Saturday, January 9, 2016

Kategori:

Sosmed, Nikmat atau Kiamat?

Remaja zaman sekarang hampir tak ada yang nggak punya akun sosmed. Entah itu Facebook, Twitter, Instagram, BBM, WhatsApp, Path, dan banyak lagi lainnya. Tak jarang, banyak di antara mereka yang seolah tak bisa hidup tanpa sosmed. Bangun tidur, update status dulu. Sarapan, habis mandi, siap-siap berangkat sekolah, tiba di sekolah, ganti pelajaran, apapun dilaporkan di medsos.

Maraknya sosmed di zaman sekarang, apalagi disertai dengan smartphone yang harganya makin terjangkau, seharusnya sikap para pengguna juga kudu paham etikanya dong ya. Gimana sih etika berinteraksi di sosmed itu? 

Interaksi di sosmed

Sobat muda, hakikatnya, interaksi di sosmed miriplah dengan di dunia nyata. Di sana ada hal-hal positif yang bisa kita ambil manfaatnya seperti berbagi tautan tentang motivasi dan dakwah, misalnya. Berkumpul di grup hobi atau kegiatan sosial lainnya. Tapi pada saat yang sama, hal negatif juga mengintai di sosmed. Mulai dari bullying, bercanda melewati batas, saling memaki bahkan pacaran dan ajakan kemaksiatan lainnya.

Perbedaan pendapat mudah sekali tersulut di medsos karena salah paham. Beda pendapat itu biasa. Menjadi tidak biasa kalau sudah disertai aura permusuhan dan bullying terhadap pihak lain. Jangan sampai deh kita menjadi pihak yang suka mem-bully atau menyebarkan semangat permusuhan. Bilapun ada salah satu komentator yang ‘nyolot’ di status sosmed kita, maka hadapi dengan kepala dingin.

Ingat, ada hisab di balik sosmed

Bro en Sis rahimakumullah. Jelas, perbuat-an apapun meskipun sebesar debu tetap ada hisab di hari pembalasan kelak. Jangan dikira karena ini dunia maya, kita jadi bebas mau berbuat apa saja. Akidah seorang muslim terus dibawa sampai kapan pun dan di mana pun termasuk ketika kita ber-sosmed.

Jika dalam keseharian kita mengenal ungkapan “mulutmu adalah harimaumu”, atau jika dalam dunia media sosial, “statusmu adalah harimaumu”, maka Islam telah memperingatkan tentang pertanggungjawaban atas segala hal,

“Tidak ada satu kata yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)
(QS. Qaf: 18)

Sebaliknya, dengan memberikan informasi keagamaan atau menebarkan kebaikan apapun, media sosial bisa digunakan secara strategis sebagai sarana dakwah di tengah gersangnya kahazanah ilmu dan informasi yang seimbang tentang Islam.

Bijak dalam ber-sosmed

Sobat muda, sosmed itu ibarat pisau bermata dua. Teknologi ini bisa digunakan untuk kebaikan, bisa juga untuk kejahatan bin kemaksiatan. Tergantung manusianya mau memakainya untuk apa. Nah, karena kita adalah remaja muslim yang cerdas dan bertanggung jawab, tentu sosmed diguna-kan untuk hal yang baik-baik saja. Iya kan?

Ibaratnya, dunia ada di ujung jari. Bagaimana tidak? Kita bisa mencari informasi apapun hanya dengan menggerakkan jari di layar datar smartphone. Mbah Google siap menjawab apapun pertanyaan kita, asal kita nggak minta jawaban surga atau neraka sebagai tempat kembali. Hehe…just kidding. Maksudnya selama pertanyaan kita itu untuk mendukung prestasi belajar sekolah, do it!

Sayangnya, banyak remaja yang aktif ber-sosmed itu hanya untuk haha-hihi ria yang nggak penting dan gaje alias nggak jelas.

Padahal kalau mau, kita bisa meningkatkan kualitas diri dari sini. Bagaimana caranya? Banyak. Kita bisa gabung grup sesuai hobi kita. Bisa grup bahasa inggris, fisika, kimia, pecinta novel, penulis, info lomba-lomba, belajar islam, ilmu hadist, dan lain-lain. Berikut beberapa etika dalam bersosmed:

(1). Menyampaikan informasi dengan benar, juga tidak merekayasa atau memanipulasi     fakta (QS. Al-Hajj: 30)
(2). Bijaksana, memberi nasihat yang baik, serta argumentasi yang jelas, terstruktur, dan baik pula (QS. An-Nahl: 125).
(3). Meneliti fakta/cek-ricek. Untuk mencapai ketepatan data dan fakta sebagai bahan baku informasi yang akan disampaikan, seorang muslim hendaknya mengecek dan meneliti kebenaran fakta dengan informasi awal yang ia peroleh agar tidak terjadi kidzb,ghibah, fitnah dan namimah (QS. Al-Hujarat: 6).
(4). Tidak mengolok-olok, mencaci-maki, atau melakukan tindakan penghinaan sehingga menumbuhkan kebencian (QS. Al-Hujarat: 11).
(5).  Menghindari prasangka/su’udzon (QS. Al-Hujarat: 12).
(6). Hindari berlebihan mengeluh dan mencaeritakan aib sendiri di media sosial. Rasulullah SAW bersabda: ”Setiap umatku mendapat pemaafan kecuali orang yang menceritakan (aibnya sendiri). Sesungguhnya diantara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah swt kemudian di pagi harinya dia sendiri membuka apa yang ditutupi Allah itu.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Finally…
Milikilah semangat kebaikan dalam ber-sosmed. Buang jauh-jauh keinginan untuk bermaksiat sekecil apapun itu, baik dalam bentuk mencaci, menghujat, menyebarkan berita bohong dan foto atau gambar yang membuka aurat, dan lain sebagainya.

Dewasalah dalam ber-sosmed. Jangan sampai kemajuan teknologi yang ada tidak malah membaguskan amal kita di hadapan-Nya. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi hanya karena terlena dengan urusan sosmed sehingga banyak waktu terbuang sia-sia apalagi sampai menambah dosa. Jangan sampai juga, karena keasyikan di depan gadget, jadi lupa dengan kewajibannya sebagai anak yang sholih wa sholihah. 

Lebih gawat lagi kalo kita sampai lupa bahwa kita punya kewajiban mendirikan sholat, menggali ilmu Islam lebih dalam, mengaji al-Quran, dan sebagai pelajar kita juga wajib belajar. Jadi, yuk ber-sosmed dengan bijak dengan tetap mematuhi rambu-rambu syar’i yang ada!

Mari kita tengok lagi jejaring sosial kita, sudahkah digunakan untuk menyebarkan kebaikan? Sudahkah memberi ‘nikmat’ atau justru malah menjadi ‘kiamat’ bagi diri kita sendiri dan orang lain? Jawabannya ada pada sikap kita setelah membaca tulisan ini.

Anda baru saja membaca Sosmed, Nikmat atau Kiamat? . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment