Saturday, November 26, 2011

Kategori:

Kelas XI Bab 4: Sikap Terpuji (Tobat dan Raja’)

I.    TOBAT
      1.   Pengertian Tobat
            Kata taubat berasal dari bahasa Arab at-taubah, yang kata kerjanya taaba, yatuubu yang berarti rujuk atau kembali. 
            Menurut istilah yang dikemukakan ulama, pengertian taubat ialah :
  1). Kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan atau kembali dari jalan yang jauh dari Allah kepada jalan yang lebih dekat kepada Allah.
      2).  Membersihkan hati dari segala dosa
  3).    Meninggalkan keinginan untuk melakukan kejahatan, seperti yang pernah dilakukan dengan mengagungkan nama Allah dan menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya.

            Hukum bertaubat adalah wajib bagi setiap muslim atau muslimah yang sudah mukallaf (balig dan berakal). Allah SWT berfirman :

“ ... dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur ; 31)

2.   Syarat Bertaubat
                  Taubat baru dianggap sah dan dapat menghapus dosa apabila telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Bila dosa itu terhadap Allah SWT, maka ayat taubatnya ada tiga macam, yaitu:
      1) Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat (nadam).
      2) Meninggalkan perbuatan maksiat itu.
      3) Bertekad dan berjanji dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulangi lagi perbuatan
          maksiat itu

                  Namun, bila dosanya terhadap sesama manusia, maka syarat taubatnya selain yang tiga macam tersebut ditambah dengan dua syarat lagi yaitu:
1)    Meminta maaf terhadap orang yang telah dizalimi (dianiaya) atau dirugikan.
2)    Mengganti kerugian setimbang dengan kerugian yang dialaminya, akibat perbuatan zalim itu atau minta kerelaannya.

            Dosa terhadap sesama manusia akibat perbuatan zalim itu hendaknya diselesaikan di dunia ini juga. Karena kalau tidak, pelaku dosanya di  akhirat termasuk orang yang merugi bahkan celaka.
            Apabila seseorang telah terlanjur bertaubat dosa, kemudian bertaubat dengan sebenar-benarnya, tentu ia akan memperoleh banyak hikmah dan manfaat. Tentu saja taubat yang dilakukan harus memenuhi syarat-syarat taubat seperti tersebut. Adapun hikmah dan manfaat yang di peroleh dari pertaubatan itu antara lain: dosanya diampuni, memperoleh rahmat Allah, dan bimbingan untuk masuk surga. Terkait dengan taubat ini Allah SWT berfirman:
 
Artinya : “wahai orang-orang yang beriman, bertubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu kedalam surga.” (Q.S.At-Tahrim,66: 8)

                  Perlu pula diketahui dan disadari oleh setiap orang yang telah terlanjur berbuat dosa, bahwa seorang yang membaca istigfar (mohon ampunan dosa kepada Alloh), tetapi terus menerus berbuat doasa, maka ia akan dianggap telah mengolok-olok Tuhannya. Demikian juga seorang yang berbuat dosa, dan baru bertaubat ketika “sakratul maut” (nyawanya yang sudah berada di tenggorokan) maka taubatnya tidak akan diterima Allah.

                  Selain pelaku dosa itu harus betul-betul meninggalkan perbuatan dosanya (taubt nasuha), hendaknya ia juga terus-menerus melakukan perbuatan baik yang diridai Allah SWT. Allah berfirman:
     
      Artinya :
                  “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan yang buruk (dosa) “ (Q.S. Huud, 11:114)

II.   RAJA’
1.    Pengertian Raja’
            Kata Raja () berasal dari bahasa arab yang artinya harapan. Yang dimaksud raja’ pada pembahasan ini ialah mengharapkan keridaan Allah SWT dan rahmat-Nya. Rahmat adalah segala karunia Allah SWT yang mendatangkan manfaat dan nikmat.

            Raja’ termasuk akhlakul karimah terhadap Allah SWT, yang manfaatnya dapat mempertebal iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Muslim (muslimah) yang mengharapkan ampunan Allah, berarti ia mengakui bahwa Allah itu Maha Pengampun. Muslim (Muslimah) yang mengharapkan agar Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, berarti ia menyakini bahwa Allah itu Maha pengasih dan Maha Penyayang.

            Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap muslim  (muslimah) senantiasa berharap memperoleh rida dan rahmat Allah, sebagai bukti penghambaan kepada-Nya. Allah SWT telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar banyak berdoa kepada Allah SWT, dengan berharap Allah SWT akan mengabulkan doanya. Allah SWT berfirman:
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu... (Q.S.Al-Mu’min, 40:60)

            Kebalikan dari sifat raja’ ialah berputus harapan terhadap rida dan rahmat Allah SWT. Orang berputus harapan terhadap Allah, berarti ia berprasangka buruk kepada Allah SWT. Yang hukumanya haram dan merupakan ciri dari orang kafir. Allah SWT berfirman:

Artinya: “Dan jangan kamu berputus harapan terhadap rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus harapan terhadap rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Q.S.Yusuf, 12: 87)

            Seseorang yang berharap memperoleh rida dan rahmat Allah SWT, bahagia di dunia dan akhirat tentu harus berusaha dengan melakukan perbuatan-perbutan yang menyebabkan apa yang diharapkannya itu terwujud. Jika ia hanya berharap saja dan tidak mau berusaha itu namanya berangan-angan kosong atau berkhayal yang dalam bahasa arabnya disebut tamanni.

            Seseorang muslim yang mengharapkan rida Allah SWT, tentu harus berusaha dengan jalan betul-betul bertakwa pada Allah, sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Allah berfirman yang artinya:  “ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Q.S.Al-Ahzab, 33: 21)

            Muslim/muslimah yang bersifat raja’ tentu dalam hidupnya akan bersikap Optimis,dinamis,berfikir kritis, dan mengenal diri dalam mengharap keridaan Allah SWT, berikut adalah penjelasan ringkas tentang hal tesebut:

      1.   Optimis
            Dalam kamus besar bahasa indonesia dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan optimis adalah orang yang selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal atau persoalan.
            Optimis termasuk sifat terpuji. Sifat optimis seharusnya dimiliki oleh setiap muslim (muslimah). Seorang muslim (muslimah) yang optimis tentu akan berprasangka baik terhadap Allah. Ia kan selalu berusaha agar kualitas hidupnya meningkat.

            Kebalikan dari sifat optimis ialah sifat pesimistis. Sifat pesimistis ini seharusnya dijauhi, karena termasuk dalam sifat tercela. Seseorang yang pesimis dapat di artikan berprasangka buruk kepada Allah. Ia dalam hidupnya kemungkinan besar tidak akan memperoleh kemajuan. Seseorang yang pesimis biasanya selalu khawatir akan memperoleh kegagalan, kekalahan, kerugian atau bencana, sehingga ia tidak mau berusaha untuk mencobanya.

            Muslim (muslimah) yang bersifat optimistis hendaknya bertawakkal kepada Allah SWT yaitu berusaha sekuat tenaga untuk meraih apa yang dicita-citakannya, sedangkan hasilnya diserahkan kapada Allah SWT. Orang yang tawakkal tentu akan memperoleh pertolongan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman :

Artinya:
            “Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S.Ath-Thalaq, 65: 3)

2.    Dinamis
            Kata dinamis berasal dari bahasa belanda dynamisch yang berarti giat bekerja, tidak mau tinggal diam, selalu bergerak, terus tumbuh. Seseorang yang berjiwa dinamis, tentu selama hidupnya, tidak akan diam berpangku tangan. Dia akan terus berusaha secara sungguh-sungguh, untuk meningkatkan kualitas dirinya ke arah yang lebih baik dan lebih maju.
Misalnya :
·     Seorang petani akan berusaha agar hasil pertaniannya meningkat.
·     Seorang pedagang akan terus berusaha agar usaha dagangnya berkembang.
·     Seorang pelajar akan meningkatkan kegiatan belajaranya supaya ilmuanya betambah.

Sikap pelaku dinamis seperti itu sebenarnya sesuai dengan fitrah (pembawaan)
manusia, yang memiliki kecenderungan untuk meningkat ke arah yang lebih baik. Allah SWT berfirman:
  
            Artinya :
“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan),” (Q.S.Al-Insyiqaq, 84:19)

            Mengacu kepada pengertian dinamis tersebut, jelas bahwa sikap dinamis termasuk  akhlakul karimah, yang seyogyanya dimiliki dan di amalkan oleh setiap muslim (muslimah). Seorang muslim (muslimah) yang sudah meraih prestasi baik dalam bidang positif seperti dalam  ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam bidang pertanian dan perdagangan serta dalam bidang ekonomi dan industri, hendaknya berusaha terus meningkatkan prestasinya ke arah yang lebih baik lagi. Hal itu sesuai dengan suruhan Allah SWT dalam Al-Qur’an dan anjuran Rasulullah SAW dalam haditsnya. Allah SWT berfirman.

Artinya :
            “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S.Al-Insyirah, 94: 7-8)

            Juga Rasulullah SAW bersabda yang artinya:” barang siapa yang amal usahanya lebih baik dari kemarin maka orang itu termasuk orang yang beruntung, dan jika amal usahanya sama dengan kemarin, termasuk yang merugi, dan jika amal usahanya lebih buruk dari yang kemarin, maka orang itu termasuk yang tercela”. (H.R. Tabrany)

            Kebalikan dari sifat dinamis adalah sifat statis. Sifat statis  seharusnya dijauhi karena termasuk akhlak tercela yang dapat menghambat kemajuan dan mendatngkan kerugian. Seorang siswa/siswi yang berperilaku statis biasanya malas belajar dan tidak bergairah untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan siswa/siswi tersebut kuallitas ilmunya tidak meningkat, sehingga ia tergolong orang yang merugi bahkan tercela.

3      Berpikir Kritis
            Dalam kamus bersar bahasa indonesia di jelaskan, bahwa perpikir krtitis itu artinya tajam dalam penganalisaan. Bersifat tidak lekas percaya, dan sifat terlalu berusaha menemukan kelasalahan, kekeliruan atau kekurangan. Orang yang ahli memberi kjritik atau memperikan pertimbangan apakah sesuatu itu benar atau salah, tepat atau keliru, sudah lngkap atau masih kurang disebut seorang kritikus.

            Kritik itu ada dua macam yaitu, yang termasuk akhlak terpuji dan yang tercela. Kritik yang termasuk akhlak terpuji adalah kritik yang sehat, yang didasari dengan niat ikhlas karena Allah SWT, tidak menggunakan kata-kata pedas yang menyakitkan hati, dan dengan maksud untuk memberi pertolongan kepada orang yang dikritik agar menyadari kesalahannya, kekeliruannya, dan kekurangan, disertai dengan memberikan petinjuk tantang jalur keluar dari kesalahan, kekeliruan dan kekurangan tersebut. 

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “yang dinamakan orang Islam adalah orang yang menyelamatkan orang-orang muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya, sedang yang dinamakan orang yang hijrah itu adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah” (H.R.Bukhari,Abu Dawud dan Nasa’iy)

            Kritik yang sehat, seperti tersebut sebenarnya termasuk ke dalam tolong menolong yang di perintahkan Allah SWT untuk dilaksenakan. Allah SWT berfirman yang artinya : “ dan bertolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan)kebijakan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Q.S. Al-Maa-idah, 5:2)

            Kritik yang termasuk akhlak tercela adalah kritik yang merusak, yang tidak didasari niat ikhlas karena Allah SWT, dengan menggunakan kata-kata keji yang menyakitkan hati dan tidak disertai memberi petunjuk tentang jalur keluar dari kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan. Kritik mcam ini termasuk akhlak tercela karena dapat merusak hubungan antara yang mengkritik dan yang dikritik, sehingga antara mereka saling bermusuhan dan saling dengki, yang sangat dilarang oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
 “ janganlah kamu berdengki-dengkian, jangan putus memutuskan persaudaraan, jangan benci-membenci, jangan pula belakang membelakangi, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara, sebagaimana telah di perintahkan Allah kepadamu.” (H.R.Bukhari dan Muslim)

4.    Mengenali Diri Dengan Mengharap Keridaan Allah SWT
            Salah satu cara dalam mengharap keridaan Allah SWT ialah berusaha mengenali diri sendiri. Hal ini sesuai dengan pepatah yang terkenal di kalangan tasawuf:

            “Barang siapa yang mengenal dirinya tentu akan mengenal Tuhannya.”

            Mukmin yang mengenali dirinya, tentu akan menyadari bahwa dirinya adalah makhluk Allah, yang harus selalu tunduk pada ketentuan-ketentuan-Nya (sunnatullah). Termasuk ke dalam sunatullah antara lain ia pernah berada di dalam kandungan ibunya, selama kurang lebih 9 bulan, lalu ia lahir ke dunia dalam keadaan bayi, kemudian berproses menjadi balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya meninggal dunia.

            Apakah setelah meninggal dunia kehidupan seorang manusia berakhir? Seorang mukmin akan menjawab mantap penuh keyakinian bahwa meninggal dunia bukan akhir kehidupan, karena setelah itu manusia akan terus hidup di alam Barzah (Kubur) dan alalu di dalam akhirat.

            Mukmin yang mengenali dirinya akan menyadari bahwa ia hidup karena Allah dan bertujuan untuk memperoleh keridaan Allah. Mukmin yang ketika di dunianya memperoleh kerdiaan Allah, tentu di alam kubur dan alam akhiratpun akan memperoleh rida Allah SWT, ia akan terbebas dari siksa kubur dan azab neraka dan akan mendapatkan nikmat kubur serta pahala surga.

            Seorang mukmin akan memperoleh rida Allah SWT, apabila semasa hidupnya di alam dunia betul-betul berada di jalan yang diridai Allah SWT, yakni betul-betul menghambakan dirinya hanya kepada-Nya dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

            Hal ini sesuai dengan maksud dan tujuan diciptakannya umat manusia yakni semata-mata untuk menghambakan diri pada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

Artinya :
 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat,51: 56)

            Mukmin yang mengenali dirinya di mana pun dan kapan pun, tentu akan selalu mengadakan instropeksi apakah dirinya sudah betul-betul menghambakan dirinya kepada AllahSWT? Kalau sudah, bersyukurlah dan tingkatkan kualitasnya. Kalau belum, kembalilah ke jalan yang diridai Allah SWT dengan jalan beul-betul bertakwa kepada-Nya.

            Mukmin yang selama hidupnya selalu berada di jalan yang diridhoi Allah SWT dan tatkala meninggal dunia dalam keadaan bertakwa tentu nyawanya akan di cabut oleh malaikat Izrail dengan sikap ramah dan tidak menyakitan bahkan akan dipersilahkan pindah hidupnya dari alam dunia ke alam Barzah dan dimasukan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang diridai-Nya serta memperoleh pahala surga. Allah SWT berfirman yang artinya :

            “Hai jiwa yang tenang (nafsu mutamainnah) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya, maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam suraga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr, 89:27-30)

Anda baru saja membaca Kelas XI Bab 4: Sikap Terpuji (Tobat dan Raja’) . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment