Kategori: , , ,

Merespon Hoax, Diam Bukan Pilihan

Anti Hoax Sang Pendidik

Indonesia boleh saja menjadi satu di antara sepuluh negara dengan koneksi internet paling lambat di dunia versi OpenSignal, perusahaan telekomunikasi yang berbasis di London, Inggris. Lebih tepatnya, negara kita menduduki peringkat ke-80 dari 87 negara yang dijadikan sampel dalam survei yang dilakukan pada periode November 2016 hingga Januari 2017 itu.

Namun siapa sangka, di tengah keterbatasan kecepatan akses internet tersebut, ternyata pertumbuhan pengguna internet di Indonesia pada awal tahun 2017 itu justru meningkat tajam sebesar 51 persen dari tahun sebelumnya. Angka yang luar biasa tentunya. Mengingat, menurut riset We Are Social dan Hootsuite, angka tersebut merupakan yang terbesar di dunia, mengungguli Filipina dan Meksiko yang masing-masing memiliki angka pertumbuhan sebesar 27 persen. Bahkan pertumbuhan pengguna internet di negara kita, jauh melebihi pertumbuhan rata-rata global yang hanya berkisar di angka 10 persen saja.
Cukup membanggakan? Tentu, karena fakta tersebut menandakan bahwa masyarakat kita memiliki motivasi yang tinggi untuk tidak tertinggal dari masyarakat negara lain dalam hal teknologi. Lebih dari itu, tingginya pertumbuhan pengguna internet juga merupakan potensi yang baik bagi peningkatan mutu SDM kita. Bagaimana tidak, kini ruang internet tak ubahnya seperti sebuah perpustakaan besar. Di dalamnya tersimpan koleksi jutaan atau bahkan milyaran informasi dan berita yang up to date bagi penggunanya.

Tak bisa dipungkiri, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang sedemikian pesatnya itu memang berdampak positif yang luar biasa. Akan tetapi, internet yang merupakan bagian dari arus globalisasi ini laksana pedang bermata dua, ada dampak positif dan negatifnya. Maka dari itu, sebagai warganet yang bijak, kita harus benar-benar memahami, bahwa di balik ‘berkah’ potensi besar pertumbuhan pengguna internet itu juga terdapat dampak negatif yang sedemikian besar. Satu di antaranya adalah keberadaan berita hoax atau informasi bohong yang akhir-akhir ini kian masif bertebaran di lini masa kita. Hal tersebut sudah pasti akan menjadi ‘musibah’ yang akan membahayakan penggunanya dan orang lain.

Menakar Dampak Negatif Informasi Hoax

Meski baru mengambil peran utama dalam pentas diskusi publik di Indonesia pada beberapa dasawarsa terakhir ini, sebenarnya informasi hoax punya akar sejarah yang panjang di dunia. Setidaknya terlihat dari tulisan Richard A. Locke dalam koran The Sun yang sempat menggegerkan publik di tahun 1835 silam. Di harian tersebut, dengan meminjam nama besar astronom Sir John Herschel, Locke menulis serial artikel yang berjudul “The Great Moon Hoax”. Adapun isinya adalah sebuah informasi bohong tentang penemuan kehidupan dan peradaban di bulan.

Kasus hoax koran The Sun itu memang hampir dua abad sudah telah berlalu. Namun ternyata, keberadaan informasi hoax tidak pernah usang dimakan waktu. Justru sebaliknya, eksistensi informasi hoax dalam kapasitas global semakin meningkat. Mulai dari kabar palsu seperti penampakan tembok China dari luar angkasa, berita-berita palsu tentang kesehatan, hingga ribuan kabar hoax yang bertebaran menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat di tahun 2016 yang lalu.
Di Indonesia sendiri, keberadaan hoax berbanding lurus dengan pertumbuhan pengguna internet yang meningkat tajam. Hampir setiap saat, keberadaan informasi hoax selalu kita temukan di media internet. Entah itu berupa pesan berantai yang disebarkan melalui aplikasi chatting, ataupun berupa tulisan yang diposting di media-media sosial. Motif pembuatan dan penyebarannya pun beragam. Ada yang sekadar iseng, black campaign untuk menjatuhkan pesaing, promosi dengan penipuan, ajakan untuk berbuat sesuatu yang tidak berdasar, dan lain sebagainya.

Sebagai contoh saja, hoax tentang autisme pada imunisasi MR yang membuat resah para orang tua beberapa waktu yang lalu. Karena keterbatasan pengetahuan, banyak sekali masyarakat di sekitar kita yang kemudian menolak untuk melakukan imunisasi MR. Padahal hingga saat ini, tidak ada satu bukti ilmiah pun yang mengatakan bahwa imunisasi MR itu berkaitan dengan autisme.

Contoh lain adalah pesan berantai yang mencatut nama IDI tentang bahaya Aspartam yang bisa menyebabkan batuk dan memicu pengerasan otak. Masyarakat pun kembali resah, hingga IDI memberikan klarifikasi bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. BPOM pun, sebagai pihak yang berkompeten dalam hal pengawasan obat dan makanan, kemudian memberikan pernyataan bahwa kandungan Aspartam pada makanan dan minuman masuk dalam kategori aman, selama penggunaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dan masih banyak sekali informasi-informasi hoax lain yang siap menjadi santapan pengguna internet.
Lantas, sebenarnya seberapa besar dampak negatif hoax bagi masyarakat? Dampaknya tentu berbeda-beda tergantung dari konten informasi hoax itu sendiri. Selain meresahkan masyarakat sebagaimana contoh-contoh di atas, informasi hoax juga merugikan pembacanya, baik dari segi waktu maupun materi. Bagaimana tidak, waktu dan kuota internet yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang produktif, harus terbuang sia-sia hanya untuk membaca informasi bohong yang sama sekali tidak berguna.

Dampak negatif lainnya, hoax akan menciptakan reputasi buruk bagi pihak-pihak tertentu dan membunuh karakter seseorang. Bahkan hoax juga bisa menyulut emosi, kebencian, dan kemarahan masyarakat, jika konten hoax berisi tentang informasi palsu yang disertai dengan ujaran kebencian dan berita provokatif. Adapun dampak yang paling buruk adalah jika hoax sudah menyangkut masalah yang sensitif seperti halnya SARA. Akibatnya, hoax bisa memicu terjadinya kerusuhan, pembunuhan, bahkan disintegrasi bangsa. Terlihat begitu mengerikan, bukan?

Merespon Hoax, Diam Bukan Pilihan

Melihat berbagai dampak negatif dari informasi dan berita hoax yang begitu dahsyat, maka bersikap diam bukanlah pilihan yang tepat untuk merespon keberadaan hoax. Semua stakeholder harus bersepakat untuk berjihad melawan hoax. Caranya yaitu dengan membentengi diri sendiri, anak, keluarga, peserta didik, dan masyarakat dari berita hoax. Adapun salah satu strategi yang bisa ditempuh, yaitu dengan melakukan edukasi tentang dampak negatif hoax serta cara mengidentifikasinya.

Bagaimana cara mengidentifikasi hoax? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Pertama, memeriksa kembali judul berita atau informasi yang provokatif. Berita dan informasi hoax sering kali dibubuhi dengan judul sensasional yang provokatif. Oleh sebab itu, jika kita menjumpai berita dengan judul provokatif, sebaiknya segera mencari referensi berita serupa dari situs-situs resmi yang ada, kemudian membandingkan isinya.
Kedua, mencermati dan mengecek alamat situs, jika informasi atau berita yang provokatif dan meresahkan itu diperoleh dari sebuah website. Caranya, dengan mengecek status situs tersebut di website resmi Dewan Pers melalui laman dewanpers.or.id/perusahaan. Jika status situs tersebut belum terverifikasi, baik secara faktual maupun administrasi, bisa dikatakan bahwa berita dan informasinya belum memenuhi kaidah jurnalistik sesuai aturan Dewan Pers, sehingga patut untuk diragukan kebenarannya.

Ketiga, bedakan fakta dengan opini. Sebisa mungkin, sebagai pembaca yang bijak, kita tidak menelan mentah-mentah ucapan seorang yang dikutip oleh situs berita. Perhatikan keberimbangan sumber berita, apakah sekadar opini yang cenderung bersifat subyektif atau memang didukung fakta-fakta yang dilengkapi dengan kesaksian dan bukti. Semakin banyak fakta yang termuat dalam sebuah berita, maka semakin tinggi pula tingkat kredibilitas sebuah berita. Begitu juga sebaliknya.

Keempat, mengecek keaslian foto. Di era teknologi digital seperti saat ini, tidak hanya teks saja yang bisa dimanipulasi, melainkan konten berupa foto pun kerap diedit untuk memprovokasi pembaca. Untuk mengecek keaslian foto, kita bisa memanfaatkan mesin pencari Google. Caranya adalah dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Dari hasil pencarian tersebut, akan tampil gambar-gambar serupa yang terdapat di internet. Selanjutnya, kita tinggal membandingkannya.

Cara lainnya, yaitu dengan mengunduh foto, kemudian membukanya melalui Windows Explorer. Klik kanan pada foto tersebut, klik Properties, kemudian klik Details, dan perhatikanlah hasilnya. Jika hasil yang ditampilkan hanya informasi width, height, dan resolution saja, kemungkinan besar foto tersebut tidak asli. Menurut para ahli fotografi, foto yang asli tidak hanya menampilkan data ukuran foto saja, melainkan akan menampilkan data lengkap tentang foto, seperti jenis dan nama camera, software, color, tanggal dibuat dan lain-lain.

Kelima, mencari klarifikasi terhadap sebuah informasi atau berita. Salah satu caranya, yaitu dengan mengaksesnya melalui grup-grup diskusi anti hoax. Sebagai contoh saja di Facebook, kita dapat bergabung di beberapa fanspage dan grup diskusi anti hoax, seperti Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanspage Indonesian Hoaxes, Fanspage dan Group Indonesian Hoax Buster, dan lain sebagainya. Di grup-grup diskusi ini, kita juga bisa bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan kepada anggota yang lain.

Menggiatkan Literasi Digital

Selain dengan melakukan edukasi tentang dampak negatif hoax serta cara mengidentifikasinya, peredaran hoax yang kian masif juga harus ditangkal dengan strategi yang tak kalah agresif, yakni dengan menggiatkan literasi digital. Dalam bahasa sederhana, literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan informasi dari berbagai sumber digital secara efektif dan efisien. Kemampuan ini mencakup banyak aspek, mulai mengakses, memahami, menyebarluaskan, hingga membuat konten digital yang  bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Jika ‘dunia maya’ diibaratkan sebuah medan perang antara konten positif dan negatif, literasi digital adalah senjata yang ampuh untuk menghindarkan diri dari aktivitas-aktivitas negatif, termasuk peredaran informasi dan berita hoax. Oleh karena itu, sudah semestinya pembelajaran literasi digital ini diberikan kepada masyarakat, baik melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan masyarakat.

Dalam lingkup sekolah, literasi digital dapat dimasukkan ke dalam semua mata pelajaran yang ada. Salah satu caranya, yaitu dengan memanfaatkan konten digital, baik berupa artikel, gambar, ataupun video yang diambil dari internet untuk pembelajaran. Strateginya sangatlah sederhana. Sebelum membaca konten digital tersebut, peserta didik diminta untuk membuat prediksi dan mengidentifikasi tujuan membacanya terlebih dahulu.

Saat membaca konten digital, peserta didik diminta untuk mengidentifikasi informasi yang relevan, membuat informasi, dan membuat keterkaitan. Setelah itu, peserta didik diminta untuk membuat ringkasan, mengevaluasi isi konten, kemudian mengonfirmasi, merevisi, ataupun menolak prediksi. Dengan strategi tersebut, maka selain peserta didik mampu mengidentifikasi tentang benar tidaknya sebuah konten, mereka juga akan memahami tentang bagaimana sikap yang baik saat menggunakan media digital.
Adapun dalam pendidikan masyarakat, pembelajaran literasi digital bisa dilakukan melalui kelompok pengajian, PKK, Karang Taruna, komunitas hobi, dan lain sebagainya. Melalui forum-forum tersebut, masyarakat bisa diajak untuk bersama-sama memahami bahwa media digital itu ibarat sekeping mata uang. Di satu sisi ada kebebasan informasi, dan di sisi lainnya ada pelanggaran privasi. Dengan begitu, maka masyarakat akan dapat mengakses, memahami, kemudian memilah dan memilih jenis informasi mana yang bermanfaat baginya.

Namun, usaha menggiatkan literasi digital tentu tidak boleh hanya berhenti di situ saja. Literasi digital tidaklah cukup hanya sekadar menjadikan kita sebagai konsumen media yang bijak semata. Dalam level kecerdasan literasi digital yang lebih tinggi, masyarakat juga dituntut untuk bersama-sama menjadi produsen sekaligus distributor konten-konten positif. Jika masyarakat kita sudah cerdas dalam berliterasi digital, mereka tentu akan mampu bertindak dengan bijak saat menemukan informasi hoax.

Apa saja yang harus dilakukan saat menemukan informasi hoax? Sebagaimana pengalaman saya, ada banyak hal yang harus dilakukan. Pertama, jangan pernah sekali-kali membagikan informasi tersebut. Dengan begitu, maka informasi hoax tidak akan memakan lebih banyak korban. Kedua, segera melakukan screen capture informasi hoax yang kita temukan berikut url link-nya, kemudian melaporkannya melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Ketiga, mencari klarifikasi dari pihak yang terkait dengan informasi tersebut, kemudian membagikannya melalui media-media sosial yang kita miliki. Jika tidak ditemukan klarifikasinya, dan kebetulan kita menguasai keilmuan terkait konten hoax tersebut, alangkah baiknya jika kita juga bisa menciptakan konten digital sendiri untuk membantah informasi hoax tersebut. Konten digital tersebut bisa berupa artikel ataupun video yang dipublikasikan di internet, kemudian dibagikan kepada orang lain.
Jika semua masyarakat mampu dan mau menerapkan langkah-langkah tersebut, dominasi konten-konten hoax di pentas diskusi publik pun akan tersisih dengan sendirinya. Namun, agar tugas masyarakat memerangi hoax ini lebih terasa ringan, kita semua tentu berharap agar pemerintah melalui Kementerian Kominfo tetap proaktif dan preventif dalam mengatasi hoax. Hoax adalah musuh bersama, sehingga pemerintah dan masyarakat harus bergandengan tangan untuk menangkalnya. Diam, bukanlah pilihan yang tepat untuk merespon keberadaan hoax yang belakangan ini semakin marak bergentayangan di ruang publik. Mari, bersama-sama perangi hoax!


#AntiHoax #Marimas #PGRIJateng

Daftar Pustaka:

Badan POM. “Bantahan Atas Berita Terkait dengan Keamanan Aspartam.” http://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/pers/223/Bantahan-Atas-Berita-Terkait-denganKeamanan-Aspartam.html (diakses tanggal 24 Oktober 2017)

Direktorat Pembinaan SMA. 2017. “Literasi dalam Pembelajaran”. Jakarta: Kemendikbud

Harley, David. “Common Hoaxes and Chain Letters Volume 1.” https://www.welivesecurity.com/media_files/white-papers/CommonHoaxes+ChainLetters%28May2008%29.pdf (diakses tanggal 20 Oktober 2017)

Herlina S., Dyna. “Membangun Karakter Bangsa melalui Literasi Digital.” http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/dyna-herlina-suwarto-msc/membangun-karakter-bangsa-melalui-literasi-digital.pdf (diakses tanggal 24 Oktober 2017)

Ikatan Dokter Indonesia. “Rumor Bahaya Aspartam Bukan Statement IDI.” http://www.idionline.org/press-release/rumor-bahaya-aspartam-bukan-statement-idi/  (diakses tanggal 24 Oktober 2017)

Katadata News and Research. “Pertumbuhan Pengguna Internet, Indonesia Nomor 1 di Dunia.” http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/05/22/pertumbuhan-pengguna-internet-indonesia-nomor-1-di-dunia (diakses 24 Oktober 2017)

OpenSignal. “Global State of Mobile Networks.” https://opensignal.com/reports/2017/02/global-state-of-the-mobile-network (diakses 24 Oktober 2017)

The Museum of Hoaxes. “The Great Moon Hoax.” http://hoaxes.org/archive/permalink/the_great_moon_hoax (diakses 20 Oktober 2017)

Anda baru saja membaca Merespon Hoax, Diam Bukan Pilihan . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment