Berkat QRIS, Gaya Hidup Generasi Milenial pun Jadi Semakin Praktis


Lekat dengan berbagai media sosial. Gemar belanja untuk memenuhi segala keperluan hidupnya melalui platform digital. Gaya hidupnya jauh dari kesan konvensional. Itulah gen Y atau yang lebih masyhur dikenal sebagai generasi milenial.

Anda tentu sudah tak asing lagi dengan istilah milenial, bukan? Istilah milenial memang semakin akrab terdengar di telinga. Konon, istilah tersebut berasal dari kata ‘millennials’ yang dipopulerkan oleh dua pakar sejarah sekaligus penulis Amerika, yaitu William Strauss dan Neil Howe di dalam beberapa bukunya.

Secara teori memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang juga akrab disebut sebagai generation me atau echo boomers ini. Namun, para ahli menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Sebagian besar mengatakan, bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir pada kurun waktu 1980-an hingga 1997. Merujuk pada data BPS, 1 dari 3 penduduk Indonesia saat ini masuk dalam kategori generasi ini.



Sebagai generasi yang terlahir di tengah kemajuan teknologi, gaya hidup generasi milenial memang tak bisa lepas dari yang namanya gadget dan internet. IDN Research Institute—salah satu lembaga riset independen di Indonesia—beberapa waktu yang lalu merilis data, bahwa 94,4 persen generasi milenial Indonesia telah terkoneksi dengan internet. Bahkan, rata-rata mereka menghabiskan waktunya untuk berselancar di dunia maya lebih dari tujuh jam per harinya.

Hasil riset yang bertajuk Indonesia Millennial Report 2019 tersebut juga mengungkapkan, bahwa hampir di setiap lini aktivitas generasi milenial ini tidak lepas dari dukungan digital. Mulai dari mencari referensi kuliner hingga travelling, tempat makan favorit hingga mencari tiket dilakukannya secara online. Bahkan, untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari pun, generasi milenial melakukannya secara online.

Kado Spesial dari BI untuk Generasi Milenial

Selain fenomena gemar belanja online, hasil riset IDN Research Institute juga mengungkapkan perilaku generasi milenial yang cukup menarik, yaitu tentang pola hidup cashless. Jika dilihat dari kepemilikan produk keuangan, terlihat kecenderungan generasi milenial yang jarang membawa uang dalam jumlah banyak. Sebaliknya, mereka justru lebih suka untuk bertransaksi secara digital melalui berbagai metode pembayaran. Salah satunya adalah dengan metode QR code payment.

Sebagai informasi, QR Code Payment atau Quick Response Code Payment merupakan metode pembayaran non tunai dengan cara scanning atau memindai kode yang berwujud dimensi. QR Code ini umumnya berbentuk jajaran persegi warna hitam seperti barcode, akan tetapi dengan tampilan yang lebih ringkas.

QR Code pertama kali dibuat pada tahun 1994 oleh perusahaan asal Jepang, Denso-Wave. Konon, pada awalnya metode ini diciptakan untuk melacak kendaraan di bagian manufaktur. Namun dalam perkembangannya, QR Code ini semakin banyak digunakan di bidang lainnya, mulai akses berita hingga metode pembayaran.



Aksesnya yang lebih mudah dan praktis, memang menjadikan penggunaan QR Code sebagai alat pembayaran semakin tren di kalangan generasi milenial Indonesia. Tidaklah mengherankan jika GoPay, OVO, LinkAja, Dana dan penyedia pembayaran berbasis online lainnya pun banyak yang memakai metode QR Code Payment ini.

Namun, asal tahu saja, masing-masing sistem pembayaran itu memiliki QR Code yang berbeda-beda. Jadi, misalkan saja sebuah merchant menerima 4 sistem pembayaran, maka akan terdapat 4 QR Code yang berbeda pula.

Selain menambah pengeluaran bagi merchant, keberadaan QR Code yang berbeda-beda antar penyedia pembayaran berbasis online juga memungkinkan munculnya dampak negatif sebagaimana kasus scamming QR Code di China yang menimbulkan kerugian hingga USD 13 juta. Mudah dan praktis kalau tanpa jaminan keamanan tentu tidak akan terasa nyaman, bukan?


Nah, untuk itulah Bank Indonesia (BI) meluncurkan standar kode respons cepat untuk pembayaran melalui aplikasi uang elektronik dengan nama QR Code Indonesian Standard (QRIS). Dengan segala keunggulannya, baik bagi merchant maupun konsumen, dirilisnya QRIS oleh Bank Indonesia tepat pada peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI ini tentu menjadi kado spesial bagi seluruh masyarakat Indonesia, terkhusus bagi generasi milenial yang gemar melakukan transaksi non tunai.

Berkat QRIS, Gaya Hidup Generasi Milenial pun Jadi Semakin Praktis

Generasi milenial memang memiliki gaya hidup yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Tak hanya lebih melek teknologi, mereka juga memiliki prinsip utama yang berbeda dalam hal bertransaksi untuk memenuhi gaya hidupnya. Paling tidak, ada empat prinsip utama pembayaran digital ala milenial.

Pertama, cepat. Salah satu ciri khas generasi milenial memang memiliki mobilitas yang tinggi dan senang melakukan segala sesuatu secara cepat. Demikian juga saat bertransaksi, mereka cenderung tidak sabar saat harus mengantre dan menunggu lama.

Kedua, mudah. Generasi milenial lahir dan tumbuh di tengah kemajuan teknologi. Hampir di setiap lini kehidupannya, mereka telah terbiasa melakukan sesuatu yang lebih mudah dan praktis. Akibatnya, mereka pun cenderung tidak mau repot dengan transaksi secara konvensional yang lebih ribet.



Ketiga, aman. Meskipun menyukai kecepatan dan kemudahan, generasi milenial ternyata tetap kritis terhadap masalah keamanan. Terlebih, untuk hal yang berhubungan dengan keuangan. Sebelum melakukan transaksi, biasanya mereka akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk keamanan.

Dan keempat, kekinian. Sebagaimana kita tahu, ciri khas lain dari generasi milenial adalah kekinian. Ya, mereka senang mencoba hal-hal baru. Demikian juga dalam urusan transaksi. Generasi milenial tak akan ragu mencoba berbagai jenis transaksi baru yang dapat memberikan kemudahan serta keuntungan.

Melihat empat prinsip utama tersebut, maka saya meyakini jika peluncuran QRIS oleh Bank Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2019 yang lalu ini akan menjadi berkah tersendiri bagi generasi milenial. Pasalnya, peluncuran QRIS yang mengusung semangat ‘UNGGUL’ ini memang sejalan dengan empat prinsip utama pembayaran digital ala milenial.



Semangat ‘UNGGUL’ sendiri mengandung makna UNiversal, GampanG, Untung, dan Langsung.

1. UNiversal

Universal berarti bahwa penggunaan QRIS itu bersifat inklusif. Selain bisa digunakan untuk transaksi pembayaran di manapun—baik dalam negeri maupun luar negeri, QRIS juga bisa dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemilik UMKM.

2. GampanG

Masyarakat, khususnya generasi milenial yang gemar melakukan transaksi non tunai, bisa bertransaksi dengan memanfaatkan QRIS secara cepat, mudah dan praktis serta aman dalam satu genggaman ponsel.

3. Untung

Transaksi dengan QRIS akan menguntungkan penggunanya, baik bagi merchant maupun masyarakat. Melalui QRIS, merchant tak perlu lagi memiliki banyak jenis QR Code. Dan bagi masyarakat, segala transaksi yang dilakukannya dengan QRIS akan menjadi lebih aman dan praktis.

4. Langsung

Transaksi dengan QRIS bisa langsung terjadi, tanpa perlu menunggu proses verifikasi. Prosesnya yang cepat dan aman tentu akan mendukung kelancaran segala sistem pembayaran secara non tunai yang dilakukan oleh masyarakat.



Keempat semangat ‘UNGGUL’ tersebut diusung Bank Indonesia dengan tujuan untuk mendorong efisiensi transaksi non tunai yang semakin digemari oleh masyarakat, khususnya generasi milenial. Pada akhirnya, QRIS pun diharapkan dapat mempercepat inklusi keuangan, memajukan UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia yang lebih maju.

***
#QRStandarPembayaranDigitalAlaMillenial #feskabi2019 #gairahkanekonomi #pakaiQRstandar #majukanekonomiyuk


0 Tanggapan untuk "Berkat QRIS, Gaya Hidup Generasi Milenial pun Jadi Semakin Praktis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel