Tuesday, February 2, 2016

Kategori:

Bye Bye Valentine

Sebentar lagi tanggal 14Februari, hari keramat bagi sebagian orang yang percaya bahwa pada hari itu adalah hari kasih sayang. Mereka punya hajat besar dengan merayakan sebuah hari yang dikenal dengan Valentine's Day (hari Valentine). Hajat besar  itu kini mem-budaya. Tak peduli itu di kalangan agama apapun, termasuk Muslim Indonesia.

Banyak pasangan muda mudi berekspresi dalam merayakannya, ada yang mem-berikan coklat, seikat mawar, kata-kata puitis, dan boneka. Banyak hal lucu yang terjadi di hari itu, seseorang yang biasa diam bisa jadi pujangga dadakan, yang tidak suka bunga tiba-tiba membelikan seikat bunga mawar kepada pasangannya sebagai tanda cinta, dan masih hal lainnya yang terjadi ketika merayakan hari Valentine itu.

Ada pertanyaan yang patut kita kemu-kakan. Bolehkan remaja Muslim ikut berkecimpung merayakannya? Apakah perayaan itu bagian dari kultur dan peradaban Islam sehingga kita harus ikut menyemarakkannya?

Background Historis Valentine’s Day

Bro en Sis rahimakumullah, kata 'Valentine', menurut satu versi diambil dari nama seorang pendeta 'pelayan tuhan' yang bernama Santo Valentine. Dia lah orang yang berani menolak kebijakan Kaisar Romawi Claudius melarang pernikahan dan pertunangan. Pelarangan ini berawal dari kesulitan pemerintahan Romawi merekrut pemuda dan para pria sebagai pasukan perang. Padahal pada masa itu, pemerintahan dalam keadaan perang dan sangat membutuhkan tenaga sebagai prajurit.
Sang Kaisar menganggap kesulitan ini berasal dari keengganan mereka meninggalkan kekasih, istri dan keluarga-nya. Oleh karenanya, Sang Kaisar mengeluarkan peraturan yang melarang pernikahan, karena pernikahan dianggap sebagai salah satu penghambat perkembangan politik Romawi. Peraturan ini kemudian ditolak oleh santo Valentine sehingga ia dihukum mati pada tanggal 14 Februari 270 M (versi lain tahun 269M). Hari itulah yang diabadikan oleh Paus Gelasius sebagai hari Valentine dan dijadikan momentum simbolik pengungkapan kasih sayang.

Kerawanan Moral Di hari Valentine
Valentine’s Day, harus diakui telah menjadi perayaan ‘akbar’ yang dihelat para remaja Indonesia. Bahkan, kemeriahannya mampu mengalahkan hari sumpah pemuda, hari Kartini hingga kemerdekaan RI. Apakah hal ini menandai semakin melunturnya semangat nasionalisme remaja Indonesia? Tentunya tanpa mengenyampingkan tunas muda di negeri ini yang masih memiliki rasa cinta terhadap negeri, budaya dan keanekaragaman hayatinya, faktanya perayaan Valentine’s Day mengalahkan hari-hari bersejarah negeri ini. Indikasi seperti ini, merupakan tanda telah tergerogotinya nasionalisme generasi Indonesia.

Valentine’s Day memang tengah menjadi virus mengerikan yang menjangkiti remaja Indonesia. Bukan karena tujuan perayaan ini, tapi lebih kepada kebiasaan-kebiasaan buruk seperti free sex, pesta alkohol, narkoba, pemborosan dan kemudharatan serta kemaksiatan lainnya.
Bisa kita lihat bahwa sejarah Valentine's Day tidak ada hubungannya sama sekali dengan budaya Islam, dan perayaannya pun tidak sesuai dengan ajaran Islam. Maka, kuranglah cerdas jika kaum Muslim dan secara khusus kalangan remajanya ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal, dan religius dengan mereka. Keikutsertaan remaja Muslim dalam "hura-hura" ini merupakan refleksi sebuah kekalahan dalam sebuah pertarungan mempertahan-kan identitas dirinya.
Hari Kasih Sayang Versi Islam
Emang ada ya Sob? Ada. peristiwa Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadhan, tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah yang dikuasai oleh kaum kafir Qurays. Pasukan Islam diizinkan oleh Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal. Rasulullah berpidato kepada ribuan pasukan kafir Qurays yang menjadi tawanan perang:

“…hadza laisa yaumul malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah,  wa antumut thulaqa….”.
(Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua merdeka, dan kembalilah ke keluarga kalian masing-masing)

Pasukan Islam yang mendengar pidato Rasulullah itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati, diperhinakan, dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan rampasan perang, harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.
Sementara pasukan Islam tidak mem-peroleh apa-apa. Sehingga mereka mengeluh dan memprotes kepada Rasulu-llah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: “Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?” Mereka menjawab: “Sekian tahun, sekian tahun”. “Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak mencintai kalian?”
Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: “Kalian memi-lih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. 
Sebagai generasi muda muslim, kita harus bisa memfiltrasi ajaran dan pemikiran yang bukan berasal dari Islam. Bagi kalian, generasi muda muslim yang membaca tulisan ini dan dengan tegas telah menyatakan “bye-bye Valentine”, maka selamat! Kalian sudah memenangkan salah satu dari ribuan serangan budaya dan akidah terhadap generasi Islam.

***
TINJAUAN HUKUM MERAYAKAN VALENTINE
(1) Kufur, jika merayakan dengan motif mengakui/ ridla atas ajaran kufur dalam Valentine, atau merasa tertarik pada agama mereka.
(2) Haram, jika merayakan dengan motif berpartisipasi memeriahkan Hari Valentine sebagai perayaan milik non muslim, meskipun tidak mengerti fungsi religinya.
(3)  Makruh, jika merayakan tanpa dua motif di atas, hanya sekedar ikut-ikutan, bahkan tidak memahami bahwa Valentine adalah milik non muslim dan tidak ada maksud meniru tradisi non muslim.
Referensi:
1. Fataawa Ibn Hajar al-Haytamy IV/238
2. Bughyah al-Mustarsyidiin I/528
3. Is’aad ar-Rafiiq II/128

MUTIARA HADITS
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Ahmad dan Abu Daud)



Anda baru saja membaca Bye Bye Valentine . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment