Monday, February 21, 2011

Kategori:

Abu Dzar Al-Ghiffary Yang Tersendiri

Dari sejarah kita tahu, pada saat mendatangi Makkah, Abu Dzar menghadap Nabi seorang diri untuk bersyahadat. Dalam lembaran sejarah selanjutnya beliau adalah salah satu sahabat terdekat dan dimesrai Nabi begitu tinggi. Berbeda dengan sahabat yang lain, Ia memanggil anggun kekasih Allah dengan sebutan Khaliliy (Sahabatku yang akrab), hingga Rasul pilihan juga memanggilnya demikian. Kemilau kecintaan Abu Dzar kepada Nabi begitu benderang. Kristal kerinduannya kepada Kekasih Allah selalu saja jelita.

***
Lembah Ar-Ra’badzah senyap. Deru angin hanya terdengar dari jauh. Debu-debu menari di keheningannya. Lengang berkelindan sejak tadi. Sayup terdengar isak pedih anak manusia. Seorang perempuan. Kedua kelopak matanya terlihat lelah, pelupuknya tergenang oleh bening saripati duka. Sungguh tubuhnya kerontang seperti sahara, berbalut ghamis yang hitamnya telah memudar. Ia terus berdesis, menahan sedu sedan dalam rongga dada. Sosok yang berbaring di hadapannya kini bergerak, digapainya tangan perempuan itu lembut.

Perlahan paraunya terdengar “Istriku, mengapakah engkau menangis, sedang kematian pasti kan menjelang”. Sunyi beberapa saat.

“Suamiku, aku tahu engkau sekarat, bukan hal ini yang membuat lara begitu berat” nafas sang istri tertahan. “Aku tidak mempunyai kain untuk mengkafani engkau” isak sang istri kembali terdengar.

“Tenanglah perempuan penyabar, aku pernah mendengar Kekasih Allah bersabda di antara para sahabat “Salah seorang dari kalian akan wafat di padang pasir dan disaksikan oleh beberapa orang mukmin, semua yang duduk disana sudah meninggal, kecuali si lemah ini. Insya Allah beberapa orang mukmin akan segera datang. Demi Allah, aku tidak bohong dan tidak dibohongi” paparnya. Nafasnya satu-satu terhembus berat. Senyap kembali hinggap.

Benar saja, derap langkah kabilah samar mulai terdengar. Titik-titik hitam dari kejauhan perlahan mendekat, kepulan debu membumbung. Banyak sosok manusia mengarah ke tempat itu, mereka adalah kabilah yang dipimpin Abdullah Ibnu Mas’ud salah seorang sahabat Nabi yang Mulia. Keharuan menyeruak seketika, mereka menyadari sosok yang sedang sekarat itu, dialah Abu Dzar Al Ghiffary. Abu Dzar wafat dalam keheningan, disaksikan beberapa mukmin. Seseorang berujar lirih “Rasulullah benar, kamu akan berjalan seorang diri, wafat seorang diri dan dibangkitkan masih saja seorang diri”.

Waktu seperti berlari kembali ke masa Rasulullah. Simak baik-baik:

Tabuk. Sebuah tempat yang sangat jauh dari Madinah. Di sinilah pasukan Romawi dengan sekian banyak artileri hebatnya berkumpul, bersiap menyerang perbatasan tanah Arab sebelah utara. Berita ini tentu saja menggelisahkan sang Nabi. Rasulullah menyuruh kaum muslimin untuk menahan serangan ganasnya pasukan Romawi di Tabuk. Itulah mengapa peperangan yang terjadi, digoreskan sejarah sebagai perang Tabuk.

Ketika itu, musim panas belum berakhir. Teriknya menggentarkan setiap manusia yang akan bepergian merajut sahara. Saat-saat seperti ini membuat semua kepala harus berfikir berulang kali untuk menempuh lautan pasir yang butiran jelitanya siap membakar. Maka ketika Rasul pilihan menabuhkan genderang ajakan kepada kaum Muslimin untuk maju berjihad ke Tabuk sebagai upaya menahan serangan Romawi, Muslim terbagi menjadi dua golongan. Yang pertama menyambut seruan dengan hati bersemarak cahaya, sedangkan lainnya berberat langkah, mencari-cari alasan dan meniupkan kekhawatiran pada para sahabat bahwa pertempuran sungguh akan berat.

Pada saat pemberangkatan pasukan, debu-debu mengepul menari di udara, suara ringkikan kuda menyambangi setiap telinga. Para wanita Madinah melepas kepergian mereka dengan tengadah jemari kepada yang Maha Perkasa. Dan, diantara para pemberani itu, adalah Abu Dzar yang menunggangi seekor keledai tua. Selanjutnya Rasulullah dan pasukannya semakin jauh berbahtera. Lapar dan dahaga belumlah seberapa dibandingkan dengan panas bara tandus sahara. Banyak dari para sahabat yang akhirnya tercecer dibelakang rombongan. Setiap itu pula laporan kepada Rasulullah menggema: “Wahai Rasul, Fulan telah tertinggal”

“Biarkanlah, andai ia berguna, Allah akan menyusulkannya kepada kita” ujar Nabi pendek. Dan barisan terus maju menyusuri lembah demi lembah.

Hingga pada suatu saat, Abu Dzar sedikit demi sedikit juga tertinggal. Keledainya semakin tak bertenaga melangkah. Di halaunya keledai kuat-kuat, namun tunggangan itu semakin diam. Akhirnya Abu Dzar pun turun dan memutuskan menyusul para pemberani dengan berjalan kaki. Ia berlari membelah padang pasir, namun tak didapatinya rombongan. Ia terus berpacu dengan kerinduan membela Islam bersama manusia yang dicinta, Al Musthafa. Sungguh sebuah usaha yang tidak mudah, menelusuri jejak-jejak yang telah terhapus pasir yang diterbangkan angin. Namun, karena jatuh cintanya kepada gemerlap keridhaan Allah lah yang membuatnya tidak berhenti. Para sahabat yang menyadari kehilangan Abu Dzar segera melaporkannya kepada Nabi. Dan jawaban sama seperti semula tetap terlontar.

Hingga akhirnya, usaha Abu Dzar tidak sia-sia. Para sahabat yang melihat titik hitam bergerak cepat mengarah kepada mereka berseru memberi tahu Nabi. “Ya Rasul Allah, ada seorang musafir berjalan seorang diri”. Rasulullah memandang ke kejauhan dan berujar gembira “Mudah-mudahan itu Abu Dzar”. Benar saja, sesosok manusia bermandi peluh itu tiada lain adalah Abu Dzar. Banyak dari mereka yang terpesona, dan menyenandungkan pujian diam-diam. Saat itulah dari bibir manis kekasih Allah terpetik sebuah sabda: “ Semoga Allah, meluapkan limpahan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri dan dibangkitkan jua seorang diri…”.

***

Dalam sebuah riwayat, disebutkan pada sebuah kesempatan Nabi mengajak Abu Dzar berjalan-jalan ke luar kota dengan mengendarai unta. Abu Dzar diperintahkan Nabi untuk duduk dibelakangnya. Berlinang air mata Abu Dzar menerima kehormatan ini, gemetar menahan haru Abu Dzar menaiki unta dan menurutnya apakah yang paling membahagiakan selain berdekatan dengan kekasih yang dicinta. Abu Dzar merasa paling beruntung di seluruh semesta. Berboncengan mereka berkendara, dan terlihatlah keakraban yang mempesona. Pada saat-saat seperti itu, Abu Dzar mereguk langsung mata air hikmah dan nasehat yang disabdakan Al-Musthafa. Banyak kuntum-kuntum pesan yang selalu saja semerbak di hati Abu Dzar, meski Nabi sudah telah lama wafat. Salah satunya adalah untuk selalu hidup bersahaja dan mencintai kaum fakir miskin. Itulah mengapa dibeberapa sumber sejarah ia dikenal sebagai Bapak kaum fakir miskin dan Bapak Sosialis Islam.

Pada masa kekhalifahan Ustman, ia beroposisi karena menurutnya pemerintahan saat itu terlalu royal dengan uang negara untuk kepentingan para penguasa dan keluarganya. Ia sendirian begitu berani mendengungkan peringatan kepada para penguasa untuk tidak menumpuk-numpuk harta. Ia selalu terkenang sosok-sosok penguasa yang dicintanya. Sang purnama Madinah, Rasulullah, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi, wafat dalam keadaan baju besi perangnya masih tergadai. Ia merindui sosok pemurah dan berhati lembut, Abu Bakar, yang berwasiat untuk dikafani dengan kain paling sederhana, Siti Aisyah yang memprotesnya mendengar jawaban indah “Anakku, kafan hanya untuk nanah dan tanah”. Dan kenangannya beralih pada Umar, khalifah kedua ini pernah kulitnya menghitam karena selalu menyantap minyak zaitun dan sedikit roti sebagai bukti tulus kesayangannya kepada rakyat.

Abu Dzar Al-Ghiffary memulai usahanya di Syiria yang di Gubernuri Muawiyah bin Abi Sofyan. Di sana beliau mendengungkan begitu nyaring satu peringatan untuk para penguasa pencinta kemewahan dunia: “Beritahukan kepada mereka para penumpuk emas dan perak, bahwa harta yang mereka banggakan, akan segera menyetrikanya dalam neraka”. Perkataan Abu Dzar bergaung dimana-mana. Melihat hal ini, Muawiyah memprediksikan akan terjadi pemberontakan dari rakyat yang sangat membahayakan posisinya. Untuk menghindari bahaya ini, Muawiyah menulis surat kepada Khalifah Ustman. Dan Abu Dzar pun dipanggil pulang ke Madinah.

Di Madinah, Abu Dzar betemu sahabatnya Ustman bin Affan yang menjadi Khalifah yang dihormatinya. Mereka berdiskusi dalam sebuah suasana yang lengang. Ustman sangat menyadari bahwa Abu Dzar merupakan seorang yang sangat sederhana dan bersahaja. Ustman menawarinya untuk tinggal disisinya, seperti dugaan sebelumnya Abu Dzar dengan tegas menolaknya. Dan selanjutnya Abu Dzar menyatakan keinginannya yaitu memilih pergi menuju sebuah tempat sunyi. Lembah Ar-Rabadzah.

Melihat perjuangannya membumbungkan Islam ke cakrawala terindah dengan ketajaman lidahnya al-Musthafa menyanjungnya dengan “Di bawah langit, tidak akan pernah muncul orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”.

***

Sahabat, ketika dunia begitu enteng kita dapatkan, kenanglah ksatria ini, hingga mudah-mudahan kita dengan mudah melihat ke bawah, para anak yatim yang terlunta di jalanan, janda-janda tua di mana-mana, atau mereka yang sudah tak sanggup lagi menjumpai nasi. Ketika engkau, wahai sahabat, menjadi si beruntung karena dikaruniai Allah rezeki yang lapang, ingatlah sosok bersahaja Abu Dzar, hingga mudah-mudahan, kedermawanan menjadi pakaian kemuliaan. Dan mereka yang tak seberuntung dirimu menyunggingkan senyum kesyukuran atas derma yang kau ulurkan.

Dan sahabat, semoga Allah yang maha Asih, selalu membimbing hati-hati ini meneladani denyar cahaya para ksatria. Allahumma Aamiin.
Anda baru saja membaca Abu Dzar Al-Ghiffary Yang Tersendiri . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment