, lalu saya mendekat kepadanya sambil melirik kepadanya, dan apabila saya melirik kepadanya, beliau membuang muka dariku.

Saya mendatangi rumah Abu Qatadah, sepupu saya yang akrab, lalu saya mengucapkan salam, tetapi dia tidak menjawab. Lalu saya bertanya kepadanya, "Apakah kamu mengetahui bahwasannya saya tetap cinta kepada Allah dan Rasul-Nya?" Ia pun tidak menjawab, hingga saya mengulanginya tiga kali dan ia pun tidak menjawab, ia hanya berkata, "Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui", maka bergulirlah air mataku mendengar itu, lalu saya terus kembali pulang.

Saya berjalan-jalan di pasar, tiba-tiba ada seorang petani dari negeri Syam yang biasa menjual makanan di pasar Madinah bertanya, "Siapakah yang suka menunjukkan saya kepada Ka'ab bin Malik?" Maka, semua orang yang ditnya menunjuk keada saya. Kemudian orang itu mendekati saya sambil membawa sepucuk surat dari Raja Hasan yang di dalamnya berisi, "Sebenarnya saya telah mendengar bahwa kamu telah diboikot oleh teman-temanmu, dan Allah tidak menjadikan kamu orang yang terhina, datanglah kepada kami, tentu akan kami terima." Maka, saya berkata, "Ini juga sebagai ujian", lalu saya pergi ke tempat api untuk membakar surat itu.

Setelah 40 hari dari kejadian itu, ada seorang utusan Rasulullah mendatangi saya dan memberitahu bahwa, "Rasulullah memerinthkan kamu untuk menjauhi istrimu." Saya bertanya, "Apakah saya harus dicerai?" Ia menjawab, "Tidak, kamu hanya dilarang untuk mendekatinya, dan begitu pula diutus untuk kedua teman saya yang senasib." Maka saya katakan kepada istri saya, "Saya harapkan kamu pulang kepada keluargamu sampai saya mendapat keputusan dari Allah mengenai urusanku ini." Istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah memberi tahu bahwa Hilal adalah seorang tua yang tidak mempunyai pelayan, apa boleh kiranya saya melayaninya? Beliau menjawab, "Boleh melayani, asal tidak mendekati kamu." Ia berkata, "Demi Allah, ia tidak memunyai nafsu untuk mendekati, sebab sejak ia menerima keputusan itu ia menangis terus tak henti-hentinya."

Sebagian kerabatku mengusulkan supaya minta izin kepada Rasulullah untuk sitriku, sebagaimana Hilal bin Umayyah, saya menjawab, "Saya tidak akan minta izin kepada Rasulullah untuk istriku, sedang saya belum tahu apakah yang akan dijawab oleh beliau, setelah 10 hari dan genaplah 50 hari sejak Rasulullah melarang sahabt-sahabat untuk tidak berbicara kepada saya." Dan pada hari yang ke-50 itu, ketika saya sedang salat Subuh di ruangan bagian atas rumahku, ketika itu saya sedang duduk merenungkan nasib diri yang benar-benar seperti yang telah disebut Allah dlam Alquran, yaitu sempit hidup di atas dunia ini, tiba-tiba saya mendengar suara jeritan yang sangat keras: "Wahai Ka'ab bin Malik, sambutlah kabar baik", lalu saya sujud syukur sebab saya merasa psti Rasulullah telah mengatakan kepada sahabatnya bahwa Allah telah menerima taubat saya pagi ini.

Orang-orang datang mengucapkan selamat kepada saya, ada yang berlari, ada yang berkendaraan, dan ada pula yang menjeritkan suaranya. Ketika sampai kepadaku orang yang sampai terlebih dahulu, saya langsung melepas pakaian lalu saya hadiahkan kepadanya, padahal waktu itu saya hanya punya satu pakaian. Saya terpaksa meminjam pakaian untuk Rasulullah saw.

Kemudian saya berjalan ke tempat Rasulullah, sedang orang-orang sama menyebut saya dengan ucapan selamat atas diterimanya taubat saya oleh Allah, sehingga sampailah saya di masjid Rasulullah, di mana beliau duduk dan ditemani para sahabatnya, maka Thalhah bin Ubaidillah bangkit dari duduknya untuk menjabat tangan saya sambil mengucapkan selamat. Demi Allah yang tiada seorang pun dari sahabat Muhajirin yang bangun dari tempatnya selain Thalhah, hingga saya tidak dapat melalaikan kebaikannya itu.

Ketika saya memberi salam kepada Rasulullah tampak wajah beiau berseri-seri seraya berkata, "Sambutlah hari yang paling baik bagimu sejak kamu dilahirkan oleh ibumu." Saya bertanya, "Apakah keputusan itu dari engkau ya Rasulullah atau dari Allah?" Belia menjawab, "Dari Allah Azza wa Jalla." Sudah menjadi kebiasaan bagi Rasululah, apabila beliau bergembira wajahnya berseri-seri bagaikan sepotong rembulan.

Kemudian saya berkata, "Ya Rasulullah, untuk kesempurnaan taubatku, saya akan menyedekahkabn semua kekayaan untuk Allah dan Rasul-Nya", lalu beliau menjawab, "Tahanlah sebagian hartamu, sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagimu." Saya berkata, "Saya akan menahan yang saya dapat dari Perang Khaibar ya Rasulullah."

Sungguh Allah telah menyelamatkan saya, sebab pengakuan saya yang benar, sebab itu ya Rasulullah, saya berjanji tidak akan berbicara melainkan dengan benar sebagai kelanjutan dari taubat saya. Demi Allah, saya tidak pernah mengetahui dari seorang pun dari kaum muslimin telah mendapat ujian dari Allah karena kebenarannya sebagaimana saya. Demi Allah, saya tidak pernah sengaja berdusta sejak saya berjanji yang demikian itu pada Rasaulullah sampai hari ini, dan saya berharap semoga Allah terus memelihara saya sampai akhir hayat.

Sumber: 1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto

Pencuri Bertakwa

Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syekh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syekh menasihati dia dan teman-temannya: "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang yang alim yang menadahkan tangannya kepada orang lain atau orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Maka pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya: "Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?" Sambil bergetar ibunya menjawab, "Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?" Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun, akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel si ibu berkata, "Ayahmu dulu seorang pencuri."

Pemuda itu berkata, "Guruku memerintahkan kami--murid-muridnya--untuk bekerja seperti pekerjaan ayah kami masing-masing dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut."

Ibunya menyela, "Hai! apakah dalam pekerjaan mencuri ada ketakwaan?" Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab dengan tenang, "Ya, begitu kata guruku."

Lalu dia pergi bertanya pada orang-orang dan belajar bagaimana seorang pencuri melakukan aksinya. Sekarang ia telah mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian salat Isya' dan menunggu sampai orang-orang tidur. Kemudian dia mulai keluar rumah untuk menjalankan provesi ayahnya dengan penuh ketakwaan, seperti perintah gurunya. Dia mulai dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah itu dia ingat pesan gurunya agar selalu bertakwa. Akhirnya rumah tetangga itu ditinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, "Ini rumah anak yatim, dan Allah melarang kita makan harta anak yatim." Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. "Haa, di sini," gumamnya. Pemuda itu segera memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang telah dipersiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak, dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata, "Eh, jangan! Guruku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu."

Dia lalu mengambil buku-buk catatan yang ada di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan punya pengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, ternyata fajar telah menyingsing. Dia bicara sendiri, "Ingat takwa kepada Allah! Kau harus salat subuh dulu!" Kemudian dia keluar menuju ruang tengah, lalu berwudu di bak air untuk selanjutnya melaksanakan salat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat juga kotak hartanya dalam keadaan terbuka serta ada orang yang sedang melakukan salat. Istrinya bertanya, "Apa ini?" Dijawab oleh suaminya, "Demi Allah, aku juga tidak tahu." Lalu dia menghampiri si pencuri itu, "Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?" Si pencuri berkata, "Salat dulu baru bicara. Ayo pergilah wuduk lalu salat berjamaah. Tuan rumahlah yang berhak menjadi imam."

Karena khawatir pencuri itu membawa senjata, si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi--wallahu a'lam-- bagaimana dia bisa salat dengan khusyu'. Selesai salat dia bertanya, "Sekarang coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?" Dia menjawab, "Saya ini pencuri." "Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?" tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab, "Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak." Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu ia berkata, "Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini sudah gila?"

Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal sampai akhir. Setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, serta mengerti akan manfaat dan kewajiban zakat, dia pergi menemui istrinya. Mereka berdua mempunyai seorang anak gadis. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, lalu berkata, "Bagaimana sekiranya kalau kau kunikahkan dengan putriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini." Ia menjawab, "Aku setuju." Di pagi harinya tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah putrinya dengan si pemuda itu.

Abu Hanifah dan Tetangganya



Di Kufah, Abu Hanifah mempunyai tetangga tukang sepatu. Sepanjang hari bekerja, menjelang malam ia baru pulang ke rumah. Biasanya ia membawa oleh-oleh berupa daging untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar. Selesai makan, ia terus minum tiada henti-hentinya sambil bemyanyi, dan baru berhenti jauh malam setelah ia merasa mengantuk sekali, kemudian tidur pulas.
Abu Hanifah yang sudah terbiasa melaksanakan salat sepanjang malam, tentu saja merasa terganggu oleh suara nyanyian si tukang sepatu tersebut. Tetapi, ia diamkan saja. Pada suatu malam, Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi seperti biasanya. Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya. Ternyata menurut keterangan tetangga lain, ia baru saja ditangkap polisi dan ditahan.

Selesai salat subuh, ketika hari masih pagi, Abu Hanifah naik bighalnya ke istana. Ia ingin menemui Amir Kufah. Ia disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri yang berkenan menemuinya.

"Ada yang bisa aku bantu?" tanya sang Amir. "Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan, Amir, " jawab Abu Hanifah. "Baiklah," kata sang Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan tetangga Abu Hanifah yang baru ditangkap kemarin petang.

Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya pelan-pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan kaki di belakangnya. Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada tetangganya itu seraya berkata, "Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?" "Tidak, bahkan sebaliknya." Ia menambahkan, "Terima kasih. Semoga Allah memberimu balasan kebajikan."

Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya, sehingga Abu Hanifah dapat merasa lebih khusyu' dalam ibadahnya setiap malam.

Sumber: Al-Thabaqat al-Saniyyat fi Tajarun al-Hanafiyat, Taqiyyuddin bin Abdul Qadir al-Tammii

Yang Terakhir Ke Jannah

Rasulullah SAW pernah berkisah bahwa nanti orang yang terakhir kali masuk jannah adalah seorang lelaki (menuju jannah), terkadang berjalan dan terkadang terjatuh, sehingga kadang api neraka menyambarnya. Ketika telah selamat dari api neraka ia berkata " Maha Suci Dzat yang telah menyelamatkanku darimu, Sungguh Allah SWT telah menganugrahiku sesuatu yang belum pernah diberikan kepada seorangpun baik orang terdahulu maupun kemudian ".

Setelah itu nampaklah olehnya sebuah pohon. Ia berkata, "Ya Rabbi, dekatkanlah aku dengan pohon itu agar aku dapat bernaung dibawahnya dan meminum airnya." Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam, boleh jadi bila Aku kabulkan permohonanmu, engkau akan meminta yang lainnya lagi". Ia menjawab ," Tidak wahai Rabbi." Allah SWT memaklumi keinginannya dan mendekatkannya kepohon tersebut sehingga bisa berteduh dan meminum air dibawahnya.

Tak lama kemudian nampaklah olehnya pohon lain yang lebih indah daripada pohon pertama. Ia pun meminta lagi dan terjadilah dialog sebagaimana dialog pertama. Kali ini Allah SWT juga mengabulkan permintaannya dan mendekatkannya dengan pohon yang lebih indah tadi. Ia pun berteduh dan meminum air dibawah pohon yang kedua.

Berikutnya nampak lagi olehnya pohon lain yang jauh lebih indah dari dua pohon sebelumnya. Letaknya didekat pintu jannah. Ia tak kuasa menahan keinginannya dan meminta lagi agar didekatkan dengan pohon tersebut. Kembali Allah SWT mengabulkan permintaan orang Ketika ia telah didekat pintu jannah, ia mendengar suara dari dalam jannah. Suara yang mendorongnya untuk meminta lagi kepada Allah SWT agar ia dimasukkan ke jannah. Padahal sejak permintaan kali pertama ia berjanji untuk tidak meminta lagi. Lalu Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam, apa yang akan membuatmu puas ? Apakah kamu rela jika aku memberimu jannah yang seluas dunia dan semisalnya lagi ? " Orang tadi berkata ,"Ya Rabbi, apakah Engkau mempermainkanku padahal Engkaulah Pengatur seluruh alam ?" Allah SWT pun tertawa mendengar perkataan orang tadi lalu berfirman, "Saya tidak sedang mempermainkanmu tetapi Aku berkuasa untuk melakukan apa yang Aku kehendaki."

Subhanallah, itu untuk penduduk terakhir, bagaimana dengan yang terdahulu ? Mari berlomba mendapatkannya. Wallahu a`lam. ( Sumber : H.R Muslim : 187 )

Siapa Paling Jelek?

Ada suatu kisah seorang santri yang menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai Fulan, kau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus.", kata Kyai.

"Baik pak Kyai, apa pertanyaannya?"

"Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari.", jawab Kyai.

Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya.

Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan pemabuk berat yang dapat dikatakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, "Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus."

Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. "Belum tentu, sekarang Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Allah SWT memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah. Dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah, bagaimana? Dia belum tentu lebih jelek dari saya.

Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yang menjijikkan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dan sebagainya. Santri bergumam, "Ketemu sekarang yang lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi." Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya.

Waktu akan tidur sehabis 'Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yang sangat berat. Kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka. Aku tidak lebih baik dari anjing itu."

Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah dapat jawabannya muridku?"

"Sudah guru", santri menjawab. "Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru."

Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan lulus."

***
Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/makhluk lain. Yang berhak sombong adalah Allah SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yang sama-sama ciptaan Allah SWT. 

Cemburu, Siapa Takut?

Cemburu. Seringkali kata ini dianggap sebagai kambing hitam terkoyaknya hubungan suami istri. Percayalah, tidak selamanya asumsi itu benar. Sebab cikal-bakal cinta sejati, berdirinya rumah-tangga yang kokoh, lahirnya juga dari sifat cemburu.

Cemburu itu bumbu cinta. Bumbu yang akan lebih menyedapkan romantika dalam bercinta. Rasulullah mencela seorang suami yang tidak mempunyai rasa cemburu. Atau sebaliknya isteri yang bukan pencemburu.

Alkisah, Aisyah pernah cemburu lantaran Rosul berulang-ulang menyebut kebaikan Khadijah binti Khuwailid, isteri pertama beliau saw. "Rasulullah jika mengingat Khadijah, tak bosan-bosannya memuji dan beristighfar untuknya. Hingga pada suatu hari beliau menyebut-nyebutnya yang membuatku terbawa oleh rasa cemburu. Aku berkata, 'Allah telah menggantikan yang lanjut usia itu bagimu.' Aku saksikan beliau sangat marah.Aku sangat menyesal sambil berdoa dalam hati: Ya Allah, jika Engkau hilangkan kemarahan Rasul-Mu terhadapku, aku tak akan lagi menyebutkan kejelekannya," kisah Aisyah.

Masih dari kisah yang sama, disebutkan Rosul marah mendengar ucapan istrinya yang masih belia dan rupawan itu, seraya berkata, "Apa yang kau katakan? Demi Allah, ia beriman ketika orang-orang mendustakan aku. Ia melindungi ketika orang-orang menolakku. Darinya aku dikaruniai anak-anak dan tidak aku dapatkan dari kalian."

Melihat reaksi suaminya, jelas Aisyah terpagut. Ia tak menyangka Rasul sekeras itu menanggapi perkataannya. Sebuah ekspresi kecintaan luar biasa Nabi pada Khadijah, yang kian membakar tungku kecemburuan Aisyah. Khadijah ra, umul mukminin berakhlaq agung, memang patut mendapat cinta Nabi. Tapi justru kecemburuan itu yang akhirnya memicu Aisyah berazam kuat untuk menapaki jejak sukses Khadijah merebut cinta agung Rosulullah saw.

Cemburu, selain ia sebagai indikator fenomena fitrah insaniyah, sikap itu memang sesuatu yang disunahkan Nabi. Dalam makna lebih luas, kelangsungan ekosistem fitrah alam pun sesungguhnya juga terkait erat dengan sifat cemburu.

Kita tidak bisa membayangkan, apa yang bakal terjadi pada dunia manusia bila mereka tak lagi memiliki rasa cemburu.Dalam etika pergaulan pasangan suami istri, jelas ia wajib ada. Suami yang tak pernah cemburu melihat istrinya keluyuran malam hari sendirian misalnya. Atau cuek melihat istrinya pindah dari pangkuan satu lelaki ke pangkuan lelaki lain. Jelas ini merupakan fenomena rusaknya fitrah seorang insan.

Hilangnya perasaan cemburu dari diri manusia tak lain lantaran, manusia terus-menerus memperturutkan hawa nafsunya. Alquran mengisyaratkan hal itu. "Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka kelak mereka akan menemui kesesatan." (QS 19:59)

Padahal turunan dari perilaku selalu memperturutkan hawa nafsu, adalah tercampaknya rasa malu dari dalam diri manusia. Itulah yang kini terjadi dalam pergaulan masyarakat Barat yang telah rusak. Ironinya, radiasi kerusakan itu telah merambah luas ke masyarakat Indonesia, khususnya kalangan muda-mudi. Kata Nabi, "Kalau engkau sudah tidak punya rasa malu, maka lakukan apa saja sesukamu."

Dalam tinjauan aqidah, malu dan iman merupakan dua sisi mata uang yang tak terpisah. Sebuah hadist mengatakan, "Dari Imron bin Hushoin ra berkata: Rasulullah saw bersabda, malu itu tidak menimbulkan sesuatu kecuali kebaikan samata." (HR Bukhori-Muslim)

Di hadist lainnya diriwayatkan, "Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda, 'Iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60 cabang rantingnya, yang terutamanya adalah kalimat Laa Ilaha Illallah. Serendah-rendahnya yaitu menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari iman."

Yang pasti, malu adalah batas pembeda yang tegas antara manusia dengan binatang. Wajar binatang tidak punya rasa malu, karena ia tidak dikaruniai Allah swt nalar dan perasaan. Tapi jangan lupa binatang masih punya rasa cemburu. Lihatlah betapa kuatnya cemburu seekor merpati jantan pada pasangannya. Ia akan marah bila pasangannya direbut rekannya. Kalau demikian, apa yang kita bisa katakan pada manusia yang tidak lagi memiliki rasa cemburu dan malu?

Dari sini kita tau kenapa Alquran begitu sarkas mengecam manusia-manusia yang telah menjadi budak nafsu. "Ulaika kal an'am, balhum adhol" - "Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi". Bukankah di dunia ayam misalnya, tak pernah terjadi ayam jantan dewasa memperkosa anak ayam perempuan? Bukankah tak pernah terjadi perilaku homo atau lesbi dalam dunia kerbau atau keledai?

Jika demikian kita boleh tarik satu konklusi, cemburu-malu-iman, pada hakikatnya berada pada satu garis linear. Sesungguhnyalah ketiga unsur itu menjadi satu senyawa yang menimbulkan gairah hidup manusia untuk memelihara kehormatan dan meningkatkan amaliahnya.

Kecemburuan Aisyah pun akhirnya berujung pada tekad kuatnya untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas amalnya. Sebab Aisyah menyadari bahwa hanya dengan modal cantik jasmani semata, ia tak mungkin mampu merebut cinta agung Rasulullah. Ia harus mempercantik bathinnya, mempercantik akhlaknya, mempercantik amalnya, dan mempercantik lisannya. Ini sebuah kecemburuan positif dan konstruktif.

Seharusnyalah para istri maupun suami harus cemburu ketika ia tak mendapatkan perhatian dan cinta dari pasangannya. Kalau terjadi kasus demikian, jangan dulu kalap dan menyalahkan pasangannya. Cobalah lakukan evaluasi dan kontemplasi. Jangan-jangan pemicunya adalah, lantaran keadaan masing-masing dalam kondisi stagnan. Tidak pernah ada peningkatan kualitas fisik, kualitas amal, apalagi kualitas akhlak dalam berumah tangga (misalnya berkomunikasi secara mesra) pada masing-masing pihak.

Adalah keliru cemburu dibalas oleh dendam, yakni dengan cara mempertontonkan perilaku urakan dan tercela. Misalnya marah-marah lalu menggaet perempuan/laki-laki lain dan mempertontonkannya secara demonstratif di depan pasangannya. Na'udzubillah min dzalik. Inilah yang terjadi pada dunia Barat saat ini, yang telah penuh sesak dengan kasus-kasus perselingkuhan. Berapa ratus bahkan ribu rumah-tangga yang broken home. Kemudian dari situ lahir generasi-generasi yang secara turun temurun mengukuhkan tradisi bejad: seks bebas.

Cemburu itu bumbu cinta. Karena itu jadikan dia sebagai penyedap sekaligus pemacu semangat mengubah diri ke arah positif dan konstruktif. Tapi hati-hati cemburu bisa jadi petaka, kalau masing-masing pihak tidak pernah merujukkan persoalannya pada rambu-rambu iman dan akhlaq. Wallahu a’lam.
,

Mushab bin Umair: Utusan Sang Utusan

Masyarakat Yastrib yang terdiri dari berbagai suku, selalu dalam kondisi terpecah dan saling curiga, ditambah dengan intrik-intrik Yahudi yang selalu meniupkan rasa permusuhan di antara mereka. Saat itu opini umum, jalur ekonomi dan politik dikuasai oleh orang-orang Yahudi. Sistem riba yang diterapkan Yahudi sangat mengganggu roda perekonomian, dimana kesenjangan antara kaya dan miskin teramat kentara. Keadaan diperparah dengan kepercayaan tradisi leluhur dan animisme yang membelenggu cara berpikir masyarakat.

Maka penduduk muslimin Yastrib yang masih sedikit jumlahnya memutuskan untuk mengirimkan delegasi menghadap Rasulullah, meminta agar beliau mengirimkan seorang da'i dan instruktur ke Yastrib. Beliau mengabulkan permohonan delegasi Yastrib dengan menunjuk Mush'ab al-Khair bin 'Umair RA. Tentunya bukan tanpa alasan Rasulullah memilih pemuda pendiam yang satu ini. Ia adalah kader Rasulullah hasil binaan dan tempaan madrasah Arqam bin Arqam.

Mush'ab menerima tugas yang diamanahkan Rasulullah ke atas pundaknya. Jadilah ia seorang utusan dari Sang Utusan. Sesampainya di Yastrib, Mush'ab bersama para naqib (pimpinan kelompok) segera merencanakan langkah-langkah da'wah yang akan mereka lakukan. Untuk menghindari benturan langsung dengan masyarakat Yahudi, yang saat itu sangat geram karena mengetahui bahwa Nabi Terakhir ternyata bukan dari kalangan mereka, Mush'ab menetapkan untuk mempergunakan taktik da'wah secara sirriyyah (diam-diam). Disamping itu, ditetapkan untuk mempertinggi intensitas da'wah kepada beberapa kabilah, terutama Aus dan Khajraj, karena kedua kabilah ini dinilai sangat potensial dan merupakan kunci dalam memudahkan jalan da'wah.

Mush'ab bin Umair berda'wah tanpa membagi-bagikan roti, nasi atau jampi-jampi. Ia meyakini Islam ini adalah dinul-haq, dan harus disampaikan dengan haq (benar) pula, bukan dengan bujukan atau paksaan. Mush'ab terkenal sangat lembut namun tegas dalam menyampaikan da'wahnya, termasuk ketika ia diancam dengan pedang oleh Usaid bin Khudzair dan Sa'ad bin Muadz, dua pemuka Bani Abdil Asyhal. Dengan tenang, Mush'ab berkata: "Mengapa anda tidak duduk dulu bersama kami untuk mendengarkan apa yang saya sampaikan? Bila tertarik, alhamdulillah, bila tidak, kami pun tidak akan memaksakan apa-apa yang tidak kalian sukai." Keduanya terdiam dan menerima tawaran Mush'ab, duduk mendengarkan apa yang dikatakannya. Mereka ternyata tidak hanya sekedar tertarik, dengan seketika keduanya bersyahadat, bahkan mereka kembali kepada kelompoknya dan mengajak mereka semua memeluk Islam.

Demikianlah, satu persatu kabilah-kabilah di Yastrib menerima Islam. Hampir semua anggota kedua kabilah besar: Aus dan Khajraj, mau dan mampu menerima Islam. Gaya hidup terasa mulai berubah di Yastrib. Lingkaran jama'ah muslim semakin melebar, hampir di setiap perkampungan ditemui halaqah-halaqah Al-Qur'an. Potensi ummat telah tergalang. Mush'ab semakin menggiatkan aktifitas da'wahnya, serta mempersiapkan kondisi bila sewaktu-waktu Rasulullah dan muslimin Makkah berhijrah ke Yastrib.

Penerapan nilai-nilai Islam di Yastrib berjalan mulus, murni dan konsekuen. Kaum Yahudi tidak banyak berbicara, mereka melihat kekuatan muslimin yang semakin besar, sulit untuk dipecah. Singkatnya, saat itu, kota Yastrib dan mayoritas penduduknya telah siap secara aqidah dan siyasah (politik). Mereka dengan antusias menantikan kedatangan Rasulullah dan muslimin Makkah.

Akhirnya, sampailah para muhajirrin dari Makkah di Yastrib, yang diganti namanya menjadi Madinatun-Nabi, kartinya Kota Nabi, disingkat Madinah. Islam berkembang semakin luas dan kuat. Mush'ab mendapatkan syahidnya di medan pertempuran Uhud dalam usia belum lagi 40 tahun.. Rasulullah sangat terharu sampai menitikkan air mata ketika melihat jenazah Mush'ab. Rasulullah membaca QS. Al-Ahzab:23, “Sebagian mu'min ada yang telah menepati janji mereka kepada Allah, sebagian mereka mati syahid, sebagian lainnya masih menunggu, dan mereka memang tidak pernah mengingkari janji”. Semoga Allah merahmati Mush'ab al-Khair bin 'Umair Ra. Wallahu a’lam bishshawab.
,

Sirah Nabi: Drama Hijrah

“Inilah kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman".

Puluhan muslimin telah menyelinap pergi Yatsrib (Madinah). Kaum Quraisy tak terlalu peduli. Perhatian mereka tertuju pada Muhammad yang masih di Mekah, yang tak akan mereka biarkan lolos. Padahal Rasulullah telah siap untuk pergi. Abu Bakar telah menyiapkan dua unta, baginya dan bagi Rasulullah. Unta itu dipelihara Abdullah bin Uraiqiz.

Perintah Allah untuk hijrah pun turun. Rasulullah memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Quraisy juga semakin ketat memata-matai rumah Rasulullah. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat Rasulullah berbaring di tempat tidurnya. Namun Rasulullah meminta Ali mengenakan mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di tempat tidurnya. Kaum Quraisy tenang. Mereka pikir Rasulullah masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Sang Rasul, mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan Rasulullah.

Malam itu, Rasulullah telah menyelinap dari jalan belakang tanpa sepengetahuan para pemuda Quraisy. Bersama Abu Bakar, beliau berjalan mengendap dalam gelap, menuju ke selatan, ke sebuah gua di bukit Tsur untuk bersembunyi. Sebuah pilihan cerdik. Kaum Quraisy tentu menduga Rasulullah langsung menuju Yatsrib di utara Mekah.

Dalam persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah pergi ke gua, melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar, Amir bin Fuhaira menggembala kambing menghapus jejak itu.

Tiga malam mereka bersembunyi di gua. Suatu riwayat menyebutkan, bahwa sejumlah pemuda Quraisy telah mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Rasulullah. Saat itu, Rasulullah berbisik, "La tahzan, innallaaha ma'ana (Jangan sedih, Allah bersama kita) ". Rasul juga menghibur dengan kata-kata, "Abu Bakar, kalau kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga." Konon para pamuda Quraisy itu melihat sarang laba-laba serta burung merpati mengerami telur di mulut gua. Mereka pikir, tak mungkin Rasulullah bersembunyi di situ. Akhirnya merekapun pergi.

Setelah aman, Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke barat. Mereka berjalan berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.

Kaum Quraisy membuat sayembara, “Hadiah 100 unta bagi yang dapat menangkap Muhammad”. Suraqah bin Malik tergiur iming-iming itu. Ketika mendengar informasi ada tiga orang berunta beriringan, ia mengelabui kawan-kawannya. Ia memacu kudanya sendirian mengejar Rasulullah. Sedemikian menggebunya Suraqah, sehingga kudanya tersungkur di belakang Rasulullah. Suraqah lalu menyerah karena menganggap dirinya tengah sial.


Dua pekan kemudian, Rasulullah tiba di Quba, desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Beliau tinggal di sana selama empat hari. Di sana Rasulullah bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib dengan bacaan shalawat. Orang-orang Arab, baik yang Islam maupun penyembah berhala, serta orang-orang Yahudi tumpah ruah untuk melihat sosok Muhammad yang banyak diperbincangkan.

Orang-orang berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Rasulullah menyebutkan bahwa beliau akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri, yakni di rumah milik Sahal dan Suhail, dua orang yatim dari Banu Najjar.

Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun menjadi sebuah masjid. Di sanalah orang-orang miskin dari berbagai tempat yang datang menemui Rasulullah untuk memeluk Islam kemudian ditampung. Rasulullah membangun rumah kecil bagi keluarganya di sisi masjid itu. Semasa pembangunan rumah itu, Rasul tinggal di rumah keluarga Abu Ayyub Khalid bin Zaid. Sekarang masjid yang dibangun Rasulullah tersebut menjadi masjid Nabawi yang teduh di Madinah. Sedangkan rumah tinggalnya menjadi tempat makam Rasul yang kini berada di dalam masjid Nabawi.

Hijrah, langkah berbahaya namun mengantarkannya menjadi pemimpin utuh: pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga politik. Semoga kita dapat meneladani semangat hijrah Rasulullah dan para sahabat. Selamat berhijrah...

Harimau dan Kucing

Sang harimau berembuk (diskusi) dengan kaki-tangannya (pembantu dekatnya), yaitu sang serigala sebagai kaki dan sang musang sebagai tangan. Perembukaan itu mengenai perihal pembagian hasil buruan: kerbau hutan, kambing hutan dan ayam hutan. Pertama-tama sang harimau minta pendapat sang serigala. "Menurut hemat saya, kerbau hutan untuk sampeyan, kambing hutan untuk saya dan ayam hutan untuk saderek musang," sang serigala mengemukakan pendapatnya.

"Oh, begitu," kata sang harimau, dan bersamaan dengan itu ia menampar kepala sang serigala. Dapat dibayangkan hasil tamparan harimau, karena apabila ia menampar bukan hanya sekadar dengan telapak kaki, melainkan sepuluh kukunya pun tersembul keluar. Barangkali itulah mengapa ada pepatah yang berbunyi: “Ibarat harimau yang menyembunyikan kukunya”.

"Lalu bagaimana pendapat sampeyan?", ujar sang harimau kepada sang musang setelah selesai menampar sang serigala. "Kalau menurut pertimbangan saya, kerbau hutan itu untuk lunch sampeyan (anda), kambing hutan untuk dinner sampeyan, dan ayam hutan untuk breakfast sampeyan, atau boleh juga dijadikan sebagai kudap (makanan ringan) sampeyan. Adapun untuk sedherek (saudara) serigala dan saya sudah cukup dengan melahap serpihan sisa-sisa sampeyan."

Dengan gembira sang harimau menerima saran sang musang sambil berkata: "Man 'allamaka hadzal-fiqh? (Siapa yang mengajarkan sampeyan ilmu fiqh ini?)". "Dari tamparan sampeyan atas kepala sedherek serigala", jawab sang musang tersipu malu.

Lantas, dari mana gerangan harimau belajar menyembunyikan kukunya dan menampar? Menurut penuturan nenek saya, harimau itu belajar ilmu dan berbagai keterampilan kepada kucing: mengintai, mengendus, menerkam, mengejar, melompat jauh, termasuk menampar sambil mengeluarkan kukunya, serta berlari dan melompat sambil menggonggong mangsanya. Kata gonggong adalah homonim, bermakna ganda, bisa bermakna membawa dengan gigi (untuk harimau dan kucing), bisa bermakna menyalak (untuk anjing).

Alkisah, harimau menuntut agar semua ilmu dan keterampilan gurunya itu diajarkan semua kepadanya, karena menurutnya keterampilan memanjat belum diajarkan kepadanya. Namun kucing tidak bersedia mengajarkannya. Dengan terus terang kucing menjelaskan, bahwa bagaimanapun juga sebagai guru harus lebih pintar dari muridnya, karena badannya kecil, tenaganya tidak sekuat harimau. “Wie niet sterk is, moet slim zijn” (dia yang tidak kuat, harus cerdik), kata kucing mengutip sebuah pepatah Belanda.

Mendengar penjelasan kucing, maka marahlah harimau. Ia melompat hendak menerkam kucing. Namun kucing sudah mengantisipasinya, sehingga dengan gesit ia melompat ke atas pohon menyelamatkan dirinya. Dengan geram harimau berkata: "Hai kucing, ini bukan ancaman, melainkan janji, saya akan cari terus ke mana engkau pergi untuk membunuhmu, bahkan kotoranmupun kalau kutemui akan kubunuh pula."

Maka dari itu, hingga sekarang ini kucing hampir selalu menimbun kotorannya dengan tanah, khawatir kotorannya akan dibunuh oleh muridnya yang tak tahu di untung itu, murid yang tidak berterima kasih kepada gurunya, murid yang tidak menghormati gurunya. Itulah sebabnya harimau menjadi perlambang bagi orang yang perbuatannya jahat, yang diperibahasakan: “Harimau mati meninggalkan belang”. Kata belang berkonotasi jelek, seperti ungkapan: “Sudah ketahuan belangnya” (sudah ketahuan jeleknya).

Sifat jelek harimau barangkali wajar-wajar saja karena harimau itu memang binatang. Lalu sebagai manusia, apakah tidak malu berkelakuan sebagai binatang? Menghina gurunya, membangkang perintahnya, mengaktualisasikan keadilan dalam wujud keserakahannya, mau melahap harta sebanyak-banyaknya yang nota bene-nya adalah bukan milik pribadi, melainkan milik orang banyak?
,

Lebih Penting Mana, Ibu Kita Atau Istri Kita?

Mas Didin (bukan nama sebenarnya) baru saja menikah dengan gadis Polowijen Malang, cantiknya bukan kepalang. Namun seribu kali sayang, pelitnya tidak ketulungan.

Sejak menikah, Mas Didin diharuskan menyerahkan semua gajinya pada istrinya. Istrinyalah yang mengatur semua pengeluaran rumah tangga. Istilahnya, istrinyalah yang menjadi bendahara keluarga. Awalnya memang tidak ada masalah, tapi sebulan berikutnya, masalah itu muncul saat Ibunya Mas Didin datang minta uang. Mas Didin yang tidak pegang uang akhirnya minta uang pada istrinya. Tapi apa yang terjadi?

Ternyata istrinya tidak mau memberi uang kepada ibu mertuanya. Alasannya, uang belanja tidak akan cukup kalau diberikan kepada ibu mertuanya. Lha nanti kalau beli kosmetik pakai uang siapa? Belum buat beli baju tidur? Buat beli spring bed? Buat beli ini itu? Akhirnya ibu mertua yang kecewa karena tidak diberi menantunya, bernadzar tidak akan datang ke rumah anaknya selamanya. Masyaallah.

Mas Didin yang tahu kalau ibunya tidak dikasih uang hanya diam seperti “kera ketulup”. Ia bingung, apa yang harus dilakukannya? Membela ibunya sebagai bakti kepada orang tuanya dengan kemungkinan istrinya akan memarahinya. Atau membetulkan sikap istrinya dengan kemungkinan akan dianggap durhaka oleh ibunya. (dikutip dari Media Umat: Minggu I - Jumadil Ula 1428 H dengan sedikit pengeditan)

Sahabat fillah, inilah kisah yang sering dan banyak dialami oleh saudara-saudara kita, atau bahkan kita sendiri. Sebagian di antara mereka atau kita masih bingung, mana yang harus diprioritaskan? Lebih penting mana? Ibu kita atau istri kita?



Suami Harus Mendahulukan Ibunya Daripada Istrinya

Sangat wajar kalau anak laki-laki meski sudah menikah tapi tetap memperhatikan ibu dan bapaknya, bahkan ini adalah kewajiban anak kepada orang tuanya, terutama ibu. Meski anak sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri, ia tetap wajib merawat orang tuanya, termasuk menafkahinya seandainya mereka memang sudah tidak mampu bekerja lagi. Anak laki-laki harus taat kepada ibunya, bukan istrinya. Justru istrilah yang harus patuh pada suaminya.

Dalam sebuah hadits shahih, diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim)

Seorang sahabat, Jabir Ra menceritakan: Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw, ia berkata, “Ya Rasulallah, saya memiliki harta dan anak, dan bagaimana jika bapak saya menginginkan (meminta) harta saya itu? Rasulullah menjawab, “Kamu dan harta kamu adalah milik ayahmu”. (HR. Ibnu Majah dan At-Thabrani)

Ini berarti apabila orang tua membutuhkan bantuan, maka kita tidak boleh menolak, apalagi sampai menyakiti perasaannya.

Jangan Korbankan Orang Tua Demi Istri, Meskipun Ia Cantik!

Allah Swt berfirman, “...dan hendaklah kamu bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu” (QS. Luqman:14). Begitu penting berbuat baik dan berterima kasih kepada kepada kedua orang tua kita, sampai Rasulullah bersabda, “Ridha Allah terdapat pada keridhaan orang tua. Dan murka Allah terdapat pada kemurkaan orang tua” (HR. Turmudzi).

Demikian tinggi kedudukan orang tua terhadap anaknya, sampai-sampai Allah baru meridhai kita kalau orang tua ridha kepada kita. Sebaliknya, Allah akan marah kepada kita apabila kita menyia-nyiakan orang tua. Karena itu, janganlah seorang anak laki-laki mengorbankan orang tua demi istri, meskipun istri tersebut sangat cantik! Sebab berbakti kepada orang tua termasuk kewajiban pokok yang perintahnya digandeng dengan perintah beribadah kepada Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isra’:23).

Istri Jaman Sekarang Kebanyakan Bermusuhan Dengan Ibu Mertuanya

Jika kita mau jujur, kita akan setuju dengan pernyataan tersebut. Bagi istri, ketemu dengan ibu mertua sama dengan ketemu Mak Lampir. Jenis istri seperti inilah yang jumlahnya seribu seribu. Artinya, sebagian besar istri berperangai seperti itu.

Seorang suami yang bijak seharusnya bisa menuntun istrinya agar sadar dan mengerti bahwa seorang laki-laki meskipun sudah menikah, tapi masih punya kewajiban mengurus ibunya. Istri yang baik tidak akan melarang suaminya berbuat baik kepada orang tuanya. Seyogyanya, seorang istri membantu suaminya dengan cara memberi dorongan dan peluang kepadanya untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Tidak perlu takut, kalau suami memberi uang kepada ibunya, lantas rejekinya istri akan berkurang. Yakinlah, dengan rahmat-Nya, Allah akan melipat gandakannya. Dengan seperti itu, seorang istri akan mendapat pahala kebaikan pula. Sebaliknya, jika istri menghalang-halangi suami berniat baik, maka ia akan mendapat dosa. Wallahu a’lam.

Berpakaian, Tapi Telanjang?

Imam Al-Baihaqi RA meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah masuk ke kamar Aisyah binti Abu Bakar, istrinya. Sementara itu, Aisyah bersama saudara perempuannya, Asma binti Abu Bakar, mengenakan pakaian tipis. Ketika Rasulullah melihatnya, beliau segera bangkit dan kemudian keluar kamar. Aisyah heran dan kemudian menanyakannya pada Rasulullah.

Rasulullah menjawab, ''Tidakkah engkau melihat keadaannya? Ia seperti bukan wanita muslimah yang seharusnya hanya menampakkan ini dan ini [seraya menunjuk pada wajah dan kedua telapak tangan].''

Riwayat lain, dari Imam Abu Daud, Rasulullah saw bersabda, ''Jika seorang anak wanita telah mencapai usia baligh, tidak pantas terlihat dari dirinya, selain wajah dan kedua telapak tangannya.''

Selain hadis-hadis tersebut di atas, Alquran juga menjelaskan tentang masalah tersebut (aurat wanita), seperti tertera dalam surat An-Nur: 31 dan Al-Ahzab: 59. Begitu gamblangnya Allah SWT memberikan petunjuk kepada umat manusia yang dibekali dengan akal, khususnya kaum wanita.

***
Ironisnya, kondisi kaum wanita (muslimah) sekarang ini jauh dari petunjuk tersebut. Betapa suguhan-suguhan televisi dominan dengan tontonan aurat. Dalam kehidupan nyata, keadaan tersebut tidak jauh berbeda, mereka berpakaian, tetapi keadaannya tidak berbeda dengan telanjang.

Akhirnya, banyak penduduk negeri ini, yang mayoritas Muslim, pun terbiasa dengan kondisi tersebut sehingga menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah, yang tidak perlu diubah. Justru kalau ada yang gerah dengan kondisi tersebut, orang tersebut malah dianggap aneh atau konservatif.

Kalau dicermati, masalah ketelanjangan itu tidak berhenti sampai di situ. Secara tidak langsung, hal tersebut juga menyuburkan pergaulan bebas, dan lebih jauh lagi adalah terjadinya dekadensi akhlak. Jumlah bayi yang lahir di luar nikah semakin bertambah dan masih banyak lagi dampak-dampak negatif lainnya sebagai akibat pemameran aurat wanita.

Tentu saja kondisi ini jauh dari gambaran kehidupan di zaman Rasulullah yang menjaga kehormatan wanita. Tidak hanya oleh wanita sendiri, tetapi juga negara karena salah satu tugas negara adalah menjaga akhlak dan agama rakyatnya, sehingga tercipta masyarakat Islam yang diberkahi oleh Allah SWT. Keadaan ini tidak hanya sejarah masa lalu, tetapi bisa kita wujudkan pada masa sekarang, tentunya dengan berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah saw, yaitu Alquran dan Sunnah. Wallaahu a'lam bish-shawwab.

Fathimah az-Zahraa (Bagian II)

Diriwayatkan dari Tsauban ra berkata, "Rasulullah saw masuk ke rumah Fathimah, sedangkan aku ketika itu bersama beliau. Lalu Fathimah mengambil kalung emas dari lehernya seraya berkata, 'Ini adalah kalung yang dihadiahkan Abu Hasan kepadaku', maka beliau bersabda, "Wahai Fathimah, apakah engkau senang jika orang-orang berkata, 'Inilah Fathimah binti Muhammad, sedangkan di tangannya terdapat kalung dari Neraka?', kemudian beliau memarahi Fathimah dengan keras dan menghardiknya, lalu beliau keluar tanpa duduk terlebih dahulu. Maka Fathimah mengambil sikap untuk menjual kalungnya, kemudian hasilnya beliau belikan seorang budak wanita, setelah itu beliau merdekakan. Tatkala hal ini sampai kepada Rasulullash saw, beliau bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari api Neraka' ."

Oleh karena itu, kedudukan yang diraih oleh Fathimah ra di sisi ayahnya Rasulullah saw tersebut tidaklah menghalangi Rasulullah saw memarahinya, mencelanya, bahkan mengancamnya, dan bahwa sekali-kali Rasulullah saw tidak dapat menolong Fathimah dari kehendak Allah. Bahkan, beliau juga memberikan ancaman, seandainya dia mencuri, maka akan ditegakkanlah hukum atasnya, yakni hukum potong tangan. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadis tentang seorang wanita Bani al-Makhzumiyah yang mencuri kemudian kaumnya memintakan ampunan agar wanita itu bebas hukuman melalui Usamah bin Zaid bin Haritsah kekasih Rasulullah saw, maka Rasul pun bersabda,

"Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad itu mencuri, niscaya aku mesti potong tangannya."

Meskipun kasih sayangnya terhadap Fathimah begitu mendalam, Nabi saw lebih mendahulukan pemberiannya kepada orang-orang fakir-miskin daripada kepada Fathimah, sekalipun dalam keadaan susah. Ali ra berkata kepada Fathimah ra, "Alangkah lelahnya engkau wahai Fathimah, sehingga engkau menyedihkan hatiku. Sungguh Allah telah memberikan tawanan kepada Rasulullah, maka mintalah kepada beliau satu tawanan saja yang akan membantumu dalam bekerja!" Fathimah menjawab, "Akan aku lakukan insya Allah."

Kemudian, Fathimah mendatangi Nabi saw. Tatkala melihat kedatangannya, beliau menyambutnya dan bertanya, "Ada keperluan apa engkau datang ke sini wahai anakku?" Fathimah menjawab, "Kedatanganku ke sini untuk mengucapkan salam buat ayah." Tiba-tiba beliau malu untuk mengutarakan permintaannya, maka beliau pulang dan kembali lagi bersama Ali, lalu Ali menceritakan keadaan Fathimah kepada Nabi saw. Namun, Rasulullah saw bersabda,

"Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepada kalian berdua, sedangkan aku membiarkan ahlu sufah dalam keadaan lapar, aku tidak mendapatkan apa-apa untuk aku infakkan kepada mereka, tapi aku akan menjual para tawanan tersebut dan hasilnya aku akan infakkan kepada mereka."

Maka, kembalilah mereka berdua ke rumahnya, kemudian Rasulullah saw mendatangi keduanya. Beliau masuk rumah mereka dan mendapatkan keduanya sedang berselimut yang apabila ditutupkan kepalanya, maka terbukalah kakinya dan apabila ditutupkan kakinya, maka terbukalah kepalanya. Keduanya hendak bangkit untuk menyambut Nabi saw, namun beliau bersabda, "Tetaplah di tempat kalian berdua! Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta kepadaku itu?" Mereka berdua menjawab, "Mau, ya Rasulullah!" Kemudian beliau bersabda,

"Kuajarkan kepada kalian kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, ucapkanlah setiap selesai salat fardhu Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, maka bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu."

Maka Ali ra berkata, "Demi Allah, aku tidak meninggalkan kata-kata ini sejak beliau mengajarkannya kepadaku." Salah seorang sahabat bertanya, "Tidak kau tinggalkan juga tatkala malam di Perang Shiffin?" Beliau menjawab, "Walaupun di malam perang shiffin."

Sungguh Fathimah ra telah melalui kejadian-kejadian besar yang ruwet dan sangat keras, hal itu beliau alami sejak usia muda tatkala wafatnya ibu beliau, disusul kemudian saudara perempuannya yang bernama Ruqayyah, kemudian pada tahun 8 Hijriyah wafatlah kakaknya yakni Zainab dan pada tahun 9 Hijriyah menyusul kemudian wafatnya Ummi Kultsum.

Beliau juga menanggung hidup dalam kekurangan dan banyak mengalami kesulitan dan kesusahan. Akan tetapi, seorang wanita yang dibina oleh Rasullah saw tidak akan bersedih hati terlebih lagi berputus asa. Bahkan beliau adalah profil dari wanita yang sabar, konsisten dan muhajirah.

Tatkala Rasulullah saw melakukan haji yang terkhir(Hajjatul Wada') dan telah meletakkan dasar-dasar Islam dan Allah telah menyempurnakan Dienul Islam, Rasulullah saw menderita sakit. Manakala Fathimah mendengar berita tersebut, beliau dengan segera menemui ayahnya untuk menghibur dan menenangkan hatinya, sementara Rasulullah saw ketika itu bersama dengan Ummul Mukminin Aisyah ra. Pada saat nabi saw melihat kedatangan putrinya, dengan riang gembira beliau bersabda, "Selamat datang wahai putriku", kemudian beliau menciumnya dan mendudukkannya di sebelah kanannya atau di kirinya, kemudian Nabi saw membisikkan sesuatu kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dengan tangisan yang memilukan. Namun, ketika Nabi saw melihat kesedihannya, beliau membisikkan kepadanya untuk yang kedua kali, sehingga menyebabkan Fathimah tertawa. Aisyah berkata, Rasulullah saw mengistimewakan engkau dari seluruh wanita anggota keluarganya dalam hal yang rahasia, tapi kamu malah menangis?" Tatkala Rasulullah saw sedang berdiri, Aisyah bertanya, "Apa yang Rasulullah katakan kepadamu" Fathimah menjawab, "Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah saw."

Aisyah berkata: "Ketika Rasulullah saw wafat, aku berkata kepada Fathimah, aku bertekad agar engkau menceritakan kepadaku tentang apa yang telah dibisikkan Rasulullah kepadamu." Fathimah berkata, "Adapun sekarang, baiklah aku ceritakan. Pada saat beliau membisikiku yang pertama, belia mengatakan bahwa biasanya Jibril memeriksa bacaan Alqurannya sekali dalam setahun, akan tetapi sekarang Jibril memeriksa bacaannya dua kali dalam setahun dan beliau merasa ajalnya sudah dekat Maka takutlah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya aku adalah sebaik-baik penghulu bagimu. Maka aku menangis dengan tangisan yang engkau lihat. Tatkala beliau melihat aku sedih, beliau membisiki aku untuk yang kedua kalinya, beliau bersabda:

"Wahai Fathimah relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita di Sorga? Dan engkau adalah anggota keluargaku yang paling cepat menyusulku." Mendengar kabar tersebut, maka aku pun tertawa.

Semakin bertambahlah rasa sakit yang diderita Rasul saw dan bertambah sedihlah Fathimah. Beliau berdiri di samping ayahnya untuk menjaga dan membantu beliau serta berusaha untuk bersabar. Akan tetapi, manakala Fathimah melihat ayahnya nampak berat dan mulai kesakitan, Fathimah menangis tersedu-sedu dan berkata dengan suara lirih menandakan kesedihan, "Sakit wahai ayah...?" Maka beliau bersabda: "Tidak ada sakit lagi bagi ayahmu setelah hari ini."
Tatkala beliau wafat, Fathimah berkata: "Wahai ayah, engkau telah memenuhi panggilan Rabbmu...Wahai ayah, Jannah Firdaus adalah tempat tinggalmu... Wahai ayah, kepada Jibril kami beritahukan wafatmu."

Ketika Nabi saw dikubur, Fathimah berkata: "Wahai Anas, bagaimana anda tega menimbun ayah dengan tanah?" Maka, menangislah az-Zahraa' ibu dari ayahnya dan menangislah kaum muslimin seluruhnya atas kematian Nabi dan Rasul Muhammad saw dan mereka ingat firman Allah: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul."(Ali Imran: 144). Dan firman Allah: "Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu wafat, apakah mereka akan kekal?" (Al-Anbiyaa': 34)

Tidak berapa lama kemudian setelah wafatnya Rasulullah saw, kira-kira enam bulan, az-Zahraa' sakit. Namun, dirinya bergembira dengan kabar gembira yang telah dikabarkan ayahnya bahwa dirinya adalah anggota keluarga yang pertama yang akan bertemu dengan Nabi saw, dan berpindahlah Fathimah keharibaan Allah SWT pada malam selasa, tanggal 3 Ramadhan 11 Hijriyah tatkala beliau berumur 27 tahun.

Semoga Allah merahmati az-Zahraa' Raihanah (bunga yang harum) putri dari penghulu anak Adam, istri dari penghulu para prajurit penunggang kuda dan ibu dari Hasan dan Husein, bapaknya para syuhada' dan ibu dari Zainab pahlawan Karbala'.

Sumber: Nisaa' Haular Rasuuli, Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi.