Saturday, September 6, 2014

Kategori: , ,

Iman Kepada Allah (1)

Bismillahirrahmanirrahiim, semoga apa yang akan kita pelajari sesuai dengan ajaran Allah SWT dan terlindung dari pengaruh syaitan yang terkutuk. Anak-anakku sekalian, sebelum kita membahas tentang al-Asmaul Husna, mari kita bersama merenungkan beberapa hal berikut:
1.    Apa yang harus dimiliki oleh seorang wakil?
Sesuai dengan QS Al-Baqarah ayat 30, manusia diciptakan Allah dengan satu tugas, yakni sebagai khalifah di muka bumi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, khalifah artinya adalah wakil atau pengganti. Jadi tugas manusia di muka bumi ini adalah sebagai wakil atau pengganti Allah dalam mengelola keseimbangan kehidupan.
Coba kita renungkan, apa yang harus dimiliki oleh seorang wakil?
Menurut kamus besar bahasa Indonesia wakil adalah orang yg dikuasakan menggantikan yang mewakilkan. Seorang wakil tentunya dipercaya oleh yang diwakilinya memiliki sifat, sikap dan kemampuan yang sesuai dengan yang diharapkannya. Demikian juga dengan kita, Allah tidak mungkin memilih kita sebagai wakil untuk mengurus dan menjaga bumi ini jika Dia tidak tahu kalau kita memiliki kemampuan untuk itu. Yakinlah bahwa kita sebenarnya dianugerahi oleh Allah sifat-sifat rububiyah yang tertuang dalam Asmaul Husna.
2. Kenapa budaya menghina, saling menghancurkan reputasi orang lain menjadi trend politik di negara kita saat ini?
Kita memiliki sifat dasar al-Kariim (Memuliakan), ini terlihat pada jawaban yang sama ketika kita melihat orang yang dihinakan orang lain. Pasti semua hati berkata sama, “Muliakan/kasihan Muliakan dia/Jangan Hinakan Dia” namun dalam kenyataan dalam kehidupan. Ada manusia yang mengikuti kata hatinya tersebut dan ada yang mengabaikannya. Sebagai wakil Allah yang al-Kariim, tentunya kita harus menunjukkan bahwa kita juga adalah al-Kariim (selalu bersikap mulia/berbudi pekerti luhur).
3.    Kenapa banyak kasus kebohongan seperti maraknya kasus korupsi, kecurangan dalam ujian dan lain-lain terjadi pada bangsa ini?
Selain al-Kariim, manusia juga dianugerahi sifat dasar al-Matiin (kokoh pendirian), semua manusia dipastikan memiliki sense (rasa) yang membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Setiap manusia pasti hatinya ingin berkata dan berlaku jujur, namun karena kepentingan dan godaan syahwat duniawi, suara hati al-Matiin sedikit demi sedikit  tergoyahkan. Semakin terabaikan maka semakin jauhlah kita dari fungsi dan tugas kita sebagai wakil Allah.
4.    Kenapa di Negara kita banyak terjadi kriminalitas?
Allah memiliki sifat al-Mu’min (Maha Memberi Keamanan). Demikian pula dengan waki-lNya. Wakil Allah yang disebut manusia dikaruniai oleh Allah sifat al-Mu’min (member aman). Buktinya dapat dipastikan setiap manusia pasti ingin hidupnya aman dan ingin menjadi pahlawan buat orang lain? Betul kan? Satu contoh, ketika kita melihat seorang ibu-ibu sedang mempertahankan dompetnya saat direbut oleh perampok bersenjata api.  Apa yang dibisikkan oleh hati kita pertama kali? Pasti jawabannya sama “Tolonglah Ibu Itu! Hajar Perampoknya!Jadilah Pahlawan Pemberi Rasa Aman Untuk si Ibu!”. Namun karena kepentingan dan pertimbangan-pertimbangan lain, terjadilah pergumulan dalam hati antara tolong atau jangan. Berbagai macam bisikan datang, membuat kita menjadi takut mati, berhitung apa untung-ruginya dan lain-lain. Akibatnya semakin hilanglah sifat dasar al-Mu’min dalam diri kita.
5.    Adakah manusia yang tahu apa yang akan terjadi pada hari esok atau masa depannya?
Ada dua orang pemuda yang sedang mencoba berwirausaha, kita sebut saja A dan B. Si A mencoba terus pada satu bidang setelah menemui kegagalan. Sementara Si B terus berpindah-pindah mencari peluang yang lain ketika dia gagal. Coba kalian terka siapa yang akan menemukan kesuksesan terlebih dahulu? Pada saat kegagalan pertama, si A optimis bahwa kesuksesan ada pada tahap kedua, namun hasilnya gagal lagi. Setelah kegagalan kedua Si A berkata: “Kesuksesan ada pada tahap ke tiga, Jika ini pun gagal, maka saya sangat yakin tidak mungkin kegagalan terjadi lagi pada tahap keempat karena segala kekurangan sudah diperbaiki”. Sikap inilah yang menunjukkan bahwa si A percaya dan yakin bahwa Allah akan menolong dia, karena Allah memiliki sifat al-Wakiil.
6.    Tahukah kita apa yang terbaik buat kita?
Semua makhluk Allah ciptakan secara berpasangan. Baik dan buruk, surge dan neraka, kaya dan miskin. Percayakah kita jika kita akan dikumpulkan dan diberikan sebuah kepastian akhir dimana kita akan ditempatkan? Percayakah kita bahwa kita akan dihidupkan kembali oleh Allah setelah kita mati? Percayakah kita jika nanti kita akan dikumpulkan-Nya di Hari Kiamat?
Sebuah bukti buat kita bahwa Allah Maha Menghidupkan dan Maha Mengumpulkan. Mari kita amati biji padi dan biji jagung. Biji padi dan biji jagung adalah makhluk mati, buktinya jika dia disimpan di dalam botol dan tidak tersentuh oleh air, sampai kapanpun mereka tidak akan pernah menjadi makhluk hidup. Tanamlah kedua makhluk mati tersebut ke dalam tanah, dan siramlah dengan air. Tidak berapa lama, makhluk mati tersebut berubah menjadi makhluk hidup. Tumbuh menjadi besar dan dewasa, sampai pada sebuah titik di mana Allah akan kembali mematikan kedua makhluk hidup tersebut di saat panen. Demikianlah Allah maha menghidupkan dan mematikan.
Untuk melihat keadilan Allah mari kita renungkan arti QS Attakatsur/102 ayat 8 berikut:
Artinya: “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang dinikmati di dunia itu)”.
Jika kita merenungi ayat ini, maka tidak ada bedanya antara kaya dan miskin. Kedua-duanya adalah ujian hidup. Orang yang dianugerahi kekayaan diuji oleh Allah bisakah dia memanfaatkan kekayaannya tersebut untuk mendekat dan berbakti kepada Allah. Orang miskin diuji oleh Allah, bersabarkah orang miskin ini untuk tetap mendekat dan berbakti kepada Allah, walaupun dalam dirinya timbul keinginan yang besar untuk hidup berkecukupan harta.
Demikian pula dengan orang cantik dan jelek atau pintar dan bodoh. Semua diuji dengan kondisi masing-masing, siapakah yang siap menjadi kekasih Allah?. Inilah yang membuktikan bahwa Allah maha Adil.
Anak-anakku sekalian, yakinlah bahwa Allah selalu memberikan kita yang terbaik dan paling kita butuhkan. Allah membuat kita miskin bukan berarti Allah hendak membuat kita terhina, tetapi mungkin itu adalah yang terbaik buat kita. Bisa jadi ketika kita dijadikan oleh Allah sebagai orang kaya, kita akan menjadi orang yang dibenci banyak orang karena kita sombong. Atau mungkin hal yang lainnya. Yakinlah Allah maha adil menempatkan kita pada posisi terbaik. Syukurilah! Jadilah manusia yang tahu terimakasih! Lakukan apa yang Allah inginkan dan Jauhi apa yang Allah tidak sukai!

1.         Pengertian Iman
Menurut bahasa iman berasal dari kata aamana yang berarti percaya. Menurut Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Iman didefinisikan dengan akad/perjanjian dengan hati, dan ikrar/bersumpah dengan lisan (ucapan) dan dilakukan/dibuktikan dengan anggota tubuh (arkan).
2.         Pengertian Iman kepada Allah SWT
Berdasar pada pengertian iman di atas, dapat kita uraikan bahwa iman kepada Allah menurut bahasa adalah percaya sepenuhnya kepada Allah SWT. Jika kita bicara tentang percaya, mari kita coba tela’ah deskripsi berikut:
Si A percaya kepada si B. Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh si B jika si A menyuruh si B untuk melakukan sesuatu? Misalnya si A menyuruh kepada si B agar membeli burung beo berwarna hitam jika si B ingin hidup berlimpah harta. Jika si B percaya pada si A, pasti si B akan langsung melaksanakan perintah si A tersebut. Tapi jika si B tidak melaksanakan perintah si A, dapatkah dikatakan si B percaya sama si A?. Walaupun si B beribu kalimengucapkan bahwa dia percaya kepada si A, jika apa yang diperintahkan kepadanya tidak dilaksanakan, si A akan beranggapan bahwa si B tidak percaya kepadanya.
Itulah jika iman dimaknai dengan percaya. Iman kepada Allah berarti percaya kepada Allah. Apapun yang Allah ceritakan, Allah perintahkan dan Allah larang, kita harus mempercayainya. Dan tanda dari kepercayaan tersebut adalah kita melaksanakan segala intruksi-Nya, baik berupa perintah ataupun larangan.
Dalam konteks keimanan kepada Allah, kepercayaan dimulai dari kepercayaan secara dogmatis. Kepercayaan ini kemudian akan melahirkan keyakinan setelah kita membuktikan konsep-konsep Allah yang tertuang dalam Al-quran.
Salah satu contoh perintah Allah adalah shalat. Allah berfirman dalam QS Al-Ankabut/29 : 45 yang artinya:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji (tidak berprikemanusian) dan mungkar (melanggar aturan). dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al-Ankabut/29 : 45)


Percayakah kita kepada Allah? Jawabannya bukan dengan ucapan dalam mulut, tapi lakukan apa yang Dia perintahkan dan rasakan hasilnya. Lanjut ke Iman Kepada Allah (2)
Anda baru saja membaca Iman Kepada Allah (1) . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment