Tuesday, November 29, 2016

Kategori: ,

Mengembangkan Payung di Tengah Badai

Pak Harjono, demikian tetangga-tetangga memanggilnya. Beliau adalah salah satu pengrajin payung lukis yang masih tersisa di tengah gerusan zaman. Usianya memang sudah tak muda lagi, sudah jauh meninggalkan kepala enam. Namun, semangatnya dalam menjaga kelestarian seni budaya Indonesia patut diacungi jempol.

Ketika berkunjung ke rumahnya beberapa waktu yang lalu, tampak beberapa tumpukan payung berwarna-warni dan puluhan kaleng cat yang berserakan di teras rumahnya. Di sebuah gang sempit yang berada di sebuah kampung, sekitar 22 km arah timur laut pusat kota Klaten inilah salah satu bengkel seni payung lukis yang pernah jaya di masanya berada. Tepatnya di Dusun Gebungan, Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Klaten.

“Sayang sekali, Mas.. Baru sepuluh menit yang lalu istri saya mengantarkan pesanan payung ke Jogja. Jadi, yang tersisa hanya payung polos untuk kiriman berikutnya,” ujarnya membuka percakapan. Untuk kemudian bercerita panjang lebar tentang payung fantasi, payung yang terbuat dari kain atau kertas bergambar bunga warna-warni.

Pak Harjono adalah generasi ketiga yang tinggal di kampung penghasil kerajinan payung, Kwarasan. Ketika saya memperhatikan beliau, nampak sekali tatapan matanya yang berat. Entah karena terlalu lelah ataupun kurang tidur. Tapi dari apa yang saya lihat serta kisah hidup yang beliau ceritakan, saya masih menyaksikan dengan jelas sisa-sisa semangatnya untuk mengarungi pahit manisnya kehidupan.
Pemandangan di salah satu sudut Kampung Payung Lukis Kwarasan

Dari cerita panjang Pak Harjono, saya juga tahu bahwa kerajinan payung lukis ini pernah berjaya  dan populer di masa lalu. Ya, mungkin sama populernya dengan lagu “Payung Fantasi” karya Pak Ismail Marzuki di awal tahun 1960-an.
“Payung fantasi melambai disinar pagi.. Hai, hai, cantik nian.. Boleh kupandang wajahmu secantik bintang, bolehkah disayang?”
Begitulah penggalan lirik lagu yang tercipta di tahun 1955. Kini, lebih dari 60 tahun sudah masa itu berlalu, tapi masih saja lagu itu sering dinyanyikan. Bahkan, kalau kita mau menelusurinya di dunia maya, maka kita akan menemukan beberapa versi anyar dari lagu lama ini. Salah satunya, dalam nuansa jazz yang ditembangkan oleh Shelomita berkolaborasi dengan Opuster Big Band pada tahun 2006 silam. 

Kepopuleran lagu Payung Fantasi tersebut tentu berbanding terbalik dengan kisah kerajinan payung fantasi, payung lukis yang ada di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring ini. Menurut catatan sejarah, daerah Juwiring ini menjadi sentra penghasil kerajinan payung lukis sejak tahun 1800-an. Konon, masyarakat di daerah ini secara turun temurun menekuni profesi sebagai pengrajin payung lukis. Hampir seluruh penduduk di enam dukuh di desa ini saat itu berprofesi sebagai pembuat payung.

Dahulu, menurut cerita para orang tua di daerah Juwiring, begitu memasuki desa ini, akan terlihat payung warna warni memenuhi rumah-rumah penduduk. Di halaman rumah yang luas, biasanya payung-payung berjajar untuk dijemur. Sepanjang harinya, orang-orang desa sibuk membelah kayu-kayu pohon melinjo, memotongnya, kemudian menjemurnya hingga benar-benar kering untuk kemudian dibuat sebagai kerangka payung. Mereka juga memotong bilah-bilah bambu untuk  jeruji  payung, memotong dan mengelem kertas ataupun kain, serta melukis gambar bunga.
Masih ada jajaran payung di jemuran, tapi tak seramai dulu

Hasil kerajinan payung lukis dari masyarakat desa, kemudian ditampung oleh lembaga semacam koperasi. Pinda Aneka, namanya. Tercatat, selama periode 1960-1970, koperasi ini rata-rata bisa memasarkan 40 ribu payung per bulan. Sehingga tak heran jika payung lukis ini menjadi gantungan hidup bagi 400 kepala keluarga di Desa Kwarasan ketika itu.

Kerajinan payung lukis berbahan kain dan kertas Juwiring juga terbukti kepopulerannya di kalangan Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Selama berpuluh-puluh tahun, payung lukis ini selalu bisa ditemukan dalam Upacara Suronan serta Muludan. Tak hanya itu, payung lukis ini juga digunakan masyarakat Bali dalam upacara keagamaan. Bahkan, payung lukis hasil karya para pengrajin di daerah Juwiring ini juga pernah dipasarkan oleh pemerintah Indonesia ke wisatawan mancanegara, seperti Jepang, Suriname dan Kamboja.

Namun, keadaannya mulai berubah. Di awal tahun 1970-an, keberadaan Pinda Aneka mulai tersisihkan dan bangkrut karena tak mampu bersaing dengan kehadiran payung impor dari China. Eksistensi kerajinan payung lukis Pinda Aneka akhirnya harus terhenti pada tahun 1998, saat krisis moneter melanda Indonesia. Pesanan payung lukis dalam jumlah besar yang biasanya diterima oleh para pengrajin, tiba-tiba menurun drastis. Sehingga, secara perlahan, pangsa pasar payung lukis semakin menyempit. Akibatnya, demi dapur tetap mengepul, para pengrajin pun beralih ke profesi lainnya.
Infografis payung lukis Juwiring dari masa ke masa

Amat disayangkan memang. Mengingat payung lukis ini tak sekedar sumber mata pencaharian masyarakat saja, melainkan juga bagian dari budaya daerah sekaligus budaya bangsa yang seharusnya tetap lestari. Keterbatasan modal serta gagalnya regenerasi pengrajin payung di daerah Juwiring disinyalir juga menjadi salah satu permasalahan dalam upaya membangkitkan kembali kelestariannya. Bahkan, pada awal tahun 2015 kemarin tercatat hanya ada 11 pengrajin payung di daerah itu. Jika ditambah pembuat rangka atau jeruji, tercatat 50 orang yang masih setia menekuni produksi payung.

Beruntung sekali, di tengah kondisi yang tak pasti ini masih ada pihak-pihak yang masih peduli terhadap aktivitas perekonomian masyarakat yang juga menjadi salah satu warisan budaya ini. Satu di antaranya adalah PT. Asuransi Astra Buana, salah satu anak perusahaan dari Astra Internasional Tbk, perusahaan multinasional yang berdiri tahun 1957 silam. Terhitung sejak 17 Juni 2015 kemarin, PT. Asuransi Astra Buana melalui salah satu produknya Asuransi Astra Syariah meneken kerjasama Program Pemberdayaan Pengrajin Payung Lukis dengan salah satu lembaga sosial, Dompet Dhuafa Republika.
Penandatanganan (atas) dan launching (bawah) Program Pemberdayaan Pengrajin Payung Lukis

Penandatanganan kerjasama Program Pemberdayaan Pengrajin Payung Lukis tersebut merupakan salah satu kegiatan untuk menyalurkan Dana Sosial dari peserta Asuransi Astra Syariah. Tujuannya tak lain adalah untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat, terkhusus bagi para pengrajin payung lukis yang ada di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah. Program pemberdayaan itu sendiri diluncurkan di Juwiring dua bulan sesudahnya, yakni pada tanggal 15 September 2015 silam.

Dalam kegiatan tersebut, Asuransi Astra Syariah menyalurkan bantuan dana sosial sebesar Rp.392.550.000 kepada 25 orang pengrajin payung lukis di Juwiring untuk proyek selama dua tahun. Dengan bantuan modal berupa dana tersebut, diharapkan kedua puluh lima pengrajin payung lukis di Juwiring bisa meningkatkan kapasitas produksinya. Selain bantuan modal, melalui program ini, para pengrajin juga akan mendapatkan pendampingan, pelatihan dan penguatan usaha. Sehingga akan muncul demand dari produk jasa dan barang yang mereka hasilkan. Pada akhirnya diharapkan akan tercipta proses supply chain yang berkelanjutan untuk menjaga kelestarian seni budaya Indonesia.

Dan terbukti, lebih dari setahun sudah sejak program itu digulirkan, saat ini para pengrajin payung lukis, termasuk Pak Harjono bisa tersenyum lagi. Sebabnya tak lain, karena payung-payung mereka kini mulai mengembang kembali. Tak hanya mengembang di depan rumah-rumah mereka, akan tetapi juga mengembang di berbagai pameran payung, termasuk dalam Festival Payung Indonesia (FPI) ke-3 yang digelar pada bulan September 2016 kemarin di Taman Balekambang, Solo. Kini, mereka kebanjiran pesanan paling tidak 2000 payung perbulannya.
Payung lukis Juwiring ikut hadir di FPI 2016 di Solo

Tentu bukan hanya Pak Harjono beserta kawan-kawannya saja yang patut untuk diapresiasi dalam rangka membangkitkan dan mengembangkan kembali salah satu budaya daerah. Terimakasih yang tiada terkira juga patut kita anugerahkan kepada Astra Internasional Tbk melalui anak perusahaannya, PT. Asuransi Astra Buana. Astra Internasional Tbk yang tahun depan memasuki usianya yang kepala enam ini terbukti telah berperan besar dalam mengembangkan payung di tengah badai perekonomian yang dihadapi para pengrajin payung.

Entah apa jadinya jika PT. Asuransi Astra Buana tidak menggulirkan Program Pemberdayaan Pengrajin Payung Lukis di Juwiring saat itu. Mungkin, payung lukis Juwiring tidak lagi berkembang seperti sekarang. Atau bahkan kita tinggal menunggu waktu saja, maka payung lukis Juwiring beberapa tahun ke depan hanya akan menyisakan sebuah cerita. Dan sepertinya PT. Asuransi Astra Buana ini memang menjadi jawaban dari pertanyaan Pak Ismail Marzuki 60 tahun silam dalam lagunya,
“Lenggang mengorak menarik hati serentak.. Hai, hai, siapa dia? Wajah sembunyi di balik payung fantasi.. Hai, hai, siapa dia?”
Alasannya, tentu karena perusahaan yang mengeluarkan produk Asuransi Astra Syariah pada tanggal 16 Maret 2005 inilah yang membuat payung-payung lukis di Juwiring terkembang kembali. Tak hanya payung-payung lukisnya, senyum para pengrajin juga semakin terkembang menghiasi hari-hari mereka.

Terimakasih dan selamat menyongsong HUT ke-60, Astra. Sebagaimana lagu Payung Fantasi-nya Pak Ismail Marzuki yang tetap populer, ataupun semangatnya Pak Harjono di usia lanjutnya, maka tetaplah populer dalam menginspirasi dan berkarya untuk bangsa. Salam SATU Indonesia!




Anda baru saja membaca Mengembangkan Payung di Tengah Badai . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment