Hati - hati dengan Doa !

Alkisah ada seorang fakir miskin yang hidup di gua modern alias kolong jembatan. Walaupun orang lain memandang sebelah mata menganggap ia adalah orang yang tersingkir dari kehidupan dunia, namun ternyata hari - harinya penuh dengan keceriaan yang khusyuk. Tiada kekayaan, kepandaian, kekuasaan, guru pembimbing hidup, bahkan teman atau saudara hingga akhirnya ia hanya merasa memiliki Tuhan. Ia begitu karib dengan Tuhannya sehingga terkesan aneh karena setiap ucapan, keluh kesah, dan kegembiraannya selalu ditujukan kepada Tuhan. Orang yang tak tahu menganggapnya gila sebab ia selalu berkomunikasi tanpa lawan bicara. Pagi sore hidupnya diisi dengan berdoa, berdoa dan terus berdoa. Sehingga setiap ucapannya bagaikan doa. Apa yang keluar dari mulutnya telah mengandung bobot penjiwaan ruhaniah.

Namun inilah apesnya. Ia sering tak sadar kalau ucapnya adalah doa yang begitu manjur karena kondisinya memang benar-benar yatim secara sosial, fakir miskin dan terhasut tersingkir dari kegagahan peradaban modern yang hedonis individualis. Sebab kata Rasul ketiga hal ini adalah penyebab terkabulnya doa.

Suatu sore yang lepas, tiba - tiba hujan mulai turun rintik-rintik. Sang fakir mulai kebingungan. Ia berusaha melindungi gubuknya dengan plastik seadanya agar tak rusak terkena hujan. Namun apa daya hujan bertambah deras. Air itu mulai menyerang dengan dahsyat ke gubuknya. Akhirnya sang fakir keluar dari gubuk dan mencari tempat berteduh. Sambil memandangi gubuknya dari kejauhan, dengan perasaan trenyuh ia berucap: " Ya Tuhan daripada gubukku terkena hujanMU terus menerus, sedangkan diriku menyaksikan dengan perih, hati...hik...hik..., mbok sekalian dirobohin sekarang aja..tanggung...toh akhirnya sama-sama nggak bisa ditempati...". Sedetik kemudian terdengar suara dahsyat ...Dhuarrr !!!....glegerrr....petir itu sekejab mata menyambar dan membakar habis gubuk itu...!

Sang fakir pun sejenak terpana namun dengan santainya ia kembali ngomong kepada Tuhan: "Ya Tuhan...kok beneran sih....hamba kan cuman bercanda....kita kan teman ..."

Ia tak sadar bahwa segala ucapnya adalah doa....

Terjadikah doa semacam itu pada diri kita ? Seringkah kita ini apes yang keapesan ini sebenarnya berasal dari gerundelan diri sendiri? pasti sering tapi tak pernah disadari sebab selama ini kita beranggapan bahwa yang namanya berdoa terbatas pada suatu permintaan kepada Allah secara formal. Biasanya dilakukan seusai sholat dengan menengadahkan tangan ke atas. Padahal sebenarnya doa adalah adalah segala gerak-gerik ucapan hati dan fikiran melalui sebuah proses kesungguhan diri. Intinya adalah pernyataan penghayatan yang menghunjam tajam terhadap sesuatu terlepas dari hal baik atau buruk. Penjiwaan inilah yang menjadi parameter penentu terwujudnya sebuah aktifitas gerak hati fikiran atau doa.

Kata adalah mantra, Semoga bermanfaat, semoga semua berbahagia..
Selamat berdo'a...

Puasa dan Kesehatan Lahir Batin



Hampir tak satu pun kewajiban ibadah dalam Islam yang luput dari hikmah maupun manfaat lahiriah, demikian halnya dengan puasa. Ibadah puasa tanpa diragukan lagi sangat bermanfaat ditinjau dari segala segi. Apalagi jika ditinjau dari segi kesehatan. Banyak para ahli kesehatan yang telah mencoba untuk mengungkap rahasia dibalik puasa ini, namun baru sedikit sekali rahasia yang dapat mereka ungkap.

Hal yang telah umum dikenal didunia kesehatan bahwa aktivitas puasa merupakan salah satu terapi bagi kesembuhan suatu penyakit, yang teryata telah dikenal beratus-ratus abad yang lampau. Bedanya, barangkali, orang terdahulu maupun sekarang yang tidak atau belum beriman-Islam, melakukan puasa tersebut bukan karena dilandasi kesadaran dan ketaatan kepada Alloh SWT tapi hanya sekadar ritual proses terapi yang harus dilalui. Dari sinilah kenapa para pandeta Nasrani selalu berpuasa. Menurut mereka, puasa merupakan obat mujarab dalam menyembuhkan penyakit. Bahkan, Plato maupun Socrates pun konon tak luput dari membiasakan diri berpuasa sepuluh hari dalam setiap bulannya. Alasanya, menurut mereka, sebagai ekspresi penyucian pikiran.

Untuk itulah paling tidak dengan hikmah dari sisi kesehatan saja, maka kesadaran dan keimanan kita untuk melaksanakan perintah Alloh SWT untuk menjalani puasa Ramadhan akan semakin kokoh dan kuat sehingga akan teguh menjalankan syariat-Nya. Karenanya kekhawatiran dari sebagian kaum muslimin, yang terkadang terlontar dalam bentuk pernyataan bahwa dengan puasa Ramadhan akan membuat tubuh lemah, tidak bergairah, kehilangan motivasi serta pemikiran negatif lainnya akan hilang dan tidak laku sebagai alasan pembenaran untuk tidak puasa. Karena memang itu semua tidak berdasar sama sekali. Maha benar Allah dengan firmanNya dalam QS 2:216: “....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Subhaanallah! Itulah sebabnya mengapa Imam Syafii pernah mengatakan bahwa kullu fi'lillaah bil hikmah --setiap perbuatan Allah pasti mengandung hikmah.

Untuk lebih tegasnya dapat kita baca dari beberapa penelitian medis, sebagaimana diungkapkan oleh Muazzam dan Khaleque (Journal of Tropical Medicine 1959) dan juga oleh Chassain dan Hubert (journal of Physiology, 1968), yang menunjukkan bahwa tidak ada perubahan kadar unsur kimia dalam darah orang berpuasa selama bulan Ramadhan. Kadar gula darah memang menurun lebih rendah daripada biasanya pada saat-saat menjelang magrib, tetapi tidak sampai sama sekali membahayakan kesehatan. Begitu pula kadar asam lambung yang akan meningkat pada saat menjelang magrib di hari-hari pertama puasa, tetapi selanjutnya akan kembali menjadi normal.

Dengan demikian puasa Ramadhan kira-kira 14-17 jam (tergantung musim dan letak geografis) dari terbit fajar hingga terbenam matahari ternyata tidak berpengaruh terhadap kesehatan, yang justru lebih besar manfaatnya bagi kesehatan ketika kita berpuasa sebenarnya adalah justru niat dan kemauan untuk menahan nafsu. Sebagaimana arti dari puasa (shaum) itu sendiri, yakni menahan.

“Sesungguhnya bagi setiap amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang ia dapatkan apa yang ia niatkan....” (HR.Bukhari-Muslim)

Hal ini menjadi sesuatu yang logis dan dapat dibuktikan dengan ilmiah, karena sebagian besar penyakit yang diderita manusia sebenarnya berkaitan dengan perilaku manusia itu sendiri. Dari penyakit infeksi sampai ke penyakit jantung, penyakit akibat stres, bahkan beberapa jenis kanker erat kaitannya dengan perilaku tidak sehat manusia.

Ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa mereka yang sedang marah, baik yang dipendam maupun dinyatakan, sedang "panas hati" oleh sebab apa pun, atau sedang dilanda rasa tidak sabar, akan meningkat kadar hormon katekholamin dalam darahnya. Hormon katekholamin ini akan memacu denyut jantung, menegangkan otot-otot, dan menaikkan tekanan darah. Semua itu, jika dibiarkan berlangsung lama, akan membahayakan kesehatan dan mempercepat proses ketuaan.

Niat dan kemauan menahan nafsu, rasa marah, rasa tidak sabar, atau rasa panas hati ketika sedang berpuasa, akan mencegah terjadinya peningkatan kadar hormon katekholamin dalam darah. Efek inilah yang sebenarnya lebih besar pengaruhnya terhadap kesehatan dalam pengertian yang positif, karena ia akan menghindarkan seseorang dari efek buruk akibat kadar hormon kelompok katekholamin yang meningkat secara berlebihan ketika orang marah, kesal, panas hati, dan tidak sabar.

Sabda rasulullah saw: "Bila salah seorang dari kalian berpusa maka hendaknya ia tidak berbicara buruk dan aib, dan jangan berbicara yang tiada manfaatnya dan bila dimaki seseorang maka berkatalah "aku berpuasa". (HR Bukhari)

Para dokter sepakat bahwa puasa merupakan salah satu cara membersihkan tubuh dari lemak-lemak berpenyakit maupun dari makanan yang tidak bermanfaat di dalam tubuh. Tubuh, selain membutuhkan konsumsi makanan, juga perlu dibersihkan dari berbagai zat kimia yang akan merusak anggota tubuh itu sendiri. Saat berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi secara alami. 'Absen' nya makanan yang biasa masuk ke dalam perut, membuat organ-organ tubuh seperti hati dan limpa 'membersihkan diri'. Racun-racun yang dibuang pun 10 kali lebih banyak. Karena racun yang dikeluarkan lebih banyak dari biasanya, maka proses penuaan bisa di 'rem' untuk sementara. Itulah sebabnya bila kita melakukan puasa dengan benar, wajah kita tampak lebih berseri.

Di luar bulan Ramadhan pun, ahli kesehatan sekaliber Ibnu Sina (980-1037 M), seorang dokter Muslim kenamaan pada masa itu, menerapkan konsep ini dimana ia selalu mengharuskan setiap pasien yang datang kepadanya untuk berpuasa selama tiga minggu (tentunya diikuti dengan niat liLlahi ta’ala, karena Alloh semata). Bagi Ibnu Sina, puasa merupakan terapi efektif dan murah-meriah dalam menyembuhkan penyakit pasien-pasiennya. Bahkan di zaman modern sekarang ini, seorang dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin asal Amerika, Robert Partolo, menyepakati bahwa tradisi mengosongkan perut dan menahan hawa nafsu yang berasal dari ajaran Islam, ternyata setelah diterapkan kepada pasien-pasienya merupakan terapi mujarab dalam memberantas bakteri sifilis yang terkandung di dalam tubuh mereka. Dengan berpuasa, lanjutnya, bakteri tersebut akan digantikan dengan zat-zat yang menyehatkan. Begitu pula dokter lain, Bernard Mackpadan, yang juga pakar biologi berkebangsaan Amerika bahkan meyakini puasa merupakan cara jitu dalam memberantas setiap penyakit yang tidak bisa disembuhkan terapi yang lain.

Bagaimana halnya dengan ibu hamil dan menyusui, apakah diperbolehkan menjalani ibadah puasa?. Pada masa kahamilan dan menyusui, faktor psikis merupakan hal yang amat penting bagi kesehatan sang bayi atau janin yang sedang dikandung. Dengan berpuasa, berarti seseorang berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan kedekatan seseorang kepada Allah inilah yang akan memberikan ketenangan jiwa. Selain itu salah satu manfaat puasa jika ditinjau dari segi medis adalah dapat mencegah pertambahan berat badan yang berlebihan selama masa kehamilan.

Bagi yang mampu menjalankan puasa, hal itu baik sekali bagi mereka. Dengan selalu menjaga susunan gizi pada saat berbuka puasa dan sahur, maka kebutuhan bayi dan janin akan supply makanan dapat tetap terpenuhi dan terjaga.

Pada dasarnya ibu hamil atau yang sedang menyusui bisa saja berpuasa jika mereka sanggup. Artinya, mereka tidak merasakan lemas badan yang berlebihan. Tetapi jika tidak demikian keadaannya, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Karena Alloh SWT pun memberikan keringanan kepada hambanya yang merasa berat menjalani ibadah puasa. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa wanita hamil dan menyusui termasuk dalam kelompok orang-orang yang difirmankan Allah : "... Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin ..." (QS. 2:184)

Sedangkan bagi mereka yang mempunyai penyakit maag, jika masih ringan, biasanya ibadah puasa justru akan menyembuhkan karena pola makan menjadi teratur.

Untuk mengoptimalkan kita melalui bulan suci Ramadhan, agar bisa menjadi bulan yang spesial yang dipenuhi amaliah yang bersifat ubudiyah dan muamalah, maka kesehatan badan kita juga harus ditunjang dengan konsumsi makanan bergizi sesuai dengan kebutuhan tubuh, yakni yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, serta mineral dan vitamin yang berasal dari buah-buahan dan sayuran.

Makan sahur penting artinya bagi kesehatan tubuh. Dari sisi syari’ah pun makan sahur sangat dianjurkan. Rasulullah saw bersabda: "Makanan waktu sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan anda tinggalkan, sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur" (HR Ahmad).

Walaupun dari hadits di atas disebutkan sahur dengan seteguk air, namun bukan berarti kita tidak perlu memperhatikan masalah gizi dalam makanan sahur kita. Makan sahur dengan makanan yang lengkap dan seimbang sangat diperlukan untuk menopang tubuh melakukan aktivitas sepanjang hari. Oleh karena itu bila saat sahur kita tidak mendapat cukup karbohidrat yang merupakan sumber energi, kita cepat merasa lemas dan tak berenergi di siang hari.

Bersegeralah berbuka puasa, karena pada saat itu tubuh memerlukan asupan sebagai pengganti kadar glukosa darah yang turun. Dalam hal ini rasulullah saw bersabda: "Manusia tetap berkondisi baik selama tidak menunda-nunda berbuka puasa" (HR Bukhari).

Akan tetapi tetap adab (etika) harus diperhatikan juga, dimana dari sisi kesehatan dianjurkan tidak langsung makan makanan yang banyak mengandung lemak dan manis-manis, seperti tape, uli, kolak, dan lain-lain. Sebab lemak dan karbohidrat tinggi tidak bagus untuk kesehatan. Jadi, sebagai pembuka makan sebaiknya mengkonsumsi salad, buah-buahan, atau minuman sirup. Begitu pula tidak terlalu banyak memakan makanan yang mengandung gula. Karena berdasarkan penelitian, dinyatakan bahwa kebutuhan ideal setiap orang terhadap gula itu sekitar 30 gram sehari, atau dua sendok makan gula.

Selain itu saat buka puasa, dianjurkan juga tidak cepat-cepat menyantap makan berat. Karena lambung yang telah mengecil karena tidak bertugas selama belasan jam, akan kaget ketika tiba-tiba diisi makanan dalam porsi besar, tentunya hal ini akan mengakibatkan perut terkejut dan mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencerna makanan tersebut. Sebaiknya setelah shalat Maghrib, barulah menyantap makanan yang berat (nasi, lauk-pauk hewani, nabati, dan sayur-sayuran). Sebaiknya Konsumsi minum air putih ditingkatkan sesudah shalat tarawih, dan diteruskan sesudah makan sahur. Minumlah sebanyak 15 gelas (kurang lebih 3 liter) atau minimal 10 gelas.

Selain itu perlu juga diketahui bahwa seseorang yang berpuasa tidak perlu menambah vitamin atau suplemen apabila dirasa makanan sudah cukup. Karena kelebihan Vitamin B atau C akan terbuang dalam urine.

Keutamaan Bulan Sya'ban

Sya’ban adalah nama bulan. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub (berpisah-pisah/terpencar) di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

Shaum di bulan Sya’ban

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956). Dan dalam riwayat Muslim No.1957 : ”Adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Dan sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.”

Sebagian ulama di antaranya Ibnul Mubarak dan selainnya telah merajihkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak pernah penyempurnakan puasa bulan Sya’ban akan tetapi beliau banyak berpuasa di dalamnya. Pendapat ini didukung dengan riwayat pada Shahih Muslim No. 1954 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata: “Saya tidak mengetahui beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.” Dan dalam riwayat Muslim juga No. 1955 dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “ Saya tidak pernah melihatnya puasa satu bulan penuh semenjak beliau menetap di Madinah kecuali bulan Ramadhan.” Dan dalam Shahihain dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan.” (HR. Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157). Dan Ibnu Abbas membenci untuk berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan. Berkata Ibnu Hajar: Shaum beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak dari pada puasanya di selain bulan Sya’ban. Dan beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasanmu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i, lihat Shahih Targhib wat Tarhib hlm. 425). Dan dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud No. 2076, dia berkata: “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa padanya adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” Dishahihkan oleh Al-Albani, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/461.

Berkata Ibnu Rajab: Puasa bulan Sya’ban lebih utama dari puasa pada bulan haram. Dan amalan sunah yang paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan sebelum dan sesudahnya. Kedudukan puasa Sya’ban diantara puasa yang lain sama dengan kedudukan shalat sunah rawatib terhadap shalat fardhu sebelum dan sesudahnya, yakni sebagai penyempurna kekurangan pada yang wajib. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah Ramadhan. Maka oleh karena sunah-sunah rawatib lebih utama dari sunah muthlaq dalam shalat maka demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama dari puasa yang jauh darinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: “Sya’ban bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan”, menunjukkan bahwa ketika bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung –bulan haram dan bulan puasa- manusia sibuk dengan kedua bulan tersebut sehingga lalai dari bulan Sya’ban. Dan banyak di antara manusia mengganggap bahwa puasa Rajab lebih utama dari puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram, padahal tidak demikian. Dalam hadits tadi terdapat isyarat pula bahwa sebagian yang telah masyhur keutamaannya baik itu waktu, tempat ataupun orang bisa jadi yang selainnya lebih utama darinya.

Dalam hadits itu pula terdapat dalil disunahkannya menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan. Sebagaimana sebagian salaf, mereka menyukai menghidupkan antara Maghrib dan ‘Isya dengan shalat dan mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Dan yang seperti ini di antaranya disukainya dzikir kepada Allah ta’ala di pasar karena itu merupakan dzikir di tempat kelalaian di antara orang-orang yang lalai. Dan menghidupkan waktu-waktu yang manusia lalai darinya dengan ketaatan punya beberapa faedah, di antaranya:

Menjadikan amalan yang dilakukan tersembunyi. Dan menyembunyikan serta merahasiakan amalan sunah adalah lebih utama, terlebih-lebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan rabbnya. Oleh karena itu maka dikatakan bahwa padanya tidak ada riya’. Sebagian salaf mereka berpuasa bertahun-tahun tetapi tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian keduanya disedekahkan dan dia sendiri berpuasa. Maka keluarganya mengira bahwa dia telah memakannya dan orang-orang di pasar menyangka bahwa dia telah memakannya di rumahnya. Dan salaf menyukai untuk menampakkan hal-hal yang bisa menyembunyikan puasanya.

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Berkata Qatadah: “Disunahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang darinya kesan sedang berpuasa.”

Demikian juga bahwa amalan shalih pada waktu lalai itu lebih berat bagi jiwa. Dan di antara sebab keutamaan suatu amalan adalah kesulitannya/beratnya terhadap jiwa karena amalan apabila banyak orang yang melakukannya maka akan menjadi mudah, dan apabila banyak yang melalaikannya akan menjadi berat bagi orang yang terjaga. Dalam shahih Muslim No. 2948 dari hadits Ma’qal bin Yassar: “Ibadah ketika harj sepeti hijarah kepadaku.” Yakni ketika terjadinya fitnah, karena manusia mengikuti hawa nafsunya sehingga orang yang berpegang teguh akan melaksanakan amalan dengan sulit/berat.

Ahli ilmu telah berselisih pendapat tentang sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban ke dalam beberapa perkataan:

1. Beliau disibukkan dari puasa tiga hari setiap bulan karena safar atau hal lainnya. Maka beliau mengumpulkannya dan mengqadha’nya (menunaikannya) pada bulan Sya’ban. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila mengamalkan suatu amalan sunah maka beliau menetapkannya dan apabila terlewat maka beliau mengqadha’nya.

2. Dikatakan bahwa istri-istri beliau membayar hutang puasa Ramadhannya pada bulan Sya’ban sehingga beliaupun ikut berpuasa karenanya. Dan ini berkebalikan dengan apa yang datang dari ‘Aisyah bahwa dia mengakhirkan untuk membayar hutang puasanya sampai bulan Sya’ban karena sibuk (melayani) Rasulullah.

3. Dan dikatakan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berpuasa karena pada bulan itu manusia lalai darinya. Dan pendapat ini yang lebih kuat karena adanya hadits Usamah yang telah disebutkan tadi yang tercantum di dalamnya: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan.” (HR. Nasa’i. Lihat Shahihut Targhib wat Tarhib hlm. 425).

Dan adalah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam apabila masuk bulan Sya’ban sementara masih tersisa puasa sunah yang belum dilakukannnya, maka beliau mengqadha’nya pada bulan tersebut sehingga sempurnalah puasa sunah beliau sebelum masuk Ramadhan –sebagaiman halnya apabila beliau terlewat sunah-sunah shalat atau shalat malam maka beliau mengqadha’nya-. Dengan demikian ‘Aisyah waktu itu mengumpulkan qadha’nya dengan puasa sunahnya beliau. Maka ‘Aisyah mengqadha’ apa yang wajib baginya dari bulan Ramadhan karena dia berbuka lantaran haid dan pada bulan-bulan lain dia sibuk (melayani) Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Maka wajib untuk diperhatikan dan sebagai peringatan bagi orang yang masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya untuk membayarnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Dan tidak boleh mengakhirkan sampai setelah Ramadhan berikutnya kecuali karena dharurat, misalnya udzur yang terus berlanjut sampai dua Ramadhan. Maka barang siapa yang mampu untuk mengqadha’ sebelum Ramadhan tetapi tidak melakukannya maka wajib bagi dia di samping mengqadha’nya setelah bertaubat sebelumnya untuk memberi makan orang-orang miskin setiap hari, dan ini adala perkataannya Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Demikian juga termasuk faedah dari puasa di bulan Sya’ban adalah bahwa puasa ini merupakan latihan untuk puasa Ramadhan agar tidak mengalami kesulitan dan berat pada saatnya nanti. Bahkan akan terbiasa sehingga bisa memasuki Ramadhan dalam keadaan kuat dan bersemangat.

Dan oleh karena Sya’ban itu merupakan pendahuluan bagi Ramadhan maka di sana ada pula amalan-amalan yang ada pada bulan Ramadhan seperti puasa, membaca Al-Qur’an, dan shadaqah. Berkata Salamah bin Suhail: “Telah dikatakan bahwa bulan Sya’ban itu merupakan bulannya para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Dan adalah Habib bin Abi Tsabit apabila masuk bulan Sya’ban dia berkata: “Inilah bulannya para qurra’.” Dan ‘Amr bin Qais Al-Mula’i apabila masuk bulan Sya’ban dia menutup tokonya dan meluangkan waktu (khusus) untuk membaca Al-Qur’an.

Puasa pada Akhir bulan Sya’ban

Telah tsabit dalam Shahihain dari ‘Imran bin Hushain bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: “Apakah engkau berpuasa pada sarar (akhir) bulan ini?” Dia berkata: “Tidak.” Maka beliau bersabda: “Apabila engkau berbuka maka puasalah dua hari.” Dan dalam riwayat Bukhari: “Saya kira yang dimaksud adalah bulan Ramadhan.” Sementara dalam riwayat Muslim: “Apakah engkau puasa pada sarar (akhir) bulan Sya’ban?” (HR. Bukhari 4/200 dan Muslim No. 1161).

Telah terjadi ikhtilaf dalam penafsiran kata sarar dalam hadits ini, dan yang masyhur maknanya adalah akhir bulan. Dan dikatakan sararusy syahr dengan mengkasrahkan sin atau memfathahkannya dan memfathahkannya ini yang lebih benar. Akhir bulan dinamakn sarar karena istisrarnya bulan (yakni tersembunyinya bulan).

Apabila seseorang berkata, telah tsabit dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa salla, beliau bersabda: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa berpuasa maka puasalah.” (HR. Bukhari No. 1983 dan Muslim No. 1082), maka bagimana kita mengkompromikan hadits anjuran berpuasa (Hadits ‘Imran bin Hushain tadi) dengan hadits larangan ini?

Berkata kebanyakan ulama dan para pensyarah hadits: Sesungguhnya orang yang ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ini telah diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa dia ini terbiasa berpuasa atau karena dia punya nadzar sehingga diperintahkan untuk membayarnya.

Dan dikatakan bahwa dalam masalah ini ada pendapat lain, dan ringkasnya bahwa puasa di akhir bulan Sya’ban ada pada tiga keadaan:

1.Berpuasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai bentuk kehati-hatian barangkali sudah masuk bulan Ramadhan. Puasa seperti ini hukumnya haram.

2.Berpuasa dengan niat nadzar atau mengqadha’ Ramadhan yang lalu atau membayar kafarah atau yang lainnya. Jumhur ulama membolehkan yang demikian.

3.Berpuasa dengan niat puasa sunah biasa. Kelompok yang mengharuskan adanya pemisah antara Sya’ban dan Ramadhan dengan berbuka membenci hal yang demikian, di antaranya adalah Hasan Al-Bashri –meskipun sudah terbiasa berpuasa- akan tetapi Malik memberikan rukhsah (keringanan) bagi orang yang sudah terbiasa berpuasa. Asy-Syafi’i, Al-Auzai’, dan Ahmad serta selainnya memisahkan antara orang yang terbiasa dengan yang tidak.

Secara keseluruhan hadits Abu Hurairah tadilah yang digunakan oleh kebanyakan ulama. Yakni dibencinya mendahului Ramadhan dengan puasa sunah sehari atau dua hari bagi orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa, dan tidak pula mendahuluinya dengan puasa pada bulan Sya’ban yang terus-menerus bersambung sampai akhir bulan.

Apabila seseorang berkata, kenapa puasa sebelum Ramadhan secara langsung ini makruh (bagi orang-orang yang tidak punya kebiasaan berpuasa sebelumnya)? Jawabnya adalah karena dua hal:

Pertama: agar tidak menambah puasa Ramadhan pada waktu yang bukan termasuk Ramadhan, sebagaimana dilarangnya puasa pada hari raya karena alasan ini, sebagai langkah hati-hati/peringatan dari apa yang terjadi pada ahli kitab dengan puasa mereka yaitu mereka menambah-nambah puasa mereka berdasarkan pendapat dan hawa nafsu mereka. Atas dasar ini maka dilaranglah puasa pada yaumusy syak (hari yang diragukan). Berkata Umar: Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan hari syak adalah hari yang diragukan padanya apakah termasuk Ramadhan atau bukan yang disebabkan karena adanya khabar tentang telah dilihatnya hilal Ramadhan tetapi khabar ini ditolak. Adapun yaumul ghaim (hari yang mendung sehingga tidak bisa dilihat apakah hilal sudah muncul atau belum maka di antara ulama ada yang menjadikannya sebagai hari syak dan terlarang berpuasaa padanya. Dan ini adalah perkataaan kebanyakan ulama.

Kedua: Membedakan antara puasa sunah dan wajib. Sesungguhnya membedakan antara fardlu dan sunah adalah disyariatkan. Oleh karenanya diharamkanlah puasa pada hari raya (untuk membedakan antara puasa Ramadhan yang wajib dengan puasa pada bulan Syawwal yang sunnah). Dan Rasulullah melarang untuk menyambung shalat wajib dengan dengan shalat sunah sampai dipisahkan oleh salam atau pembicaraan. Terlebih-lebih shalat sunah qabliyah Fajr (Shubuh) maka disyari’atkan untuk dipisahkan/dibedakan dengan shalat wajib. Karenanya disyariatkan untuk dilakukan di rumah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika melihat ada yang sedang shalat qabliyah kemudian qamat dikumandangkan, beliau berkata kepadanya: “Apakah shalat shubuh itu empat rakaat?” (HR. Bukhari No.663).

Barangkali sebagian orang yang tidak mengerti mengira bahwasanya berbuka (tidak berpuasa) sebelum Ramadhan dimaksudkan agar bisa memenuhi semua keinginan (memuaskan nafsu) dalam hal makanan sebelum datangnya larangan dengan puasa. Ini adalah salah/keliru dan merupakan kejahilan dari orang yang berparasangka seperti itu. Wallahu ta’ala a’lam.

Maraji’: Lathaaiful Ma’arif fi ma Limawasimil ‘Aami minal Wadhaaif, Ibnu Rajab Al-Hambali. Al-Ilmam bi Syai’in min Ahkamish Shiyam, ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rajihi.

Abu Dzar Al-Ghiffary Yang Tersendiri

Dari sejarah kita tahu, pada saat mendatangi Makkah, Abu Dzar menghadap Nabi seorang diri untuk bersyahadat. Dalam lembaran sejarah selanjutnya beliau adalah salah satu sahabat terdekat dan dimesrai Nabi begitu tinggi. Berbeda dengan sahabat yang lain, Ia memanggil anggun kekasih Allah dengan sebutan Khaliliy (Sahabatku yang akrab), hingga Rasul pilihan juga memanggilnya demikian. Kemilau kecintaan Abu Dzar kepada Nabi begitu benderang. Kristal kerinduannya kepada Kekasih Allah selalu saja jelita.

***
Lembah Ar-Ra’badzah senyap. Deru angin hanya terdengar dari jauh. Debu-debu menari di keheningannya. Lengang berkelindan sejak tadi. Sayup terdengar isak pedih anak manusia. Seorang perempuan. Kedua kelopak matanya terlihat lelah, pelupuknya tergenang oleh bening saripati duka. Sungguh tubuhnya kerontang seperti sahara, berbalut ghamis yang hitamnya telah memudar. Ia terus berdesis, menahan sedu sedan dalam rongga dada. Sosok yang berbaring di hadapannya kini bergerak, digapainya tangan perempuan itu lembut.

Perlahan paraunya terdengar “Istriku, mengapakah engkau menangis, sedang kematian pasti kan menjelang”. Sunyi beberapa saat.

“Suamiku, aku tahu engkau sekarat, bukan hal ini yang membuat lara begitu berat” nafas sang istri tertahan. “Aku tidak mempunyai kain untuk mengkafani engkau” isak sang istri kembali terdengar.

“Tenanglah perempuan penyabar, aku pernah mendengar Kekasih Allah bersabda di antara para sahabat “Salah seorang dari kalian akan wafat di padang pasir dan disaksikan oleh beberapa orang mukmin, semua yang duduk disana sudah meninggal, kecuali si lemah ini. Insya Allah beberapa orang mukmin akan segera datang. Demi Allah, aku tidak bohong dan tidak dibohongi” paparnya. Nafasnya satu-satu terhembus berat. Senyap kembali hinggap.

Benar saja, derap langkah kabilah samar mulai terdengar. Titik-titik hitam dari kejauhan perlahan mendekat, kepulan debu membumbung. Banyak sosok manusia mengarah ke tempat itu, mereka adalah kabilah yang dipimpin Abdullah Ibnu Mas’ud salah seorang sahabat Nabi yang Mulia. Keharuan menyeruak seketika, mereka menyadari sosok yang sedang sekarat itu, dialah Abu Dzar Al Ghiffary. Abu Dzar wafat dalam keheningan, disaksikan beberapa mukmin. Seseorang berujar lirih “Rasulullah benar, kamu akan berjalan seorang diri, wafat seorang diri dan dibangkitkan masih saja seorang diri”.

Waktu seperti berlari kembali ke masa Rasulullah. Simak baik-baik:

Tabuk. Sebuah tempat yang sangat jauh dari Madinah. Di sinilah pasukan Romawi dengan sekian banyak artileri hebatnya berkumpul, bersiap menyerang perbatasan tanah Arab sebelah utara. Berita ini tentu saja menggelisahkan sang Nabi. Rasulullah menyuruh kaum muslimin untuk menahan serangan ganasnya pasukan Romawi di Tabuk. Itulah mengapa peperangan yang terjadi, digoreskan sejarah sebagai perang Tabuk.

Ketika itu, musim panas belum berakhir. Teriknya menggentarkan setiap manusia yang akan bepergian merajut sahara. Saat-saat seperti ini membuat semua kepala harus berfikir berulang kali untuk menempuh lautan pasir yang butiran jelitanya siap membakar. Maka ketika Rasul pilihan menabuhkan genderang ajakan kepada kaum Muslimin untuk maju berjihad ke Tabuk sebagai upaya menahan serangan Romawi, Muslim terbagi menjadi dua golongan. Yang pertama menyambut seruan dengan hati bersemarak cahaya, sedangkan lainnya berberat langkah, mencari-cari alasan dan meniupkan kekhawatiran pada para sahabat bahwa pertempuran sungguh akan berat.

Pada saat pemberangkatan pasukan, debu-debu mengepul menari di udara, suara ringkikan kuda menyambangi setiap telinga. Para wanita Madinah melepas kepergian mereka dengan tengadah jemari kepada yang Maha Perkasa. Dan, diantara para pemberani itu, adalah Abu Dzar yang menunggangi seekor keledai tua. Selanjutnya Rasulullah dan pasukannya semakin jauh berbahtera. Lapar dan dahaga belumlah seberapa dibandingkan dengan panas bara tandus sahara. Banyak dari para sahabat yang akhirnya tercecer dibelakang rombongan. Setiap itu pula laporan kepada Rasulullah menggema: “Wahai Rasul, Fulan telah tertinggal”

“Biarkanlah, andai ia berguna, Allah akan menyusulkannya kepada kita” ujar Nabi pendek. Dan barisan terus maju menyusuri lembah demi lembah.

Hingga pada suatu saat, Abu Dzar sedikit demi sedikit juga tertinggal. Keledainya semakin tak bertenaga melangkah. Di halaunya keledai kuat-kuat, namun tunggangan itu semakin diam. Akhirnya Abu Dzar pun turun dan memutuskan menyusul para pemberani dengan berjalan kaki. Ia berlari membelah padang pasir, namun tak didapatinya rombongan. Ia terus berpacu dengan kerinduan membela Islam bersama manusia yang dicinta, Al Musthafa. Sungguh sebuah usaha yang tidak mudah, menelusuri jejak-jejak yang telah terhapus pasir yang diterbangkan angin. Namun, karena jatuh cintanya kepada gemerlap keridhaan Allah lah yang membuatnya tidak berhenti. Para sahabat yang menyadari kehilangan Abu Dzar segera melaporkannya kepada Nabi. Dan jawaban sama seperti semula tetap terlontar.

Hingga akhirnya, usaha Abu Dzar tidak sia-sia. Para sahabat yang melihat titik hitam bergerak cepat mengarah kepada mereka berseru memberi tahu Nabi. “Ya Rasul Allah, ada seorang musafir berjalan seorang diri”. Rasulullah memandang ke kejauhan dan berujar gembira “Mudah-mudahan itu Abu Dzar”. Benar saja, sesosok manusia bermandi peluh itu tiada lain adalah Abu Dzar. Banyak dari mereka yang terpesona, dan menyenandungkan pujian diam-diam. Saat itulah dari bibir manis kekasih Allah terpetik sebuah sabda: “ Semoga Allah, meluapkan limpahan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri dan dibangkitkan jua seorang diri…”.

***

Dalam sebuah riwayat, disebutkan pada sebuah kesempatan Nabi mengajak Abu Dzar berjalan-jalan ke luar kota dengan mengendarai unta. Abu Dzar diperintahkan Nabi untuk duduk dibelakangnya. Berlinang air mata Abu Dzar menerima kehormatan ini, gemetar menahan haru Abu Dzar menaiki unta dan menurutnya apakah yang paling membahagiakan selain berdekatan dengan kekasih yang dicinta. Abu Dzar merasa paling beruntung di seluruh semesta. Berboncengan mereka berkendara, dan terlihatlah keakraban yang mempesona. Pada saat-saat seperti itu, Abu Dzar mereguk langsung mata air hikmah dan nasehat yang disabdakan Al-Musthafa. Banyak kuntum-kuntum pesan yang selalu saja semerbak di hati Abu Dzar, meski Nabi sudah telah lama wafat. Salah satunya adalah untuk selalu hidup bersahaja dan mencintai kaum fakir miskin. Itulah mengapa dibeberapa sumber sejarah ia dikenal sebagai Bapak kaum fakir miskin dan Bapak Sosialis Islam.

Pada masa kekhalifahan Ustman, ia beroposisi karena menurutnya pemerintahan saat itu terlalu royal dengan uang negara untuk kepentingan para penguasa dan keluarganya. Ia sendirian begitu berani mendengungkan peringatan kepada para penguasa untuk tidak menumpuk-numpuk harta. Ia selalu terkenang sosok-sosok penguasa yang dicintanya. Sang purnama Madinah, Rasulullah, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi, wafat dalam keadaan baju besi perangnya masih tergadai. Ia merindui sosok pemurah dan berhati lembut, Abu Bakar, yang berwasiat untuk dikafani dengan kain paling sederhana, Siti Aisyah yang memprotesnya mendengar jawaban indah “Anakku, kafan hanya untuk nanah dan tanah”. Dan kenangannya beralih pada Umar, khalifah kedua ini pernah kulitnya menghitam karena selalu menyantap minyak zaitun dan sedikit roti sebagai bukti tulus kesayangannya kepada rakyat.

Abu Dzar Al-Ghiffary memulai usahanya di Syiria yang di Gubernuri Muawiyah bin Abi Sofyan. Di sana beliau mendengungkan begitu nyaring satu peringatan untuk para penguasa pencinta kemewahan dunia: “Beritahukan kepada mereka para penumpuk emas dan perak, bahwa harta yang mereka banggakan, akan segera menyetrikanya dalam neraka”. Perkataan Abu Dzar bergaung dimana-mana. Melihat hal ini, Muawiyah memprediksikan akan terjadi pemberontakan dari rakyat yang sangat membahayakan posisinya. Untuk menghindari bahaya ini, Muawiyah menulis surat kepada Khalifah Ustman. Dan Abu Dzar pun dipanggil pulang ke Madinah.

Di Madinah, Abu Dzar betemu sahabatnya Ustman bin Affan yang menjadi Khalifah yang dihormatinya. Mereka berdiskusi dalam sebuah suasana yang lengang. Ustman sangat menyadari bahwa Abu Dzar merupakan seorang yang sangat sederhana dan bersahaja. Ustman menawarinya untuk tinggal disisinya, seperti dugaan sebelumnya Abu Dzar dengan tegas menolaknya. Dan selanjutnya Abu Dzar menyatakan keinginannya yaitu memilih pergi menuju sebuah tempat sunyi. Lembah Ar-Rabadzah.

Melihat perjuangannya membumbungkan Islam ke cakrawala terindah dengan ketajaman lidahnya al-Musthafa menyanjungnya dengan “Di bawah langit, tidak akan pernah muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”.

***

Sahabat, ketika dunia begitu enteng kita dapatkan, kenanglah ksatria ini, hingga mudah-mudahan kita dengan mudah melihat ke bawah, para anak yatim yang terlunta di jalanan, janda-janda tua di mana-mana, atau mereka yang sudah tak sanggup lagi menjumpai nasi. Ketika engkau, wahai sahabat, menjadi si beruntung karena dikaruniai Allah rezeki yang lapang, ingatlah sosok bersahaja Abu Dzar, hingga mudah-mudahan, kedermawanan menjadi pakaian kemuliaan. Dan mereka yang tak seberuntung dirimu menyunggingkan senyum kesyukuran atas derma yang kau ulurkan.

Dan sahabat, semoga Allah yang maha Asih, selalu membimbing hati-hati ini meneladani denyar cahaya para ksatria. Allahumma Aamiin.
,

Jejak Indah Sang Pemimpin

Malam telah pekat, selimut-selimut semakin dirapatkan para pemiliknya untuk menambah lelap. Angin sahara menderu akrab ditelinga, dingin menusuk, kesunyian hadir sejak tadi. Dia mengendap-endap keluar dari petak rumah sederhana, menyusuri setiap lorong perkampungan Madinah. Jubah kumal bertambalan itu menemaninya pergi. Ditajamkannya pendengaran, adakah rakyatnya menyelami derita yang luput dari perhatian. Diawaskannya mata, terdapatkah rakyat alami duka akibat kepemimpinannya. Jika dia berlalu dan mendengar dengkuran halus pemilik rumah, senyuman menemaninya berpatroli.

Sendirian, dia memamah malam, langkahnya berjinjit khawatir mengganggu istirahat rakyat yang begitu dicintai. Dari setiap detik yang mengalir, selalu kecemasan yang membayang di wajah pemberaninya, jangan-jangan di rumah ini ada janda dengan anak-anak yang kelaparan, atau khawatir di rumah selanjutnya orang tua terkapar kesakitan tanpa sanak saudara, adakah di rumah itu yang sakit hati karena pajak terlalu tinggi. Sendirian dia menikmati paruh malam, menyulam harapan keadaan rakyat sentosa senantiasa, merajut do'a agar rakyat dibawah naungan perlindungannya dilingkupi pilinan kedamaian.

Langkahnya terhenti, ketika beberapa wanita terdengar bersenandung, dari bilik sebuah rumah:

Adakah jalan untuk minuman memabukkan,
Dan aku akan meminumnya
Atau adakah jalan,
Kepada Nashr bin Hajjaj?

Saat itu, dia berdiam lama, menghafal sebuah nama asing dalam hatinya, Nashr bin Hajjaj. Selanjutnya patrolinya dilanjutkan, hingga waktu fajar sebentar lagi menjemput.

Pagi harinya, dia mencari tahu nama yang didapatinya tadi malam. Salah seorang pembantunya menghadapkan seorang laki-laki dari suku Sulaym, Nashr bin Hajjaj. Berdiri tegap sang pemuda. Dia memandangnya lekat. Pemuda yang menakjubkan, ketampanannya mempesona, rambutnya indah. Dia mengingat syair wanita semalam. Akhirnya sang pemuda diperintahkan untuk memotong rambut, ketika kembali, Nashr tampak lebih tampan, dia pun menyuruhnya mengenakan ikat kepala, kali ini pun Nashr terlihat lebih mempesona. Khawatir menimbulkan banyak fitnah dan kemudharatan di tempat berdiamnya selama ini, Dia pun mengamanahkan Nashr tugas mulia, menjadi anggota pasukan tentara dengan jaminan kehidupan yang lebih baik. Wajah Sang pemuda pun berbunga.

Siapakah dia, yang sangat khawatir terjadi kerusakan akhlak para wanita hingga memikirkan solusi terbaik dengan memindahkan Nashr? Tebak, siapa pemimpin yang begitu tulus mencintai rakyatnya dengan berjalan dari satu lorong ke lorong yang lain untuk mencari tahu adakah rakyatnya yang tidak dapat tidur nyenyak? Ya, saya sepakat denganmu sahabat, Dia adalah Umar Bin Khattab, khalifah kedua bergelar amirul mu'minin, pemimpin bagi orang-orang mu'min. Begitu Mahsyur.

Suatu periode dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera dimana-mana. Saat itu, Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya seksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari diinstruksikan menyembelih onta-onta potong dan disebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong ribuan rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, "Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran ditangan ini".

Sejarah menorehkan kisah Umar yang mengharamkan daging, samin dan susu untuk perutnya, khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu hanya menyantap minyak zaitun dengan sedikit roti. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata "Kurangilah panas minyak itu dengan api". Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, "Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, hingga rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar".

Tahun abu pun berlalu. Daerah kekuasaan Islam bertambah luas, pendapatan negara semakin besar. Masyarakat semakin makmur. Apakah umar berhenti berpatroli? Masih dengan jubah kumal, umar didampingi pembantunya berkeliling merambahi rumah-rumah berpelita. Kehidupan keluarga umar, masih saja pas-pasan. Padahal para gubernur di beberapa daerah hidup dalam kemewahan. Para sahabat, mulai berkasak-kusuk, mereka mengusulkan untuk memberi tunjangan dan kenaikan gaji yang besar untuk Umar. Namun, para sahabat tidak berani menyampaikan usul ini langsung kepada umar. Lewat Hafsah putri Umar, yang juga janda Rasulullah, usul ini disampaikan. Sebelumnya mereka berpesan supaya tidak disebut nama-nama mereka yang mengusulkan.

"Siapa mereka yang mempunyai pikiran beracun itu, akan ku datangi mereka satu persatu dan menamparnya dengan tanganku ini," berangnya kepada Hafsah. Selanjutnya tatapannya meredup, dipandanginya putri kesayangan itu, "Anakku, makanan apa yang menjadi santapan suamimu, Rasulullah!" Hafsah terdiam, pandangannya terpekur di lantai tanah. Ingatan hidup indah bersama sang purnama Madinah, tergambar. Terbata Hafsah menjawab, "Roti tawar yang keras, ayah. Roti yang harus terlebih dahulu dicelup ke dalam air, agar mudah ditelan".

"Hafsah, pakaian apa yang paling mewah dari suamimu," seraknya masih dengan nada kecewa. Hafsah semakin menunduk, pelupuk mata sudah tergenang. Terbayanglah tegap manusia sempurna, yang selalu berlaku baik kepada para istrinya. "Selembar jubah kemerahan, ayah, karena warnanya memudar. Itulah yang dibangga-banggakan untuk menerima tamu kehormatan". Pada saat menjawab, kerongkongan Hafsah tersekat, menahan kesedihan.

"Apakah, Rasulullah membaringkan tubuh diatas tilam yang empuk?" pertanyaan ini langsung dipotong Hafsah "Tidakk!" pekiknya. "Beliau berbantal pelepah keras kurma, beralaskan selimut tua. Jika musim panas datang, selimut itu dilipatnya menjadi empat, supaya lebih nyaman ditiduri. Lalu kala musim dingin menjelang, dilipatnya menjadi dua, satu untuk alas dan bagian lainnya untuk penutup. Sebagian tubuh beliau selalu berada diatas tanah". Saat itu meledaklah tangis Hafsah.

Mendengar jawaban itu, Umar pun berkata, "Anakku! Aku, Abu Bakar dan Rasulullah adalah tiga musafir yang menuju cita-cita yang sama. Mengapakah jalan yang harus kutempuh berbeda? Musafir pertama dan kedua telah tiba dengan jalan yang seperti ini." Selanjutnya Umar pun menambahkan "Rasulullah pernah berkata: Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang berpergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat meninggalkannya".

Pada saat kematian menjelang lewat tikaman pisau Abu Lu'Lu'a, budak Mughira bin Syu'bah, ringan ia bertutur, "Alhamdulillah, bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang muslim". Mata yang jarang terlelap karena mengutamakan rakyatnya itu menutup untuk selama-lamanya. Umar pun syahid, dalam usia 60 tahun. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiiun.

Madinah berduka, sebuah syair menghantarkan kepergiannya:

Allah membalas kebaikan kepada Imam
Memberi berkah ke kulit bumi yang terkoyak
Kau raih kemilau sejarah gemilang
Kau tinggalkan retak-retak belum selesai
Siapa terbang di sayap burung unta
Akan terkejar apa yang sudah berlalu sebelumnya?
Setelah pembunuhan di Madinah
Dunia pun gelap
Pohon-pohon tersentak bergetar,
Dan tidak kuharapkan
Kematiannya dikuku singa
Bermata biru, kepala merunduk
(Muzarrad bin Dzirar)

Sungguh saya merindukan sosok pemimpin yang meneladani Umar dalam mengayomi rakyatnya.

Siapa Yang Menentukan Nama-nama Surah di Al-Quran?

Para ulama berbeda pendapat tentang tertib surah-surah Qur'an. Sebagian mengatakan bahwa urutan itu berdasarkan wahyu semata (tauqifi), sebagian lagi mengatakan ijma' atau ijtihad para shahabat (taufiqi). Dan pendapat ketiga merupakan perpaduan antara kedua pendapat sebelumnya.

Sedangkan masalah juz-juznya memang ditetapkan kemudian, termasuk masalah ada huruf 'ainnya. Semua itu ditulis setelah Islam mulai melebarkan sayap ke negeri-negeri yang tidak mengerti bahasa Arab, sehingga dibutuhkan teknik penulisan arab (Al-Qur'an) yang lebih dari apa yang ada sebelumnya.

Sedangkan tentang perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah urutan surat itu berdarkan wahyu atau bukan, silahkan simak rincian berikut ini:

1. Pendapat yang Mengatakan bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ketetapan Rasulullah SAW

Dikatakan bahwa tertib surah itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi SAW sebagaimana diberitahukan Jibril kepadanya atas perintah Tuhan. Dengan demikian, Al-Qur'an pada masa Nabi SAW telah tersusun surah-surahnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya. Seperti yang ada di tangan kita sekarang ini. Yaitu tertib mushaf Usman yang tak ada seorang sahabat pun menentangnya. Ini menunjukkan telah terjadi kesepakatan (ijma') atas tertib surah, tanpa suatu perselisihan apa pun.

Yang mendukung pendapat ini ialah, bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surah secara tertib di dalam salatnya. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi pernah membaca beberapa surah aufassal (surah-surah pendek) dalam satu rakaat. Bukhari meriwayatkan dari Ibn Mas'ud, bahwa ia mengatakan tentang surah Bani Isra'il, Kahfi, Maryam, Taha dan Anbiya', "Surah-surah itu termasuk yang diturunkan di Mekkah dan yang pertama-tama aku pelajari." Kemudian ia menyebutkan surah-surah itu secara berurutan sebagaimana tertib susunan seperti sekarang ini.

Telah diriwayatkan melalui Ibn wahhab, dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata, "Aku mendengar Rabbi'ah ditanya orang," Mengapa surah Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan, padahal sebelum kedua surah itu telah diturunkan delapan puluh sekian surah makki, sedang keduanya di turunkan di Madinah?'. Dia menjawab, 'Kedua surah itu memang didahulukan dan Al-Qur'an dikumpulkan menurut pengetahuan dari orang yang mengumpulkannya.' Kemudian katanya, 'Ini adalah sesatu yang mesti terjadi dan tidak perlu dipertanyakan."

Ibn Hisyar mengatakan, '"Tertib surah dan letak ayat-ayat pada tempat-tampatnya itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan, "Letakkanlah ayat ini ditempat ini." Hal tersebut telah diperkuat oleh nukilan atau riwayat yang mutawatir dengan tertib seperti ini, dari bacaan Rasulullah dan ijma' para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya seperti ini didalam mushaf."

2. Pendapat yang Mengatakab bahwa Urutan Surat Berdasarkan Ijma' Shahabat

Dikatakan bahwa tertib surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat. Dasar dari pendapat itu adalah kenyataan bahwa para shahabat punya koleksi mushaf yang awalnya berbeda-beda urutan.

Misalnya mushaf Ali disusun menurut tertib nuzul, yakni dimulai dengan Iqra', kemudian Muddassir, lalu Nun, Qalam, kemudian Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surah makki dan madani. Dalam mushaf Ibn Masu'd yang pertama ditulis adalah surah Al-Baqarah, Nisa' dan Ali-'Imran. Dalam mushaf Ubai yang pertama ditulis ialah Fatihah, Baqarah, Nisa' dan Ali-Imran.

Diriwayatkan Ibn Abbas berkata, "Aku bertanya kepada Usman, "Apakah yang mendorongmu mengambil Anfal yang termasuk kategori masani dan Al-Bar'ah yang termasuk Mi'in untuk kamu gabungkan keduanya menjadi satu tanpa kamu tuliskan di antara keduanya Bismillahirrahmanirrahim, dan kamu pun meletakkannnya pada as-Sab'ut Tiwal (tujuh surah panjang)? Usman menjawab, 'Telah turun kepada Rasulullah surah-surah yang mempunyai bilangan ayat. Apabila ada ayat turun kepadanya, ia panggil beberapa orang penulis wahyu dan mengatakan, ' Letakkanlah ayat ini pada surah yang di dalamnya terdapat ayat anu dan anu." Surah Anfal termasuk surah pertama yang turun di madinah. Sedang surah Bara'ah termasuk yang terakhir diturunkan. Surah Anfal serupa dengan surah yang turun dalam surah Bara'ah, sehingga aku mengira bahwa surah bara'ah adalah bagian dari surah Anfal. Dan sampai wafatnya Rasulullah tidak menjelaskan kepada kami bahwa surah Bara'ah adalah sebagian dari surah Anfal. Oleh karena itu, kedua surah tersebut aku gabungkan dan diantara keduanya tidak aku tuliskan Bismillahirrahmanirrahim serta aku meletakkannya pula pada as-Sab'ut Tiwal."

3. Pendapat yang Memadukan bahwa Sebagian Ayat Ditetapkan dan Sebagian lagi Ijtihad

Pendapat lain adalah perpaduan antara keduanya. Mereka mengatakan bahwa sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat, hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surah pada masa Nabi. Misalnya keterangan yang menunjukkan tertib as-'abut Tiwal, al hawamin dan al mufassal pada masa hidup Rasulullah.

Diriwayatkan, "Bahwa Rasulullah berkata: bacalah olehmu dua surah yang bercahaya, baqarah dan ali Imran". Diriwayatkan pula, bahwa jika hendak pergi ketempat tidur, Rasululah mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniupnya lalu membaca Qul huwallahu ahad dan mu'awwizatain."

Ibn Hajar mengatakan, "Tertib sebagain surah-surah atau sebagian besarnya itu tidak dapat ditolak sebagai bersifat Tauqifi." Untuk mendukung pendapatnya ia kemukakan hadis Huzaifah as-Saqafi yang didalamnya antara lain termuat: Rasulullah berkata kepada kami, "Telah datang kepadaku waktu untuk membaca hizb (bagian) dari Qur'an, maka aku tidak ingin keluar sebelum selesai.' Lalu kami tanyakan kepada sahabat-sahabat Rasulullah, "Bagaimana kalian membuat pembagian Qur'an? Mereka menjawab, "Kami membaginya menjadi tiga surah, lima surah, tujuh surah, sembilan, sebelas, tiga belas surah dan bagian al Mufassal dari Qaf sampai kami khatam."

Kata Ibn Hajaar, " Ini menunjukkan bahwa tertib surah-surah seperti terdapat dalam mushaf sekarang adalah tertib surah pada masa Rasulullah." Dan katanya, "Namun mungkin juga bahwa yang telah tertib pada waktu itu hanyalah bagian mufassal, bukan yang lain."

Apabila membicarakan ketiga pendapat ini, jelaslah bagi kita bahwa pendapat kedua, yang menyatakan tertib surah-surah itu berdasarkan ijtihad para sahabat, tidak bersandar dan berdasar pada suatu dalil. Sebab, ijtihad sebagian sahabat mengenai tertib mushaf mereka yang khusus, merupakan ihtiyar mereka sebelum Qur'an dikumpulkan secara terib. Ketika pada masa Usman Qur'an dikumpulkan, ditertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya pada suatu huruf (logat) dan umatpun menyepakatinya, maka mushaf-mushaf yang ada pada mereka ditinggalkan. Seandainya tertib itu merupakan hasil ijtihad, tentu mereka tetap berpegang pada mushafnya masing-masing.

Mengenai hadis tentang surah al-Anfal dan Taubah yang diriwayatkan dari Ibn Abbas di atas, isnadnya dalam setiap riwayat berkisar pada Yazid al Farsi yang oleh Bukhari dikategorikan dalam kelompok du'afa'. Di samping itu dalam hadis inipun tedapat kerancuan mengenai penempatan basmalah pada permulaan surah, yang mengesankan seakan-akan Usman menetapkannya menurut pendapatnya sendiri dan meniadakannya juga menurut pendapatnya sendiri. Oleh karena itu dalam komentarnya terdapat hadis tersebut dalam musnad Imam Ahmad. Syaikh Ahmad Syakir, menyebutkan, "Hadis itu tak ada asal mulanya" paling jauh hadis itu hanya menunjukan ketidaktertiban kedua surah tersebut.

Sementara itu, pendapat ketiga yang menyatakan sebagian surah itu tertibnya tauqifi dan sebagian lainnya bersifat ijtihadi, dalil-dalilnya hanya berpusat pada nas-nas yang menunjukkan tertib tauqifi. Adapun bagian yang ijtihadi tidak bersandar pada dalil yang menunjukkan tertib ijtihadi. Sebab, ketetapan yang tauqifi dengan dalil-dalilnya tidak berarti bahwa selain itu adalah hasil ijtihad. Disamping itu pula yang bersifat demikian hanya sedikit sekali.

Dengan demikian bahwa tertib surah itu bersifat tauqifi seperti halnya tertib ayat-ayat. Abu Bakar Ibnul Anbari menyebutkan, "Alah telah menurunkan Qur'an seluruhnya ke langit dunia. Kemudian ia menurunkannya secara berangsur-angsur selama dua puluh sekian tahun. Sebuah surah turun karena suatu urusan yang terjadi dan ayatpun turun sebagai jawaban bagi orang yang bertanya, sedangkan Jibril senantiasa memberitahukan kepada Nabi di mana surah dan ayat tersebut harus ditempatkan. Dengan demikian susunan surah-surah, seperti halnya susunan ayat-ayat dan logat-logat Al-Qur'an, seluruhnya berasal dari Nabi. Oleh karena itu, barang siapa mendahulukan sesuatu surah atau mengakhirinya, ia telah merusak tatanan Al-Qur'an."

Al-Kirmani dalam al-Burhan mengatakan, "Tertib surah seperti kita kenal sekarang ini adalah menurut Allah pada lauh mahfuz, Qur'an sudah menurut tertib ini. Dan menurut tertib ini pula Nabi membacakan di hadapan Jibril setiap tahun apa yang dikumpulkannya dari Jibril itu. Nabi membacakan dihadapan Jibril menurut tertib ini pada tahun kewafatannya sebanyak dua kali. Dan ayat yang terakhir kali turun ialah, "Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah." (Al-Baqarah: 28). Lalu jibril memerintahkan kepadanya untuk meletakkan ayat ini diantara ayat riba dan ayat tentang utang piutang.

As-Suyuti cenderung pada pendapat Baihaqi yang mengatakan, "Al-Qur'an pada masa Nabi surah dan ayat-ayatnya telah tersusun menurut tertib ini kecuali anfal dan bara'ah, karena hadis Usman."

Peringatan Maulid Nabi s.a.w

Ada tradisi umat Islam di banyak negara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Mesir, Yaman, Aljazair, Maroko, dan lain sebagainya, untuk senantiasa melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti Peringatan Maulid Nabi SAW, peringatan Isra' Mi'raj, peringatan Muharram, dan lain-lain. Bagaimana sebenarnya aktifitas-aktifitas itu?

Secara khusus, Nabi Muhammad SAW memang tidak pernah menyuruh hal-hal demikian. Karena tidak pernah menyuruh, maka secara spesial pula, hal ini tidak bisa dikatakan "masyru'" [disyariatkan], tetapi juga tidak bisa dikatakan berlawanan dengan teologi agama.

Yang perlu kita tekankan dalam memaknai aktifitas-aktifitas itu adalah "mengingat kembali hari kelahiran beliau --atau peristiwa-peristiwa penting lainnya-- dalam rangka meresapi nilai-nilai dan hikmah yang terkandung pada kejadian itu". Misalnya, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Itu bisa kita jadikan sebagai bentuk "mengingat kembali diutusnya Muhammad SAW" sebagai Rasul. Jika dengan mengingat saja kita bisa mendapatkan semangat-semangat khusus dalam beragama, tentu ini akan mendapatkan pahala. Apalagi jika peringatan itu betul-betul dengan niat "sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW".

Dalam Shahih Bukhari diceritakan, sebuah kisah yang menyangkut tentang Tsuwaibah. Tsuwaibah adalah budak [perempuan] Abu Lahab [paman Nabi Muhammad [SAW]. Tsuwaibah memberikan kabar kepada Abu Lahab tentang kelahiran Muhammad [keponakannya], tepatnya hari Senin tanggal 12 Robiul Awwal tahun Gajah. Abu Lahab bersuka cita sekali dengan kelahiran beliau. Maka, dengan kegembiraan itu, Abu Lahab membebaskan Tsuwaibah.

Dalam riwayat disebutkan, bahwa setiap hari Senin, di akhirat nanti, siksa Abu Lahab akan dikurangi karena pada hari itu, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Abu Lahab turut bersuka cita. Kepastian akan hal ini tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, yang paling berhak tentang urusan akhirat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW secara seremonial sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, dimulai oleh Imam Shalahuddin Al-Ayyubi, komandan Perang Salib yang berhasil merebut Jerusalem dari orang-orang Kristen. Akhirnya, setelah terbukti bahwa kegiatan ini mampu membawa umat Islam untuk selalu ingat kepada Nabi Muhammad SAW, menambah ketaqwaan dan keimanan, kegiatan ini pun berkembang ke seluruh wilayah-wilayah Islam, termasuk Indonesia.

Kita tidak perlu merisaukan aktifitas itu. Aktifitas apapun, jika akan menambah ketaqwaan kita, perlu kita lakukan.

Tentang pendapat Ulama dan Pemerintah Arab Saudi itu, memang benar, sebagaimana yang kami tulis di atas. Tetapi, jika kita ingin 100% seperti zaman Nabi Muhammad SAW, apapun yang ada di sekeliling kita, jelas tidak ada di zaman Nabi. Yang menjadi prinsip kita adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita utamakan.

Nabi Muhammad SAW bersabda : 'Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan] pahala orang yang turut melakukannya' (Muslim dll). Makna 'aktifitas yang baik' --secara sederhananya-- adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW, dan lain-lainnya.

Masalah Bid'ah: Ibnu Atsir dalam kitabnya "Annihayah fi Gharibil Hadist wal-Atsar" pada bab Bid'ah dan pada pembahasan hadist Umar tentang Qiyamullail (sholat malam) Ramadhan "Sebaik-baik bid'ah adalah ini", bahwa bid'ah terbagi menjadi dua : bid'ah baik dan bid'ah sesat. Bid'ah yang bertentangan dengan perintah qur'an dan hadist disebut bid'ah sesat, sedangkan bid'ah yang sesuai dengan ketentuan umum ajaran agama dan mewujudkan tujuan dari syariah itu sendiri disebut bid'ah hasanah.

Ibnu Atsir menukil sebuah hadist Rasulullah "Barang siapa merintis jalan kebaikan maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang orang yang menjalankannya dan barang siapa merintis jalan sesat maka ia akan mendapat dosa dan dosa orang yang menjalankannya". Rasulullah juga bersabda "Ikutilah kepada teladan yang diberikan oleh dua orang sahabatku Abu Bakar dan Umar". Dalam kesempatan lain Rasulullah juga menyatakan "Setiap yang baru dalam agama adala Bid'ah".

Untuk mensinkronkan dua hadist tersebut adalah dengan pemahaman bahwa setiap tindakan yang jelas bertentangan dengan ajaran agama disebut "bid'ah".

Izzuddin bin Abdussalam bahkan membuat kategori bid'ah sbb :

1) wajib seperti meletakkan dasar-dasar ilmu agama dan bahasa Arab yang belum ada pada zaman Rasulullah. Ini untuk menjaga dan melestarikan ajaran agama. Seperto kodifikasi al-Qur'an misalnya.

2) Bid'ah yang sunnah seperti mendirikan madrasah di masjid, atau halaqah-halaqah kajian keagamaan dan membaca al-Qur'an di dalam masjid.

3) Bid'ah yang haram seperti melagukan al-Qur'an hingga merubah arti aslinya.

4) Bid'ah Makruh seperti menghias masjid dengan gambar-gambar.

5) Bid'ah yang halal, seperti bid'ah dalam tata cara pembagian daging Qurban dan lain sebagainya.

Syatibi dalam Muwafawat mengatakan bahwa bid'ah adalah tindakan yang diklaim mempunyai maslahah namun bertentangan dengan tujuan syariah. Amalan-amalan yang tidak ada nash dalam syariah, seperti sujud syukur menurut Imam Malik, berdoa bersama-sama setelah shalat fardlu, atau seperti puasa disertai dengan tanpa bicara seharian, atau meninggalkan makanan tertentu, maka ini harus dikaji dengan pertimbangan maslahat dan mafsadah menurut agama. Manakala ia mendatangkan maslahat dan terpuji secara agama, ia pun terpuji dan boleh dilaksanakan. Sebaliknya bila ia menimbulkan mafsadah, tidak boleh dilaksanakan.(2/585)

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa bid'ah terjadi hanya dalam masalah-masalah ibadah. Namun di sini juga ada kesulitan untuk membedakan mana amalan yang masuk dalam kategori masalah ibadah dan mana yang bukan.

Memang agak rumit menentukan mana bid'ah yang baik dan tidak baik dan ini sering menimbulkan percekcokan dan perselisihan antara umat Islam, bahkan saling mengkafirkan.

Selayaknya kita tidak membesar-besarkan masalah seperti ini, karena kebanyakan kembalinya hanya kepada perbedaan cabang-cabang ajaran (furu'iyah).

Kita diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang agama karena ini masalah ijtihadiyah (hasil ijtihad ulama). Sikap yang kurang terpuji dalam mensikapi masalah furu'iyah adalah menklaim dirinya dan pendapatnya yang paling benar.

Fungsi Doa Bagi Yang Sudah Meninggal

Masalah ‘pengiriman pahala’ kepada orang yang telah wafat:

Kita menerima kenyataan bahwa para ulama memang terbagi-bagi dalam memahami masalah ini. Ada diantara mereka yang berpendapat bahwa orang yang sudah wafat itu sama sekali tidak bisa menerima pahala dari orang yang masih hidup. Sebagian lagi mengatakan bisa menerima, namun hanya jenis pahala tertentu saja yang bisa. Dan yang terakhir mengatakan bahwa semua jenis pahala bisa disampaikan kepada orang yang sudah mati. Lebih rincinya, berikut ini kami uraikan satu persatu pendapat mereka :

1. Pendapat Pertama : Mutlak Tidak Sampai
Pendapat ini berangkat dari pengertian beberapa ayat Al-Quran Al-Kariem yang seklias memang menyebutkan bahwa tiap orang akan menerima sesuai dengan yang pernah dikerjakannya. Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem :

Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS. Al-Baqarah : 286)

2. Pendapat Kedua : Hanya Pahala Ibadah Maliyah Saja Yang Bisa Sampai
Mereka membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pahala ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji sampai kepada mayyit, sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur’an tidak sampai.

Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi’i dan pendapat Madzhab Malik. Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan orang lain, sebagaimana sewaktu hidup seseorang tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. Dalil yang mereka gunakan adalah sabda Rasul SAW:

Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum” (HR An-Nasa’i).

3. Pendapat Ketiga : Semua Jenis Pahala Bisa Sampai
Dalil yang paling populer untuk masalah ini adalah hadits yang sudah sangat kita kenal bersama, yaitu : Rasulullah SAW bersabda, ”Bila anak Adam wafat, maka amalnya terputus kecuali tiga hal : [1] Shadaqah jariah, [2] Ilmu yang bermanfaat dan [3] Anak shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’I dan Ahmad )

Terkabulnya Doa Selain Dari Anak
Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berdoa dan mendoakan mayat yang telah wafat. Dan tidak harus untuk yang masih ada hubungan saudara dan darah. Melainkan kepada semuanya, yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Logikanya, bila Allah SWT sendiri memerintahkan untuk mendoakan mereka, bagaimana mungkin dikatakan bahwa doa itu tidak ada gunanya. Bahkan di dalam Al-Quran Al-Kariem sendiri, ada teks doa itu dan memang telah dibaca oleh umat ini.

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a : ”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami” (QS Al Hasyr: 10)

Juga ada hadits Rasulullah SAW yang menceritakan doa kepada mayyit :

Dari Ustman bin ‘Affan ra berkata:” Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau berdiri lalu bersabda:” mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya” (HR Abu Dawud)

Kalau kita diminta untuk memohon ampun bagi orang yang sudah wafat, logiskah bila masih akan dikatakan bahwa tidak ada pengaruh amal orang hidup untuk orang yang telah wafat ?

Disyariatkannya Shalat Jenazah
Kira-kira, apa sih gunanya shalat jenazah ? Dan adakah bedanya bila jenazah dishalatkan dengan tidak dishalatkan?

Tentu saja shalat jenazah itu disyariatkan karena jenazah yang dishalatkan itu memang akan mendapatkan pahala dan keringanan siksa di dalam kuburnya. Paling tidak shalat itu bukan hanya berpengaruh kepada amal yang melakukannya, melainkan juga kepada jenazah yang dishalatkan itu sendiri.

Apalagi bila dilihat lafaz shalat jenazah yang intinya tidak lain adalah doa untuk mayit. Artinya, mayit itu didoakan agar dia mendapatkan segala yang dibutuhkannya di alam quburnya.

Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW – setelah selesai shalat jenazah-bersabda:” Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka” (HR Muslim).

Kalau doa ini disyariatkan, artinya memang ada perintah untuk itu dan tentu saja Allah SWT tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Sampainya Pahala Sedekah Untuk Orang Mati
Rasulullah SAW pun memerintahkan shahabat untuk bersedekah yang pahalanya untuk orang yang telah wafat. Hadits berikut ini menjelaskan bagaimana hal itu.

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya:” Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:” saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya” (HR Bukhari).

Dosa Hutang Yang Terhapus
Hadits Abu Qotadah menjelaskan bahwa seseorang mati dalam keadaan berhutang. Tentu saja di kubur dia mendapat masalah. Lalu ketika keluarganya membayarkan hutangnya sebanyak dua dinar, maka nabi SAW bersabda : "Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya" (HR Ahmad)

Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya.
,

Selamatan, Tahlilan dan Yasinan

Ketika Islam diturunkan 1400-an tahun yang lalu, salah satu doktrinnya adalah memperbaiki kerusakan aqidah dan kehidupan manusia. Namun bila aqidah dan kerusakan itu tidak terjadi, maka Islam justru melestarikannya bahkan mengembangkannya menjadi peradaban besar.

Sebagai contoh, ketika Islam masuk Persia yang dulunya penyembah api, maka semua unsur yang positif dan sesuai dengan prinsip Islam justru diterima dan dikembangkan. Adapun yang bertentangan dengan Islam, maka dihilangkan dengan cara yang sangat baik.

Ketika Rasulullah SAW wafat, tidak pernah kita dapat masjid itu berkubah. Kubah itu sendiri bukan bagian dari adat orang jazirah arab. Namun seiring dengan perluasan wilayah Islam, beragam kebudayaan dan adat itu mengalami proses penyaringan dan pengembangan dalam peradaban Islam. Bila benar bahwa kebudayaan itu tidak bertentangan dengan prinsip Islam, sangat boleh jadi jutru akan mengalami pelestarian bahkan pengembangan luar biasa. Dan kubah itu adalah salah satunya sehingga seolah menjadi ciri khas masjid di berbagai belahan bumi. Meski kubah itu bukan bagian dari kriteria pembangunan masjid, tapi dia ada di mana-mana.

Budaya jawa tidak lepas dari proses penyaringan. Para juru dakwah generasi pertama yang datang ke nusantara ini tahu persis bahwa masyarakat jawa adalah orang yang tidak bisa dipisahkan dengan budayanya begitu saja. Karena berbagai pendekatan dilakukan sedemikian rupa sehingga meski masih kental dengan budaya jawa, namun sedikit demi sedikit ajaran Islam semakin dominan.

Memang semua itu adalah sebuah proses yang tidak boleh berhenti di tengah jalan. Islamisasi di tanah jawa sebenarnya adalah proses yang cukup berhasil. Karena bila kita lihat latar belakangnya yang kental dengan animisme, dinamisme, hindu dan budha, maka Islam adalah agama yang paling berhasil merangkul orang jawa. Bahkan dibandingkan zending dan misi kriten sekalipun.

Bahkan para raja hindu dan budha di tanah jawa pun akhirnya ramai-ramai memeluk Islam setelah rakyatnya. Hanya segelintir dari mereka yang berkeras hati dan akhirnya membentuk ‘benteng’ pertahanan yang terkonsentrasi di Bali hingga kini. Sehingga sudah menjadi aksioma bahwa jawa itu identik dengan Islam, sebagaimana arab itu identik dengan Islam.

Bahwa pada prakteknya, masih ada kepercayaan kejawen dan beragam ritual yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, itu sangat tergantung dari intensitas dakwah di suatu daerah. Bila basic dakwah disitu kurang dominan, biasanya pengaruh peninggalan hindu budha itu terkadang satu-dua masih tersembul ke permukaan. Ini adalah suatu yang yang manusiawi. Jangankan di jawa, di tanah arab saja yang konon negeri para nabi, praktek kemusyrikan dan sihir pun masih banyak hingga kini. Meski dakwah salafiyah dominan, namun di banyak pelosok praktek seperti di jawa pun maish bisa ditemukan.

Sebagai orang Indonesia, kita adalah muslim yang paling tahu bagaimana melakukan Islamisasi dan pendekatannya. Secara umum, pendekatan orang jawa itu bukanlah pendekatan debat dan adu argumen, tapi lebih kepada pendekatan psikologis dan sosial. Barangkali karena itulah dahulu wali di tanah jawa mengembangkan seni wayang untuk dakwah lepas dari kontroversi di kalangan mereka sendiri.

Tentu saja bukan berarti kini kita harus menghidupkan wayang di zaman ini, tapi raihlah generasi muda jawa ini dengan pendidikan dan peradaban. Bila strategi ini berhasil, mereka sendiri yang akan meninggalkan semua ritual yang tidak sesuai dengan aqidah Islam. Sayangnya, proses seperti ini tidak selalu berjalan mulus. Akibatnya, masih ada saja yang menjalankan ritual-ritual seperti itu. Seharusnya, para da`i dan muballlgih tidak hanya berpikir pada batas ceramah dan fatwa, tetapi juga pembinaan generasi muda, pendidikan, kesehatan dan sosial. Bila ini ditekuni, maka akan lahir generasi baru yang benar-benar punya wawasan Islam yang baik. Generasi ini akan melahirkan generasi yang lebih baik hingga proses Islamisasi antara generasi itu berjalan secara baik pula.

Sedangkan pendekatan fatwa yang menyederhanakan masalah bahwa ini haram, itu bid`ah, ini kejawen dan itu musrik, maka tidak semua orang jawa dengan mudah bisa menerimanya. Alih-alih mau mendengarkan, bahkan bisa jadi mereka malah membuat front untuk bertahan.

Jadi ajaran Islam itu bila disampaikan dengan cara yang baik, umumnya akan membuat agama ini semakin banyak pengikutnya. Dan bila disampaikan dengan cara yang kurang simpatik, hanya akan melahirkan masalah baru yang bertumpuk.

Sedangkan khusus masalah hukum mengirim pahala kepada orang yang sudah wafat dengan bacaan Al-Quran Al-Kariem atau mendoakannya, maka sebenarnya ada dalil yang menyebutkannya. Meski ada juga pendapat yang menentangnya. Untuk itu marilah kita bedah satu persatu di antara sekian banyak pendapat ini :

A. PENDAPAT PERTAMA :

Orang mati tidak bisa menerima pahala ibadah orang yang masih hidup. Dalil atau hujjah yang digunakan adalah berdasarkan dalil:

”Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. An-Najm:38-39)

”Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Yaasiin:54)

”Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS. Al Baqaraah 286)

Ayat-ayat diatas adalah sebagai jawaban dari keterangan yang mempunyai maksud yang sama, bahwa orang yang telah mati tidak bisa mendapat tambahan pahala kecuali yang disebutkan dalam hadits:

”Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, anak yang shalih yang mendo’akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya” (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’I dan Ahmad).

Bila Anda menemukan orang yang berpendapat bahwa orang yang sudah wafat tidak bisa menerima pahala ibadah dari orang yang masih hidup, maka dasar pendapatnya antara lain adalah dalil-dalil di atas.

Tentu saja tidak semua orang sepakat dengan pendapat ini, karena memang ada juga dalil lainnya yang menjelaskan bahwa masih ada kemungkinan sampainya pahala ibadah yang dikirimkan/dihadiahkan kepada orang yang sudah mati.

B. PENDAPAT KEDUA

Pendapat ini membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pahala ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji, bila diniatkan untuk dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal akan sampai kepada mayyit. Sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur’an tidak sampai. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi’i dan pendapat Madzhab Malik.

Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan orang lain, sebagaimana sewaktu hidup seseorang tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW:

”Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum” (HR An-Nasa’I).

Namun bila ibadah itu menggunakan harta benda seperti ibadah haji yang memerlukan pengeluaran dana yang tidak sedikit, maka pahalanya bisa dihadiahkan kepada orang lain termasuk kepada orang yang sudah mati. Karena bila seseorang memiliki harta benda, maka dia berhak untuk memberikan kepada siapa pun yang dia inginkan. Begitu juga bila harta itu disedekahkan tapi niatnya untuk orang lain, hal itu bisa saja terjadi dan diterima pahalanya untuk orang lain. Termasuk kepada orang yang sudah mati.

Ada hadits-hadits yang menjelaskan bahwa sedekah dan haji yang dilakukan oleh seorang hamba bisa diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah meninggal. Misalnya dua hadits berikut ini :

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya : ”Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya? Rasul SAW menjawab :"Ya", Saad berkata:” saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya” (HR Bukhari).

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan bertanya : ”Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya? rasul menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar (HR Bukhari)


C. PENDAPAT KETIGA

Do’a dan ibadah baik maliyah maupun badaniyah bisa bermanfaat untuk mayyit berdasarkan dalil berikut ini:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo’a : ”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami” (QS Al Hasyr: 10)

Dalam ayat ini Allah SWT menyanjung orang-orang yang beriman karena mereka memohonkan ampun (istighfar) untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat manfaat dari istighfar orang yang masih hidup.

a. Dalam hadits banyak disebutkan do’a tentang shalat jenazah, do’a setelah mayyit dikubur dan do’a ziarah kubur. Tentang do’a shalat jenazah antara lain, Rasulullah SAW bersabda:

”Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW – setelah selesai shalat jenazah-bersabda:” Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka” (HR Muslim).

Tentang do’a setelah mayyit dikuburkan, Rasulullah SAW bersabda:

Dari Ustman bin ‘Affan ra berkata:” Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda:” mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya” (HR Abu Dawud)

Sedangkan tentang do’a ziarah kubur antara lain diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW:

”bagaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur? Rasul SAW menjawab, “Ucapkan: Salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli kubur baik mu’min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada generasi pendahulu dan generasi mendatang dan sesungguhnya –insya Allah- kami pasti menyusul." (HR Muslim).

b. Dalam Hadits tentang sampainya pahala shadaqah kepada mayyit

Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya:” Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:” saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya” (HR Bukhari).

c. Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Shaum

Dari ‘Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:” Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya berpuasa untuknya” (HR Bukhari dan Muslim)

d. Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Haji

Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan bertanya:” Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukah haji untuknya ? rasul menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya ? bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar (HR Bukhari)


e. Bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga. Ini berdasarkan hadits Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. Ketika ia telah membayarnya nabi SAW bersabda: Artinya:” Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya” (HR Ahmad)

f. Dalil Qiyas

Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ad halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya. Islam telah memberikan penjelasan sampainya pahala ibadah badaniyah seperti membaca Alqur’an dan lainnya diqiyaskan dengan sampainya puasa, karena puasa dalah menahan diri dari yang membatalkan disertai niat, dan itu pahalanya bisa sampai kepada mayyit. Jika demikian bagaimana tidak sampai pahala membaca Alqur’an yang berupa perbuatan dan niat.

Menurut pendapat ketiga ini, maka bila seseorang membaca Al-Fatihah dengan benar, akan mendatangkan pahala dari Allah. Sebagai pemilik pahala, dia berhak untuk memberikan pahala itu kepada siapa pun yang dikehendakinya termasuk kepada orang yang sudah mati sekalipun. Dan nampaknya, dengan dalil-dalil inilah kebanyakan masyarakat di negeri kita tetap mempraktekkan baca Al-Fatihah untuk disampaikan pahalanya buat orang tua atau kerabat dan saudra mereka yang telah wafat.

Tentu saja masing-masing pendapat akan mengklaim bahwa pendapatnyalah yang paling benar dan hujjah mereka yang paling kuat. Namun sebagai muslim yang baik, sikap kita atas perbedaan itu tidak dengan menjelekkan atau melecehkan pendapat yang kiranya tidak sama dengan pendapat yang telah kita pegang selama ini. Karena bila hal itu yang diupayakan, hanya akan menghasilkan perpecahan dan kerusakan persaudaraan Islam.

Sudah waktunya bagi kita untuk bisa berbagi dengan sesama muslim dan berlapang dada atas perbedaan/ khilafiyah dalam masalah agama. Apalagi bila perbedaan itu didasarkan pada dalil-dalil yang memang mengarah kepada perbedaan pendapat. Dan fenomena ini sering terjadi dalam banyak furu` (cabang) dalam agama ini. Tentu sangat tidak layak untuk menafikan pendapat orang lain hanya karena ta`asshub atas pendapat kelompok dan golongan saja.