Menanti "Rahmah" Berikutnya

Bukan maksud Allah SWT menghinakan salah seorang hamba-Nya yang mulia, Nabi Ayub alaihi salam. Jika bukan karena Ayub adalah hamba yang beriman dan taat kepada Tuhannya, tentulah Allah SWT tidak akan memberikan cobaan sedemikian buruk.

Ujian yang diberikan Allah kepada Nabi Ayub merupakan hal berat yang belum pasti bisa dijalani dengan sabar oleh manusia seperti kita. Allah menimpakan satu penyakit yang menjijikkan dan tidak bisa disembuhkan. Tidak hanya itu, semua harta yang dimilikinya pun habis untuk biaya perawatan penyakitnya tersebut selain juga untuk menutupi kebutuhan hidup.

Penderitaan Ayub hamba Allah itu masih ditambah dengan diambilnya semua anak-anak yang dicintai kehadapan Allah. Itupun masih ditambah dengan perginya satu persatu istri-istrinya, kecuali Rahmah.

Ya, Rahmah-lah yang begitu sabar -sesabar suaminya- melayani dan menjaga suami tercinta yang menderita penyakit parah. Kesabaran Rahmah adalah sikapnya untuk menepati janji Allah atas istri-istri yang sabar, bahwa Allah akan memberikan pahala bagi mereka seperti yang diberikan Allah kepada Asiyah istri Raja Fir'aun.

Ketika Nabi Ayub sakit, Rahmah merawatnya dengan sabar dan tidak berkeluh-kesah dengan ujian yang Allah timpakan kepada mereka berdua. Pernah suatu ketika Rahmah membela suaminya saat dihalau oleh orang-orang yang merasa jijik melihat Nabi Ayyub dan takut penyakit Nabi Ayub tertular kepada mereka. Rahmah dengan penuh kecintaan membopong sang suami mencari tempat berlindung untuk menghindar dari halauan dan cemoohan masyarakat sekitar meski darah dan nanah yang menebar aroma busuk mengenai bahunya.

Kesabaran Rahmah merawat Nabi Ayub sakit, menyediakan makan dan minum serta menggantikan pakaian suaminya itulah yang kemudian mendatangkan balasan dari Allah dengan mengembalikan kesehatan Nabi Ayub dan mengeluarkan mereka berdua dari berbagai masalah yang selama sekian tahun menghinggapi.

Rahmah yang tidak berkeluh kesah dengan ujian yang ditimpakan Allah kepadanya dan sang suami, bahkan mengambil hikmah dari setiap ujian yang diterimanya, adakah kini kita menjumpainya?

Rahmah yang tidak menghina suami meski mengalami masalah keuangan, kesehatan dan berbagai masalah lainnya, Rahmah yang tetap mendukung dan berperan sebagai sahabat bagi suaminya tatkala menerima ujian dari Allah sementara istri-istri Nabi Ayub lainnya meninggalkan suami mereka karena tidak kuat menghadapi ujian Allah, tentu kita berharap masih banyak Rahmah-Rahmah berikutnya. Wallahu a'lam bishshowaab.

Mata Sehat dan Afiat

Seorang pakar dalam sebuah seminar, menyebutkan bahwa mata adalah jendela jiwa kepada dunia. Mata menghantarkan pemiliknya untuk menikmati sekian juta pemandangan semesta raya. Matalah yang menyantap kuning mentari yang begitu syahdu mengelupasi membran kepekatan sisa malam. Jutaan manik-manik bintang sungguh sempurna di layar biru raksasa, mengenyangkan mata pada malam hari. Dengan mata, seorang suami mampu memilihkan warna baju baru untuk menggembirakan istri tercinta. Untuk menerka apakah hari akan hujan, seseorang mengarahkan mata ke atas, warna langit kelabu atau biru cemerlang.

Memiliki mata sehat memang menyenangkan. Mata yang berfungsi secara sempurna, melihat dengan baik dan juga bisa melotot. Seorang teman dekat sempat iri karena saya tidak berkaca mata, meskipun selalu berada di depan layar komputer. Dia harus mengganti kaca mata ketika minusnya bertambah, belum lagi anjuran mamanya agar dia selalu menuntaskan dahaganya dengan juice wortel tak peduli harus pencet hidung plus ekspresi menyedihkan ketika meminumnya. Obat suplemen untuk kesehatan mata pun tak lupa dikonsumsinya. Demi sepasang mata yang sehat.

Tetapi, apakah mata sehat saja sudah cukup?
Dalam sebuah buku tafsir, ternyata sehat saja masih jauh dari cukup. Selain sehat, mata juga harus afiat. Betapa sering kita mendengar kata yang satu ini bukan? Ya kata yang kita sertakan setelah sehat ketika seseorang menanyakan kabar kita.

Dalam kamus bahasa Arab, kata afiat diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Afiat juga dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Jadi mata yang sehat adalah ketika mata dengan baik dapat melihat maupun membaca. Sedangkan mata yang afiat adalah mata yang dapat melihat dan membaca segala sesuatu yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari segala sesuatu yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata.

Pernah suatu waktu, saya berada dalam ruangan mungil bersekat triplek putih, di sebuah warung internet. Sedang asik-asiknya browsing, tiba-tiba saja suara-suara aneh terdengar persis dari bilik sebelah, laki-laki dan perempuan. Tadinya saya tidak ambil pusing, tapi lama kelamaan suara-suara itu jadi tambah menyeramkan, belum lagi "jedak-jeduk" ke dinding triplek tempat saya bersandar. Apakah gerangan yang mereka lakukan?

Saya tidak mau memikirkannya lebih jauh. Tapi saya jadi bersu'udzan bahwa mereka sedang mengakses situs yang membuat dengkul keropos. Daripada tidak nyaman terus-terusan, akhirnya saya gedor juga dinding penyekat cukup keras, ah tawakkal saja kalo mereka terusik dan mendatangi saya. Tetapi setelah menunggu agak lama, kekhawatiran itu tidak terjadi. Ffuihh ... Legaaa .... Saya yakin mata mereka sehat, saya melihat keduanya tidak buta dan tidak berkacamata, namun sayang mata mereka tidak afiat.

Dilain kesempatan, "Mbak pinjam, speaker komputernya dong" pinta adik manis penghuni kamar bawah suatu waktu. Speaker sudah digenggamnya, sumringah dia menuruni tangga. "Mbak nggak curiga buat apa?" tanya seseorang dibawah. Saya menajamkan pendengaran. Suara pintu kamar ditutup, terdengar. Kos-an sepi. Tak lama waktu pun berselang.

"Terima kasih ya mbak," adik itu lagi. Kali ini wajahnya aneh, sedikit shock sepertinya. "Lho udah dek? kalo boleh tau, buat apa sih?" tanya saya hati-hati. "Ng... nng... nonton mbak, tapi speakernya nggak jadi dipake," terbata dia menjawab. "Film bisu dong, emang enak nontonnya?" Dia tersenyum kecut, dan merebahkan diri di tempat tidur. Nafas beratnya keluar paksa satu persatu. Saya yang lagi membaca, menoleh. "Mbak, saya sudah berdosa" lirihnya, matanya dipejamkan kuat-kuat. "Mbak jangan bilang yang lain yah, please, sumpah yah mbak" tambahnya memelas. Dia diam lagi. "Barusan kami nonton VCD Itenas, saya nggak tau sebelumnya, mbak-mbak itu cuma bilang mau nonton, gitu aja, kalo saya tau saya bisa cari alasan komputernya rusak," paparnya. Sebentar kemudian air matanya keluar. Saya beristighfar keras-keras.

Kesempatan selanjutnya saya menatap pemilik mata-mata itu. Sehat, tapi sekali lagi sayang tidak afiat.

Khusus untuk anda-anda yang mempunyai banyak kesempatan mengakses internet, tentunya harus hati-hati agar mata tidak saja selalu sehat tapi juga afiat. Terlalu banyak halaman-halaman "menyeramkan" yang dengan gampang bisa dikunjungi. Apalagi situs-situs super laknat bertebaran dimana-mana. Tinggal mengetikkan sebuah alamat kita dengan kilat pergi kesana, tak peduli rentang jarak. Bahkan ketika seseorang tidak faham alamatnya, sebuah fasilitas search engine menjadikan 'misi' tadi menjadi begitu mudah. Pernah dalam sweeping jaringan komputer sebuah perusahaan yang terhubung ke fasilitas internet, banyak bapak-bapak yang keberatan komputernya dibersihkan tetapi akhirnya menyerah juga dengan tersenyum malu-malu, gambar-gambar porno yang disimpannya, itulah alasannya.

Membuat mata sehat relatif lebih mudah dibanding menjadikan mata yang afiat. Padahal ketika mata tidak afiat dalam arti ketika mata tidak difungsikan sesuai dengan harapan pencipta-Nya maka bisa-bisa menjadikan pemiliknya hina dan merugi, sesuai firman Allah tentang sifat para penghuni neraka "Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam kebanyakan dari Jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (Ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda (kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai". (Al-A'raf :179).

Saudaraku, setan bin iblis beserta kaki tangannya, tak pernah lelah berdiri disamping kita bahkan mengalir di setiap pori-pori. Ketika mata kita seringkali tak terarah, cepatlah beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jangan menganggapnya remeh, karena dari mata lah semuanya bisa bermula. Anas ra berkata, "Kalian melakukan dosa mata seolah-olah dosa itu sehalus helai rambut. Sedangkan kami dimasa Rasulullah telah menganggapnya sebagai dosa besar, sedang dosa besar itu sungguh membinasakan".

Apakah setiap kita ingin binasa? Ibnu Qayyim menuliskan, "Dosa membuat berhentinya ilmu. Hati menjadi terhimpit, kehidupan sulit, badan menjadi lemah dan ketaatan kepada Allah pun menurun. Bahkan barokahnya tercabut, sebaliknya keburukan bermunculan, dosa-dosa yang lainpun menjelang lalu menjadi manusia yang tak peduli pada masyarakat dan lingkungan. Binatang-binatang mengutuknya, kehinaan menjadi bajunya, hatinya keras dan doanya tertolak. Kedurhakaannya meliputi bumi dan lautan. Hilang segala rasa, musnah semua kenikmatan. Jiwanya diliputi ketakutan, syaitan-syaitan mudah menjerat, dan akhirnya semua miliknya binasa".

Saudaraku, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, sebaik-baik manusia adalah bukan yang tidak pernah salah, tetapi ketika dia salah dan menyadarinya, segera dia bertaubat dengan taubat sebenar-benarnya. Meskipun susah sungguh.

Tak terhitung manusia menjauh dari agama Allah, maksiat terhidangkan dimana-mana, tayangan televisi, majalah dan tabloid porno, bahkan internet lebih canggih lagi. Walau begitu, Allah maha Kasih dan Sayang, Dia tidak akan menghentikan kemilau hidayah kepada umatnya. Jemputlah hidayah itu, dengan membekali diri oleh pemahaman agama dan ilmu. Sungguh, rengkuhlah hidayah dengan menghadiri banyak majelis dzikir, menafkahi keluarga dengan cara yang halal, mencari teman yang berakhlak baik, menyantuni anak yatim, berbakti kepada orangtua.

Boleh jadi sekian waktu kita terjerembab di lembah kehinaan, berkubang dosa dan kemaksiatan. Boleh jadi kitalah si pemilik mata-mata yang tidak afiat itu. Tetapi, tidak usah berlama-lama untuk segera bertaubat. Saudaraku, ketika niat untuk memperbaiki sudah bulat, seringkali hati terasa gamang, gundah... adakah harapan bisa membersihkan diri sementara dosa terasa membumbung? Kita ingin taubat, tetapi terasa tak mungkin.

Jangan takut saudaraku, Allah berfirman dalam hadist qudsi, "Wahai anak Adam jika kamu meninta kepada-Ku dan mengharap ampunan, niscaya Aku ampuni semua dosa-dosamu dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu mencapai ujung langit yang paling tinggi kemudian kamu meminta ampun kepada Ku, niscaya Aku ampuni dan Aku tidak peduli lagi. Wahai anak Adam jika kamu datang kepada Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi kemudian menemuiku dengan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatu pun, nicaya Aku akan menemuimu dengan ampunan sepenuh bumi pula". (HR Tirmidzi).

Betapa Allah maha penerima taubat. Sungguh berbahagia mempunyai mata sehat wal afiat. Saya sampaikan dengan tulus, 'selamat kepada anda yang memiliki keduanya'. "Allahumma Afinii fi bashorii...".

Kepada Mereka Para Pejuang

Kawan,
Tatkala kita merujuk kepada perjalanan kehidupan Rasulullah, ada hamparan cakrawala maha luas yang terbentang sebagai tempat belajar yang tidak pernah menjemukan, apalagi membosankan.

Kawan,
Di sana ada gambaran konkrit tentang kerja yang beliau laksanakan dalam membangun puncak peradaban Islam.

Kawan,
Siapapun Engkau, kewajiban menyeru manusia jangan sebatas lisan, ini adalah hakekat kehidupan, karena uswah dan qudwah telah memberikan bukti konkrit dalam bentuk aktivitas, bukan terbatas pada lembaran sejarah, rangkaian kata, apalagi sekedar diskusi pada seminar dan simposium klasik seperti yang biasa kita lakukan.

Kawan,
Kerja mentarbiyah ummat tidak bisa dilakukan hanya dengan improvisasi. Ia adalah kerja besar yang menghajatkan adanya manhaj yang baku dan shahih, Al-Quran dan As-Sunnah adalah manhaj baku tersebut, yang mesti teraplikasi dalam segenap aspek kehidupan termasuk di dalamnya aspek pembinaan ummat.

Kawan,
Bentang cakrawala, tepis kemalasan, lepas belenggu dungu. Tunjukan semangat bagai singa membaja. Tidak ada lagi waktu untuk bermalas durja. Bawalah Islam membumbung tinggi Dengan kepal tanganmu. Dalam setiap tarikan nafasmu.

Angin,
Sampaikanlah salamku kepada mereka para pejuang. Biar ku ikuti tapak kokoh kaki mereka. Walau lemah ku berjalan.

Malam,
Lerai lelap tidurku. Manjakan qalbu ku dengan munajat. Biar bicara bisu hati ku pada gelap malam. Walau berat air mata ku mengalir.

Embun,
Teteskanlah kesejukan iman ke dalam rongga dada ku. Biar dapat kupetik mawar Islam. Yang akan mengaharumkan taman hatiku. Walau nafas ku mulai tersenggal. Karena lelahnya ku berjalan.

(Yesi Elsandra)

Pelajaran dari Umat Nabi Luth

"Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS.Yusuf: 111).

***
Perjalanan hidup manusia sejak Nabi Adam hingga sekarang ini, tenyata menoreh berbagai macam bekas berupa sejarah yang melukiskan perputaran roda kehidupan manusia dengan segala rona-ronanya. Sejarah tiada pernah henti sampai akhir hayat manusia dan akhir dari alam semesta ini. Semua sejarah yang pernah berlalu itu harus kita kaji, sehingga kita bisa melihat apa yang didapat oleh kaum yang beriman kepada Allah, dan menyadari akibat dari orang-orang yang mengingkari seruan Ilahi.

Salah satunya yaitu kaum nabi Luth. Kaum yang padanya terkumpul antara ingkar (kafir) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan perbuatan keji yang belum dilakukan oleh kaum yang sebelumnya. Yaitu, mereka menyukai sesama jenis mereka dan meninggalkan istri-istri mereka. Perbuatan mereka ini sangat terkutuk. Perbuatan yang mencerminkan rusaknya fitrah, dan kacaunya perikemanusiaan dan hati nurani mereka. Istilah dari perbuatan seperti yang mereka lakukan itu disebut liwath, mengingat asalnya adalah dari kaum Nabi Luth. Dan di jaman sekarang, perbuatan tersebut dikenal dengan homoseks.

Jika di jaman Nabi Luth dikabarkan bahwa mereka melakukannya antara laki-laki dengan laki-laki, tetapi di saat ini, kaum perempuan tidak mau ketinggalan. Sebagian mereka juga ada yang berpikiran menyimpang dari fitrah kemanuasiaan, yaitu ketika sebagian mereka menyukai sesama jenis mereka. hal ini dikenal dengan istilah lesbi. Bahkan, ada kabar yang sangat heboh menunjukkan kebejatan sebagian manusia dewasa ini, ketika telah disahkan perbuatan keji mereka itu (undang-undang kawin sejenis) di salah satu belahan bumi di Eropa. Na'udzubillah min dzalik. Bukankah ini perbuatan yang sudah benar-benar melanggar aturan Allah dan melampaui batas yang dilakukan dengan terang-terangan?

Lalu, apa yang diganjarkan Allah kepada kaum Nabi Luth setelah keingkaran dan pembangkangan mereka itu? Sebelum itu, Nabi Luth tak henti-hentinya mengingatkan kepada mereka untuk bertauhid kepada Allah, dan meninggalkan perbuatan keji mereka. Tetapi, apakah jawaban mereka? "Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan, 'Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda'wakan dirinya) bersih'." (QS.An-Naml:56).

Kemudian, setelah itu Allah memberikan keputusan untuk mereka. Allah berfirman, "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Rabbmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim." (QS.Hud: 82-83).

Dan tentang tamu Nabi Ibrahim, Allah berfirman, "Ibrahim bertanya, 'Apakah urusanmu hai para utusan?' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth). Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang (keras), yang ditandai di sisi Rabbmu untuk (membinasakan) orang-orang yang melampaui batas. Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih." (QS.Adz-Dzariyat: 31-37).

***
Sebagai renungan, Rasulullah bersabda, “Apabila kalian mendapati ada orang yang melakukan hubungan seksual dengan cara umat nabi Luth, maka bunuh pelakunya dan objek pelakunya”. (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai). Wallahu a’lam.

My Beloved Bunda ... (Surat Untuk Bunda)

Oh ibuku,
dengarkanlah suara dalam hatiku.
Ku bersyukur, ku bahagia
Akan limpahan rahmat-Nya

Ku ingat hari-hari yang indah
Ku ingat masa masa lalu
Betapa senang ketika ku bersama ibu.

Kau ajar aku mengenal Allah,
Lewat apa yang dicipta
Kau ajar aku mencinta Allah
Lewat sholat dan puasa

Jalinan kasih darimu ibu,
Terukir indah dalam hatiku,
Kesabaranmu tak pernah pupus oleh sang waktu
(Bestari)

Hari cerah, matahari begitu gembira membagikan sinarnya ke penjuru bumi. Ditemani kipas angin yang berputar, saya menulis ulang sebuah surat tak bertanggal untuk seorang bunda. Surat yang ditulis pada sebuah catatan harian dan tak tersampaikan. Hanya goresan pinsil usang, saat saya sampai pada usia label 17 tahun.

Surat ini juga saya sampaikan untuk semua bunda yang ada di dunia, sebuah ekspresi penghargaan yang tak sebanding dengan hal yang engkau persembahkan bagi kami anak-anaknya. Sebuah tanda cinta, tanda berkelindannya rasa bahagia. Menjadi seorang bunda adalah hal terindah yang pernah saya lihat. Bunda adalah segalanya.

SURAT KEPADA BUNDA
Pojok kamar bercat putih pucat, malam sudah dari tadi beranjak.

Menjumpai Bunda,

Apa kabar bunda?
Bunda, aku ingin menyebutmu demikian, sebagai penghormatan yang tiada tara.

Malam ini, bulan sembunyi dengan angkuhnya, hingga aku tak bisa memandangi warna peraknya. Bintang yang gemerlapan itupun malah ikut mempermainkanku dengan tidak menampakkan diri. Padahal aku sangat ingin bermain-main sejenak, menerbangkan berbagai perasaan. Pada patahan malam ini, hanya ada deru angin yang sedang mencandai daun-daun pohon mangga di seberang kamar. Aku merasakannya dalam gelap. Sesekali aku memandangi langit megah tak berpenyangga.

Bunda,
dalam keheningan hebat ini aku selalu membayangkan senyuman ikhlas yang bunda sunggingkan setiap menjumpaiku. Sebuah senyuman yang sudah menjadi desah nafas tiada pamrih. Aku memahatnya dalam tiap bingkai indah di ruang hati yang sudah menemaniku selama ini.

Oh iya bunda,
aku masih ingat saat aku dengan tanpa beban memintamu menjadi seorang putri raja. Dan bunda menjelma putri raja sepenuh hati, menemaniku bermain saat aku menjadi permaisuri raja. Aku senaang sekali. Padahal kemarinnya aku menginginkan mu berubah menjadi pendongeng, dan sebentar kemudian engkau mulai membuaiku dengan banyak cerita. Aku mungkin akan mengingatnya selalu dalam benak sebagai kenangan tidak biasa. Saat bunda melompat seperti kodok, tertawa menyeramkan seperti nenek sihir, berdesis kepedasan saat monyet mencuri cabai petani. Saat itu aku pasti latah mengikutimu.

Baru kusadari, ternyata bunda bisa menjelma peran apa saja. Koki pintar yang selalu memuasiku dengan makanan tak bertarif. Atau seorang psikolog handal, yang berjam-jam rela menjadi keranjang sampah cerita rutinitas ku tanpa harus dibayar. Dokter yang menjagaku sepanjang malam tanpa lelap sedikitpun, kala aku harus terbaring mengalami sakit dan itu gratis. Kali lain engkau menjadi sahabat dekat yang mengingatkanku untuk berhati-hati dengan seorang pangeran, saat itu aku tersenyum malu, ternyata kau bisa menebak apa yang belakangan itu terjadi. Oh iya aku tidak lupa, ketika bunda menjahitkan ku sebuah gaun krem bermotif sekuntum bunga, meski kau kerjakan manual tapi hasilnya membuatku berucap, "Wah bunda hebat!". Dan aku selalu mengangsurkan geraian rambut ini, tentu saja dengan berdendang bunda akan melakukannya dengan hasil baik. "She is a special barber".

Bunda sayang, besok adalah hari "jadiku". Yah, setiap hari bertanggal 4 di bulan ini ku lewati setiap tahun. Ingatkah bunda, tentang hari besar itu? Aku tahu jawabannya, karena tiap hari itu, bunda akan menyambut dan memelukku dengan berucap "Tambah satu tahun lagi usia anak bunda". Meski tidak pernah ada pesta, aku selalu senang, karena sudah ada hadiah yang paling indah, it's u bunda!.

Bunda, tujuh belas tahun, usiaku esok, Sudah selama itukah aku menapaki hidup? Perasaan baru kemarin aku mengeja "Ini Budi" dan menghapal perkalian 3. Sepertinya baru kemarin aku merepotkanmu dengan pertanyaan-pertanyaan ibukota propinsi di Indonesia. Ah bunda, masih segar rasanya merengek-rengek ingin ikut ke kota bersamamu. Padahal sekarang aku bisa pergi kapan saja tanpa takut tidak ditemani.

Sudah selama itukah aku menjadi bebanmu? (Aku sangat yakin engkau tidak berkenan dengan penggunaan kata "beban"). Bagimu, aku adalah tempat untuk mengekspresikan banyak hal, kasih sayang, ketulusan, kebijaksanaan, keluhuran budi, kekayaan alami, kecerdasan, kearifan. Untukmu, aku adalah perwujudan cinta hakiki. Satu hari bunda menangis melihat darah yang keluar ketika aku terjatuh, dan bunda memelukku erat, "Sayang... berikan rasa sakit itu untuk bunda". Ah bunda, andai saat itu bisa kubujuk untuk kembali, aku tak akan meraung-raung dan tidak membuatmu khawatir, aku akan berkata "Aku baik-baik saja bunda".

My dear bunda,
surat ini sengaja aku tulis. Agar aku bisa menyapamu dengan agung, biar perasaan romantis ini bisa leluasa mengalir. Aku malu menyampaikannya secara langsung. Rasa terima kasih yang menggumpal dalam dada ini biarlah terangkai dalam kalimat-kalimat berirama sopran. Ah, bunda, aku tak punya keberanian untuk menyanjungmu terang-terangan, seperti yang selama ini bunda persembahkan. "Ayo sayang, tidurlah" atau "Duh anak bunda paling cantik sedunia" atau "Jangan begitu, bunda yakin kau anak pintar dan mampu melakukannya dengan baik" bahkan "Anak sholehah tak akan melakukan ini", "Geulis, pinter,sholeh......, anak gadis tak baik menyanyi di kamar mandi".

My love bunda,
Kedewasaan (sebuah kata yang kutemukan dalam pelajaran bahasa indonesia) seharusnya menjadi milik seorang yang berusia 17 tahun kan? He..he.. sepertinya aku akan meminta bantuanmu agar bisa memilikinya. Tolong yah!

Bunda, dalam sunyi, aku menyempatkan diri mengingat pesanmu bulan lalu "Seiring usia yang bertambah, sebaliknya jatah umur kita berkurang. Seseorang yang bergembira dengan hari kelahirannya, sesungguhnya dia bersuka dengan majunya kematian". Iya bunda, aku setuju dengan nasihatnya. Aku seharusnya menambah kadar mawas diri, memperbaiki kualitas akhlak dan kepribadian, semakin ringan menolong sesama, makin bijak dalam memilih dan tentu saja kian cendikia. "Tidak lupa diri". Itu tambah bunda kemudian.

Bunda, terima kasih sudah menyeberangkan aku ke usia ini dengan selamat. Terima kasih juga atas rambu-rambu yang senantiasa menjadi pengarah hingga aku tidak terantuk dan tersesat. Berjuta rasa bahagia, karena telah menjadi seorang ibu yang bijaksana, seorang yang selalu mewarnaiku dengan do'a-do'a ikhlas, seorang yang mendorongku untuk menjadi kaya ilmu dan budi. Jasa indah bunda tak terbilang. Aku hanya mampu menggoreskanya dalam sebentuk puisi sederhana:

Dia seperti Rimbun pohon kebijaksanaan,
Yang selalu naungi dunia kecil milikku
Sebarkan wangi kedamaian
tak henti memberiku semangat menapaki hidup

Dia, menjelma telaga teduh sepanjang waktu,
Tempatku bertambat, bermain dan bermimpi
Riak airnya membiakkan banyak kebahagiaan
Menemani segala bentuk hari yang ku lalui

Aku tak pernah mendapatinya kering,
Meski musim tidak terhitung berganti
Aku tak pernah melihatnya tumbang
Walau gelombang yang mendera bertubi-tubi

Dia tetap tersenyum menjumpaiku
Dia tetap membagi aku dengan kecupan sayang
Bunda, aku menyebutmu demikian

Dan bunda, malam ini sudah sepatutnya aku mengulurkan renda-renda do'a untuk mu. Doa yang bunda sendiri ajarkan. "Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi dan mendidik aku di waktu kecil".

My beloved bunda,
bila esok tiba, tak kan kusia-siakan untuk mereguk kebersamaan dengan engkau. Kesempatan untuk mendulang lebih banyak hal menakjubkan juga tidak akan kumubadzirkan. Engkau adalah orang terkuat di dunia kecilku, dalam naungan langit mungil yang selalu mengakrabkanku dengan dunia sebenarnya. Engkau adalah muara dari segala hal yang aku butuhkan. Aku tidak akan menjadi apa-apa bila keberadaanmu nihil. Dan bunda, bantu aku manjadi sosok yang diharapkanmu. Karena aku sadar, tidak mudah membangunnya sendirian. Akhirnya semoga bunda baik-baik saja. Semoga Allah selalu menyayangimu dengan memberimu kekuatan untuk selalu menyayangiku :). Bunda, tunggu aku besok, aku berjanji untuk membuatmu tersenyum menatap bola raksasa itu pergi ke kaki langit.

"Hueammmm" aku mengantuk, jam mungil yang tergantung memberitahuku bahwa jarum pendeknya sudah ada di angka 2.

Sekian dulu bunda.
Peluk cium dari ananda

Mikul Dhuwur Mendhem Jero


Oleh: A. Mustofa Bisri

Di tempat saya ada kebiasaan dalam upacara pemberangkatan jenazah muslim, seorang yang mewakili keluarga almarhum berbicara kepada para pelayat, memohonkan maaf untuk almarhum.

Itu memang sangat diperhatikan oleh keluarga yang sangat mencintai dan menghormati anggotanya yang meninggal. Menurut keyakinan mereka, hal ini sangat penting. Karena ada hadis yang menjelaskan betapa gawatnya kesalahan antar manusia apabila tidak diselesaikan sewaktu masih hidup. Dalam hadis yang bersumber dari shahabat Abu Hurairairah r.a riwayat imam Bukhari misalnya, Nabi Muhammad SAW berpesan, “Barangsiapa mempunyai tanggungan (kesalahan yang merugikan) kepada saudaranya, baik mengenai kehormatannya atau yang lain, hendaklah dimintakan halal sekarang juga, sebelum dinar dan dirham (/uang) tidak laku….”

“Sebagai manusia biasa, almarhum dalam pergaulan dengan bapak-bapak, ibu-ibu, dan para pelayat sekalian selama hidupnya pasti mempunyai kesalahan. Karena itu kami, atas nama keluarga, dengan kerendahan hati memohon sudilah kiranya bapak-bapak, ibu-ibu, dan para hadiirin semua memaafkannya.” Antara lain begitulah kira-kira pidato wakil keluarga. Bagi keluarga yang berhati-hati dan sangat mencintai almarhum yang meninggal, biasanya kata-kata permohonan maaf itu ditambah dengan memohon penyelesaian kalau-kalau ada urusan yang menyangkut hak Adam: “Apabila ada kesalahan almarhum yang berkaitan dengan hak Adami, utang-piutang, atau yang lain, jika bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian berkenan mengikhlaskan dan membebaskannya, keluarga menghaturkan banyak-banyak terimakasih. Namun apabila tidak, bapak-bapak, ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian dapat menghubungi keluarga dan ahli waris untuk penyelesaiannya.”

Di akherat uang tidak laku. Tidak bisa untuk menebus. Tidak bisa untuk ganti rugi. Tidak bisa untuk menyogok. Pesan hadis di atas -- wallahu a’lam--: mumpung masih di dunia, belum di akherat, hendaklah kita menyelesaikan masalah kita dengan sesama. Sebab jika tidak masalah itu akan menjadi ganjalan kelak di akherat. Dalam hadis sahih yang lain, digambarkan betapa bangkrutnya seorang ahli ibadah –ahli salat, puasa, dll—gara-gara kelakuannya yang buruk terhadap sesama manusia. Suka mencaci , memukul, menuduh, melukai, memakan harta sesama. Pahala-pahala ibadah yang diharapkannya dapat mengantarkannya ke sorga, habis digunakan untuk ‘menebus’ kesalahan-kesalahannya terhadap sesama. Karena besarnya tanggungan kesalahan dan kelalimannya itu, malah menjerumuskannya ke neraka. Na’udzu billah min dzaalik.

Hal itu berlaku untuk kita dan tentu saja untuk orang-orang yang kita cintai. Orangtua, suami/istri, anak, kekasih, dan siapa saja yang tidak kita kehendaki celaka kelak di akherat. Artinya, apabila kita ingin ke sorga, tentu sekaligus kita ingin orang-orang yang kita cintai juga bersama-sama kita di sorga. Seorang ibu yang mengaku mencintai anaknya tentu ingin berbahagia bersama-sama anaknya dan tidak ingin anaknya celaka. Maka sungguh tidak bisa dimengerti apabila ada orangtua yang mengaku mencintai anaknya tapi membiarkan si anak itu kesasar di neraka. Demikian pula sebaliknya; seorang anak yang menyintai dan ingin mengangkat martabat orangtuanya, yang dalam istilah Jawa ingin mikul dhuwur mendhem jero, tentu tidak ingin orangtuanya bahagia di dunia yang fana ini saja tapi celaka di akheratnya. Anak yang mencintai dan berbakti kepada orangtuanya pasti ingin orangtuanya bahagia di dunia dan terutama di akherat.

Bahkan muslim yang baik ingin saudara-saudaranya selamat dan bahagia bersamanya terutama di kehidupan kekal kelak di akherat. Itulah sebabnya muslim yang baik terus beramar-makruf-nahi-mungkar.