Saturday, February 27, 2016

Kategori: ,

Festival Gerobak Sapi, Ajang Unjuk Budaya Para Petani

Nusantara adalah negeri kepulauan yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke di Papua, dari Miangas sampai ke pulau Rote di Nusa Tenggara sana. Nusantara adalah sebutan bagi negeri Indonesia, negeri eksotik dengan segala macam keanekaragamannya, salah satunya adalah keanekaragaman budaya.

Berbicara tentang budaya, tidak diragukan lagi bahwa di setiap daerah di Nusantara ini mempunyai kekayaan budaya yang masing-masing mempunyai filosofi dan daya tarik sendiri-sendiri. Demikian juga di tempat tinggal saya, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten yang terkenal dengan kawasan cagar budayanya, yaitu peninggalan sejarah berupa candi-candi. Di antaranya adalah candi Bubrah, candi Plaosan, candi Sewu, candi Lumbung, candi Sojiwan, dan lain-lain. Namun, bukan hanya candi saja yang menjadi daya tarik daerah ini, melainkan ada sebuah festival unik yang sering digelar dalam momentum tertentu yang pemeran utamanya adalah sapi dan ‘bajingan’.

Kata sapi mungkin sudah sangat ramah kita dengar di telinga, tapi kata ‘bajingan’ bagi sebagian orang merupakan kata yang artinya berkonotasi negatif. Namun jangan khawatir, ‘bajingan’ yang dimaksud di sini adalah ‘pengendara gerobak sapi’. Dan festival yang saya maksud adalah festival gerobak sapi, yaitu event budaya nan unik di Prambanan dan sekitarnya di mana ratusan gerobak sapi berkonvoi di jalanan.
Menyaksikan kendaraan motor dari komunitas motor berkonvoi di jalanan sepertinya sudah menjadi hal yang biasa, namun menyaksikan ratusan gerobak sapi berkonvoi di jalanan seakan-akan kita diajak memutar waktu kembali ke masa lalu. Masa ketika gerobak sapi menjadi andalan alat angkut hasil bumi kaum petani. Tak jarang, dahulu kala para petani memasarkan produknya sampai ke luar kota yang memakan waktu lama. Sehingga mereka sampai harus bermalam dan tidur di dalam gerobak.

Dan pemandangan itulah yang dapat saya temukan ketika menyaksikan festival gerobak sapi ini beberapa waktu yang lalu. Bedanya, gerobak di festival ini sudah dicat dengan warna-warni yang semarak, serta dihias dengan berbagai macam ornamen yang membuat suasana lebih terasa hidup.

Adapun maksud dan tujuan kegiatan festival ini adalah untuk melestarikan dan mengenalkan kepada generasi muda pada salah satu hasil kebudayaan nenek moyang berupa alat transportasi darat, yakni gerobak sapi yang sangat populer pada zamannya itu dan kini mulai ditinggalkan. Dengan demikian diharapkan dengan festival ini dapat membangkitkan wisata lokal dan mengingatkan orang-orang tua untuk bernostalgia.
Dalam kegiatan itu, para peserta yang berasal Prambanan dan daerah-daerah sekitarnya biasanya berjalan mengitari kampung, menempuh jarak beberapa kilometer dan kemudian finish di suatu tempat yang lapang. Ketika saya menyaksikan beberapa waktu yang lalu, festival ini diikuti lebih dari seratus lima puluhan gerobak sapi. Konvoi dimulai dari lapangan Krido Buwono desa Tlogo menuju kompleks Candi Plaosan melewati Jalan Yogya Solo, Taji dan berakhir di kompleks Candi Plaosan Prambanan.

Sepanjang perjalanan, konvoi gerobak sapi ini seakan mengembalikan suasana alam agraris. Jalan-jalan dipenuhi gerobak sapi. Tak ada kendaraan bermotor. Bunyi klunthung-klunthung dari ayunan genta di leher sapi dan derit kayu gerobak menciptakan alunan ritmis. Perjalanan gerobak yang lambat semakin memanjakan mata warga yang berjajar menyaksikan di sepanjang jalan. Dan jika gerobak kosong dan ‘bajingan’ tak keberatan, penonton pun boleh ikut naik untuk sekedar menikmati romantika menaiki kendaraan masa lalu itu.
Setelah rombongan konvoi gerobak sapi telah sampai di garis finish, maka saatnya dewan juri menilai masing-masing peserta. Mereka mencermati setiap sudut gerobak sapi, kemudian memberikan penilaian berdasarkan pada kriteria tertentu. Peserta konvoi berkesempatan pula mendapat hadiah kejutan (door prize) berupa alat-alat pertanian. Namun sesungguhnya, bagi para ‘bajingan’ yang rata-rata adalah kaum tani ini, hadiah bukanlah yang terpenting. Melainkan bersosialisasi dan bersilaturrahmi antar para penggemar grobak berikut sapinya yang terpenting.

Festival gerobak sapi di Prambanan sendiri baru dimulai beberapa tahun terakhir ini. Dan dampak positifnya adalah selain meningkatkan harga jual sapi, juga ikut menggerakkan ekonomi kreatif. Terutama, yang berhubungan dengan aksesoris gerobak. Dan yang lebih penting adalah mengembalikan dan menumbuhkan nilai-nilai budaya yang sekian lama sempat tenggelam.
Di zaman modern ini, ketika sarana transportasi kian berkembang pesat, keberadaan gerobak sapi sudah tergantikan oleh ‘sapi besi’, yaitu truk atau pick up. Masyarakat modern jarang menjumpai gerobak sapi yang terbuat dari kayu, dengan segala macam aksesorisnya. Padahal sejatinya, gerobak sapi adalah kendaraan yang ramah lingkungan dan tak butuh BBM (bahan bakar minyak). Kotoran sapinya pun bisa dijadikan pupuk organik untuk tanaman.

Jika Anda berkunjung ke Prambanan, dan kebetulan bersamaan dengan digelarnya festival ini, coba sempatkan waktu untuk menyaksikannya. Dijamin Anda tidak akan kecewa. Gerobak adalah bagian dari budaya, sapi dan 'bajingan' yang menyempurnakan... Salam ‘klunthung klunthung....’


*Sumber gambar: Google

*********
" Terimakasih @gramediabooks telah menjadikan tulisan ini sebagai salah satu pemenang dalam Gramedia Blogger Competition dengan tema "Eksplorasi Budayamu".

Anda baru saja membaca Festival Gerobak Sapi, Ajang Unjuk Budaya Para Petani . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

2 komentar: