Thursday, December 2, 2010

Kategori: ,

Mus'ab ibn Umair: Syahid di Tanah Uhud

Seseorang yang dulunya anak emas ibunya, diberi pakaian yang termahal. Harum parfumnya menyebar ketika dia berjalan. Seseorang yang selalu menjadi pembicaraan wanita-wanita Makkah, dan idola teman-temannya. Seorang pemuda paling flamboyan di kalangan kaum muda Quraisy. Namun kemudian, pemuda itu meninggalkan semua hal keduniaannya untuk pergi memenuhi panggilan Allah dan menggapai ridha-Nya.

Mus’ab ibn Umair, yang saat itu masih muda mendengar berita kenabian Muhammad SAW. Didorong rasa keingintahuannya, ia pergi menemui Nabi SAW untuk mendengar sendiri ajaran yang dibawa beliau. Suatu malam, Mus'ab memutuskan untuk pergi ke rumah Arqam bin Abil Arqam. Disinilah Mus'ab mendengarkan ayat-ayat Qur’an yang dilantunkan oleh Nabi SAW.

Perjalanan Mus'ab dalam memeluk Islam tidaklah mudah. Ibunya, Khunnas binti Malik, seorang penyembah berhala yang taat, memerintahkan Mus'ab untuk bertaubat dan kembali ke agama berhala. Namun Mus'ab menolak, sehingga akhirnya ia dikunci di salah satu sudut rumahnya.

Rindu akan saudara-saudara seagamanya, ia melarikan diri, bergabung dengan kaum muslimin hijrah ke Abessinia. Ketika pulang dari Abessinia, Ibunya berusaha memenjarakannya. Saat itu ia berkata pada ibunya, "Wahai Ibu, sungguh aku menyayangimu. Ibu, bersaksilah tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya”. Dengan muka merah padam Ibunya bersumpah "Demi bintang-bintang, aku tak akan pernah masuk ke dalam agamamu dan merendahkan martabatku!" Semenjak itu Mus’ab tidak diakui sebagai anaknya, dan tak lagi kemewahan pada dirinya, bajunya sederhana, makan seadanya, dan tanahlah tempat tidurnya.

Suatu hari, Mus'ab menemui para sahabat yang sedang duduk bersama Nabi SAW. Ketika mereka melihat Mus'ab, mereka menundukkan kepala, menangis diam-diam. Ingatan mereka kembali kepada seorang pemuda yang dulunya anak emas sang Ibu, dapat meminta apa saja keinginannya. Pakaian mewahnya yang dulu kini telah berganti dengan pakaian sederhana yang penuh tambalan, yang hampir saja tak mencukupi badannya. Ketika Mus'ab pergi meninggalkan majelis itu, Nabi SAW berkata, “Sungguh tidak ada pemuda di Makkah yang lebih berpunya dari pada ia. Tetapi semua kemewahan itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan nabi-Nya”.

Ketika perang Uhud, Mus'ab dipilih untuk membawa bendera perang. Ketika pasukan pemanah melanggar perintah Nabi dengan meninggalkan daerah yang menjadi tanggungjawab penjagaannya, maka kaum kafir menyerang balik dan berusaha membunuh Nabi SAW yang ketika itu dilindungi oleh beberapa sahabat. Seketika ada sebuah teriakan yang mengabarkan bahwa Nabi SAW telah wafat.

Ketika itulah titik kemuliaan hidup Mus'ab mencapai puncaknya. Disaat pasukan muslimin terpecah-belah, ia berdiri dengan tegap sampai ketika ia bertemu Ibn Qami'ah, seorang panglima pasukan kafir. Ibn Qami'ah kemudian memukul dan memotong tangan kanan Mus'ab. Mus’ab tetap teguh memegang bendera dengan tangan kirinya sambil berkata "Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang Nabi, dan Nabi-Nabi telah meningal sebelumku". Kemudian Ibn Qami'ah memutuskan tangan kiri Mus'ab. Mus'ab tetap menegakkan bendera perang dengan lengan atas dan dadanya sambil berkata "Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-Nabi telah meningal sebelumku". Kemudian datang prajurit kafir yang menghujamkan tombaknya ke dada Mus'ab, sehingga seketika itu ia menjadi syahid.

Setelah Perang Uhud berakhir, Nabi SAW dan para sahabat kembali ke bukit Uhud untuk menguburkan syuhada’ yang gugur. Nabi SAW berhenti sejenak ketika melihat jenazah Mus'ab dan berkata, “Sebagian mu'min ada yang telah menepati janji mereka kepada Allah, sebagian mereka mati syahid, sebagian lainnya masih menunggu, dan mereka memang tidak pernah mengingkari janji” (QS. Al-Ahzab:23). “Sesungguhnya Nabi Allah ini bersaksi bahwa mereka adalah martir Allah pada hari kebangkitan nanti”.

Ketika itu tidak cukup kain yang tersedia sebagai kain kafan untuk Mus'ab. Khabbab ibn Art menceritakan, “Kami berhijrah mengikuti Nabi hanya karena Allah, maka akan kami terima balasannya dari Allah. Sebagian dari kami meninggal tanpa menikmati balasan apapun di dunia ini, salah satunya adalah Mus'ab ibn Umair. Dia tidak meninggalkan apa-apa kecuali sebuah kain wol yang sudah tercabik-cabik. Jika kami tutupi kakinya dengan kain ini, maka kepalanya tidak tertutupi. Nabi SAW kemudian menyuruh kami menutupi kepalanya dengan kain tersebut dan menaruh rumput di atas kakinya”.

Ingatan tentang Mus'ab dalam kuburnyalah yang menyebabkan sahabat seperti Abdur Rahman ibn Auf menangis karena takut tidak mendapat bagiannya di akhirat karena telah mendapat banyak nikmat dan kemudahan di dunia ini. Suatu ketika, pembantunya membawakannya makanan untuk berbuka puasa. Ibn Auf menangis, mengingat Mus'ab yang sudah meninggal tanpa dapat merasakan nikmat dunia, melainkan mendapatkan kenikmatan abadi di akhirat.

Sahabat, kenanglah sejenak, syuhada’ yang terbaring di tanah Uhud. Merekalah orang-orang yang hendak mencari ridha Allah. Mereka telah mendapatkan kenikmatan dan kesenangan abadi. Di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan sekarang ini, dimana tak terhitung muda-mudi muslim berusaha mencari kesenangan dunia dengan caranya masing-masing, sungguh kita orang-orang yang beruntung jika kita dapat mengingat kehidupan Mus'ab Ra. Mengingatkan kita agar tidak larut dalam kehidupan dunia. Wallahu a'lam.
Anda baru saja membaca Mus'ab ibn Umair: Syahid di Tanah Uhud . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

2 komentar:

  1. subhanallah, pas aku lagi dengerin MQ Bandung. tentang keteladanan Mus'ab Bin Umair. tokoh yang benar2 menginspirasi ^^, chayo2 tetap semngat untuk mencontoh semnagtnya ketika memegang bendera di Perang Uhud ^^

    ReplyDelete
  2. Betul sekali, patut diteladani semangat juangnya...tidak dalam perang, namun dalam perjuangan/syiar Islam...

    ReplyDelete