GuruInovatif.id, Sahabat Setia Guru dalam Berinovasi - Kang Masroer

GuruInovatif.id, Sahabat Setia Guru dalam Berinovasi

GuruInovatif.id, Sahabat Setia Guru dalam Berinovasi

“Coba hitung, berapa jumlah guru yang berhasil selamat?” Tanya Kaisar Hirohito tak lama setelah Sekutu menjatuhkan “Little Boy” dan “Fat Man” yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Sontak saja pertanyaan Sang Kaisar itu pun mengagetkan para Jenderal Jepang. Bagaimana tidak, alih-alih menanyakan jumlah tentara yang tersisa, Sang Kaisar justru menanyakan jumlah guru yang selamat dari ledakan bom atom yang begitu dahsyat itu.

“Begini, Jenderal.. Negeri kita ini mungkin memang superior dalam hal tentara dan taktik perang. Namun coba pikir sejenak, apa yang menyebabkan kita bisa kalah dari mereka?” Ucap Sang Kaisar sambil memandangi satu persatu wajah para jenderal Jepang yang semakin begitu tampak kebingungan. Setelah menghela nafas, ia pun kembali melanjutkan perkataannya.

“Ternyata, sampai detik ini bangsa kita belum tahu cara menciptakan bom yang sangat dahsyat itu. Ya, kita kalah karena kita memang enggan untuk terus belajar,” kata Sang Kaisar yang sedikit banyak telah menjawab kebingungan yang dirasakan para Jenderal Jepang kala itu.

“Jadi, jika kita malas untuk selalu belajar, sudah barang tentu negeri kita ini akan semakin tertinggal jauh dari mereka. Maka dari itu, tolong kumpulkanlah semua guru yang selamat, karena kepada merekalah saat ini kita akan berharap,” lanjut Sang Kaisar sambil berapi-api.

Pesan Kaisar Hirohito

Sepenggal kisah tentang begitu vitalnya peran seorang guru bagi kemajuan sebuah bangsa itu diceritakan oleh salah satu guru semasa saya duduk di bangku SMA. Kisah itu jugalah yang menjadi salah satu inspirasi kenapa kemudian saya masuk ke fakultas keguruan dan mengabdikan diri sebagai guru di sebuah SMA hingga saat ini.

Iya, guru! Bagi sebagian orang, profesi ini mungkin dianggap tidak memiliki prestise yang tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan profesi-profesi lain yang lebih menawarkan keuntungan yang bersifat materi. Namun tidak demikian bagi saya. Guru, dalam kacamata saya merupakan sebuah profesi yang begitu mulia. Anda tentu tak asing dengan sepenggal lirik lagu “Guruku Tersayang” berikut ini, bukan?

Guruku tersayang, Guru tercinta

Tanpamu apa jadinya aku

Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal

Guruku terima kasihku...

Lirik lagu karya Melly Goeslaw itu memang benar adanya, Kawan.. Tanpa guru, kita tidak akan bisa apa-apa. Tanpa guru, kita juga akan merasa ‘buta’ dalam segala hal. Hmm, coba tengoklah sejenak orang-orang hebat di sekitar kita! Mereka menjadi hebat tidak dengan sendirinya lho, melainkan berkat jasa guru yang senantiasa sabar dan tekun dalam mendidiknya. Maka, berbanggalah ya siapapun yang menjadi guru!

Semakin membanggakan lagi karena guru juga menjadi ujung tombak pendidikan yang menentukan maju atau mundurnya sebuah bangsa. Jika sebuah negara memiliki guru-guru yang hebat, negara tersebut pun akan maju dan berkembang dengan pesat. Sebaliknya, jika kualitas para gurunya biasa-biasa saja, maka negara itu pun akan kalah saing dari bangsa-bangsa lain di dunia.

Guru ujung tombak pendidikan

Nah, mengingat begitu pentingnya peran dan fungsi guru, tak ayal saja seorang guru harus benar-benar bisa “digugu dan ditiru”. Atau dalam bahasa Permendiknas RI Nomor 16 Tahun 2007, seorang guru harus memiliki empat kompetensi, mulai dari pedagogik, kepribadian, profesional hingga sosial. Itulah sebabnya mengapa menjadi guru itu tidak mudah. Terlebih, di tengah badai pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Potret Mutu Guru di Tengah Badai Pandemi

Kalau boleh saya mengatakan, begitu pentingnya peran guru di masa pandemi seperti saat ini tak jauh beda dengan peran guru pasca dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Ya, kita tahu pandemi Covid-19 dan bom atom itu sama-sama telah berhasil meluluhlantakkan semua aspek kehidupan manusia.

Bedanya, dulu di masa kejatuhan Jepang, sosok guru dituntut untuk bisa mengajarkan bagaimana cara membuat persenjataan yang ledakannya lebih dahsyat dari “Little Boy” dan “Fat Man”. Sedangkan di tengah badai pandemi ini, sosok guru dituntut untuk mampu membuat ‘ledakan’ berupa inovasi-inovasi dalam pembelajaran. Pasalnya, pendidikan merupakan salah satu aspek yang paling terdampak akibat pandemi Covid-19.

Merujuk pada data yang dirilis UNESCO, sejak pandemi Covid-19 bergulir, lebih dari 1,5 miliar siswa di seluruh jagat raya ini harus belajar dari rumah (BDR). Di Indonesia sendiri—sesuai data yang dirilis Kemendikbud—ada lebih dari 68 juta siswa dari berbagai jenjang, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terdampak oleh pandemi.

Dampak pandemi bagi pendidikan

Sebelum pandemi, sekolah adalah “rumah kedua” bagi para siswa. Namun, di masa pandemi saat ini kondisinya pun berbalik: rumah adalah “sekolah kedua” bagi mereka. Perubahan paradigma ini tentu saja menuntut sosok guru wajib mengubah teknik dan metode pembelajarannya, dari yang semula klasikal kini menjadi pembelajaran berbasis digital.

Namun sayang seribu sayang, sosok guru yang diharapkan mampu menjadi lentera penerang di tengah badai pandemi saat ini belum semuanya mahir dan mumpuni dalam hal pemanfaatan teknologi informasi untuk pembelajaran. Buktinya, terlihat dari hasil survei terhadap 602 guru dari 14 provinsi yang dilakukan KPAI pada akhir April 2020 yang lalu.

Dari survei tersebut, KPAI menemukan fakta yang begitu mengejutkan. Bagaimana tidak, menurut hasil survei tersebut, guru yang paham bagaimana cara memanfaatkan gawai secara maksimal untuk pembelajaran daring hanya 8 persen saja. Selebihnya, sebanyak 82,4 persen guru masih minim dalam memanfaatkan gawai untuk belajar daring. Bahkan, 9,6 persen guru di antaranya sama sekali tidak pernah memanfaatkan gawai untuk belajar daring. Potret yang cukup memprihatinkan, bukan?

Potret guru di masa pandemi

Temuan KPAI tersebut juga diperkuat oleh hasil survei UNICEF yang dilakukan melalui portal U-Report Indonesia pada kurun waktu 18 Mei sampai 8 Juni 2020. Dari survei terhadap lebih dari 4.000 siswa di seluruh penjuru tanah air itu, tercatat ada 66 persen siswa yang merasa tidak nyaman ketika belajar dari rumah. Bahkan, sebanyak 87 persen siswa mengaku ingin cepat-cepat kembali belajar di sekolah.

Lantas, sebenarnya apa sih penyebabnya? Selain keterbatasan akses internet, ternyata sebagian besar siswa mengungkapkan, bahwa metode penugasan yang dipilih oleh sebagian besar guru menjadi beban tersendiri bagi para siswa. Keterbatasan keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi internet tentu saja menjadi salah satu penyebab utama kenapa guru hanya mengandalkan penugasan saat melaksanakan pembelajaran daring.

Kini, soal permasalahan akses internet sudah mulai terselesaikan berkat bantuan kuota gratis dari pemerintah. Oleh sebab itu, saat ini para guru pun—termasuk saya tentunya—dituntut untuk terus berinovasi menciptakan metode pembelajaran daring yang menyenangkan.

Guru harus melakukan inovasi

Tentu saja hal tersebut tidak mudah, mengingat setiap inovasi pasti ada saja tantangannya. Namun satu hal yang patut disyukuri, di zaman yang serba digital ini sudah tersedia banyak sekali platform yang memungkinkan guru belajar secara online tentang berbagai inovasi pembelajaran. Salah satunya, dengan mengikuti berbagai pelatihan melalui GuruInovatif.id.

GuruInovatif.id, Sahabat Setia Guru dalam Berinovasi

GuruInovatif.id merupakan platform belajar dan sertifikasi guru Indonesia yang akan menemani guru dalam upaya peningkatan kompetensi metode pembelajaran. Platform persembahan spesial dari HAFECT bagi para guru di Indonesia ini menyediakan berbagai pelatihan agar para guru bisa meningkatkan kompetensi yang dimilikinya.

Keuntungan belajar di GuruInovatif.id

Ibarat sahabat setia yang selalu menemani kita setiap saat, program pelatihan guru di GuruInovatif.id tersebut juga bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Tak hanya itu, berbagai keuntungan pun akan didapatkan oleh guru yang belajar online di GuruInovatif.id. Mulai dari akses ke semua fasilitas dan program yang tersedia, instruktur yang berpengalaman, kursus yang bersertifikasi, hingga kemudahan materi untuk dipahami dan diterapkan oleh guru pada kegiatan belajar mengajarnya.

Lantas, langkah apa saja yang harus dilakukan oleh guru agar menjadi sosok guru yang inovatif bersama GuruInovatif.id? Seperti sebaris lirik lagunya Uut Permatasari, untuk menjadi guru yang inovatif bersama GuruInovatif.id, guru hanya perlu “lima langkah dari rumah”. Ya, cukup lima langkah saja dan bisa dilakukan dari dari rumah, Kawan..

Lima langkah dari rumah

Pertama, tentu saja membuat akun di GuruInovatif.id. Caranya sangatlah mudah, karena kita cukup mengisi form yang tersedia di laman pendaftaran. Nah, berbeda dengan platform lain yang kebanyakan harus membayar sejumlah biaya pendaftaran terlebih dahulu, pembuatan akun di GuruInovatif.id gratis tanpa dipungut sepeser biaya apapun. Keren kan?

Kedua, memilih program. Ya, setelah membuat akun, kita tinggal login dan memilih berbagai kursus online serta webinar yang tersedia di platform GuruInovatif.id. Ada beberapa program yang bisa kita ambil, mulai dari Online Certification yang bersertifikat 32 Jam Pelajaran (JP), Mini Course yang bersertifikat 16 JP, Productivity Course dengan sertifikat 8 JP, hingga Live Webinar yang menghadirkan berbagai narasumber ahli dengan fasilitas sertifikat 4 JP. Semuanya tersedia dalam berbagai topik yang dikemas secara apik dan menarik lho!

Program kursus di GuruInovatif.id

Ketiga,
melakukan pembayaran. Setelah kita memilih kursus yang akan diikuti, kita tinggal melakukan pembayaran melalui sistem yang sudah disediakan GuruInovatif.id. Tenang saja.. Selain mudah, sistem pembayarannya juga dijamin aman kok. Agar mendapatkan diskon 20 persen, Anda bisa memasukkan kode referral saya, yaitu KANGMASROER saat akan melakukan pembayaran. Dan ssst, jangan bilang siapa-siapa ya! Langkah ketiga ini hanya perlu dilakukan jika Anda mengambil kursus yang berbayar. Kok bisa? Iya, karena ada banyak sekali kursus yang bisa kita ikuti secara gratis! Hmm, benar-benar sahabat sejati deh, selalu ada meski kita sedang tak punya. Iya kan?

Keempat, memulai program. Kita bisa segera mulai belajar dalam platform khusus yang tersedia. Layaknya sahabat yang selalu memberikan kenyamanan, platform kursus GuruInovatif.id ini juga sudah didesign sedemikian rupa, sehingga akan memberikan kenyamanaan tersendiri saat kita menyelesaikan kursus. Kita tinggal menyimak tayangan video berisi materi yang disampaikan oleh instruktur dan mengerjakan tugas, untuk kemudian kita pun akan mendapatkan sertifikat. Jika ada kesulitan, guru juga bisa bertanya melalui forum diskusi yang tersedia.

Langkah terakhir, kita tinggal menerapkan ilmu yang telah kita dapat dalam pembelajaran serta mengambil berbagai fasilitas menarik yang diberikan GuruInovatif.id. Mulai sertifikat, e-modul, serta fasilitas lainnya sesuai dengan kursus dan webinar yang kita ikuti. Semakin menarik lagi, karena saat ini GuruInovatif.id lebih memberi kemudahan dalam hal sertifikat berkat adanya fitur E-Sertifikat kelulusan dan E-Sertifikat penyelesaian.

Sertifikat GuruInovatif.id

Jadi begini, misalkan kita sudah menyelesaikan kursus Online Certification kemudian mengerjakan tugas yang diberikan, maka kita akan mendapatkan sertifikat kelulusan senilai 32 JP. Lha terus, bagaimana kalau karena kesibukan tertentu sehingga kita tidak sempat mengerjakan tugas? Tenang saja, meski kita tidak mengerjakan tugas setelah menyelesaikan kursus, kita akan tetap mendapatkan sertifikat, yaitu sertifikat penyelesaian senilai 24 JP.

Sertifikat-sertifikat tersebut tentu saja akan sangat bermanfaat bagi para guru. Tak hanya bagi guru PNS yang membutuhkan nilai pengembangan diri untuk kenaikan pangkat, akan tetapi juga bagi mereka—baik guru PNS maupun non PNS—yang akan atau sedang menjalani program Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan atau PPG Daljab yang digelar oleh pemerintah. Pasalnya, di akhir program PPG Daljab ini, peserta akan diminta untuk mengumpulkan portofolio berupa sertifikat-sertifikat pelatihan yang diikutinya selama dua tahun terakhir.

Oh iya, selain berbagai keuntungan tersebut, para guru-guru serta siapa pun penggiat pendidikan juga bisa bergabung dengan program afiliasi GuruInovatif.id. Program afiliasi ini merupakan sistem yang memungkinkan kita untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan dengan cara memberikan referensi kursus yang ada di platform GuruInovatif.id kepada orang lain.

Program afiliasi GuruInovatif.id

Prosedurnya, setiap pengguna yang telah berbelanja minimal Rp50.000,- untuk pembelian produk apapun di GuruInovatif.id akan mendapatkan ID kode referral. ID kode referral tersebut nantinya bisa digunakan oleh orang lain untuk mendapatkan potongan biaya kursus sebesar 20 persen. Potongan biaya 20 persen ini untuk kemudian akan masuk ke dalam saldo akun guru pemilik ID kode referral tersebut.

Nah, bagaimana, Kawan? Semakin mantap untuk bergabung di GuruInovatif.id, bukan? Beberapa review dari pengguna tentu akan semakin memperkuat bukti, bahwa belajar dan sertifikasi guru di GuruInovatif.id mampu mendongkrak kompetensi yang dimiliki oleh guru.

Review pengguna GuruInovatif.id

Dengan peningkatan kompetensi yang dimiliki oleh guru setelah belajar di GuruInovatif.id ini, diharapkan para guru akan mampu melakukan berbagai terobosan dan inovasi. Akhirnya, pembelajaran yang dilakukannya pun akan terasa lebih menyenangkan bagi para siswa serta akan semakin meningkat dari segi kualitas.

Yuk, bergabung dengan GuruInovatif.id dan lakukan inovasi pembelajaran sekarang juga untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia yang lebih baik!

***

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog GuruInovatif.id Sesi 2 dengan tema “Peran GuruInovatif.id sebagai Platform Belajar dan Sertifikasi Guru Indonesia”. Tulisan ini sudah lulus copyscape, capture bukti lulus copyscape bisa dilihat di sini

Lomba Blog GuruInovatif 2


0 Tanggapan untuk " GuruInovatif.id, Sahabat Setia Guru dalam Berinovasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel