, ,

Media Pembelajaran Power Point PAI Kelas XI

Presentasi Power Point adalah bentuk yang paling sederhana dan paling mudah dan paling praktis sehingga paling banyak dipergunakan oleh kebanyakan pembicara, baik pembicara seminar, workshop, dan juga guru di kelas. Hendaknya, setiap guru paling tidak mempunyai kemampuan untuk membuat materi ajardalam bentuk presentasi Power Point ini.

Meskipun paling sederhana, Power Point memberikan fasilitas yang cukup hebat untuk membuat media ajar. Justru dengan kesederhanaan ini lah yang menyebabkan hal ini sangat mudah dipelajari. Apakah hasilnya menjadi sangat sederhana?  Belum tentu. Dengan kreatifitas lebih, Power Point dapat dioptimalkan dengan baik untuk membuat paket media ajar yang berkualitas.

Berikut contoh Media Pembelajaran Power Point PAI Kelas XI. Untuk semester 1 secara keseluruhan dan lengkap, silakan download di link berikut: Semester 1

Untuk Semester 2 secara keseluruhan dan lengkap, silakan download di link berikut: Semester 2
Semoga bermanfaat...
, ,

Media Pembelajaran Power Point PAI Kelas X

Media merupakan alat yang harus ada apabila kita ingin memudahkan sesuatu dalam pekerjaan.Media merupakan alat Bantu yang dapat memudahkan pekerjaan.Setiap orang pasti ingin pekerjaan yang dibuatnya dapat diselesaikan dengan baik dan dengan hasil yang memuaskan. Kata media itu sendiri berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti pengantar atau perantara , dengan demikian dapat diartikan bahwa media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.

Presentasi Power Point adalah bentuk yang paling sederhana dan paling mudah dan paling praktis sehingga paling banyak dipergunakan oleh kebanyakan pembicara, baik pembicara seminar, workshop, dan juga guru di kelas.
Berikut adalah contoh Media Pembelajaran Power Point PAI Kelas X. Silakan download di berikut:


Untuk semester 2 (Bab VII sampai dengan Bab XIII) silakan dowload secara lengkap DI SINI.
Semoga bermanfaat....
,

Penggembala


Rasanya tidak masuk akal kalau Nabi saw. hanya sekadar ingin mendedahkan kesederhanaannya dengan menceritakan bahwa ia pernah bekerja sebagai penggembala pada juragan-juragan ternak di Mekkah. Tentu ada sesuatu yang lebih mendasar di balik kisahnya itu, sebab ia pernah mengatakan : "Kalian adalah penggembala. Dan kalian akan ditanya mengenai gembalaannya masing-masing."

Apalagi jika ditelusuri, ternyata memang benar para nabi lainnya juga pernah menjadi penggembala sebagaimana dikemukakan dalam salah satu hadisnya: "Tidak ada seorang nabi pun melainkan tadinya ia menggembala domba." Yang sering dipertanyakan orang ialah mengapa dan apa pula hikmahnya. Adakah hubungan antara menggembala domba dengan tugas kenabian?

Secara langsung sebetulnya tldak ada. Namun, bagi orang-orang arif, termasuk para nabi, menggembala domba atau binatang ternak lainnya merupakan pekeraan yang menuntut kesabaran, kepedulian, dan kelemah-lembutan karena kita tahu, semua hewan ternak adalah ienis makhluk jinak yang tldak mempunyai se- barang kekuatan untuk mengindari ancaman binatang buas. Mereka sangat memerlukan perlindungan dan bimbingan karena keadaan mereka terlalu lemah dibandingkan dengan harimau dan serigala.

Namun, di samping ketidakberdayaan mereka, binatang ternak itu sangat bermanfaat bagi manusia tidak hanya daging dan kulitnya, tetapi juga air susunya kadang-kadang mampu menggantikan peranan kaum ibu yang tidak sempat mengasuh anaknya. Begitu ikhlas perangai binatang ternak itu meskipun mereka tahu, akhirnya akan menjadi santapan di meja makan.

Demikian pula nasib orang-orang kecil. Mereka adalah domba-domba yang menyerahkan nasibnya kepada para penggembala. Dengan patuh mereka dikeluarkan dari kandang tiap pagi, dan digiring kembali ke dalam kandang bila hari menjelang malam. Diberi makan apa saja mereka tidak membangkang asalkan bisa mengenyangkan perutnya. Mereka tidak berdaya menentukan nasibnya sendiri. Walaupun ada juga yang meronta ketika diseret ke pejagalan, toh kemudian mereka harus mati di tangan algojo.

Itulah yang terpikir di benak Nabi ketika menjadi penggembala sebelum masa kerasulannya. Untuk itu, selaku pemimpin ia wajib bertindak adil dan bijaksana agar selama masih mempunyai kesempatan, umat yang menjadi tanggung jawabnya dapat menikmati kebahagiaan di bawah kepemimpinannya.

Alangkah malangnya nasib orang-orang kecil itu andaikata mendapat penggembala yang tidak melindungi dan mengayomi. Kehidupan mereka akan terus-menerus sengsara. Ketakutan dan kegelisahan akan selalu menimpa sampai akhir hayatnya. Patutlah mereka sudah dikalahkan sebelum harus kalah oleh kematian?

Karenanya, dengan prihatin Rasulullah bersabda: "Semestinya seorang penggembala melindungi dombanya dari ancaman serigala. Namun, bagaimana pula nasib sang domba, bila penggembalanya sendiri adalah serigala?"

Dalam kitab Azhamatur-Rasul, Muhammad Athiyah al-Ibrasyi menulis bahwa keprihatinan Nabi tersebut makin menggumpal dari waktu ke waktu lantaran menyaksikan kebobrokan dunia di sekitarnya. Para pemimpin berkomplot dengan hakim dan pemuka-pemuka agama untuk menindas rakyat jelata. Mereka selalu membela dan memenangkan orang-orang kaya sehingga dalam dunia seperti itu, yang bersitegar hanyalah ketakutan, ketidakberdayaan, dan penderitaan. Akibatnya, rakyat tidak mampu mengembangkan nalarnya sebab hari-hari mereka disita oleh daya upaya untuk sekadar bisa hidup seadanya. Mereka tidak mempunyai masa depan karena hari ini pun bukan milik mereka.

Timbullah kemasabodohan dan keputusasaan. Dan dalam keadaan semacam itu, mana mungkin suara-suara dapat didengar? Lantaran yang disebut kebenaran sudah dipola oleh penguasa dan harus ditelan mentah-mentah tanpa kesempatan untuk menentukan pilhan. Jangankan mematuhi norma-norma moral dan agama sebagai pegangan rohani, sedangkan rezeki pun sudah dijatah dan tidak memadai untuk mencukupi kebutuhan jasmani. Apalagi mereka yang berlindung di balik bendera keadilan dan agama, yang menamakan dirinya pemimpin dan panutan, sudah menjadikan kedudukan mereka sebagai lahan untuk menuai keuntungan pribadi.

Itulah yang dikenal dengan Zaman Jahiliyah. Dan tetap akan bermama jahiliyah sampai kapan pun bila keadaannya tidak berbeda. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Siapa yang lemah, terimalah nasibmu, dan jangan coba-coba meronta sebab belenggumu akan lebih ketat merantaimu.

"Bukan kami yang tidak berperi kemanusiaan." ujar orang-orang besar itu dengan pongah. "Uratan takdirmu yang salah. Mengapa kalian tidak dilahirkan dalam istana orang-orang terhormat?" Maka ukuran kehormatan pun bukan lagi berada pada martabat kepribadian seseorang, melainkan pada keningratan nenek-moyang. Kalau sudah begitu, jalan mana lagi yang harus ditempuh kecuali melakukan revolusi kemanusiaan secara total seperti yang dilakukan oleh Nabi saw, yaitu perubahan besar-besaran yang harus dilaksanakan sendiri oleh para penggembala yang baik.

Nasihat Salamah bin Dinar


Melakukan hal - hal yang disukai Allah dan menjauhi hal yang dibenci

Salamah bin Dinar, seorang salafush shalih dan termasuk perawi hadits terpercaya (wafat tahun 140 H.), memberi nasihat kepada salah seorang sahabatnya:

"Lakukanlah apa yang disukai Allah, sekalipun hal itu tidak disukaimu. Tinggalkan apa yang dibenci Allah, sekalipun engkau menyukainya, niscaya engkau akan selamat di dunia dan akhirat. Lihatlah apa yang membawa dirimu kepada kebaikan, lalu pertahankanlah, sekalipun itu dinilai tidak baik oleh manusia. Lihatlah apa yang membawamu kepada kerusakan, lalu tinggalkanlah, sekalipun itu dipandang baik oleh kebanyakan manusia."

Suatu hari, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendapat hidangan makan berbeda dari biasanya. Di situ terdapat sepotong roti yang masih hangat, harum dan membangkitkan nafsu makan.

"Dari mana roti ini?" tanya Khalifah kepada isterinya.

"Buatan saya sendiri. Tidak lain untuk menyenangkan hati Anda yang setiap hari sibuk mengurus umat," jawab isterinya.

"Berapa kauhabiskan uang untuk membeli terigu dan bumbu-bumbunya?"

"Hanya tiga setengah dirham saja," isterinya menjawab penuh keheranan.

"Aku perlu tahu asal-usul benda yang akan masuk ke dalam perutku, agar aku dapat mempertanggungjawabkannya di hadirat Allah SWT. Nah, uang tiga setengah dirham itu dari mana?"

"Setiap hari saya menyisihkan setengah dirham dari uang belanja yang Anda berikan, wahai Amirul Mukminin, sehingga dalam seminggu terkumpul tiga setengah dirham. Cukup untuk membeli bahan-bahan roti yang halalan thayyiban," kata isteri Khalifah menjelaskan.

"Baiklah kalau begitu. Saya percaya, asal-usul roti ini halal dan bersih. Namun, saya berpendapat lain. Ternyata biaya kebutuhan hidup kita sehari-hari perlu dikurangi setengah dirham, agar kita tidak mendapat kelebihan yang membuat kita mampu memakan roti atas tanggungan umat," jawab Umar bin Abdul Aziz, yang hari itu juga mengeluarkan instruksi kepada bendahara Baitul Maal untuk mengurangi belanja hariannya setengah dirham. "Saya juga akan berusaha mengganti harga roti ini, agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan harta umat demi kepentingan pribadi."

Nabi Sulaeman dan Semut


Sulaiman bin Daud adalah satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah SWT, sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud Hud dan juga bisa memahami bahasa semut. Dalam Al-Qur'an surat an-Naml, ayat 18-26 adalah contoh dari sebahagian ayat yang menceritakan keistimewaan Nabi yang sangat kaya raya ini. Firman Allah SWT "Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata, hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata".

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.

Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Katanya, Ya Rabbi, limpahkan kepadaku karunia untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; karuniakan padaku hingga boleh mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh. (An-Naml: 16-19)

Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman AS bertanya kepada seekor semut, Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun? Sebesar biji gandum, jawabnya.

Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebahagian biji gandum itu. Mengapa engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya? tanya Nabi Sulaiman. Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah, jawab si semut. Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahawa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Karena itu, aku harus tinggalkan sebahagian sebagai bekal tahun berikutnya.

Nabi Sulaiman, walaupun ia sangat kaya raya, namun kekayaannya adalah nisbi dan terbatas. Yang Maha Kaya secara mutlak hanyalah Allah SWT semata-mata. Nabi Sulaiman, meskipun sangat baik dan kasih, namun yang Maha Baik dan Maha Kasih dari seluruh pengasih hanyalah Allah SWT semata. Dalam diri Nabi Sulaiman tersimpan sifat terbatas dan kenisbian yang tidak dapat dipisahkan; sementara dalam Zat Allah sifat mutlak dan absolut.

Bagaimanapun kayanya Nabi Sulaiman, dia tetap manusia biasa yang tidak boleh sepenuhnya dijadikan tempat bergantung. Bagaimana kasihnya Nabi Sulaiman, dia adalah manusia biasa yang menyimpan kelemahan-kelemahan tersendiri. Hal itu diketahui oleh semut Nabi Sulaiman. Karena itu, dia masih tidak percaya kepada janji Nabi Sulaiman. Bukan karena khawatir Nabi Sulaiman akan ingkar janji, namun khawatir Nabi Sulaiman tidak mampu memenuhinya lantaran sifat manusiawinya. Tawakal atau berpasrah diri bulat-bulat hanyalah kepada Allah SWT semata, bukan kepada manusia.

Menjadi Istri yang Selalu Dicintai Suami


Kebanyakan istri beranggapan bahwa mereka berhak atas cinta suaminya. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, karena memang salah satu pilar tegaknya sebuah rumah tangga bahagia adalah adanya mawaddah (cinta) antara suami istri. Tetapi patut direnungkan, bahwa cinta tidak datang dengan sendirinya, dan ketika ia hadir, tidak ada yang dapat menjamin ia akan menetap selamanya. Apa artinya ini? Ya, artinya adalah bahwa cinta memerlukan usaha! Jika ingin suami selalu cinta kepada Anda, Anda tidak boleh hanya diam dan berkata, "lho, dia kan suami saya, otomatis dia mencintai saya dong! Kalau tidak, ngapain dia memilih saya untuk jadi istrinya?"

Bahwa suami mencintai Anda karena Anda adalah istrinya memang betul, tetapi apakah Anda yakin cintanya selalu ada dan terus ada selamanya? Banyak perempuan yang tidak merasa yakin, setelah menjalani kehidupan rumah tangganya sekian tahun, apakah suami saya masih mencintai saya seperti dulu? Karena itu, berhentilah bersikap pragmatis, berusahalah membuat suami Anda selalu cinta, bahkan dari hari ke hari semakin bertambah cinta kepada Anda!

Sebelum membicarakan cara membuat suami selalu cinta, ada satu hal yang menjadi inti persoalan dan tidak boleh dilupakan, yaitu bahwa cinta adalah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya, dan inilah yang disebut cinta yang hakiki atau cinta sejati. Allah-lah pemilik cinta, Allah-lah yang menjadikan cinta antara suami-istri. "Dan diantara ayat-ayatNya adalah diciptakanNya untukmu istri-istri dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS Ar-Ruum:21).

Karena itu, diatas segala-galanya, seorang istri yang ingin selalu dicintai suaminya hendaknya menyadari bahwa jurus yang paling penting dan efektif untuk meraih itu adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bagaimana caranya? Yaitu dengan berusaha sekuat tenaga untuk mentaati dan menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Dengan kata lain, dengan cara berusaha menjadi seorang muslimah shalihah. Harm bin Hayyan, seorang ulama di masa Khalifah Umar bin Khattab ra berkata, "Tiada seorang hamba yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, melainkan Allah akan mendekatkan hati orang-orang mukmin kepadanya, dan istri yang senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah, maka Allah akan mendekatkan hati suaminya kepadanya sampai ia mendapatkan cintanya."

Enam Saran Agar Suami Selalu Cinta

Berusaha dengan tulus dan ikhlas 'menyerahkan hidupnya' untuk berbakti kepada suami sambil berharap pahala Allah. Potensi yang dimilikinya, kedudukannya di masyarakat dan kesibukannya beraktivitas diluar rumah tidak membuat dirinya terlena dan lupa bahwa ia memiliki peluang meraih syurga Allah dengan berbakti kepada suaminya. "Apabila seorang perempuan menunaikan shalat, puasa, memelihara kemaluannya dan berbakti, mentaati suaminya, dia akan masuk syurga." (HR al-Bazzar). Istri seperti ini memiliki nilai yang tinggi di mata suaminya dan akan selalu dicintai suaminya.

Berusaha untuk menjadi perempuan yang bersahaja dalam nafkah. Tidak banyak menuntut, menerima dengan rasa syukur betapapun sedikitnya pemberian suami, dan tidak berlebihan dalam membelanjakan nafkah yang diberikan suami. Bila Anda sanggup selalu bersikap seperti ini, cinta suami akan selalu tercurah untuk Anda.

Sederhana dalam penampilan. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa umumnya laki-laki tidak menyukai perempuan yang berpenampilan seronok dengan wajah penuh riasan tebal, sebaliknya kesederhanaan lebih menarik bagi mereka karena menurut mereka lebih memancarkan kecantikan perempuan. Tetapi ini tentu saja relatif, karena itu, kenali kecenderungan suami Anda, apakah ia menyukai penampilan yang wah atau yang sederhana? Kemudian setiap bersamanya, sesuaikan penampilan Anda dengan kecenderungannya itu. "Sebaik-baik perempuan adalah yang menyenangkanmu bila engkau memandangnya, mentaatimu bila engkau perintahkan dan menjaga dirinya dan hartamu bila engkau tidak di rumah" (HR Thabrani).

Berusaha untuk selalu sabar dan tidak menyakiti hati suami. Adanya perselisihan atau perbedaan pendapat diantara suami istri terkadang dapat memicu terjadinya pertengkaran kecil atau besar. Bila Anda menghadapi keadaan ini, ingatlah, Anda sedang berhadapan dengan seseorang yang Allah berikan kepadanya hak yang sangat besar atas diri Anda. "Seorang perempuan belum dianggap menunaikan hak Tuhannya sehingga ia menunaikan hak suaminya." (HR Ibnu Majah).

Karena itu apapun yang bergejolak dihati Anda, berusahalah untuk tetap sabar dan menahan diri untuk tidak menyakiti hati suami Anda. "Tidaklah seorang perempuan menyakiti hati suaminya di dunia, melainkan bidadari calon istrinya (di akhirat) berkata, "Janganlah engkau sakiti dia, Allah membencimu. Sesungguhnya dia disisimu hanya sementara waktu, dan akan berpisah darimu untuk berkumpul dengan kami." (HR Ahmad).

Percayalah, istri yang mampu bersikap seperti ini akan selalu dicintai suaminya.

Dapat mendampingi suami dalam suka dan duka. Roda kehidupan selalu berputar, kadang manusia mengalami saat-saat yang menggembirakan dimana kehidupan berjalan sesuai dengan harapan. Adakalanya manusia mengalami hal yang sebaliknya. Nah, apapun keadaan yang dialami suami Anda, berusahalah menjadi pendampingnya yang setia. Disaat suka menjadi pengingat agar suami tidak terlena, disaat duka menjadi pelipur lara.

Berusaha untuk menjadi partner yang menyenangkan di kamar tidur. Banyak perempuan masih merasa malu untuk bersikap agresif meski kepada suaminya sendiri. Ini karena adanya anggapan bahwa perempuan yang agresif terkesan murahan dan tidak terhormat. Tentu saja anggapan ini tidak berlaku untuk seorang istri yang agresif kepada suaminya sendiri. Belajarlah cara dan teknik menyenangkan suami di tempat tidur dan Anda akan mendapati suami selalu melimpahkan cintanya untuk Anda!

Selamat mencoba!

Tulisan ini pernah dimuat dalam Majalah Safina No.10 Tahun I, Januari 2004

Lukisan Kedamaian


Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian.

Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut. Sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga itu bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung-gunung yang menjulang mengitarinya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai. Sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih. Sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian. Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk Pipit meletakkan sarangnya. Jadi, di tengah-tengah riuh-rendahnya air terjun, seekor induk Pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba? Sang Raja memilih lukisan nomor dua.

"Tahukah anda mengapa?", jawab sang Raja, "Karena kedamaian bukan berarti anda harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, selalu terpaut kepada Allah, Sang Pencipta dan Penguasa alam semesta. Meski anda berada di tengah-tengah keributan yang luar biasa. Kedamaian hati adalah kedamaian sejati, karena Allah akan selalu menjaga dan bersama anda."