Sang Pemimpin

Oleh: A. Mustofa Bisri

Zahir sedang berada di pasar Madinah ketika tiba-tiba seseorang memeluknya kuat-kuat dari belakang. Tentu saja Zahir terkejut dan berusaha melepaskan diri, katanya: “Lepaskan aku! Siapa ini?”

Orang yang memeluknya tidak melepaskannya justru berteriak: “Siapa mau membeli budak saya ini?” Begitu mendengar suaranya, Zahir pun sadar siapa orang yang mengejutkannya itu. Ia pun malah merapatkan punggungnya ke dada orang yang memeluknya, sebelum kemudian mencium tangannya. Lalu katanya riang: “Lihatlah, ya Rasulullah, ternyata saya tidak laku dijual.”

“Tidak, Zahir, di sisi Allah hargamu sangat tinggi;” sahut lelaki yang memeluk dan ‘menawarkan’ dirinya seolah budak itu yang ternyata tidak lain adalah Rasulullah, Muhammad SAW.

Zahir Ibn Haram dari suku Asyja’, adalah satu di antara sekian banyak orang dusun yang sering datang berkunjung ke Madinah, sowan menghadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tentang Zahir ini, Rasulullah SAW pernah bersabda di hadapan sahabat-sahabatnya, “Zahir adalah orang-dusun kita dan kita adalah orang-orang-kota dia.”

***

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda akan sulit membayangkannya bercanda di pasar dengan salah seorang rakyatnya seperti kisah yang saya tuturkan (berdasarkan beberapa kitab hadis dan kitab biografi para sahabat, Asad al-ghaabah- nya Ibn al-Atsier ) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Dari kisah di atas, Anda tentu bisa merasakan betapa bahagianya Zahir Ibn Haram. Seorang dusun, rakyat jelata, mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari pemimpinnya. Lalu apakah kemudian Anda bisa mengukur kecintaan si rakyat itu kepada sang pemimpinnya? Bagaimana seandainya Anda seorang santri dan mendapat perlakuan demikian akrab dari kiai Anda? Atau Anda seorang anggota partai dan mendapat perlakuan demikian dari pimpinan partai Anda? Atau seandainya Anda rakyat biasa dan diperlakukan demikian oleh --tidak usah terlalu jauh: gubernur atau presiden—bupati Anda?
Anda mungkin akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya; mungkin kebahagiaan bercampur bangga; dan pasti Anda akan semakin mencintai pemimpin Anda itu.

Sekarang pengandaianya dibalik: seandainya Anda kiai atau, pimpinan partai, atau bupati; apakah Anda ‘sampai hati’ bercanda dengan santri atau bawahan Anda seperti yang dilakukan oleh panutan agung Anda, Rasulullah SAW itu?

Boleh jadi kesulitan utama yang dialami umumnya pemimpin, ialah mempertahankan kemanusiaanya dan pandangannya terhadap manusia yang lain. Biasanya, karena selalu dihormati sebagai pemimpin, orang pun menganggap ataukah dirinya tidak lagi sebagai manusia biasa, atau orang lain sebagai tidak begitu manusia.

***

Kharqaa’, perempuan berkulit hitam itu entah dari mana asalnya. Orang hanya tahu bahwa ia seorang perempuan tua yang sehari-hari menyapu mesjid dan membuang sampah. Seperti galibnya tukang sapu, tak banyak orang yang memperhatikannya. Sampai suatu hari ketika Nabi Muhammad SAW tiba-tiba bertanya kepada para sahabatnya, “Aku kok sudah lama tidak melihat Kharqaa’; kemana gerangan perempuan itu?”

Seperti kaget beberapa sahabat menjawab: “Lho, Kharqaa’ sudah sebulan yang lalu meninggal, ya Rasulullah.” Boleh jadi para sahabat menganggap kematian Kharqaa’ tidak begitu penting hingga perlu memberitahukannya kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Rasulullah SAW dengan nada menyesali, bersabda: “Mengapa kalian tidak memberitahukannya kepadaku? Tunjukkan aku dimana dia dikuburkan?”. Orang-orang pun menunjukkan kuburnya dan sang pemimpin agung pun bersembahyang di atasnya, mendoakan perempuan tukang sapu itu.

***

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, Anda pasti akan sulit membayangkan bagaimana pemimpin seagung beliau, masih memiliki perhatian yang begitu besar terhadap tukang sapu, seperti kisah nyata yang saya ceritakan (berdasarkan beberapa hadis sahih) di atas.

Tapi itulah pemimpin agung, Uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW. Urusan-urusan besar tidak mampu membuatnya kehilangan perhatian terhadap rakyatnya, yang paling jembel sekalipun.

***

Anas Ibn Malik yang sejak kecil mengabdikan diri sebagai pelayan Rasulullah SAW bercerita: “Lebih Sembilan tahun aku menjadi pelayan Rasulullah SAW dan selama itu, bila aku melakukan sesuatu, tidak pernah beliau bersabda, ‘Mengapa kau lakukan itu?’ Tidak pernah beliau mencelaku.”

“Pernah, ketika aku masih kanak-kanak, diutus Rasulullah SAW untuk sesuatu urusan;” cerita Anas lagi, “Meski dalam hati aku berniat pergi melaksanakan perintah beliau, tapi aku berkata, ‘Aku tidak akan pergi.’ Aku keluar rumah hingga melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW memegang tengkukku dari belakang dan bersabda sambil tertawa, ‘Hai Anas kecil, kau akan pergi melaksanakan perintahku?’ Aku pun buru-buru menjawab, ‘Ya, ya, ya Rasulullah, saya pergi.’”

Nabi Muhammad SAW Anda anggap pemimpin apa saja, pemimpin formal kah; pemimpin non formal; pemimpin agama; pemimpin masyarakat; atau pemimpin Negara, dapatkah Anda membayangkan kasih sayangnya yang begitu besar terhadap abdi kecilnya? Tapi pasti Anda dapat dengan mudah membayangkan betapa besar kecintaan dan hormat si abdi kepada ‘majikan’nya itu.

Waba’du; apakah saya sudah cukup bercerita tentang Nabi Muhammad SAW, sang pemimpin teladan yang luar biasa itu? Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salamNya kepada beliau, kepada keluarga, para sahabat, dan kita semua umat beliau ini.
Amin.
,

Pesantren dan Rekonstruksi Akhlak

Oleh: Nasrul Afandi *

Dr. Alexis Carrel, dalam bukunya Man The Unknown, Ia mengatakan, bahwa dunia telah dilanda dekadensi moral. Realitas kehancuran akhlak yang telah lama “kronis” dan semakin gencar melanda bangsa Indonesia ini, kiranya tidaklah berlebihan bila Indonesia dinominasikan sebagai salah satu sudut bagian dari sektor atau wilayah yang dimaksud oleh salah satu ilmuwan kenamaan asal Perancis itu.
Innalillah(ungkapan terjadi bencana kecil), bahkan innalillahi wa inna ilaihi roji’un (ungkapan terjadi bencana besar) !!!, bangsa kita telah dilanda bencana atau musibah kehancuran akhlak. Musibah besar itu semakin gencarnya menghantam tanah air kita. Realitasnya, untuk sekarang ini, tidak satu pun ahli pendidikan yang tidak mengatakan, “bahwa kondisi dunia, di antaranya Indonesia sekarang telah benar-benar mengalami dekadensi akhlak yang luar biasa –dalam standar umum sekalipun, apalagi yang benar-benar akhlakulkarimah--“.

Ironisnya, hal itu juga telah menjangkit dan akrab bergumul dengan komunitas berpendidikan. Bahkan naifnya lagi, musibah itu, mereka umumnya menyebut hal biasa. Misalnya, biasa jaman modern, generasi muda-mudinya bergaul bebas dan jauh dari akhlakulkarimah. Sungguh naif dan memilukan, bukan ?.

Kita menyaksikan, utamanya fenomena yang sangat memprihatinkan, adalah dunia lingkup tunas-tunas bangsa dalam gejolak “pemelesetan” dari globalisasi dan rekayasanya ini. Padahal generasi muda adalah mahkota dari suatu bangsa. “Jika putra-putri bangsa itu baik, maka suatu negara menjadi harum, dan justeru sebaliknya, bila generasi mudanya telah rusak akhlaknya, maka busuklah suatu negara”. Demikian komunitas terdidik sering berujar.
Sekali lagi, musibah besar itu semakin gencarnya menyerang. Di mana berstatusnya putra-putri bangsa sebagai siswa-siswi, atau bahkan mahasiswa-mahasiswi alias bukan siswa-siswi biasa lagi. Bukanlah sebuah jaminan atau “asuransi” meningkat dan terjaganya intelektualitas mereka(kita), baik pemikiran maupun segala sikapnya. Padahal, merekalah yang dipastikan akan mengemudi bangsa di masa mendatang, meskipun pada level atau lahan yang berbeda. Namun, ’’bibit nahkoda ‘’ bangsa ini sangat naif dan memperihatinkan.
*****
Peran Pesantren Dalam Rekonstruksi Akhlak

KH. Abdurrahman Wahid dalam bukunya(Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren h, 171). Ia berpendapat, bahwa pondok pesantren seperti akademi militer atau biara (monastery, convent) dalam arti bahwa mereka yang berada di sana mengalami suatu kondisi totalitas.

Sehingga, dengan faktor tersebut, penulis berpendapat, di tengah-tengah terus rusaknya akhlak dari “atap langit” sampai “akar bumi” bangsa kita ini. Pondok pesantren akan sangat tetap memungkinkan untuk tetap survive sebagai ‘’transmisi atau agen akhlakulkarimah’’. untuk “memfilter” keluar-masuknya budaya. Demi terimplementasinya akhlakulkarimah dalam berbagi aspek kehidupan masyarakat.
Hal tersebut, sesuai pendapat Clifford Geertz yang dituangkan dalam bukunya (‘The Javanese Kyai: The Changing Role of a Cultural Broker’, vol, 2, h, 228-249), bahwa kiai pesantren punya peran besar sebagai “makelar budaya” (Cultural Broker).
Tetapi, mentelaah pendapat Geertz itu. Penulis tetap berpendapat: “memfilter budaya”, adalah dalam konteks menuju terimplementasinya akhlakulkarimah dalam kehidupan manusia. Namun, pesantren akan bisa tetap berfungsi sebagai "fiter budaya" juga, bila di masing-masing pondok pesantren, pendidikan akhlak masih dominan dan dimaksimalkan.
Sebab, dengan optimalnya akhlakulkarimah(minimalnya pendidikan) di masing-masing pesantren itulah, maka pesantren akan tetap mampu untuk berperan aktif dalam “memfilter budaya”, karena dengan adanya akhlakulkarimah itu pula, dari sekian banyak gelombang budaya yang terus kencang mengalir dan membanjiri manusia, tapi komunitas pesantren (utamanya santri di masing-masing persantren) mudah menerima terhadap hasil "penyaringan budaya” yang dipimpin oleh kiyai dan kemudian para santri langsung melaksanakan dan dengan sendirinya mengalirkannya budaya baru yang telah "disaring" itu, kepada publik(lingkungan) setelah mereka(para santri) kembali ke kampung masing-masing. Untuk menerapkan budaya dalam kehidupan masyarakat yang tidak bertabrakan dengan akhlakulkarimah.
Namun sebaliknya, bila akhlakulkarimah(akhlak terpuji) telah pias di dalam kehidupan pesantren, dan dikalahkan oleh akhlakussayyi’ah(akhlak tercaci) maka pesantren dalam konteks "makelar budaya" tidak akan begitu banyak berperan, atau bahkan sama sekali tidak akan bisa berperan.
Hal itu, bisa dilihat dan dibuktikan dalam komunitas akademisi yang free _expression, baik di dalam, utamanya di luar kampus(kost-kostan). Dengan sendirinya tidak memungkinkan dunia kampus untuk bisa berfungsi sebagai “medium budaya”, tetapi lebih tepat dan lebih empuk sebagai "obyek atau mangsa budaya". Kecuali, secara individual komunitas akademisi punya kemampuan untuk melakukannya, dan tentunya, dengan lingkungan(kost) yang tidak mendukung itu, hal itu minim sekali. Karenanya, sangatlah tepat sekarang-sekarang ini, banyak bermunculan pesantren sebagai asrama mahasiswa. Sehingga merupakan salah satu faktor yang cukup signifikan untuk mengusung(moral) generasi yang berakhlakulkarimah(mengenai hal ini, bisa lihat tulisan saya “mengkaji Ulang Pondok Pesantren Mahasiswa”, di www.pesantrenvirtual.com, awal publikasi tgl. 2/11/2004 ).
Pendapat yang penulis ungkapkan di atas tersebut, sesuai dengan statement Albert Schweitzer, dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Falsafah al-Hadhoroh, h. 5-6), bahwa pembentukan budaya manusia harus didasari dengan pendidikan akhlak.
Dan memang, di tengah runtuhnya akhlak bangsa kita ini. Seiring dengan memuncaknya gejolak hedonisme ini, pondok pesantren yang selama ini dianggap sebagai markas religius(Islam), dalam kafabilitasnya sebagai ‘’agen’’ akhlakulkarimah, jelas harus eksis dan survive mengajarkan dan menuntun para santri(masyarakat) untuk secara perlahan menerapkan akhlakulkarimah dalam hidup dan kehidupan, baik horisontal maupun vertikal dalam berbagai segi dan sendinya. Sesuai sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Malik: “Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”(Musnad al-Imam Ahmad, vol, 1, h, 381).
Hal itu, sesuai kondisi awal hadirnya pesantren, ketika itu bangsa Indonesia dalam kondisi hewani atau Jahiliah(sebelum datangnya Islam), dan pesantren (dengan agama Islam) hadir untuk mengusung manusia ke arah yang bermoral atau manusiawi.

Termasuk ketika para elite pesantren “menyelewengkan” institusi pesantren untuk “dimanfaatkan sebagai alat” di dalam gelanggang politik, komunitas pesantren harus tetap menjadikan akhlakulkarimah sebagai salah satu “senjata peperangan” di dalam gelanggang yang semestinya “harus” demokratis itu, demi untuk menjaga identitas pesantren, dan menanamkan “benih demokrasi” yang berawal dari kebersihan.
Meski pun dewasa ini, pendidikan akhlak itu, oleh sebagian golongan kadang hanya dianggap sebuah “konservatisme” demi untuk mengkultuskan sang kiyai, katanya. Misalnya saja, karya syeikh Ibrohim bin Ismail, sebuah syarah dari kitab Ta’lim al-Muta’allim; thoriq at-ta’alum karya syeikh al-Zarnujy , atau Akhlaq al-Banin (ibtida’iyyah) karya Umar Bin Ahmad Baradja, dan pelajaran-pelajaran akhlak lainya, yang masih eksis diajarkan di berbagai pesantren, utamanya pesantren tradisional.
Namun, asumsi sebagian orang tersebut, oleh kalangan elite pesantren biasa dianggap hanya sebagai faktor ---yang mungkin— bisa menunjang terhadap arus perdebatan Islam yang semakin gencar sekarang-sekarang ini. Dan hal itu, sama sekali tidak bisa “menggoyang” terhadap eksistensi pendidikan akhlak yang masih dan harus dominan dilaksanakan oleh masing-masing pesantren. Karena dengan tertanamnya akhlakulkarimah itu, akan turut melancarkan peredaran ilmiah, di antaranya anak manusia akan mengetahui ‘’di mana’’ posisinya dalam siklus ilmiah, sebagai guru, atau murid, atau pendengar, dan atau hanya berposisi sebagai pecinta saja !! ?. Dan berbagai fungsi lainya.
Dan memang, dalam konteks pendidikan, pesantren tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sekaligus mendidik (akhlak). Yang mana akhlakulkarimah itu, sekarang ini dalam liberalisasi atau sekularisasi dunia akademisi semakin terpuruk, utamanya “iklim pergaulan” antara laki-laki dan perempuan, dan yang paling memprihatinkan adalah di luar kampus(tempat-tempat kost), dalam komunitas akademisi perguruan tinggi Islam sekali pun.
Alasan mereka singkat saja: “Kita ingin jadi Muslim moderat”. Meskipun di antara mereka banyak kedapatan yang “tidak jelas” landasan hukum yang dipegang, dan juga dalam ketidak tauan terhadap pegangan hukum, dan kurang siapnya untuk melakukan kewajiban agama itu. Ironinsnya, mereka banyak yang mengatakan: “kita ini manusia biasa, bukan Nabi yang ma’shum(terjaga dari maksiat)”. Sungguh menggelikan sekaligus memprihatinkan, bukan ! ? .
Memang benar hal tersebut. Tapi persoalannya, kenapa kita tidak berfikir dan mengatakan : ‘’Mari kita sama-sama untuk terus berusaha meningkatkan ketakwaan kita, dengan cara yang menunjangnya, misalnya menjauhi tempat-tempat yang dikenal sangat jauh dari akhlak terpuji, dan berpotensi dengan akhlak tercaci(kemaksiatan), seperti tempat kost yang umumnya dan dikenal sebagai tempat yang rusak dan kotor itu. Karena dalam hukum Aqli(hukum logika), berada di tengah kobaran api, kita akan terbakar, di tengah lautan akan tenggelam’’. Bukankah berfikir demikian itu, kita lebih ilmiah ?.
Ironinya lagi, telah terjadi “pemelesetan agama” dalam budaya bahasa, sehingga sering terlontar dari mereka, agama adalah fanatisme belaka. Tetapi, mereka tidak pernah menyadari bahwa dirinya berada dalam fanatisme kesalahannya.
Sungguh menggelikan, selama ini, kalimat fanatik hanya sering dilontarkan kepada agama. Padahal, aspek etimologi, kalimat fanatik bisa diterapkan dan dirangkai dengan berbagai kalimat lainnya. Misalnya fanatik dengan kesalahan, fanatik dengan seni, fanatik dengan berdagang, dan lain-lainnya. Inilah, kiranya salah satu bukti penyelewengan budaya bahasa dewasa ini, utamanya dalam komunitas muda. Dan mungkin juga diakibatkan karena kurang memahaminya terhadap ilmu bahasa. Sekali lagi, “Sungguh menggelikan dan memprihatinkan, bukan ?”. Agama dianggap fanatisme, tetapi kesalahan didewa-kannya !!!.
Fenomena dan argumentasi di atas tersebut, lagi populer di kalangan “terpelajar”, baik pelajar umum utamanya pelajar perguruan tinggi agama Islam saat ini yang syok berwawasan ilmiah. Dan dari situ, dapat disimpulkan, betapa para pelajar Indonesia saat ini, ingin membuat argumentasi berdasar agama, tetapi miskin nuqtoh(nilai) ilmiah. ‘’Mungkin inilah, ‘hasil’ dari ‘madzhab Ulil Abshor Abdulloh(demikian eja’an Arabnya) cs’, atau yang biasa ditulis Ulil Absar Abdalah, yang di tengah-tengah semakin terpuruknya bangsa Indonesia dalam amaliah agama(akhlakulkarimah), Ia ’memproklamasikan group lawak’ bernama JIL(Jaringan Islam Liberal), yang katanya madzhab masa depan itu’’. Meskipun, sampai sekarang belum jelas, ada yang mengikuti atau tidak, kecuali sedikit orang yang punya kepentingan(pribadi) yang sama dengannya ?.



Terlepas dari ’’group lawak atau banyolan’’ Ulil cs. Tapi, harus diakui, gejala semacam itu, kini telah menjangkit dan merayap di berbagai lingkungan pesantren, yang umumnya diberi label pesantren modern, atau pesantren terpadu, yang lagi marak sekarang-sekarang ini. Banyak terdapat pesantren, yang digagas oleh orang-orang “tidak kenal” dengan pesantren, kondisi di dalamnya antara santri putra-santri putri, tidak beda dengan SLTP/SMU di luar pesantren, yang siswa-siswinya siang malam terbiasa dengan “iklim pergaulan” kost-kostan itu, ditambah lagi santri putra-putri, tinggal dalam satu lingkup asrama. ”Sekedar untuk diketahui, di sini penulis tidak memposisikan diri sebagai komunitas tradisionalis atau modernis, tetapi memaparkan di antara profil pondok pesantren yang ada sekarang ini”.



Maka, dapat diambil kepahaman, bahwa betapalah fenomena kehancuran akhlak itu, terus mengalir dan menyerang masuk ke berbagai “saluran, ruangan, atau rongga-rongga, dan sel-sel” komunitas terpelajar. Kiranya, diakibatkan oleh satu hal, yaitu “pemelesetan dan penyelewengan” dari eksistensi globalisasi dan demokrasi.



***

Fungsi Rekonstruksi Akhlak

Kita telah lama menanggung dukacita dan atau derita, dengan terjadinya berbagai "ganjalan", dalam berbagai sektor atau bidang hidup dan kehidupan. Mulai ekonomi, pendidikan, politik dan lainnya, baik individual, golongan, bahkan sampai tatanan berbangsa dan bernegara. Yang diakibatkan oleh, mulai kriminalitas para gepeng di pasar, preman di terminal maupun kriminalitas para pembantu rakyat(pejabat) dari level RT/RW sampai tingkat republik. Dapat diyakini, itu semua merupakan di antara bukti dari ambruknya akhlakulkarimah, atau merosotnya moralitas bangsa Indonesia dari posisi "akar bumi" sampai "atap langit".
Hal tersebut, sesuai pandangan Imam Abu al-Hasan al-Mawardi dalam kitabnya (Adab ad-dunya wa-addin, h. 115), dengan tegas berpendapat, bahwa dekadensi akhlak merupakan hal paling cepat untuk menghancurkan seluruh bumi dan sendi-sendinya. Pendapat tersebut cukup logis dan realistis, karena dengan ambruknya akhlak, maka lahirlah korupsi, pencurian, dan berbagai kriminalitas atau penyelewengan lainnya yang merugikan bangsa dan negara, baik tatanan bermasyarakat maupun pemerintahan.
Karenanya, sangatlah tepat Dr. Gustave Le Bon dalam konteks pendidikan, dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Ruh at-Tarbiyah, h. 337). Ia berpendapat, bahwa pendidikan akhlak adalah bagian dari permasalahan-permasalah utama yang tidak bisa disepelekan.
Sebab, penulis berpendapat, dengan kemuliaan akhlak, suatu bangsa akan menjadi terhormat, sebaliknya citra suatu bangsa akan ambruk dengan sendirinya bila rusak akhlaknya. Karena, menurut Dr. Gustave Lebon dalam buku lainnya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (as-sunan an-Nafsiah Li tathowwur al-Umam. h.,172). Bahwa kehancuran suatu bangsa adalah akibat dari rusaknya akhlak bangsa itu sendiri.
Sehingga, menurut Umar ibnu Ahmad Baroja, dalam bukunya (ibtida’iyyah: al-Akhlaq lilbanin; littulabi al-madaris al-Islamiyah bi Indunisia, vol, 1 h, 4), bahwa untuk melekatkan akhlakulkhasanah(akhlak baik) pada pribadi manusia, maka semenjak dini pendidikan akhlak sangat penting, dan harus ditanamkan pada setiap anak-anak manusia, agar ia tumbuh-berkembang bersama akhlak yang terpuji, karena pada setiap pribadi manusia terdapat potensi akhlak terpuji (akhlakulkarimah) dan akhlak tercaci(akhlakussayyi’ah).
Jadi, untuk membangun suatu bangsa, memang terdapat banyak aspek yang perlu dilakukan, di antaranya meningkatkan pendidikan, menghidupkan gerak ekononmi, kedewasaan berpolitik dan lain sebagainya. Namun, yang paling esensial adalah reorientasi moral, baik komunitas tua, utamanya tunas-tunas bangsa, sebagai generasi yang jelas sangat dibutuhkan untuk menentukan maju-mundurnya suatu bangsa, dan sekarang akhlaknya sudah sangat "tercemar atau terkena volusi" itu.
Hal tersebut di atas, sesuai hasil penelitian sejarahwan terkenal Edward Gippon terhadap runtuhnya emperium Romania, dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (Ambarathur ar-Rumaniah wa Suqhutuha, Vol,1, h. 230-259). Ia berpendapat, faktor utama yang menyebabkan hancurnya Romania, adalah karena pada waktu itu manusia-manusianya telah sangat jauh dari nilai-nilai moral, di antaranya mereka terlena dengan kemewahan yang berlebih-lebihan, dan para pemimpinnya terjebak dengan pertikaian dalam memperebutkan jabatan dengan mengakses energi machiavellianisme atau politik menghalalkan segala cara, serta berbagai sikap-sikap dan tindakan amoral lainnya.
Fenomena tersebut, kini sangat kentara melanda bangsa kita. Ditambah lagi, kita mengalami estafeta musibah bencana alam yang terus menghunjam tanah air kita, kiranya hal itu, sebagai bukti adanya warning dari Sang Maha Kuasa, kepada makhluknya(bangsa kita khususnya), yang tak jua kunjung insaf atau bertaubat. Sebagaimana yang banyak ditegaskan oleh ayat-ayat al-Quran, dan sunnah Rasulullah SAW(tidak untuk dibahas di sini).
Kiranya hal-hal tersebut, cukup sebagai bukti harus adanya ‘’rekonstruksi moral individual’’, baik dalam konteks etika sosial sesama manusia(horisontal), maupun vertikal(kepada sang pencipta). Mulai ‘’atap langit’’ sampai ‘’akar bumi’’ warga negara Indonesia. Utamanya yang mengenakan seragam(pejabat) sebagai tanda bahwa Ia terkait pengabdian dengan masyarakat, namun selalu menghianati dan menyusahkan rakyat yang menitipkan amanat padanya. Sehingga, akibat ‘’prestasi mereka’’, bangsa kita mendapat honoris causa sebagai negara yang mendapat ‘’rangking’’ kedua terkorup di dunia ini.

****
Penutup

TERLEPAS dari corak tradisionalisme, atau modernisme, atau sekularisme, atau liberalisme dan seterusnya. Tetapi sebagai cermin tentang maju-mundurnya totalitas pesantren, dengan adanya akhlakulkarimah sebagai proyek (garapan utama) sekaligus identitas pesantren itu. Dan karena pesantren punya faktor penunjang untuk memudahkan ‘menggarap’ hal tersebut(akhlak), sebagaimana telah dibahas di atas tadi.

Di sini muncul pertanyaan penting untuk langsung dijawab oleh kalangan pesantren, sebagai tolok-ukur atau barometer dari keberhasilan-kemerosotan pendidikan(akhlak) yang merupakan bagian dari dakwah itu, "masih eksis dan sudah maksimalkah, pendidikan dan amaliah akhlakulkarimah di setiap pondok pesantren, dan berbagai komunitas yang punya 'hubungan darah' dengan pesantren ? ".

Bila pertanyaan ini tidak bisa segera dijawab dengan bukti, maka akan mendapat resiko nyata, secara perlahan dengan sendirinya pondok pesantren akan bergeser ke poros yang kurang menguntungkan, atau minimalnya kehilangan ‘’identitasnya’’ sebagai pesantren, dan(dalam konteks pendidikan) berubah menjadi sekolah berasrama.

Juga, tentu kredibilitas dan kafabilitas pesantren akan “pias” dengan sendirinya, serta pondok pesantren tidak lagi akan bisa ikut berperan dalam membangun bangsa, dengan cara mengusung generasi yang berakhlak “sehat” , bila di dalam pesantren akhlakulkarimah yang merupakan modal utama untuk membangun bangsa itu, telah “menipis”.

* Penulis, adalah alumni pondok pesantren lirboyo Kediri; Generasi Pesantren Kedungwungu Krangkeng Indramayu dan mahasiswa universitas al-Qurawiyien Marocco
,

Yang Sesat dan Yang Ngamuk

Oleh: KH. Mustofa Bisri

Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.

Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.
Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.

Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil ’aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al-aayah" (Q. 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.

Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika… al-aayah" (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…"

Tak Mengerti

Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).

Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.

Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.

Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja? Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…
,

Yang Paling Mempesona Imannya

Malam sudah sampai ditengah-tengah, suara jalanan pun telah lengang. Dan kantuk itu tidak datang seperti biasanya. Ada yang menderu dalam relung dada. Ada yang bergemuruh. Sebuah kitab yang masih terbuka di pangkuan, penyebabnya. Kitab yang saya maksudkan agar mendatangkan lelap lebih mudah, ternyata malah berkebalikan. Biasanya belum sampai 2 halaman, mata ini pasti sudah rapat-rapat menutup begitu pula dengan kitabnya.

Lembar demi lembar saya telusuri samudera aksara bermakna, tak lelah mata membaca, fikiran mencerna dan seringnya hati gundah gulana. Saya ingin membaginya dengan kalian. Mudah -mudahan saya mampu.

***

Madinah Al-Munawarah, pada dini hari. Membran malam perlahan tersingkap, berganti dengan subuh syahdu. Lengang sunyi dengan udara dingin menggigit. Dan deru sahara hanya terdengar dari jauh. Cemerlang fajar sebentar lagi nampak. Shalat subuh hampir tiba, Rasulullah Saw dan para sahabat menyemut pada satu tempat, masjid. Semua hendak bertemu dengan yang di cinta, Allah. Namun sayang, air untuk berwudhu tidak setetes pun tersedia. Tempat mengambil air seperti biasanya kini kerontang.

Dan para sahabat pun terdiam, bahkan ada beberapa yang menyesali kenapa tidak mencari air terlebih dahulu untuk keperluan kekasih Allah itu berwudhu.Rasululllah pun bertanya kepada para sahabat "Adakah diantara kalian membawa kantung untuk menyimpan air?".

Berebut para sahabat mengangsurkan kantung air yang dimilikinya. Lalu, Nabi yang begitu mereka cintai itu meletakkan tangannya diatasnya. Tidak seberapa lama, jemari manusia pilihan itu memancarkan air yang bening. "Hai Bilal, panggil mereka untuk berwudhu" sabda nabi kepada Bilal.

Dan para sahabat pun tak sabar merengkuh aliran air dari jemari sang Nabi. Di basuhnya semua anggota wudhu, ada banyak gumpalan keharuan dan pesona yang menyeruak. Bahkan Ibnu mas'ud mereguk air tersebut sepenuh cinta.

Shalat subuh pun berlangsung sendu, suara nabi mengalun begitu merdu. Ada banyak telinga yang terbuai, hati yang mendesis menahan rindu. Selesai memimpin shalat, nabi duduk menghadap para sahabat. Semua mata memandang pada satu titik yang sama, Purnama Madinah. Dan di sana, duduk sesosok cinta bersiap memberikan hikmah, seperti biasanya.

"Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?" Al-Musthafa memulai majelisnya dengan pertanyaan.

"Malaikat ya Rasul Allah" hampir semua menjawab.

Dan nabi memandang lekat wajah para sahabat satu persatu. Janggut para sahabat masih terlihat basah. "Bagaimana mungkin malaikat tidak beriman sedangkan mereka adalah pelaksana perintah Allah."

"Para Nabi, ya Rasul Allah" jawab sahabat serentak.

"Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung turun untuk mereka".

"Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah" pada saat menjawab ini banyak dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu.

"Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan".

Selanjutnya, setelah para sahabat tidak mampu menjawabnya, sejenak mesjid menjadi hening. Semua bersiap dengan lanjutan sabda nabi yang mulia. Semua menunggu, sama seperti sebelumnya pesona sosok mulia yang duduk ditengah-tengah mereka mampu menarik semua pandangan laksana magnet yang berkekuatan maha dahsyat.

Dan suara kekasih Allah itu kembali terdengar. "Yang paling mempesona imannya adalah kaum yang datang jauh sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, meski tak pernah satu jeda mereka memandang aku. Mereka membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak sedetikpun mereka pernah melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan mereka tanpa ragu mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu. Mereka membelaku sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Mereka mencintaiku sebagaimana kalian, meskipun sama sekali mereka tidak pernah menjumpaiku Alangkah inginnya aku berjumpa dengan para ikhwanku itu".

Semua terpekur mendengar sabda tersebut. Kepada mereka nabi memanggil sapaan sahabat, sedang kepada kaum yang akan datang, nabi merinduinya dengan sebutan “ikhwan” atau "saudaraku". Alangkah bahagia bisa dirindui nabi sedemikian indah, benak para sahabat terliputi hal ini.

Dan terakhir nabi, mengumandangkan QS Al Baqarah ayat 3: "Mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang kami berikan kepada mereka".

***

Sahabat...
Memang, tiada yang lebih indah, dari pada dirindui beliau seperti demikian. Tiada yang lebih indah, dari pada mendapat sebutan “ikhwan” atau "saudara" beliau. Tiada yang lebih indah, dari pada menjadi orang yang berpredikat “yang paling mempesona imannya”.

Dan memang kita kaum yang datang jauh sesudah para sahabat beliau. Namun, sudahkah kita beriman kepada beliau, meski tak pernah satu jeda kita memandang beliau? Sudahkah kita membenarkan beliau sama seperti para sahabat beliau, padahal tak sedetikpun kita pernah melihat sosok beliau?

Sahabat...
Memang kita hanya menemukan tulisan, dan mungkin kita tanpa ragu mengimaninya. Namun, sudahkah kita sepenuhnya mengamalkan perintah dalam tulisan itu? Sudahkah kita gigih berjuang demi beliau sebagaimana para sahabat beliau?? Wallahu a’lam.


Selanjutnya seorang ulama’ menghimbau, “Cintailah Rasululullah, maka ia akan menjadi pusat perhatian. Kapan saja ia diperbincangkan maka kita akan selalu semangat menyimak. Cintailah Rasulullah maka kita akan meniru perilakunya dengan hasil baik. Dan yang lebih dahsyat lagi, cintailah Rasulullah maka beliau akan menganggap kita sebagai saudara (ikhwan) dan janji Allah dalam QS. Annisa: 69, seorang pencinta Rasul akan digabungkan dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah yaitu Para nabi, para shidiqin, para syahid dan orang-orang shaleh.”

***

Tak ada salahnya, pabila saat ini kita mengenang sosok yang hanya saya tahu ciri-cirinya dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering kita mengabaikan teladan sempurna ini. Bahkan, terlalu jauh kita terlontar dari sunnahnya. Padahal, engkau ya Rasul Allah, begitu memperhatikan kami, hingga kami disebut pada saat-saat terakhir kehidupanmu. Ketika maut menjemput, nafas satu-satu dan detik-detik penghabisan di dunia sebelum dengan anggun engkau dipanggil Allah.

Maafkan kami, ya nabi pilihan Allah, sirahmu kami baca tetapi kami hanya mengemasnya dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan kami sampaikan kepada yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk membelamu, padahal kami sama sekali tidak berbuat apapun. Engkau rindui sosok-sosok yang mencintaimu dengan segenap jiwa, dan kami tidak tahu apa bukti kecintaan yang telah kami persembahkan meski hanya sekuntum saja. Betapa malunya kami wahai Rasulallah.

Meski demikian, perkenankan kami menyampaikan salam, salam cinta dan salam kerinduan. Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah yang mulia. Inilah kami, kaum yang lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang, menyampaikan salam pekat kerinduan. Inilah kami, kaum yang dungu, meski dengan tubuh penuh dengan karat dosa, dengan mata yang seringkali tak terarah, dengan mulut yang kerap menghina dan berdusta, dengan telinga yang sering tuli terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri menyapamu dalam kesendirian.

Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya jiwa ini untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya engkau mencintai para pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada, mengkristalkan haru yang tiada tara. Betapapun besar rasa malu ini, terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia.

Betapapun buruk rupa jiwa ini, betapapun kerdil pikiran ini,
Betapapun kelu lidah ini berucap, ingin kami sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa:
“Shallaallaahu ala sayyidina muhammad, shallalhu alaihi wasallam...
Salam bagimu ya Rasul Allah”.

***

Sahabat, telah sering kita mengucapkan shalawat terhadap junjungan nabi mulia, bahkan mungkin disetiap jeda yang kita punya, salam untuk sang tercinta tak lupa kita ungkap. Namun apakah salam yang kita sampaikan benar-benar salam yang ikhlas, salam tanda cinta kita, ataukah salam yang refleks keluar dari mulut kita tanpa ada makna? Wallahu 'A'lam.

Dongeng Nabi Sulaiman

Syahdan, tersebutlah konon Nabi Sulaiman AS ingin berangin-angin dalam tamannya. Tatkala beliau baru saja akan melangkahkan kakinya di ambang pintu, beliau tertegun sejenak. Di atas bubungan tangga istana terdengar olehnya dua ekor burung sedang bersilat kata. Dua ekor burung, burung besar (BB) dan burung kecil (BK). Inilah silat kata yang sempat terdengar oleh Nabi Sulaiman AS di ambang pintu.

BB: Kasihan badanmu sekecil itu.
BK: Kecil-kecil cabai rawit, biar kecil sangat pedasnya.
BB: Hei, burung bukan cabai.
BK: Perlihatkan kekuatanmu, rubuhkan istana Nabi Sulaiman ini dengan sekali tendang.
BB: Apa?
BK: Rubuhkan dengan sekali tendang.
BB: Mana mungkin burung dapat merubuhkan istana.
BK: Saya dapat.
BB: Apa?

Belum sempat BB menyuruh BK membuktikan kata-katanya, Nabi Sulaiman AS melangkah keluar memperlihatkan dirinya, kemudian beliau memanggil kedua burung itu. Ternyata burung besar pengecut, ia terbang menjauh. Burung kecil datang dan hinggap di bahu Nabi Sulaiman AS.

NS: Betulkah engkau dapat merubuhkan istana beta?
BK: Mana mungkin tuanku, patik cuma menggertak saja. BB itu tidak memandang sebelah mata kepada patik.
NS: Tidak terpikir olehmu BB memintamu membuktikan kata-katamu?
BK: Patik sangat maklum, tuanku ada di bawah dan akan menolong patik hingga BB tidak berkesempatan menyuruh patik membuktikan kata-kata patik.

Nabi Sulaiman AS tersenyum, mengelus-elus kepala BK, kemudian beliau menyuruhnya pergi terbang. BB memperhatikan dari jauh. Setelah BK hinggap di ranting pada pohon tempat BB bertengger, BB datang mendekat.

BB: Apa yang kau percakapkan dengan Nabi Sulaiman?
BK: Oh, beliau mengelus-elus kepalaku membujuk, meminta dengan sangat agar aku tidak merobohkan istananya sekali tendang.

Arkian, Nabi Sulaiman AS meneruskan langkah menuju pohon rindang, lalu duduk pada bangku. Tangannya menggenggam sekepal gandum untuk burung dara. Sebutir gandum jatuh dari tangannya. Beliau sempat memperhatikan sebutir gandum itu bergerak. Seekor semut (Sm) menyeret sebutir gandum itu menuju sarangnya.

NS: Hai semut, dengan gandum segenggam ini berapa lama engkau habiskan?
Sm: Daulat tuanku, dengan segenggam gandum dikepal tuanku, patik dapat hidup selama setahun, jika dipanjangkan Allah umur patik.
NS: Mari kita bersepakat. Engkau tidak perlu bersusah payah selama setahun mancari makan. Tetapi beta ingin meyakinkan betulkah segenggam gandum ini dapat menjadi bekalmu selama setahun. Masuklah ke sarangmu, beta tutup dari luar.
Sm: Daulat tuanku, patik sepakat.

Hatta, setelah selang setahun berlangsung kesepakatan itu, maka Nabi Sulaiman AS datang ke sarang semut itu lalu membukanya. Ternyata semut masih hidup, masih ada gandum yang tersisa.

NS: Hai semut, beta lihat masih ada gandum tersisa tidak kau habiskan.
Sm: Daulat tuanku, memang benar, masih ada patik sisakan separuhnya.
NS: Jadi apa yang kau katakan kepada beta setahun lalu tidak benar!
Sm: Daulat tuanku, walaupun tuanku seorang Nabi, tuanku bukanlah Allah. Hanya Allah Yang Maha Sempurna, tidak pernah lupa. Jika tuanku lupa datang membuka sarang patik selang setahun, sedangkan patik tidak berhemat menyimpan setengah gandum pemberian tuanku, maka matilah patik kelaparan.
NS: Andaikan beta lupa membuka sarangmu selang setahun lagi, apa dayamu?
Sm: Akan patik berhemat dengan hanya makan separuhnya dari yang sisa ini.
NS: Andaikan beta lupa setahun lagi?
Sm: Patik akan makan habis, dan sekiranya selang setahun tuanku masih lupa membuka sarang patik, maka itulah takdir patik mati kelaparan. Namun patik tidak berputus asa, patik berdoa kepada Allah mudah-mudahan tahun terakhir itu Allah mengingatkan tuanku untuk datang membuka sarang patik.

Itulah salah satu dari beberapa cerita-cerita yang yang dikisahkan nenek saya menjelang tidur semasa kecil yang masih sempat saya rekam dalam ingatan saya. Barulah kelak kemudian hari saya tahu bahwa itu adalah cerita-cerita Israiliyat. Walaupun itu hanya cerita-cerita Israiliyat, akhirnya saya menyadari bahwa cerita-cerita Israiliyat, dan dongeng-dongeng pada umumnya tampaknya komunikatif bagi pendidikan anak-anak. Mereka anak-anak kecil itu dapat menangkap muatan nilai dalam cerita-cerita itu.

Sehabis nenek bercerita seperti cerita di atas misalnya, maka saya membayangkan diri saya seperti Nabi Sulaiman AS yang menyayangi binatang, memperhatikan binatang sampai kepada binatang yang sekecil semutpun. Saya membayangkan diri seperti burung kecil itu, tidak merasa rendah diri kepada yang lebih besar, tidak merasa takut namun penuh hormat kepada orang besar. Membayangkan diri seperti semut itu, bagaimana cara berhemat, tegar tidak berputus asa. Bersikap hormat dalam bertutur-sapa, tetapi berani menggurui Nabi Sulaiman AS, bahawa walaupun beliau itu seorang Nabi, tetapi bukanlah dan tidak boleh disamakan dengan Allah, tidak boleh mempertuhankan seorang Nabi. Sehingga kelak kemudian hari terasa gampang menghayati dan mendalami penjelasan guru mengaji saya tentang makna: Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahadun (S.Al Ikhla-sh, 4). Dan tidak ada suatupun yang seperti Dia (112:4). Cerita-cerita Israiliyat itu yang pada mulanya hanya untuk anak-anak, kemudian diperluas sebagai cerita-cerita penglipur lara, bahkan diperluas lebih lanjut untuk konsumsi bagi para ibu di majelis-majelis ta'lim.

Pematung Raja

Suatu ketika hidup seorang pematung. Ia bekerja untuk seorang raja yang wilayah kekuasaannya begitu luas. Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya menaruh hormat. Si pematung sudah lama bekerja untuk raja. Tugasnya membuat patung untuk menghiasi taman-taman istana. Karena itulah dia menjadi pematung kepercayaan raja. Banyak raja-raja sahabat mengagumi keindahan pahatan patung-patung yang menghiasi taman istana raja.

Suatu hari sang raja punya rencana besar. Ia ingin membuat patung keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya. Jumlahnya cukup banyak ada 100 buah. Patung keluarga raja akan diletakan ditengah taman istana, sementara patung prajurit dan tamu akan menempati keliling taman. Baginda ingin patung prajurit itu tampak sedang melindunginya.

Si pematung pun bekerja siang malam. Beberapa bulan kemudian tugas itu hampir selesai. Sang raja datang memeriksa.

“Bagus. Bagus sekali,” ujar sang raja. “Sebelum aku lupa, buatlah juga patung dirimu sendiri untuk melengkapi monumen ini.”

Mendengar perintah itu, si pematung kembali bekerja. Setelah bebepa lama, ia pun menyelesaikan patung dirinya. Sayang pahatannya tidak halus, sisi-sisinya kasar.tak dipoles dengan rapi. Ia pikir untuk apa membuat patung yang bagus kalau hanya untuk diletakkan diluar taman. “Patung itu hanya lebih sering terkena hujan dan panas,”. Ucapan dalam hatinya, “pasti akan cepat rusak”.

Waktu yang diminta pun usai. Sang raja datang untuk melihat hasil pekerjaan si pematung. Ia puas. Namun, ada satu hal kecil yang menarik perhatiannya.

“Mengapa patung dirimu tidak sehalus patung diri ku? Padahal, aku ingin sekali meletakan patung dirimu didekat patungku. Kalau ini yang terjadi, tentu aku akan membatalkannya dan menempatkanmu bersama patung prajurit yang lain di depan sana”.

Menyesal dengan perbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Terkena panas dan hujan seperti yang harapan yang dimilikinya.

****
Teman, seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apa kita bercermin pada diri kita? Bagaimana kita menempatkan kebanggaan atas diri kita? Ada kalanya kita pesimistis dengan dirinya sendiri. Kita kerap memandang kemulian yang kita miliki. Tapi, maukah kita dimasukan keposisi yang lebih rendah itu?

Saya percaya tak ada yang seorang mengendaki dirinya masuk ke gologan para pesimis. Kita lebih suka menjadi orang yang punya nilai lebih. Sebab, Allah menciptakan kita tidak dengan main-main. Allah menciptak kita sebagai mahluk yang mulia dan sempurna.

Teman, sungguh kita sedang memahat patung kita saat ini. Patung yang seperti apa yang kita buat? Yang kasar atau yang indah dan memancarkan kemulian-Nya? Ketahuilah, patung beniliai mahal yang menjadi hiasan terindah dan bukan patung murah yang layak diletakan ditempat utama.

Jadi, pahatlah dengan halus agar kita bisa ditempatkan ditempat yang terbaik di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi dan kebijakan hati agar memancarkan keindahan, susuri setiap lekuknya dengan kesabaran dan keikhlasan. Pahatan yang kita torehkan saat ini akan menentukan tempat kita diakhirat kelak. Begitulah patung diri anda dengan indah! (SAKSI -edisi no. 8 tahun IV 2002)

Jadilah Mentari Bening Pagi

Baik buruknya masyarakat tidak terlepas dari komponen individu-individu yang berada di dalamnya. Terciptanya sebuah perdamaian, kemesraan dan kasih sayang dalam masyarakat bukanlah sebuah mimpi yang tidak akan menjadi kenyataan. Layaknya membuat sebuah bangunan, kita membutuhkan batu bata yang kuat, kokoh dan tersusun rapi. Dalam masyarakat, individu adalah batu bata.

Alangkah bahagianya jika kita bisa menjadi bagian dari batu bata itu. Setelah menjadi bangunan, batu bata memiliki kontribusi memberikan kehangatan kepada penghuninya di musim hujan, melindungi penghuninya dari kepanasan, tempat beristirahat, bengkel kreatifitas dan manfaat lainya. Walaupun penghuni tidak pernah melihat batu bata, karena tersembunyi dalam balutan semen, tetapi batu bata memberikan manfat yang luar biasa.

Hanyalah batu bata yang baik yang bisa mengokohkan. Memperbaiki diri terlebih dahulu adalah sebuah keharusan jika kita ingin memperbaiki masyarakat. Menurut ustad Abbas As-Siisiy yaitu dengan menjadi pribadi muslim yang memiliki karakteristik Islami yang menonjolkan akhlakulkarimah.

Senyum tulus kepada alam, menyapa lembut angin, membahagiakan saudara, menjadi solusi setiap masalah, sumber ilmu, perantara cahaya, tidak ada salahnya kita miliki. Individu-individu akan kokoh, damai dan tenang jika kita mampu memberikan kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang yang tulus tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih. Untuk menciptakan itu semua, tentu pribadi kita terlebih dahulu yang lebih utama untuk diperbaiki.

Tidaklah sulit mewujudkan pribadi tersebut. Selain telah dicontohkan Rasulullah, kita memiliki bekal fitrah yang suci. Kita bisa berguru pada hati nurani, dan siroh nabawi. Tinta Allah tidak akan lupa mencatat setiap amal kebaikan, Allahpun tidak akan luput mengores amal buruk yang kita lakukan.

Setiap kita bebas memilih. Pribadi mana yang kita kehendaki. Kelak kita akan membayar mahal pilihan itu. Jangan pertaruhkan kehidupan ini dengan sikap buruk, dendam, iri hati, benci. Tidak ada kemulian di balik itu semua.

Hiasilah buku kehidupan kita di dunia ini dengan riwayat amal kebaikan, ibadah khusuk, kemenangan melawan nafsu, prestasi menjulang tinggi. Jadilah seperti mentari bening pagi, menghangatkan, menerangkan dan menggairahkan kehidupan. Atau menjadi keheningan malam, menuntun sujud, munajat dan tafakur manusia.
,

Mu'jizat Nabi Muhammad SAW

Setiap nabi mempunyai mu'jizat tersendiri. Mu'jizat berasal dari akar kata yang dibentuk oleh 'ain, ja, zai, artinya melemahkan. Mu'jizat adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada seorang Nabi untuk melemahkan visi para penentangnya. Dalam Al Quran disebutkan misalnya Nabi Ibrahim AS tidak dimakan oleh onggokan kobaran api, Nabi Musa AS membelah laut dengan tongkatnya, Nabi 'Isa AS dapat menghidupkan orang mati. Kesemuanya tentu dengan izin Allah SWT yang memberikan mu'jizat kepada para beliau itu. Adapun Nabi Muhammad SAW mendapatkan mu'jizat dari Allah SWT yang dapat disaksikan hingga kini, yaitu Al Quran. Berbeda keadaannya dengan mu'jizat dari para nabi sebelumnya, yang hanya dapat disaksikan oleh mereka yang hidup sezaman dengan para nabi tersebut.
Di bawah ini akan disajikan sekelumit dari mu'jizat itu. Dalam S. Al Muddatstsir 30 Allah berfirman: 'Alaiha tis'ata asyarah, artinya: padanya 19. Kataganti/dhamir, nya/ha di sini berarti sebagian dari isi Al Quran.
1. Kalimah Basmalah, yaitu bismillahirrahmanirrahim, terdiri atas huruf-huruf: ba, sin, mim, alif, lam, lam, ha, alif, lam, ra, ha, mim, nun, alif lam, ra, ha, ya, mim. Jadi jumlah huruf dalam kalimah Basmalah sebanyak 19.
2. Jumlah kalimah Basmalah dalam Al Quran sebanyak 114 = 6 x 19 Kalimah Basmalah ini erdiri atas kata-kata: Ismun, Allah, Ar Rahman, Ar Rahim.
3. Jumlah kata Ismun dalam Al Qur^an sebanyak 133 = 7 x 19
4. Jumlah kata Allah dalam Al Qur^an sebanyak 2812 = 148 x 19
5. Jumlah kata Ar Rahman dalam Al Qur^an sebanyak 171 = 9 x 19
6. Jumlah kata Ar Rahim dalam Al Qur^an sebanyak 228 = 12 x 19
7. Jumlah surah dalam Al Qur^an sebanyak 114 = 6 x 19.
8. Ayat-ayat yang pertama-tama diturunkan pada malam Nuzulu-lQuran, yaitu S. Al 'Alaq, ayat 1 s/d 5, terdiri atas sejumlah 19 kata.
9. Jumlah huruf dari S. Al 'Alaq ayat 1 s/d 5 sebanyak 76 = 4 x 19. Pembaca yang ingin mencek jumlah huruf ini menghitungnya dari Al Qur^an cetakan Arab Saudi atau Mesir, yang pada covernya tertulis birrasmi-l'utsmany. Di situ insan dituliskan terdiri atas huruf-huruf alif, nun, sin, mim. Tidak seperti dalam cetakan Indonesia yang dituliskan alif, nun, sin, alif, mim.
10. Jumlah ayat dalam S. Al 'Alaq sebanyak 19.
11. Jumlah huruf dalam S. Al 'Alaq sebanyak 285 = 15 x 19.
12. Kedudukan S. Al' Alaq; dalam Al Qur^an S. Al 'Alaq menempati urutan ke-19 dari belakang dari susunan surah-surah.
13. Jumlah ayat dalam Al Quran sebanyak 6004 = 316 x 19.
14. Dalam Al Qur^an terdapat potongan huruf-huruf (sistem Al Muqaththa'at) pada pembukaan surah-surah sesudah Basmalah. Ada 29 surah yang dibuka dengan al Muqaththa'at ini. Kombinasi huruf-huruf Muqaththa'at itu ada 14 buah. Jumlah huruf yang membentuk al Muqaththa'at juga 14. Kalau dijumlahkan angka jumlah surah yang mengandung al Muqaththa'at dengan jumlah kombinasi huruf, dengan jumlah huruf yang membentuk al Muqaththa'at adalah seperti berikut: 29 + 14 + 14 = 57 = 3 x 19. Jadi sesungguhnya al Muqataat itu merupakan suatu kode matematis yang mengikat komponen-komponen: jumlah surah, jumlah kombinasi huruf dan jumlah huruf menjadi satu sistem, yaitu sistem ke-terkaitan matematis kelipatan 19. Di bawah ini akan dikemukakan pula beberapa contoh untuk memperlihatkan sistem keterkaitan matematis kelipatan 19 itu, terutama dalam contoh terakhir yaitu 8 buah surah diikat oleh kombinasi persekutuan alif, lam, mim, menjadi satu sistem keterkaitan matematis kelipatan 19.
15. Satu huruf dalam satu surah Contoh: Jumlah huruf qaf dalam S. Qaf sebanyak 57 = 3 x 19.
16. Satu huruf dalam beberapa surah Contoh: Huruf shad dalam S.Al A'raf: alif, lam, mim, shad, dalam S. Maryam: kef, Ha, ya, 'ain, shad dan S.Shad sendiri: shad.
Nama Surah Jumlah shad
-----------------------
al A'raf 98
Maryam 26
Shad 28
152 = 8 x 19
17. Beberapa huruf dalam satu surah Contoh; Kombinasi alif, lam, mim shad dalam S. al A'raf:
Alif 2572
lam 1523
mim 1165
shad 98
5358 = 282 x 19
18. Beberapa huruf dalam beberapa surah Contoh:
Surah mim lam alif
---------------------------------
Al Baqarah 2175 3204 4592
Ali 'Imran 1251 1885 2578
Al A'raf 1165 1523 2572
Ar Ra'd 260 479 625
Al 'Ankabut 347 554 784
Ar Rum 318 396 545
Luqman 177 298 348
As Sajadah 158 154 268
---------------------------------
Jumlah 5871 + 8493 + 12312 = 26676 = 1404 x 19
19. Walyatalattaf, yaitu kata ditengah-tengah Al Quran pada s. AlKahf ayat 19.
20. Surah ke-9 tidak dibuka dengan Basmalah, sedangkan Surah ke-27 mempunyai dua Basmalah. Ada hubungan yang menarik antara Surah ke-9 dan ke-27. Apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari Surah ke-9 s/d ke-27, (9+10+11+12+...+24+25+26+27) maka hasilnya adalah 342 = 18 X 19.
21. Basmalah yang kedua dari surah ke-27 terdapat dalam ayat 30. Kalau bilangan surat dan ayatnya dijumlahkan, hasilnya 27 + 30 = 57 = 3 x 19.
22. Seperti telah dijelaskan pada butir ke-8, wahyu pertama (Surat ke-96 ayat : 1-5 ) terdiri dari 19 kata dan 76 huruf = 4x19, maka wahyu kedua (Surah ke-68 ayat : 1-9 ) terdiri dari 38 kata = 2x19.
23. Wahyu ketiga (Surat ke-73 ayat : 1-10 ) terdiri dari 57 kata = 3x19
24. Wahyu terakhir (Surat ke-110 ) terdiri dari 19 kata dan ayat pertama dari Surat ke-110 tersebut terdiri dari 19 huruf. Catatan: Ada yang berpendapat wahyu terakhir S. Almaidah, 4: Alayawma akmaltulakum ilay akhir ayah. Namun S. An Nashr (110), mempunyai keistimewaan, yaitu S. Makkiyah sesudah hijrah, (periode Madinah)
25. Wahyu yang pertama kali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19 (Surah ke-112)
Dari sistem keterkaitan matematis angka 19 ini dapatlah diungkap salah satu di antara sekian banyaknya kemu'jizatan Al Qur^an, yang dapat disaksikan secara terbuka oleh orang banyak dengan latar belakang pengetahuan yang sangat sederhana: yaitu hanya dengan mengenal tulisan Arab. Kemu'jizatan Al Qur^an yang lain baru dapat dilihat dengan persyaratan dengan latar belakang pengetahuan yang banyak dan tidak mudah, seperti misalnya harus faham bahasa Al Qur^an, mengerti balaghah, filsafat, mendalami isinya dll.
Dari segi teori probabilitas, Rasyad Khalifa telah menghitungnya, yaitu 1 di antara 626 septilion yaitu 626 dengan 24 angka nol di belakangnya 626 000 000 000 000 000 000 000 000. Jadi menurut teori probabilitas ini di antara 626 septilion manusia di permukaan bumi ini hanya ada satu orang di antaranya yang dapat menyusun Al Qur^an dengan sistem keterkaitan matematis itu. Dan ini mustahil terjadi oleh karena jumlah manusia yang mungkin dapat hidup di permukaan bumi ini mulai dari sejak manusia pertama sampai manusia tidak mungkin dapat hidup lagi sangat jauh dari angka 626 septilion itu. Jadi tidak mungkin Al Qur^an itu berupa karangan manusia. Al Quran adalah wahyu dari Allah SWT, yang merupakan mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT, yang dapat disaksikan oleh manusia tanpa pembatasan waktu, tidak seperti dengan mu'jizat para nabi sebelumnya yang hanya dapat disaksikan oleh manusia pada zaman para nabi itu. WaLlahu a'lamu bishshawab.

99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

- 01. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
- 02. Sabar apabila mendapat kesulitan;
- 03. Tawakkal apabila mempunyai rencana/program;
- 04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
- 05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;
- 06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
- 07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
- 08. Jangan usil dengan kekayaan orang;
- 09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang;
- 10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan;
- 11. Jangan tamak kepada harta;
- 12. Jangan terlalu ambitious akan sesuatu kedudukan;
- 13. Jangan hancur karena kezaliman;
- 14. Jangan goyah karena fitnah;
- 15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.
- 16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
- 17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
- 18. Jangan usir orang yang meminta-minta;
- 19. Jangan sakiti anak yatim;
- 20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
- 21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
- 22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
- 23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
- 24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid;
- 25. Biasakan shalat malam;
- 26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;
- 27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
- 28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
- 29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
- 30. Jangan marah berlebih-lebihan;
- 31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
- 32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
- 33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
- 34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat
dipenuhi;
- 35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;
- 36. Jangan percaya ramalan manusia;
- 37. Jangan terlampau takut miskin;
- 38. Hormatilah setiap orang;
- 39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
- 40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
- 41. Berlakulah adil dalam segala urusan;
- 42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
- 43. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
- 44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
- 45. Perbanyak silaturrahim;
- 46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
- 47. Bicaralah secukupnya;
- 48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
- 49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
- 50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
- 51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
- 52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
- 53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
- 54. Hormatilah kepada guru dan ulama;
- 55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
- 56. Cintai keluarga Nabi saw;
- 57. Jangan terlalu banyak hutang;
- 58. Jangan terlampau mudah berjanji;
- 59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;
- 60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;
- 61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh;
- 62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
- 63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
- 64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
- 65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;
- 66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya;
- 67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
- 68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan
- 69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan.
- 70. Jangan melukai hati orang lain;
- 71. Jangan membiasakan berkata dusta;
- 72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
- 73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
- 74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
- 75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
- 76. Jangan membuka aib orang lain;
- 77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;
- 78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
- 79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
- 80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
- 81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara;
- 82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
- 83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
- 84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
- 85. Hargai prestasi dan pemberian orang;
- 86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
- 87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
- 88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;
- 89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu;
- 90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
- 91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita;
- 92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat
menyebabkan orang lain terhina;
- 93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan
kebenarannya;
- 94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
- 95. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;
- 96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri;
- 97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
- 98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan
kerusakan;
- 99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;

Salam

“Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh” . Sesuatu Amalan yang ringan tapi besar fadilahnya....

Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw: Bagaimanakah Islam yang baik itu?" Beliau menjawab, "Yaitu mau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal." (HR. Bukhari Muslim).

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh..
Salam itu tak lagi terdengar sumbang di telinga, karena ia nyaris sudah menjadi budaya. Kini nyaris semua orang menjadikannya sebagai salam pembuka, pengawali teks pidato, memulai ceramah, mengantarkan pembicaraan dan sapaan kesopanan. Hingga ia pun terdengar lumrah, seperti halnya selamat pagi, kulonuwun, punten, permisi....

Namun mungkin tak banyak yang masih mengingat, Sang Kekasih Allah telah bersabda, bahwa ucapan itu menjadi salah satu parameter kebaikan seorang muslim, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim di atas; Berislamlah dengan baik dengan mengucap salam kepada yang engkau kenal dan tidak engkau kenal...

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh....
Ucapan ini sudah sedemikian akrab di lidah ummat muslim. Tiada kagok orang mengucapkannya. Baik yang memang setiap hari menyebutnya minimal lima kali sehari di akhir shalat, maupun mereka yang hanya membasahi lidah dengan salam di acara-acara resmi.

Tapi sudahkah ia menjadi menjadi sarana pengikat cinta? Sebagaimana kabar yang disampaikan Abu Hurairah ra? Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, "... Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian". (HR Muslim).

“Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh”.
Sungguh kalimat ini amat mudah diucapkan. Hingga kadang orang meremehkannya.

Tidakkah teringat kata seorang sahabat, Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra: Saya mendengar Nabi 'alaihissalaam bersabda: "Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali peraudaraan, dan shalatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk surga dengan selamat." (HR Turmudzi). Duhai, alangkah nikmatnya! Ternyata tiket surga tidak mahal. 'Cukup' dengan menyebarkan salam.

“Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh”....
Betapa cinta Rasulullah dengan untaian kata ini. Hingga tak lepas lisannya dari salam di setiap waktu dan kesempatan. Saat mendatangi suatu kaum, Rasulullah mengucapkan salam ini dengan diulang tiga kali. Saat Beliau melewati sekumpulan kaum wanita, saat bertemu dengan sekelompok anak-anak, saat bertamu atau memasuki rumahnya sendiri, doa rahmah itu mengalun indah dari bibirnya. Bahkan saat di dalam majelis, beliau tak bosan membalas salam sahabatnya yang hadir satu persatu, pun ketika mereka satu demi satu kemudian meninggalkan majelis dan kembali mengucap salam.

Bahkan beliau pernah bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah ia mengucap salam kepadanya. Dan seandainya diantara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu kembali, maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi". (Disampaikan oleh Abu Hurairah, HR Abu Dawud).

Maka tak heran, jika Abdullah bin Umar suka pergi ke pasar, meski tak hendak membeli sesuatu. Kepada Tufail bin Ubay bin Ka'ab yang pernah menemaninya ia berkata, "Wahai Tufail, mari ke pasar. Kita sampaikan salam kepada siapa saja yang kita jumpai. Maka berpuluh kali kalimat itu meluncur sejuk dari mulutnya, kepada para pedagang, pembeli, para kuli, tukang rombengan hingga warga papa.

Maka sungguh indah, jikalah salam itu disebarkan oleh wajah penuh senyuman, dihayati dan diresapi sebagaimana Abbas Assisi menyampaikan dalam surat-surat kepada sahabat-sahabatnya: Salaamullah 'alaika wa rahmatuhu wa barakaatuh.

Sungguh damai dan nyaman, jika salam kita sampaikan sebagai ta'abbudan (ibadah) dan mahabbah (kecintaan), bukan sekedar kebiasaan. Salaamullah yaa ikhwaanii, ya akhwatii, ya khalilii, wa rahmatuhu wa barakatuh. (Semoga Allah memberikan kedamaian, kasih mesra dan barakah-Nya untukmu saudaraku, sahabatku). Doa tulus ini kupersembahkan untukmu semuanya...