Berburu Batik Jumputan hingga Minuman Warisan Sultan - Kang Masroer

Berburu Batik Jumputan hingga Minuman Warisan Sultan


Jarum pendek jam di tangan sudah menunjuk angka sebelas, ketika saya, si Zizi dan ibunya tiba di Alun-alun Sewandanan, Sabtu, 9 Februari 2020. Udara siang itu memang cukup terasa panas, sehingga sukses membuat dahi ini berpeluh. Namun demikian, ia tak mampu menyurutkan langkah saya untuk tetap mengunjungi “Pasar Rakyat” yang digelar oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta itu.

Usai memarkir kendaraan, kami bertiga pun bergegas menuju area tempat pasar rakyat itu berada. Di sana, berjajar sekitar 50-an stand yang rata-rata merupakan UKM binaan Plut Jogja. Semua memamerkan produk lokal asli Yogyakarta. Tak mau ketinggalan, saya pun berburu jumputan, salah satu batik produk lokal yang dibuat dengan teknik ikat celup untuk menciptakan gradasi warna yang memesona.

“Mari, Mas! Silakan lihat-lihat dulu aja..” Sapa seorang wanita di salah satu stand yang memamerkan produk batik jumputan tiba-tiba.

Belakangan—setelah ia memperkenalkan diri—saya tahu, bahwa wanita paruh baya ini bernama Mbak Sulastri. Ia adalah asisten pribadi Ibu Tuliswati Sandhi, pemilik UKM di bidang produksi batik, Dea Modis. Sambil menunjukkan puluhan koleksi batik jumputan yang dipamerkan di Pasar Rakyat Alun-alun Sewandanan ini, ia pun bercerita banyak hal tentang batik jumputan.

(Mbak Sulastri sedang berkisah tentang batik jumputan/ Dok. Pribadi)

Batik jumputan merupakan batik yang memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan batik tulis yang dibuat dengan canting dan malam, batik jumputan dikreasi dengan teknik ikat dan celup rintang. Jadi, untuk menciptakan beragam motif pada batik jenis ini, kain akan digambar pola terlebih dahulu. 

Pola tersebut, untuk kemudian diikat dengan jahitan sehingga bagian tersebut menjadi mengerut. Nah, saat kain dicelupkan ke dalam pewarna, bagian kain yang dijahit tersebut tidak akan terkena warna, sehingga membentuk pola-pola yang indah. Proses ikat dan celup ini dilakukan beberapa kali, sesuai dengan jumlah warna yang diinginkan.

Konon, teknik jumputan pada proses pembuatan batik ini berasal dari negeri tirai bambu yang dibawa ke Indonesia oleh para pedagang India. Karena keragaman motif dan warnanya yang indah, teknik jumputan ini pun akhirnya berkembang di Nusantara. Di Indonesia sendiri, batik jumputan ini biasanya diproduksi oleh para pelaku UKM. Salah satunya, adalah Dea Modis yang memiliki rumah dan gerai batik di Jl. Soga 64A Tahunan, Umbulharjo, Yogyakarta.

(Beberapa koleksi batik jumputan Dea Modis yang dipamerkan saat pasar rakyat di Alun-alun Sewandanan/ Dok. Pribadi)

Meskipun hanya memakai teknik celup, namun kreasi dan proses pewarnaan batik jumputan Dea Modis dilakukan oleh pengrajin yang telah terlatih dan berpengalaman. Maka tidaklah mengherankan, jika motifnya pun terasa “limited edition”, tidak pasaran, serta perpaduan aneka warnanya sangat menawan. Keistimewaan lain dari batik jumputan karya Dea Modis ini adalah penggunaan bahan alami dalam proses pewarnaan. Alhasil, warnanya pun tidak mudah luntur.

“Baju yang saya pakai ini sudah sejak 2013 lho, Mas..” kata wanita  yang kerap disapa Mbak Lastri ini meyakinkan.

Mbak Sulastri juga berkisah, bahwa batik jumputan Dea Modis ini sudah berdiri sejak tahun 2010 silam. Berawal dari pelatihan Ibu Tuliswati Sandhi kepada ibu-ibu rumah tangga di daerah Kelurahan Tahunan. Tak dinyana, ketelatenan para ibu rumah tangga saat itu ternyata mampu mengantarkan batik jumputan menjadi ikon salah satu kelurahan yang ada di Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Kini, satu dasawarsa telah berlalu. Meski sudah sering mendapat pesanan seragam, Dea Modis tidak berpuas diri. Para pengrajinnya terus belajar, berinovasi dan berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendapatkan kualitas produk yang semakin baik. Dea Modis juga selalu berusaha mengenalkan karya-karyanya melalui berbagai pameran produk lokal UKM. Salah satunya, melalui event pasar rakyat yang digelar di Alun-alun Sewandanan sebagaimana yang saya kunjungi siang itu.

(Pewarnaan batik jumputan Dea Modis menggunakan pewarna alami sehingga tidak luntur/ Dok. Pribadi)

Dalam pameran yang berlangsung sejak tanggal 7 hingga 9 Februari 2020 itu, Dea Modis memamerkan berbagai produk batik. Mulai dari yang masih berupa lembaran kain hingga yang sudah dijahit menjadi aneka model pakaian. Harga selembar kain batik jumputan Dea Modis bervariasi, tergantung jumlah warna dan tingkat kesulitan saat proses pembuatannya.

Siang itu, setelah memilah dan memilih puluhan batik jumputan yang dipamerkan Dea Modis, saya pun akhirnya jatuh hati pada keindahan selembar kain batik jumputan yang memadukan warna hitam, merah, dan putih. Tak perlu berpikir panjang, saya pun segera meminangnya dengan mahar Rp250 ribu. Harga tersebut, bagi saya, sepadan dengan proses panjang pembuatan serta pesona keindahan yang ditawarkannya.

(Harga batik jumputan sepadan dengan proses panjang pembuatan serta pesona keindahan yang ditawarkannya/ Dok. Pribadi)

Usai berburu batik jumputan, kami bertiga kembali berkeliling mengeksplore berbagai produk lokal yang dipamerkan oleh stand-stand yang lain. Mereka memamerkan berbagai produk-produk lokal andalannya. Mulai dari berbagai kerajinan tangan seperti pakaian, asesoris, kerajinan kulit, kerajinan kayu, hingga berbagai olahan makanan dan minuman seperti olahan ikan, tahu bakso, kopi, teh, dan produk-produk kuliner lainnya.

Sejurus kemudian, kami menyempatkan untuk membeli beberapa bumbu instan di sebuah stand yang dikelola oleh Ibu Nurul. Ibu Nurul ini merupakan salah satu pelaku UKM yang fokus memproduksi aneka bumbu dapur. Varian bumbu dapur produksinya cukup lengkap, mulai dari bumbu gule, abon, rawon, brongkos, sate, tongseng, rendang, soto, sop, hingga bumbu opor. Harganya cukup murah, hanya Rp3.000 per bungkusnya.

(Aneka bumbu "Raja" yang dipamerkan dalam Pasar Rakyat di Alun-alun Sewandanan/ Dok. Pribadi)

Brand yang dipasarkan oleh Bu Nurul untuk produk-produknya ini adalah ABR, singkatan dari Aneka Bumbu “Raja”. Meskipun taraf usahanya belum begitu besar, tapi pelaku UKM yang beralamat di Jl. Imogiri Barat Km. 7,5, Sudimoro RT 01, Timbulharjo, Sewon, Bantul ini tampak serius menggarap produk lokal yang digelutinya. Terbukti, produknya sudah mengantongi surat ijin dari Dinas Kesehatan serta sertifikat halal dari MUI.

“Ini ada wedang uwuh juga, Mas. Bisa dicoba dulu, free..” katanya sambil menunjukkan jumbo besar berisi wedang uwuh yang siap minum.

Saya segera mengambil sebuah gelas kecil dan menuangkan wedang uwuh ke dalamnya. Semerbak aroma harum pun seketika tercium di hidung, sesaat sebelum saya meminum minuman yang konon merupakan warisan para Sultan Mataram itu.

(Mencicipi wedang uwuh hasil produksi Ibu Nurul/ Dok. Pribadi)

Ya, menurut sejarah, wedang uwuh ini memang sudah ada sejak zaman Kesultanan Mataram. Tepatnya, pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Bahkan, wedang uwuh juga menjadi minuman favorit Sultan ketiga Mataram itu. Konon, daun-daun yang digunakan untuk membuat wedang uwuh diracik oleh para prajurit kerajaan dari rontokan pohon-pohon yang ada di sekitar kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri.

Dan seolah menjadi pewaris para peramu minuman kerajaan, Bu Nurul ini juga sangat mahir meracik wedang uwuh. Terbukti, rasa manis dan pedasnya sangat terasa pas di lidah. Selain komposisinya yang tepat, keunggulan lain dari wedang uwuh “Raja” hasil produksi Ibu Nurul ini adalah bahan-bahannya yang sudah dicuci bersih. Jadi, kita tinggal menyeduhnya saja untuk kemudian mendapatkan kemanfaatannya yang luar biasa.

Selain mampu menghangatkan badan, minuman warisan Sultan ini juga efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Tanpa ragu-ragu lagi, saya pun memborong 3 pack wedang uwuh instan siap seduh untuk dibawa pulang ke rumah. Harganya sangat terjangkau, hanya Rp10.000 per pack. Tiap pack-nya berisi masing-masing 3 sachet.

(Memborong aneka bumbu "Raja" dan minuman warisan Sultan/ Dok. Pribadi)

Usai berburu batik jumputan hingga minuman warisan Sultan di Pasar Rakyat Sewandanan, kami pun beranjak menuju ke tempat parkir kendaraan. Terdengar sayup-sayup suara gamelan dari panggung utama yang terletak di sebelah barat area pasar rakyat. Sementara beberapa penari kecil tampak sedang berlatih menari di halaman panggung. Rupanya, sebentar lagi mereka akan menampilkan tarian-tarian untuk menghibur para pengunjung pasar rakyat di Alun-alun Sewandanan.

Maksud hati, sebenarnya kami ingin menyaksikan penampilan mereka hingga usai. Tapi apalah daya, matahari sudah mulai tergelincir ke barat dan mendung pun mulai menyapa. Setelah berkemas-kemas, saya pun segera memacu kuda besi untuk pulang ke Prambanan.

(Beberapa penari cilik sedang berlatih menari di depan panggung utama/ Dok. Pribadi)

Di sepanjang perjalanan, saya pun terus berharap agar event-event semacam Pasar Rakyat di Alun-alun Sewandanan ini selalu digelar secara rutin. Pasalnya, event semacam pasar rakyat ini memang sangat bermanfaat, baik bagi pelaku UKM maupun masyarakat.

Bagi pelaku UKM, event ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk-produknya kepada masyarakat luas. Sedangkan bagi masyarakat, selain sebagai ajang hiburan, pasar rakyat juga memberikan pengetahuan baru tentang produk-produk lokal dengan berbagai inovasinya.


***

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pameran Produk Lokal UKM "Pasar Rakyat"



35 Tanggapan untuk "Berburu Batik Jumputan hingga Minuman Warisan Sultan"

  1. ini yang di Pakualaman ya mas. kemarin mau datang blm jadi2. ada lg kapan ya, padahal kmrn dah di iming2 tmn ttg produk2 yg dipamerkan. keliatan bagus2 dan berkualitas

    ReplyDelete
    Replies
    1. batiknya bagus. itu yg jual pakai dr bertahun2 lalu masih bagus ajah. batik berkualitas tuh yaaa. andai dekat pasti saya borong banyak, sekalian beli bumbu2 di sana

      Delete
    2. Iya, Mbak. Di Pakualaman. Saya juga baru bisa ke sana hari kedua. Jumputan ala Dea Modis ini yg paling ngejreng warnanya.

      Delete
  2. Saya paling suka acara seperti ini, Mas. Jadi lebih mengenal UKM-UKM yang ada. saya jadi tahu beragam produk.
    Dan saya takjub dengan batik jumputan itu. Motifnya beragam, dengan perpaduan warna memikat. padahal tekniknya hanya ikat, celup, ikat celup. Tapi dalam satu kain bisa banyak warna ya, Mas. Keren....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ternyata banyak juga produk lokal yang baru saya ketahui dari sini, Mas. Semoga acara macam ini selalu rutin digelar.
      Cuma diikat, tapi ngikatnya juga butuh keterampilan, Mas. Gak sembarangan hehehe

      Delete
  3. Cantik juga yaa batik jumputan ini. sepertinya hanya ada disana ya. Disini jarang ada. Penasaran sama Wedangnya, enak pasti diminum pas musim hujan seperti sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Warnanya cerah-cerah, cocok banget buat cewek-cewek. Wedang uwuhnya rasanya manis dan agak pedas, cocok banget kalau pas hujan.

      Delete
  4. Saya baru tahu ternyata jumputan juga ada di daerah lain ya. Kirain jumputan itu eksklusif kain khas Palembang. Nambah wawasan bener ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya ada beberapa daerah yang terkenal dengan jumputannya. Selain Palembang, salah satunya, Jogja ini.

      Delete
  5. Seru ya acaranya. Batik jumputan memang menghasilkan motif yang unik. Lihat foto motif dari Dea Modis memang sangat cantik & menarik. Pemilik bisnis memang harus selalu rajin berinovasi yaa.

    Btw, Saya suka sekali dengan wedang uwuh. Pertama kali dikenalkan oleh sahabat Saya. Sejak saat ini kalau di tempat jual wedang, pesennya selalu wedang uwuh. Pengen beli bumbunya bu Nurul Juga.. biar masak lebih gampang hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, semakin sore semakin seru ternyata. Ada penampilan tari-tarian juga. Yap, salah satu kunci sukses bisnis adalah berinovasi. Terlebih buat UKM, kalau gak berinovasi mereka akan tersisih.

      Delete
  6. Jogja selalu banyak cerita ya mas. Termasuk hasil kerajinannya kini makin membumi. Saya juga penggemar batik jumputan. Bahannya adem dipakai dan motifnya tidak pasaran. Dan wedang uwuh, adalah minuman kesukaan saya. Meski tinggal di Denpasar, tapi saya sering order wedang uwuh ini ke Jogja secara online. Semoga UKM-UKM seperti ini makin berkembang pesat dan meningkatkan perekonomian di Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adem dan motifnya gak ada duanya, karena dikerjakan secara manual jadi pasti berbeda-beda dan gak pasaran. Iya, semoga UKM dan perekonomian Indonesia semakin maju.

      Delete
  7. Jogjaaaa..Senada dengan meneriakkan, batiiiikkkk.
    Hehehehe..

    Wih, jadi makin lengkap tentengan oleh-oleh Jogja nih. Ada batik jumputan pulaaa.

    Hyuk, ngeJogjaaaa ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kapan ke Jogja, Mbak? Selain gudeg dan bakpia, jngan lupa sama jumputaan dan wedang uwuhnya, ya? Hehehe

      Delete
  8. Keren dan cantik sekali kain kain batiknya... Bahkan saya baru mengetahuinya dari web ini..

    ReplyDelete
  9. Aku langsung catat alat penyelenggaran Pasar Rakyat ini karena suka banget dengan kain batik. Semoga nanti pasti aku main ke Yogyakarta, bertepatan dengan penyelenggaraan berikutnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Kalau pas ke Jogja ada gelaran ini wajib hadir pokoknya..

      Delete
  10. Wah beda ya motif batiknya mas, beli batik itu kadang-kadang suka gak tahan sama lunturnya. Enak ya kalo batik Jumputan inj pake bahan pewarna alami. Seru ya mas itu acara pasar rakyatnya pasti banyak produk UMKM lainnya yang dipajang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang penting cara pencuciannya benar insyaallah warnanya awet dan tidak mudah pudar, Mbak..

      Delete
  11. Batik Jumputan ini bagus sekali ya warna dan coraknya. Mesti punya beberapa helai kainnya nih buat dijadikan outher, pasti keren deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mau beli, bisa online juga, Mbak.. Silakan hubungi penjualnya.. Insyaallah amanah.

      Delete
  12. Dulu pas smp diajarin juga bikin motif dengan jumputan.. tapi selalu dibawah ekspektasi jadinya karena saya tidak ahli, hehe. Bagus yah bikinan ukmnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau Deamodis ini sudah terlatih semua, kak, jadi dijamin cantik dan menarik..

      Delete
  13. Wah ini yang kemarin 3 hari aja ya kak? Ah iya batik dengan warna alami emang banyak banget peminatnya, tapi perawatannya juga nggak sembarang juga :D seruu, ada kain2, kerajinan, hingga kuliner

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tempo waktu sudah ikut berkunjung juga, seru kan, Mbak?

      Delete
  14. wah aku suka nih mas berburu batik karena di Indonesia yang aku tau ada banyak ratusan khas batik yg memiliki ciri khas masing" keren kren

    ReplyDelete
  15. Saya waktu kecil suka banget kalau diajak pergi ke pasar rakyat tapi sekalinya sudah besar malah nggak pernah lagi. Btw liat batik jumputannya keliatan bagus ya, warnanya oke, motifnya juga bagus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya warnanya ngejreng-ngejreng. Pas banget buat baju-baju cewek, Mbak.

      Delete
  16. Batuk Jumputam ini memang ada ciri khas sendiri macam pattern yang abstrakdan warna yang mencolok ya, Bagus! Acaranya juga Bagus karena bisa mengangkat budaya lokal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Limited edition juga, karena dibuat manual dengan tangan..

      Delete
  17. Saat ini sedang "social distancing" dan aku sangat kepikiran dengan pengusaha-pengusaha yang aktif berjualan di pasar rakyat seperti ini. Penghasilan mereka sangatlah di ujung tanduk :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Even pasar rakyatnya sementara memang belum digelar lagi Mas, tapi insyaallah meeka bisa tetep eksis karena sebagian besar juga berjualan secara online.

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel