Kategori: , , , ,

Menyulap Pasar Tradisional di Tengah Hembusan Era Digital

Entah disadari atau tidak, sejak makhluk bernama internet datang ke Indonesia di sekitar tahun 1990-an, banyak sekali perubahan gaya hidup yang kita alami. Salah satunya adalah dalam hal gaya berjual beli. Terlebih ketika dunia internet memasuki era 3G atau bahkan 4G. Sudah pasti hal tersebut akan mendorong pertumbuhan trendsetter-trendsetter baru mengenai arah mode serta lifestyle masyarakat kita yang semakin digital.

Sebagian masyarakat kita yang sudah melek teknologi, kini mulai membuka lapak bisnisnya di internet dengan membuat sebuah toko online. Sebaliknya, para konsumen yang dulu rela berdesak-desakan demi mendapatkan sebuah barang yang mereka suka, kini mulai mengganti cara belanjanya dengan yang lebih praktis, yakni dengan berbelanja secara online. Sebagai bukti realita tersebut, mari kita tengok sejenak data statistik dari databoks.co.id tentang jumlah konsumen online di Indonesia.
Dari hasil riset yang dilakukannya pada tahun 2016 kemarin, eMarketer memperkirakan bahwa masyarakat Indonesia yang berbelanja melalui internet mencapai 8,6 juta orang. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di kisaran 7,9 juta orang. Bahkan kalau kita mau membandingkannya dengan data di tahun 2012 silam, mungkin kita akan sedikit terkejut. Bagaimana tidak, di tahun itu pelaku transaksi online masih di kisaran angka 3,1 juta. Itu artinya, selama lima tahun tersebut terjadi peningkatan 177,4 %. Bayangkan!

Nilai transaksinya pun ternyata tak main-main. Jika pada tahun 2014 lalu eMarketer memperkirakan jumlah transaksi e-commerce di Indonesia masih di angka Rp. 25,1 triliun, maka pada tahun 2016 diperkirakan mencapai Rp. 69,8 triliun. Jumlah ini diperkirakan akan selalu naik dari tahun ke tahun. Termasuk di tahun 2017 ini yang angkanya diprediksikan akan mencapai nominal Rp. 108,4 triliun, atau naik sekitar 55,3 % dari tahun sebelumnya.

Demikian juga pada tahun 2018. Meskipun nilai kenaikannya tak sedrastis tahun-tahun sebelumnya, namun nilai perdagangan digital di Indonesia pada tahun tersebut diramalkan akan naik sekitar 32,9 % dari tahun 2017 ini, sehingga mencapai nominal Rp. 144,1 triliun. Yang paling menarik adalah jika kita hitung dengan seksama, maka kita akan mendapati bahwa angka kenaikan selama lima tahun tersebut ternyata mencapai angka 474,1 %. Luar biasa, bukan?

Pertumbuhan ekonomi digital yang luar biasa dan membanggakan tersebut, di satu sisi memang menjanjikan jutaan peluang bagi perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Akan tetapi, secara langsung ataupun tidak, dengan maraknya internet sebagai tempat melakukan transaksi, ternyata juga berimbas pada eksistensi para pedagang di pasar-pasar tradisional yang ada di sekitar kita.
Beberapa waktu yang lalu, saat pulang ke kampung halaman, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Pasar Kutoarjo, salah satu pasar tradisional terbesar di daerah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Secara fisik, bangunan dua lantai hasil renovasi pada tahun 1998 silam tersebut memang masih terlihat kokoh. Jumlah pedagang yang membuka lapaknya pun, secara sekilas terlihat tidak mengalami penurunan. Sebuah indikasi bahwa, tempat ini memang masih menjadi ladang pencaharian bagi masyarakat setempat.
Pasar Kutoarjo, salah satu pasar tradisional di Purworejo, Jawa Tengah

Namun, ternyata ada satu hal yang menarik ketika saya mencoba berbincang dengan salah satu pedagangnya. Dari sedikit obrolan siang itu, saya jadi tahu bahwa di balik kokohnya bangunan pasar tersebut, ternyata menyisakan sebuah permasalahan besar. Ya, jumlah pengunjung dan pembelinya menurun drastis jika dibanding dengan pada dasawarsa terakhir ini. Sebuah masalah yang menurut saya juga dihadapi oleh para pedagang di pasar-pasar tradisional yang lain.

Lantas, apa penyebabnya? Tentunya banyak faktor yang menyebabkan pasar-pasar tradisional sepi pengunjung dan pembeli. Selain karena merajalelanya pasar modern, seperti swalayan, hypermarket, supermarket, dan minimarket, tentu menjamurnya e-commerce di era ekonomi digital ini juga turut menjadi alasan menurunnya pengunjung dan pembeli di pasar tradisional.
Memang, membaca data dengan membandingkan realita yang ada selalu memunculkan hal yang menarik. Darinya, kita menjadi lebih mengenali Indonesia dengan segala perkembangan zamannya, lengkap dengan peluang serta tantangannya. Sebagaimana data tentang ekonomi digital di Indonesia yang tumbuh sedemikian pesatnya, ternyata di baliknya juga tersirat sebuah tantangan bagi keberadaan pasar-pasar tradisional.

Bagaimana strategi agar pasar tradisional tetap eksis di tengah hembusan era digital, tentu akan menjadi pembahasan menarik bagi semua pihak. Terlebih, jika kita melihat upaya pemerintahan Presiden Jokowi yang saat ini tengah gencar melakukan revitalisasi pasar-pasar tradisional. Satu pertanyaan menarik pun kembali mengemuka. Akankah hanya dengan revitalisasi, pasar-pasar tradisional sudah cukup untuk berdaya saing di era ekonomi digital ini?

Dalam pandangan saya, jika hanya dihadapkan dengan pasar modern, seperti swalayan, hypermarket, supermarket, dan minimarket, revitalisasi pasar tradisional rasanya memang cukup membuatnya berdaya saing. Akan tetapi, jika dihadapkan pada perkembangan online shop berbasis internet yang begitu pesatnya, rasanya kita perlu menyulap pasar tradisional menjadi sebuah pasar yang berbeda dari sebelumnya. Kenapa bisa demikian?

Dari data statistik Indonesia hasil proyeksi penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016, kita tahu bahwa dalam populasi 258 juta penduduk Indonesia pada tahun tersebut, terdapat 104,6 juta penduduk Indonesia yang berusia antara 15-39 tahun. Itu artinya ada sekitar 40,5 % penduduk Indonesia yang masuk kategori Gen Y dan Gen Z dari seluruh jumlah penduduk Indonesia.

Harus kita ketahui juga, bahwa Gen Y dan Gen Z tersebutlah yang menurut riset dari Nielsen, menjadi generasi yang cenderung memakai platform online untuk aktivitas ekonomi mereka sehari-hari. Diperkirakan, populasi kedua generasi ini akan terus meningkat dan mencapai puncaknya pada periode 2025–2030. Maka, cukuplah masuk akal jika pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada beberapa tahun yang akan datang.
Potensi ekonomi digital di Indonesia (Source: databoks.co.id)

Nah, jika sebagian besar konsumen memilih internet sebagai tempat belanjanya, maka bisa dibayangkan bagaimana nasib pasar tradisional di masa-masa tersebut. Secara perlahan, pasar tradisional akan berguguran di tengah perkembangan digital ekonomi yang begitu kencang. Lantas, adakah solusinya?

Sebagaimana kata pepatah,“daun yang gugur tidak pernah menyalahkan angin”, maka solusi jitu agar pasar tradisional bisa tetap eksis di era ekonomi digital adalah mengikuti arah ke mana angin berhembus, yaitu melakukan digitalisasi. Dengan digitalisasi ini, maka para pedagang di pasar tradisional akan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan omset, karena mereka bisa memasarkan barang dagangannya secara offline dan online.

Tapi, mungkinkah ide digitalisasi atas pasar-pasar tradisional ini diwujudkan? Tentu sangat mungkin, karena ide ini sebenarnya bukanlah ide baru. Faktanya, salah satu pasar tradisional di Indonesia sudah ada yang memulainya, yaitu tanahabangmarket.co.id, marketplace bagi para pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta. Dengan marketplace tersebut, maka siapa pun bisa membeli barang yang dijual di Pasar Tanah Abang kapan saja dan di mana saja, tanpa harus pergi ke sana.

Bisa dibayangkan, jika digitalisasi ini diterapkan pasar-pasar tradisional di seluruh Indonesia, maka sudah pasti pertumbuhan digital ekonomi Indonesia akan semakin melesat. Tidak hanya menjadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara saja, melainkan di seluruh kawasan Asia, bahkan dunia. Semoga saja.


***
*Referensi:
http://databoks.co.id/
**Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog "Kenali Indonesia Dengan Data"

Anda baru saja membaca Menyulap Pasar Tradisional di Tengah Hembusan Era Digital . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

4 komentar:

  1. Aku nggak sempet ngedraft mas

    ReplyDelete
  2. Bagus banget ya kang konsep digitalisasi pasar tradisional apalagi di era globalisasi seperti sekarang inii. . Good luck ya kang 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak.. Jadi, kita bisa beli barang apapun di pasar mana saja tanpa mengunjunginya.. keren kan Mbak?
      Makasih yaa?

      Delete