Kategori:

Rumah Pintar yang Mengubah Peradaban

Senyum remaja berkerudung merah jambu itu terlihat mengembang tatkala menyambut pengunjung yang datang di Rumah Pintar Ngalang. Raut wajahnya tampak antusias ketika rumah dua lantai yang berdiri megah itu dikunjungi oleh banyak orang. Ayu, demikian remaja itu kerap disapa. Usianya memang boleh dibilang masih sangat belia. Namun siapa sangka, semangatnya untuk memajukan masyarakat desanya ternyata sungguh sangatlah luar biasa.

Ayu, remaja 15 tahun ini adalah salah satu remaja yang menambatkan hatinya pada Rumah Pintar Ngalang. Hampir tiap hari sepulang sekolah, ia selalu datang ke Rumah Pintar yang didirikan pada tahun 2014 silam itu. Bahkan, sepanjang hari Minggu, remaja bernama lengkap Febriani Nur Rahayu ini pun sering kali menghabiskan waktunya di sana.

Seperti hari Minggu belum lama ini, ketika saya berkunjung ke Rumah Pintar Ngalang. Siang itu, Ayu tampak sedang memberikan bimbingan kepada anak-anak kecil yang sedang belajar bersama. Terlihat jelas, bagaimana anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu begitu asyik belajar bersama Ayu. Sesekali tawa mereka terdengar lepas menghangatkan dinginnya udara pegunungan.

Tak lama, usai memberikan bimbingan, remaja yang tengah duduk di bangku SMA ini pun menyambut saya dengan senyum khasnya.

“Kalau hari Minggu, di sini ramai anak-anak, Mas,” ujarnya membuka percakapan. Sesaat kemudian, ia mulai bercerita tentang aktivitasnya di Rumah Pintar Ngalang, Rumah Pintar yang terletak di Dusun Karang, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul itu.
Beberapa remaja sedang asyik belajar di pojok sentra buku (Dok. Pribadi)

Ayu menuturkan, bahwa Rumah Pintar yang berjarak sekitar 18 km dari Ibu kota Kabupaten Gunungkidul itu ibarat rumah kedua baginya. Selain di rumah tempat tinggalnya, di Rumah Pintar inilah ia menghabiskan banyak waktunya. Entah untuk belajar kelompok bersama teman-teman sebayanya, menemani anak-anak usia dini saat bermain, ataupun memberikan bimbingan belajar kepada anak-anak usia SD.

“Jika generasi muda mau rajin belajar, masyarakat Desa Ngalang ke depannya pasti akan lebih maju dan tidak ketinggalan zaman,” demikian kata remaja yang mengabdikan dirinya menjadi salah satu tutor atau pembimbing belajar di Rumah Pintar Ngalang.

Pengelola Rumah Pintar Ngalang, Wahyu Rida Aningsih (26) pun membenarkan pernyataan Ayu. Rida mengungkapkan, bahwa sebelum Rumah Pintar yang berukuran 148 meter persegi itu berdiri, tingkat pendidikan masyarakat Desa Ngalang bisa dikatakan masih cukup rendah. Bahkan masih banyak masyarakat yang buta aksara. Hal tersebut, menurutnya, tak terlepas dari angka partisipasi masyarakat terhadap pendidikan yang memang sangatlah minim.

“Dulu sebagian besar masyarakat kurang begitu peduli akan arti pentingnya pendidikan. Mayoritas, mereka hanya menamatkan pendidikan sampai dengan jenjang SMP saja. Begitu lulus, mereka lebih memilih untuk bekerja membantu orang tuanya, baik di sawah ataupun di kebun,” begitu ungkapnya.

Kondisi tersebut, menurut Rida, secara tidak langsung juga berakibat pada rendahnya taraf hidup masyarakat Desa Ngalang yang terdiri dari 14 dusun itu. Bagaimana tidak, masyarakat desa yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani itu belum mengenal teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas kegiatan ekonominya. Masyarakat juga belum begitu mengetahui tentang cara pengolahan dan pemasaran produk yang baik. Imbasnya, hasil pertanian dan perkebunan yang mereka dapatkan pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja.

Tak hanya berhenti di situ. Rida juga bercerita, bahwa masalah lain yang cukup serius yang dihadapi masyarakat Desa Ngalang saat itu adalah sebagaimana masyarakat pedesaan di daerah Gunungkidul pada umumnya, yaitu tingginya angka pernikahan dini. Dengan alasan keterbatasan ekonomi, banyak sekali para orang tua yang menikahkan anaknya yang masih berada pada usia remaja.

Dampaknya, sebagian daerah pedesaaan di Gunungkidul, termasuk Desa Ngalang, menjadi daerah yang tidak ramah anak. Maka tidaklah mengherankan jika remaja semacam Ayu ini, kala itu begitu khawatir tentang masa depannya.

“Dulu saya sangat khawatir, Mas. Jangan-jangan setelah lulus SMP, saya tidak bisa melanjutkan sekolah karena dinikahkan oleh orang tua,” kata Ayu mengenang masa ketika Rumah Pintar Ngalang belum berdiri.

Sebenarnya, menurut Rida, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga sudah berupaya untuk menjadikan daerahnya sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA). Salah satunya dibuktikan dengan Perbup No. 33 Tahun 2012 tentang Rencana Aksi Daerah Menuju Kabupaten Layak Anak. Sayang, upaya baik Pemerintah Daerah tersebut kurang begitu mendapat respon dari sebagian besar masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di pelosok-pelosok desa. Walhasil, praktek pernikahan dini pun masih kerap terjadi.

Tentu amat disayangkan, mengingat bahwa generasi muda adalah aset berharga yang nantinya akan meneruskan kelangsungan sebuah bangsa. Tingkat pengetahuan dan pendidikan pemuda pada hari ini, sudah pasti sangat menentukan maju mundurnya peradaban bangsa di masa yang akan datang.
Sebelum Rumpin Ngalang ini berdiri, partisipasi masyarakat dalam hal pendidikan sangat rendah
(Dok. Pribadi)

Bersyukur, di tengah berbagai kondisi masyarakat yang memprihatinkan itu, ternyata masih ada pihak-pihak yang peka dan mau peduli atas nasib sesama anak bangsa. Adalah PT. Astra International Tbk yang memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat Desa Ngalang dan sekitarnya. Melalui kegiatan CSR (Coorporate Social Responsibility) yang dilakukannya, perusahaan yang genap berusia 60 tahun pada 2017 ini menghadirkan sebuah gagasan untuk mendirikan Rumah Pintar.

Rumah Pintar Ngalang sendiri adalah satu di antara 20 Rumah Pintar buah karya Astra melalui anak perusahaannya, Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim yang bekerjasama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Rumah Pintar yang dibangun di atas lahan seluas 252 meter persegi itu diresmikan oleh Ibu Negara Republik Indonesia Ke-6, Hj. Ani Bambang Yudhoyono pada tanggal 19 Mei 2014 silam.
Serah terima Rumah Pintar Ngalang dari PT. Astra kepada Pemdes Ngalang (Dok. Rumpin Ngalang)

Ibarat mendapat durian runtuh, sejak diresmikannya Rumah Pintar Ngalang kemudian diserahkan pengelolaannya dari PT. Astra kepada Pemerintah Desa setempat pada tanggal 11 September 2014, Ayu begitu antusias menyambutnya. Bahkan tak hanya Ayu, namun seluruh masyarakat Desa Ngalang pun ternyata begitu bersemangat untuk memajukan Rumah Pintar. Setiap hari, ketika memiliki waktu luang, mereka pasti menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke Rumah Pintar untuk berpartisipasi dalam berbagai pelatihan dan penyuluhan yang diselenggarakan.

“Kami saling bergotong royong untuk memajukan masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat agar tidak tertinggal di era globalisasi ini,” kata Rida menjelaskan.

Bahkan, menurut Rida, warga masyarakat sekitar pun dengan senang hati ikut mempromosikan keberadaan Rumah Pintar Ngalang. Strateginya, dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari gethok tular (cerita dari mulut ke mulut) hingga menunjukkan keterampilan warga belajar Rumah Pintar Ngalang pada kegiatan kirab budaya tahunan yang diselenggarakan di Desa Ngalang.

Hasilnya, Rumah Pintar Ngalang kini menjadi embrio pendidikan bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga masyarakat lanjut usia. Tercatat, pada tahun 2017 ini, Rumah Pintar Ngalang memiliki 529 warga belajar, yang terdiri dari 103 warga belajar usia anak, 233 usia remaja, 156 usia dewasa, serta 37 usia lanjut. Saat ini, menurut Rida, Rumah Pintar Ngalang ini memiliki lima sentra.

“Kami memiliki lima sentra, yaitu sentra komputer, sentra buku, sentra bermain, sentra audio visual, serta sentra kriya,” kata Rida saat memperkenalkan sentra-sentra di Rumah Pintar yang ia kelola.
Anak-anak sedang belajar komputer di salah satu sudut sentra komputer (Dok. Pribadi)

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan, bahwa sentra komputer digunakan sebagai tempat untuk memberikan pelatihan dan memperkenalkan masyarakat desa dengan internet, serta bagaimana cara memanfaatkannya secara bijak. Sentra buku, selain menyediakan berbagai koleksi buku, juga memberikan pelayanan bimbingan belajar bagi anak-anak usia SD hingga SMA.

“Tidak hanya bimbingan belajar untuk mata pelajaran sekolah, tapi ada juga TPQ-nya,” kata Rida dengan penuh semangat.

Selanjutnya, adalah sentra bermain. Di sentra ini, masyarakat bisa menitipkan anak-anak mereka untuk bermain sekaligus belajar. Adapun sentra audio visual digunakan untuk kegiatan latihan menari dan senam, baik bagi anak-anak maupun para orang tua.

“Kami memiliki kegiatan latihan menari dan senam yang diadakan secara gratis dua kali setiap minggu,” kata Rida lebih lanjut.

Terakhir, adalah sentra kriya. Rumah Pintar Ngalang, menurut Rida, secara rutin mengadakan pelatihan-pelatihan tentang bagaimana cara mengolah barang di sekitarnya agar menjadi sesuatu yang memiliki daya tarik serta nilai jual. Di sentra ini, masyarakat juga diberi bimbingan tentang tata cara pengolahan pangan, serta bagaimana strategi pemasarannya agar lebih efektif dan efisien.
Ibu-ibu tampak antusias mengikuti pelatihan olahan pangan dari tepung mocaf (Dok. Rumpin Ngalang)

Selain kegiatan rutin pada kelima sentra tersebut, Rumah Pintar Ngalang juga menyelenggarakan berbagai kegiatan, khususnya yang berhubungan dengan Program Kabupaten Layak Anak. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk seminar bersama, pelatihan, penyuluhan, serta workshop. Sebagai contoh, adalah penyuluhan tentang Kesehatan Reproduksi, Internet Sehat, Pergaulan Sehat, Penyakit Menular Seksual (PMS), Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), dan lain sebagainya.

Kini, hampir empat tahun sudah Rumah Pintar Ngalang berdiri. Bagai langit dan bumi, perubahan masyarakat di Desa Ngalang terasa jauh sangat berbeda. Rumah Pintar Ngalang benar-benar membawa angin perubahan yang segar bagi masyarakat sekitar. Dari yang buta aksara menjadi masyarakat yang memiliki minat baca. Dari keterbatasan pengetahuan menjadi masyarakat yang melek teknologi dan informasi. Dari taraf hidup yang rendah menjadi masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Tak hanya itu saja. Dengan program-program yang dilaksanakan oleh Rumah Pintar, saat ini para orang tua di Desa Ngalang betul-betul sudah menyadari bagaimana cara memberdayakan anak-anak mereka secara manusiawi sesuai dengan potensinya. Kekhawatiran yang pernah dirasakan oleh Ayu dan remaja-remaja lainnya pun berganti menjadi masa depan yang penuh harapan. Kini, mereka punya kesempatan yang sama untuk menyelesaikan pendidikannya secara layak. Itulah sebabnya, para remaja di Desa Ngalang ini sangat bersemangat menjalani hari-harinya di Rumah Pintar.

Atas semangat yang dimiliki oleh Ayu, Rida, dan seluruh masyarakat Desa Ngalang, kini Rumah Pintar Ngalang menjelma menjadi rumah yang mampu mengubah peradaban. Berbagai apresiasi pun didapatkan oleh Rumah Pintar yang menjadi bagian dari perjalanan enam dekade Astra ini. Beberapa di antaranya, adalah sebagai Juara 1 Tingkat Nasional Rumah Pintar Berprestasi Kategori Binaan Astra Tahun 2016, serta 5 Besar Rumah Pintar Berprestasi Tingkat Nasional Kategori Binaan Astra Tahun 2017.
Rumpin Ngalang keluar sebagai pemenang Apresiasi Astra untuk Indonesia Cerdas Kategori Rumah Pintar Binaan Astra Tahun 2016 (Dok. Pribadi)

Namun, bagi Ayu dan Rida, apresiasi bukanlah segalanya. Bagi mereka, hidup itu bukan semata-mata siapa yang paling penting, paling berperan, dan paling hebat. Melainkan, siapa yang paling bermanfaat untuk orang banyak. Ke depan, keduanya pun punya harapan masing-masing terhadap Rumah Pintar Ngalang.

“Kalau harapan saya, semoga keberadaan Rumah Pintar semakin membuka jalan kesempatan bagi anak-anak Desa Ngalang untuk mendapatkan pendidikan, sehingga Desa Ngalang menjadi lebih maju lagi,” kata Ayu.

“Semoga Rumah Pintar Ngalang semakin berperan dalam menciptakan insan yang mandiri, berkarya dan kreatif dalam mengembangkan pendidikan masyarakat,” kata Rida penuh harap.

Dua harapan yang tak jauh berbeda. Keduanya memberi isyarat bahwa hanya dengan pendidikanlah, peradaban masyarakat akan lebih maju dan berkembang. Senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh Michael D. Ruslim, sebagaimana yang tertera dalam buku “ASTRA on becoming Pride of The Nation” karya Yakub Liman,

“Yang membedakan kita dengan mereka yang tinggal di daerah adalah kesempatan. Indonesia akan maju dan berkembang bila penduduknya diberi kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan yang baik.”

***
*Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2017: "Perjalanan Penuh Inspirasi"



Anda baru saja membaca Rumah Pintar yang Mengubah Peradaban . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

4 komentar:

  1. Wah keren ada rumah pintar astra juga ya. Ulasannya, siap-siap jadi pemenang lagi nih Mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kunjungannya. Yang paling penting, bisa ikut mewartakan perjalanan penuh inspirasi Astra bagi bangsa, Mbak.

      Delete
  2. Di Surabaya juga ada rumah pintar astra mas.. Keren ya Astra punya 20 rumah pintar astra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ada Mas. Sangat membantu dalam membangun peradaban masyarakat sekitarnya. Semoga muncul Rumah-rumah Pintar yang lain..

      Delete