Kategori: ,

Lawan Hoax Beramai-ramai, Demi Pemilu yang Damai

Negara kita boleh saja menjadi satu di antara lima negara dengan koneksi internet terlambat di dunia versi We Are Social. Agensi marketing sosial dari Inggris tersebut, pada Januari 2019 yang lalu menempatkan Indonesia di peringkat ke-43 dari 45 negara dalam hal kecepatan rata-rata internet selulernya. Dalam hal kecepatan internet kabel pun tak jauh beda. We Are Social menempatkan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini pada peringkat ke-42 dari 46 negara yang dijadikan sampel dalam surveinya.
(Kecepatan rata-rata internet seluler/ Sumber: wearesocial.com)

Namun siapa sangka, di tengah keterbatasan kecepatan koneksi internet tersebut, ternyata pertumbuhan pengguna internet di Indonesia cukup signifikan. Tercatat, jumlah kenaikan pengguna internet di Indonesia pada awal tahun 2019 ini mencapai 17,3 juta pengguna, atau naik sekitar 13 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka ini tentu akan terus meningkat, apalagi jika jaringan Palapa Ring yang dibangun pemerintah benar-benar telah rampung dan siap untuk dioperasikan.
(Kecepatan rata-rata internet kabel/ Sumber: wearesocial.com)

Cukup membanggakan? Tentu, karena fakta tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat kita ternyata memiliki motivasi yang tinggi untuk tidak tertinggal dari masyarakat negara lain dalam hal teknologi. Lebih dari itu, pertumbuhan pengguna internet yang cukup tinggi tersebut juga menjadi potensi yang baik bagi peningkatan mutu SDM Indonesia yang ada.
(Peningkatan pengguna internet di Indonesia/ Sumber: tomato.co.id)

Namun, satu hal yang harus diingat, internet itu laksana pedang bermata dua. Di satu sisi ada dampak positif yang bisa menjadi berkah, di sisi lainnya ada dampak negative yang bisa jadi musibah. Satu di antaranya adalah kian masifnya berita hoax atau informasi bohong yang bertebaran di lini masa kita. Terlebih, di masa-masa menjelang pemilu seperti saat ini.

Menakar Dampak Hoax bagi Pemilu 2019

Meski baru mengambil peran utama dalam pentas diskusi publik di Indonesia pada beberapa dasawarsa terakhir ini, namun perkembangan berita hoax cukuplah mengkhawatirkan. Bak cendawan di musim penghujan, keberadaannya berbanding lurus dengan pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang meningkat tajam.

Hampir setiap saat, keberadaan informasi hoax selalu kita temukan di media internet, baik berupa konten yang diposting di media-media sosial ataupun pesan berantai yang disebarkan melalui aplikasi chatting. Motifnya pun beragam. Ada yang sekadar iseng, ajakan untuk berbuat sesuatu yang tidak berdasar, hingga black campaign untuk menjatuhkan pesaing sebagaimana yang kerap kita temukan menjelang pemilu 2019 ini.
(Hoax sangat berbahaya bagi pelaksanaan pemilu 2019/ Sumber: recode.id)

Lantas, seberapa besar dampak hoax bagi masyarakat? Dampaknya tentu berbeda-beda tergantung dari isi informasi hoax itu sendiri. Selain meresahkan masyarakat, satu hal yang pasti, informasi hoax itu sangat merugikan pembacanya, baik dari sisi waktu maupun materi. Bagaimana tidak, waktu dan paket data yang seharusnya bisa kita manfaatkan untuk melakukan hal-hal yang produktif, harus terbuang sia-sia hanya untuk membaca informasi bohong yang sama sekali tidak berguna.

Bagi pelaksanaan pemilu serentak yang akan digelar pada 17 April mendatang, selain menimbulkan konflik sosial, hoax juga merusak kredibilitas dan integritas penyelenggaraan pemilu dan pesertanya. Terlebih, jika informasi hoax tersebut berupa black campaign untuk menjatuhkan lawan politik, ia pun akan membunuh karakter seseorang dan menciptakan reputasi buruk bagi pihak-pihak tertentu. Akibatnya, akan merusak rasionalitas pemilih dalam menentukan pilihannya.

Lebih dari itu, jika konten hoax yang dibuat dan dishare tersebut berisi tentang informasi palsu yang disertai dengan ujaran kebencian dan berita provokatif, serta menyangkut masalah yang sensitif seperti halnya SARA, maka ia pun akan menyulut kebencian, emosi, dan kemarahan masyarakat. Puncaknya, ia akan memicu terjadinya kerusuhan, pembunuhan, bahkan disintegrasi bangsa. Tampak begitu mengerikan, bukan?

Lawan Hoax Beramai-ramai, Demi Pemilu yang Damai

Melihat berbagai dampak negatif dari informasi hoax bagi pemilu yang begitu dahsyat, maka bersikap diam bukanlah pilihan yang tepat. Pemilu 2019 yang damai, berkualitas dan bermartabat merupakan harapan dan cita-cita kita bersama, sehingga hoax adalah musuh bersama. Oleh karena itu, semua pihak harus bersepakat dan beramai-ramai berjihad melawannya. Lantas, bagaimana strateginya? Cukup dengan dua langkah, yaitu kenali dan lawan. Untuk mengenali hoax, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.
(Lima cara kenali hoax/ Infografis: kangmasroer.com)

Pertama, periksa kembali judul berita yang provokatif, karena konten hoax biasanya dibubuhi dengan judul sensasional yang provokatif. Jadi, saat menjumpai berita dengan judul provokatif, sebaiknya segera bandingkan dengan berita serupa dari situs-situs resmi yang ada.

Kedua, cermati dan cek alamat situs, jika berita yang provokatif dan meresahkan tersebut diperoleh dari sebuah situs. Caranya bisa dilakukan dengan mengecek status situs tersebut di website resmi Dewan Pers melalui laman dewanpers.or.id/perusahaan. Jika status situs tersebut belum terverifikasi, bisa dikatakan bahwa beritanya patut untuk diragukan kebenarannya, karena belum memenuhi kaidah jurnalistik sesuai aturan Dewan Pers.

Ketiga, bedakan fakta dengan opini. Sebagai pembaca yang bijak, sebisa mungkin kita tidak menelan mentah-mentah ucapan seorang yang dikutip oleh situs berita. Perhatikan apakah berita tersebut sekadar opini yang bersifat subyektif atau memang didukung fakta-fakta. Semakin banyak fakta yang termuat dalam sebuah berita, maka tingkat kredibilitasnya pun semakin tinggi. Begitu juga sebaliknya.
(Mari kenali dan lawan hoax!/ Sumber: kominfo.go.id)

Keempat, cek keaslian foto. Di era digital seperti saat ini, tidak hanya teks saja yang bisa dimanipulasi, melainkan foto pun kerap diedit untuk memprovokasi pembaca. Untuk mengecek keaslian foto, kita bisa melakukannya dengan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Setelah tampil gambar-gambar serupa yang terdapat di internet, kita tinggal membandingkannya.

Dan kelima, cari klarifikasi terhadap sebuah berita melalui grup-grup diskusi anti hoax. Misalnya saja di Facebook, kita dapat bergabung di beberapa fanspage dan grup diskusi anti hoax, seperti Fanspage Indonesian Hoaxes, Fanspage dan Group Indonesian Hoax Buster, serta Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH).

Nah, setelah kita mengetahui bahwa berita tersebut memang benar-benar hoax, maka tugas kita bersama adalah melawannya. Bagaimana caranya?
(Tiga cara melawan hoax/ Infografis: kangmasroer.com)

Pertama, jangan sekali-kali membagikan berita hoax tersebut, sehingga tidak akan memakan lebih banyak korban. Kedua, jika berita hoax tersebut bersumber dari sebuah situs, segera lakukan screen capture situs tersebut berikut url link-nya, kemudian laporkan melalui aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Dan ketiga, cari klarifikasi dari pihak yang berkaitan dengan informasi tersebut, atau jika kebetulan kita menguasai keilmuan terkait konten hoax tersebut, kita pun bisa menciptakan konten digital sendiri untuk membantah informasi hoax tersebut, kemudian share melalui media-media sosial yang kita miliki.

Jika masyarakat mau menerapkan langkah-langkah tersebut, dominasi konten-konten hoax di pentas diskusi publik pun akan tersisih dengan sendirinya. Hoax adalah musuh bersama bagi siapapun yang bercita-cita akan terselenggaranya pemilu yang damai, berkualitas dan bermartabat. Hoax juga musuh bersama bagi siapapun yang berharap terwujudnya keberlanjutan pembangunan nasional. Mari, lawan hoax beramai-ramai, demi pemilu 2019 yang damai!


Anda baru saja membaca Lawan Hoax Beramai-ramai, Demi Pemilu yang Damai . Jika bermanfaat, silakan bagikan artikel ini. Dan jangan lupa, tinggalkan jejak Anda di kolom komentar. Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment