Kategori: ,

Menebar Asa Melalui Eloknya Batik hingga Gurihnya Keripik

Semerbak aroma khas malam sesekali menyapa hidung ketika melintasi jalan Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Desa yang terletak sekitar 45 km sebelah utara dari pusat pemerintahan Kabupaten Gunungkidul itu memang memiliki lumayan banyak penduduk yang berprofesi sebagai pembatik.

Sangatlah mudah menemukan gerai-gerai serta rumah warga yang memproduksi batik. Begitupun ketika saya menuju ke rumah produksi batik “Rokechi” yang berada di wilayah Dusun Tanjung, RT 04/ RW 09, Desa Tegalrejo beberapa waktu yang lalu. Meskipun jalannya berliku-liku dengan banyak persimpangan, namun di tepi jalan desa itu telah terpasang papan-papan yang menunjukkan nama rumah produksi batik milik warga. Termasuk rumah produksi batik “Rokechi” milik Suryanti ini.

Sesampainya di rumah produksi batik yang terletak di tengah dusun itu, beberapa wanita terlihat sedang nyanting, menorehkan malam ke atas kain putih yang sebelumnya telah digambar dengan berbagai pola. Meski terlihat khusyuk dengan pekerjaannya masing-masing, sesekali canda dan tawa mereka terdengar lepas menghangatkan suasana. Sementara di halaman samping rumah, beberapa kain batik yang sedang dijemur tampak melambai-melambai ketika tertimpa angin.

“Mari masuk ke rumah, Mas,” sapa wanita yang akrab dipanggil Mbak Yanti ini dengan senyum khasnya.

Usai mempersilakan duduk, wanita yang usianya belum genap seperempat abad ini pun mulai mengisahkan banyak hal tentang batik. Tak lupa, ia juga mengajak saya berkeliling ke beberapa dusun di Desa Tegalrejo sembari menceritakan berbagai aktivitas sehari-harinya selama ini.

Suryanti merupakan salah satu pembatik muda yang memiliki semangat besar untuk memajukan desanya. Semangat yang luar biasa itu muncul dari keprihatinan dirinya terhadap berbagai permasalahan yang ada di sekitar tempat tinggalnya, mulai dari minimnya generasi muda yang terjun di dunia produksi batik, hingga masih banyaknya masyarakat desa yang hidup di bawah garis kemiskinan.
(Suryanti, salah satu pembatik muda dari Desa Tegalrejo/ Dok. Pribadi)

Berawal dari keprihatinan itulah, selepas lulus dari SMK enam tahun yang lalu, ia memutuskan untuk memulai membatik. Ia sendiri mengaku, bahwa teknik dasar membatik yang dimiliki, ia dapatkan dari orang tuanya yang juga berprofesi sebagai pembatik. Adapun untuk kemampuan mendesain, ia peroleh dari pendidikannya saat menimba ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan kriya.

“Semakin fokus menggeluti batik, ya setelah selesai kuliah, Mas..” katanya menjelaskan.

Ibarat empedu lekat di hati, sejak saat itu, wanita lulusan ISI tahun 2016 ini pun menjadikan batik sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Maka, tidaklah mengherankan ketika para Sarjana Seni Kriya yang lain lebih memilih bekerja sebagai desainer di berbagai perusahaan di kota-kota, ia justru memilih untuk membuka rumah produksi sekaligus gerai batik di kampung halamannya.
(Suryanti memamerkan salah satu batik hasil kreasinya di gerai batik "Rokechi"/ Dok. Pribadi)

Di rumah produksi batik tersebut, selain Suryanti, saat ini ada tujuh orang pembatik lain yang setiap hari bergelut dengan canting dan malam. Mereka adalah para warga sekitar yang ingin membatik tetapi terkendala dengan masalah modal. Hasil kerajinan batik dari para pembatik ini, selain dijual di gerai batik "Rokechi", juga dipasarkan secara online melalui media internet.

“Harganya bervariasi, Mas. Ya, kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu per lembarnya,” kata Suryanti saat ditanya tentang harga jual batik Gedangsari hasil produksinya.

Tingginya nilai jual tersebut, tentu tak terlepas dari proses panjang pembuatan batik serta keunikan batik Gedangsari itu sendiri. Suryanti menuturkan, jika batik asal kampungnya itu memang memiliki banyak keunikan. Salah satunya adalah dalam hal pewarnaan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa dalam proses pewarnaan batik Gedangsari ini menggunakan zat pewarna alami. Bahan pewarna tersebut diolah dari sumber daya alam yang ada di sekitarnya, seperti daun dan kulit pohon jati, kulit manggis, kayu mahoni, daun putri malu, daun indigofera, daun mangga, dan daun jalawe. Selain warnanya tampak lebih elok dan tahan lama, penggunaan zat pewarna tersebut juga menjadikan proses pembuatan batik Gedangsari lebih ramah lingkungan.
(Pewarnaan batik Tegalrejo Gedangsari menggunakan zat pewarna alami/ Dok. Pribadi)

Suryanti pun mengaku, bahwa saat ini dirinya semakin jatuh hati pada batik, terlebih batik Gedangsari. Baginya, batik merupakan bagian dari budaya bangsa yang harus tetap lestari. Bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batik Tegalrejo, ia pun terus menggelorakan semangat membatik di kampungnya melalui berbagai pelatihan dan pameran-pameran.

Bagaimana ditanam, begitulah dipanen. Kerja keras Suryanti dan kawan-kawannya mulai membuahkan hasil. Jumlah pembatik-pembatik muda di desanya saat ini sudah lumayan banyak. Terlebih setelah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) menobatkan Desa Tegalrejo sebagai Rintisan Desa Wisata Budaya pada Agustus 2017 silam. Walhasil, kiprah batik Gedangsari yang sempat menghilang bagai ditelan bumi itu pun kini mulai berkibar kembali.

Semakin membanggakan, ketika para perajin batik dari Desa Tegalrejo ini telah berhasil menciptakan motif khas batik Gedangsari. Tercatat, setidaknya ada empat motif batik yang unik hasil kreasi dari para pembatik Desa Tegalrejo. Keempat motif tersebut adalah Ratuning Gedangsari, Ratuning Gedangsari II, Pring Sedapur serta Sekaring Gedangsari.

Menurut Suryanti, motif-motif tersebut terinspirasi dari kekayaan alam yang ada di Gedangsari, khususnya di Desa Tegalrejo. Motif Ratuning Gedangsari, Ratuning Gedangsari II, serta Pring Sedapur masing-masing terinspirasi dari tumbuhan srikaya, pisang dan bambu. Ketiganya merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai di daerah ini. Adapun motif Sekaring Gedangsari tercipta karena begitu besarnya motivasi masyarakat untuk melestarikan keasrian alam dan budayanya.

Kini, berkat kegigihan dan keuletan para pembatik yang jumlahnya mencapai ratusan orang, batik asal Tegalrejo Gedangsari telah dikenal oleh masyarakat luas. Terbukti, batik unik asal desa yang menjadi salah satu destinasi Heritage Tour Jogja International Batik Biennalle (JIBB) pada Oktober 2018 yang lalu ini telah tampil di berbagai pameran dari tingkat lokal hingga nasional. Perekonomian para pembatik pun sudah mulai membaik.
(Warga Tegalrejo saat menyambut rombongan  Heritage Tour JIBB 2018/ Dok. KBA Tegalrejo)

Namun, bagi Suryanti dan kawan-kawannya, perjuangan belumlah usai. Saat ini, mereka tengah berjuang mewujudkan program-program Kampung Berseri Astra di desanya. Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program Kontribusi Sosial Berkelanjutan dari PT. Astra International Tbk yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan empat pilar program. Keempat pilar program tersebut meliputi Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

Melalui empat pilar program KBA, masyarakat Desa Tegalrejo diharapkan dapat berkolaborasi dengan Astra untuk bersama-sama mewujudkan desa yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Tujuannya, tak lain dan tak bukan adalah agar kualitas hidup masyarakat yang ada di wilayah desa dengan sebelas dusun tersebut semakin meningkat.

Pemilihan Desa Tegalrejo sebagai Kampung Berseri Astra sendiri tentu bukannya tanpa alasan. Meski menjadi salah satu daerah terluar dari Kabupaten Gunungkidul, nyatanya desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini memiliki sejumlah potensi yang bisa dikembangkan oleh masyarakatnya menuju predikat Kampung Berseri Astra.

Batik Gedangsari, menurut Suryanti, merupakan salah satu potensi lokal yang paling diandalkannya. Ia sendiri saat ini berperan sebagai salah satu pegiat pilar program KBA, yaitu kewirausahaan dalam bidang batik. Selain memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat tentang kiat-kiat mengembangkan UMKM batik, bersama Astra, pihaknya juga melakukan pendampingan kepada masyarakat mulai proses produksi hingga pemasaran.
(Peta konsep program-program KBA Tegalrejo/ Infografis oleh www.kangmasroer.com)

Suryanti sangat berharap agar menggeloranya semangat membatik di desa yang memiliki luas 11 hektare ini tidak hanya sekadar sebagai pelestari budaya semata. Lebih dari itu, melalui eloknya batik, ia menorehkan asa agar kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Oleh karena itu, melalui kolaborasi yang apik dengan pihak Astra, saat ini ia pun tengah menyiapkan sebuah konsep wisata baru di Desa Tegalrejo, yakni paket wisata batik. Paket wisata ini berupa kegiatan edukasi tentang batik, sekaligus praktek mengenai proses pembuatannya.

“Paket edukasi batik ini, insyaallah akan kami rilis awal Januari, sembari menata bidang-bidang yang lain,” katanya dengan penuh harap.

Dalam mewujudkan impian besarnya tersebut, Suryanti juga mengungkapkan, bahwa pihaknya merasa sangat terbantu dengan adanya delapan sekolah binaan YPA-MDR Astra. Kedelapan sekolah tersebut masing-masing adalah SDN Prengguk 1, SDN Prengguk 2, SDN Candi, SDN Tegalrejo, SDN Tengklik, SDN Gupit, SMPN 2 Gedangsari, serta SMKN 2 Gedangsari. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, menurutnya, menjadi modal tersendiri bagi masyarakat Desa Tegalrejo untuk mewujudkan paket edukasi batik serta melaksanakan program-program KBA lainnya, khususnya dalam pilar pendidikan.

Lebih lanjut, Suryanti juga menuturkan, jika KBA Tegalrejo Gedangsari memang bukanlah KBA pertama di Yogyakarta. Sebelumnya, Astra telah mencanangkan KBA Kemuning di Dusun Kemuning, Desa Bunder, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Berbeda dengan KBA Kemuning yang telah dikembangkan sejak tahun 2016 silam, KBA Tegalrejo Gedangsari baru dicanangkan belum lama ini. Tepatnya, sejak 23 Oktober 2018.

“Saat ini, (KBA Tegalrejo Gedangsari) masih dalam step indentity, designing, managing. Jadi, masih dalam pemetaan dan penataan program,” kata Suryanti menjelaskan.

Meski demikian, Suryanti mengungkapkan, bahwa semangat para pegiat KBA beserta masyarakat patut diacungi jempol. Pasalnya, meski usia KBA Tegalrejo Gedangsari bisa dikatakan belumlah seumur jagung, namun berbagai program pilar KBA sudah berhasil mereka jalankan.

Dalam pilar program kesehatan, misalnya. Menurut Suryanti, di Desa Tegalrejo sudah berjalan kegiatan posyandu, yang salah satu kegiatannya adalah sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan bagi lansia dan balita. Kegiatan yang dilakukan secara rutin tiap bulan tersebut, dilakukan oleh dokter dan bidan desa, yang dibantu oleh kader-kader posyandu setempat.
(Pemeriksaan kesehatan bagi lansia di Desa Tegalrejo/ Dok. KBA Tegalrejo)

Selanjutnya, dalam pilar program lingkungan. Suryanti menuturkan, bahwa untuk pilar program ini, para pemuda Desa Tegalrejo telah melaksanakan berbagai kegiatan. Beberapa di antaranya adalah penanaman pohon sirsak dan srikaya sebagai tanaman buah khas dari Desa Tegalrejo.

“Nah, ini pohon sirsak dan srikaya yang kemarin kami tanam, Mas..” katanya dengan penuh semangat, saat menunjukkan tempat penanaman pohon yang dilakukan oleh para pemuda di Dusun Prengguk, Desa Tegalrejo beberapa waktu yang lalu.

Koordinator pegiat KBA Tegalrejo Gedangsari, Sri Dwi Prasetyo (33) menambahkan, bahwa pohon sirsak dan srikaya dipilih karena kedua pohon ini mudah tumbuh di daerah yang berlahan sempit, serta mudah diberdayakan di daerah yang minim air sebagaimana di desanya ini.

“Sirsak dan srikaya juga tidak membutuhkan banyak air, Mas. Sehingga, cocok untuk lingkungan yang sedikit kekurangan air,” ungkap pria yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tegalrejo.

Pria yang akrab disapa Mas Dwi ini juga menjelaskan, bahwa untuk program pilar lingkungan, ia juga menggandeng para pemuda yang tergabung dalam Kumpulan Pemuda Mekarsari Dusun Candi dan Prengguk. Kegiatannya adalah pembuatan pupuk cair serta pembudidayaan tanaman bunga.

“Kami juga menggandeng pemuda Mekarsari Dusun Candi dan Prengguk untuk melakukan pembudidayaan bunga-bungaan, Mas. Nanti ditanam di pinggir jalan untuk memperindah jalan,” tuturnya.
(Penanaman pohon sirsak dan srikaya oleh para pemuda Desa Tegalrejo/ Dok. KBA Tegalrejo)

Selain program pilar tersebut, tak ketinggalan juga dalam program pilar kewirausahaan. Suryanti menjelaskan, bahwa para pegiat KBA bersama-sama dengan masyarakat juga sudah menjalankan berbagai kegiatan dalam bidang kewirausahaan. Selain batik, potensi besar lainnya yang sedang digarap oleh masyarakat Desa Tegalrejo adalah dalam hal kuliner.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan, bahwa di Desa Tegalrejo telah terbentuk Kelompok Olahan Pisang “Dapur Keripik” yang berpusat di Dusun Ngipik, Desa Tegalrejo. Beberapa kegiatan yang dilakukannya adalah pelatihan dan pendampingan tentang pengolahan pisang. Melalui program ini, diharapkan masyarakat dapat menyulap pisang sebagai salah satu buah lokal Desa Tegalrejo menjadi sesuatu yang bernilai lebih.

Ketua Kelompok Olahan Pisang “Dapur Keripik”, Tugiman (44) menuturkan, bahwa produk utama yang dihasilkan oleh kelompoknya saat ini adalah keripik pisang. Menurutnya, makanan dari pisang yang diiris tipis kemudian digoreng dengan menggunakan tepung bumbu ini sejatinya telah lama diproduksi oleh masyarakat. Namun, sejak hadirnya program KBA, kini produksi keripik pisang di desanya berubah menjadi semakin inovatif. Terlihat dari banyaknya varian rasa keripik pisang yang dihasilkannya.

“Nah, ini keripik pisang wijen, Mas. Silakan dicoba, dijamin rasanya pasti gurih..” katanya saat menawarkan salah satu varian keripik pisang hasil produksinya.

Pria yang menjabat sebagai kepala Dusun Ngipik ini juga mengungkapkan, bahwa anggota kelompoknya sangat terbantu dengan sentuhan program-program KBA. Selain pelatihan dan pendampingan tentang pengolahan pisang, beberapa waktu yang lalu kelompoknya juga mendapat bantuan dari Astra berupa alat-alat penggorengan senilai Rp 25 juta.
(Anggota kelompok “Dapur Keripik” saat menerima bantuan dari program KBA/ Dok. KBA Tegalrejo)

Saat ini, UMKM yang dikelolanya pun semakin produktif. Makanan olahan pisang yang dihasilkannya tidak hanya dipasarkan di daerah Gedangsari saja, melainkan juga hingga ke daerah Bayat, Kabupaten Klaten.

Alhamdu lillah, Mas. Keripik pisang kami juga sudah dipasarkan hingga ke Bayat,” kata pria yang usianya sebaya dengan Rico Ceper ini dengan penuh semangat.

Ke depan, Tugiman pun sangat berharap agar “Dapur Keripik” yang dikelolanya semakin berkembang, sehingga semakin menyejahterakan para anggotanya. Senada dengan harapan Suryanti, Dwi, serta pegiat KBA lainnya yang senantiasa berjuang menebar asa kepada masyarakat agar kampungnya menjadi desa yang lebih mandiri dan sejahtera.

Memang, tak ada laut yang tidak berombak, tak ada gunung yang tidak berbatu, dan tak ada langit yang tidak pernah mendung kelabu. Setiap perjuangan pasti ada hambatan. Demikian juga dengan Suryanti dan kawan-kawannya. Sesekali, para pegiat KBA ini masih menemui segelintir warga yang memandang sebelah mata terhadap apa yang mereka lakukan.

“Namanya masyarakat kan bermacam-macam, Mas. Ada yang bilang, ngapain capek-capek (jadi pegiat KBA) kalau nggak dibayar..” kata Suryanti mengungkapkan salah satu kendala yang ia hadapi saat menjadi pegiat KBA selama ini.

Namun, bukan pegiat namanya kalau mudah putus asa. Justru sebaliknya, hambatan-hambatan tersebut mereka jadikan sebagai pelecut semangat. Dengan penuh ketulusan dan semangat, mereka pun saling bahu-membahu untuk terus mewujudkan program-program KBA. Melalui KBA, mereka yakin, kampung halamannya tak lama lagi akan menjadi wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif melalui berbagai potensi yang ada, mulai dari eloknya batik hingga gurihnya keripik.


***

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2018



Anda baru saja membaca Menebar Asa Melalui Eloknya Batik hingga Gurihnya Keripik . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

11 komentar:

  1. Wah, mantap kang. Semoga masyarakat di sana semakin maju ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dalam hal pendidikan dan budaya, sudah maju banget, Bang.. Kalau dalam hal kewirausahaan masih dalam proses menuju kemajuan..

      Delete
  2. Replies
    1. Itu berkat kreatifitas masyarakatnya yang tinggi serta penggunaan zat pewarna alami yang menjadikan warnanya lebih eksotis dan elok, Koh..

      Delete
  3. Mbak Yanti, sosok muda yang patut jadi contoh, di tengah kondisi banyaknya kenakalan remaja. Masih banyak sosok2 yang menginspirasi bangsa. Good luck mas, mksih sharingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, benar Mas. Pemuda yang peduli pada lingkungan sekitar seperti Mbak Yanti inilah yang memang dibutuhkan bangsa kita, agar lebih cepat maju dan berkembang.

      Delete
  4. Batik menjadi ciri khas Indonesia, hampir setiap daerah memiliki ciri khas motif batiknya sendiri2. Bahkan di Gresik sini juga ada meski tidak populer, & aku jg baru tau. Kirain cuma di daerah Jawa Tengah saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat, Mbak. Setiap batik memiliki keunikan seperti batik Gedangsari ini yang unik karena motif dan zat pewarna yang digunakannya. Mari ikut memajukan batik melalui cara apapun, Mbak.

      Delete
  5. Selalu bangga membaca kisah anak muda yang menginspirasi dengan caranya masing-masing, apalagi kalau yang diangkat adalah produk budaya. Smoga semakin sukses dan terus menginspirasi. :)

    ReplyDelete
  6. Salut deh dengan Mbak Yanti yang fokus di dunia batik sebagai generasi penerus pembatik

    ReplyDelete
  7. Mantap ya mas kiprah KBA di sini. Konrtibusinya hingga pemberdayaan di level UMKM dengan pemberian modal senilai 25 juta. Keripik pisangya juga udah dipasarkan hingga ke daerah Bayat. Semoga keripiknya semakin laris manis tanjung kimpul hehe :)

    ReplyDelete