Setetes Air, Sejuta Asa


Rintik air hujan memang telah menyapa kawasan karst Pegunungan Sewu nan elok dan permai. Namun, derita kemarau panjang yang dirasakan oleh masyarakatnya ternyata belum juga usai. Terlihat, masih banyak di antara mereka yang harus bersusah payah mencari air dengan menggali telaga dan sungai-sungai.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Wahyudi. Demi mendapatkan air, siang itu ia terpaksa membuat lubang di dasar sungai yang mulai mengering. Air yang ada di dalam lubang tersebut kemudian disedotnya menggunakan diesel. Lantas, digunakannya untuk mandi, mencuci pakaian dan mengairi lahan jagung miliknya.

“Mau mencari sumber air lain sudah tidak ada. Semuanya kering,” tutur warga Dusun Koripan, Desa Wiroko, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah kala itu.

Tidak hanya di daerah Tirtomoyo. Dalam setengah tahun belakangan ini, ternyata sebagian besar wilayah Wonogiri bagian selatan juga terdampak kekeringan. Nyaris semuanya mengalami krisis air. Beberapa bahkan krisis pangan, karena gagal panen. Dan tentu saja, tak jauh beda dengan Wahyudi. Agar dapat bertahan hidup, mereka pun rela mengais sisa-sisa air yang ada di dasar telaga ataupun sungai-sungai.

(Kemarau panjang memaksa warga Wonogiri bagian selatan mengais sisa-sisa air di dasar sungai)

Kondisi semacam ini, sudah pasti sangat memprihatinkan. Pasalnya, selain berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan, kurangnya air ternyata juga berdampak pada kesehatan anak-anak balita. Terbukti, cukup banyak ditemukan kasus balita kurang gizi di daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta ini.

Seketika, saya pun teringat akan Desa Pucung, sebuah desa yang terletak sekitar 35 kilometer sebelah barat daya dari pusat Kota Wonogiri. Tepatnya, berada di wilayah Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Seperti lazimnya daerah yang berada di kawasan karst, dahulu krisis air juga menjadi permasalahan utama yang dihadapi oleh warga di desa ini. Ya, kala itu setidaknya ada 7 di antara 15 dusun di Desa Pucung yang selalu menjadi langganan kekeringan. Sebut saja Dusun Brengkut, Gundi, Jalakan, Kangkung, Mijil, Pule, dan Turi.

Sepanjang tahunnya, para warga dari ketujuh dusun ini harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan air minumnya. Tentu saja, dengan cara-cara yang masih sederhana. Mulai dari membuat bak penampung air hujan, hingga membuat lubang di sekitar telaga. Saat puncak musim kemarau tiba, mereka bahkan terpaksa membeli air bersih yang dijual oleh pihak swasta.

Konon, untuk mendapatkan satu tangki air sebanyak 6.000 liter, warga harus merogoh kocek mulai Rp200 ribuan. Satu tangkinya, rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup lima orang saja selama sepekan. Sementara bencana kekeringan di kawasan karts, terjadi secara periodik dan biasanya berlangsung selama 5 hingga 9 bulan.

Kondisi semacam ini mungkin tak begitu jadi persoalan jika menimpa warga kelas atas. Sayangnya, mayoritas masyarakat Desa Pucung adalah petani dan buruh. Kehidupannya jauh dari kata sejahtera. Dengan asumsi rata-rata kepemilikan lahan setengah hektare per KK, maka penghasilan tiap KK per bulan dari hasil pertaniannya hanya berkisar Rp600 ribuan saja.

Sungguh ironis. Namun, mereka tak punya pilihan. Persoalan air adalah persoalan hidup atau mati. Apapun akan mereka lakukan demi dapat menyambung hidup. Tak jarang, untuk memenuhi kebutuhan air saat puncak musim kemarau melanda, mereka pun harus menjual ternak serta perhiasan emas yang selama ini menjadi tabungannya.

Beruntung juga jika masih ada barang yang bisa dijual. Mereka yang tidak memiliki apapun untuk dijual, tentu hanya punya tiga pilihan: menunggu bantuan droping air dari Dinas Sosial dan ormas yang punya kepedulian, mencari sumber air ke desa lain, ataupun pasrah sambil bertanya-tanya: kapankah hujan deras akan mengguyur dusun mereka?

Atau barangkali untuk menghibur diri, mereka juga akan menciptakan sebuah lagu tentang kemarau, kemudian menyanyikannya. Sebagaimana lagu “Kemarau” milik Prambors Band, grup band yang pernah eksis di tahun 1970 hingga 1980-an.
Tiada pohon yang rindang tempat berteduh diri. Air mata pun kering, suara hati pun membisu. Saat itu, kemarau yang datang, cita hati t'rasa sendu. Cahya mentari t’rasa panas, menyinari jiwa ini.. Kapankah mendung datang mengalun, mengusir kemarau kali ini?”
Atau jangan-jangan, justru Prambors Band-lah yang terinspirasi dari kemarau di Desa Pucung, sehingga merilis lagu “Kemarau”-nya pada tahun 1986 silam? Pasalnya, kemarau panjang di Desa Pucung ini memang sudah turun temurun sejak dahulu kala. Entahlah. Satu hal yang pasti, lain dulu lain sekarang. Saat ini, warga Desa Pucung telah terbebas dari jerat kekeringan karena kemarau panjang.

Kisah indah itu bermula di tahun 2001. Ketika Joko Sulistyo bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam KMPA Giri Bahama Fakultas Geografi UMS melakukan penjelajahan gua di wilayah Kecamatan Eromoko. Kala itu, dari 13 gua yang dijelajahinya, mereka menemukan ada satu gua yang memiliki sungai bawah tanah, yaitu Gua Suruh.

(Joko Sulistyo, penyalur air kapur bagi warga Wonogiri/Dok. satu-indonesia.com)

Gua Suruh merupakan sebuah gua yang terletak di wilayah Dusun Kangkung, Desa Pucung. Kabarnya, medan untuk menuju ke sungai bawah tanah di gua ini tidaklah mudah, karena bentuknya yang vertikal. Untuk memasukinya, diperlukan peralatan yang memadai dan harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Wajar saja, jika tidak ada satu pun warga desa yang pernah memasuki gua itu sebelumnya.

Syahdan, setelah memasuki Gua Suruh sepanjang 30 meteran, Joko dan kawan-kawannya harus menyusuri lubang yang hanya cukup dimasuki oleh 3 orang saja. Tak cukup sampai di situ, mereka juga harus berjuang menaklukkan lubang vertikal sebanyak dua kali. Lubang vertikal pertama setinggi 17 meter, sedangkan lubang vertikal keduanya sekitar 11 meter. Baru setelah itu, sampailah mereka di sungai bawah tanah.

Penemuan sungai bawah tanah di Gua Suruh itu pun, seketika memantik ide Joko untuk mengangkat airnya ke permukaan. Baginya, sungai bawah tanah di gua ini memiliki potensi yang dapat menjadi solusi atas kesulitan air bersih di daerah Desa Pucung. Tak ayal lagi, pemuda kelahiran Sragen itu pun sangat berharap agar keberadaan sungai bawah tanah ini bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Beberapa penelitian pun kemudian dilakukan oleh Joko dan kawan-kawannya. Mulai dari mengukur seberapa besar debit air yang ada hingga kualitas airnya. Dari penelitian itu, didapati data bahwa sungai bawah tanah Gua Suruh memiliki debit air minimal 2 liter per detik dengan aliran konstan sepanjang tahun. Alhasil, pada puncak musim kemarau sekalipun, sungai ini diprediksi tetap memiliki ketersediaan air. Dari segi kualitas, meski kesadahannya terbilang cukup tinggi, namun air sungai bawah tanah Gua Suruh juga masih layak untuk dikonsumsi.

(Pengambilan sampel untuk mengetahui kualitas air Gua Suruh/Dok.Joko Sulistyo)

Joko dan kawan-kawannya pun semakin yakin bahwa air sungai bawah tanah Gua Suruh layak dijadikan sumber air untuk konsumsi. Mereka pun lantas melakukan berbagai kegiatan sebagai persiapan pengangkatan air. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk sosialisasi, penyuluhan, dan pendampingan kepada aparat serta masyarakat Desa Pucung.

Dalam rentang tahun 2003 hingga 2009, Joko juga mencoba mengajukan proposal pengangkatan air Gua Suruh ke berbagai pihak. Namun, belum mendapatkan hasil. Upaya pengangkatan air sungai bawah tanah Gua Suruh akhirnya menemui titik terang pada pertengahan 2012. Setelah turun kabar bahwa Desa Pucung memperoleh bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Pemerintah Daerah Wonogiri untuk kegiatan Peningkatan Sarana dan Prasarana Air bersih.

Asa Joko untuk segera mewujudkan mimpinya pun melambung. Terlebih setelah pada September 2012, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Wilayah Jawa Tengah menyatakan kesanggupannya untuk mendukung penuh kegiatan pengangkatan air sungai bawah tanah Gua Suruh.

Kegiatan megaproyek selama 6 bulan ini pun segera dimulai. Joko dan kawan-kawannya bergotong-royong bersama masyarakat setempat. Membuat jalan setapak menuju Gua Suruh, menurunkan lebih dari dua ton material untuk membendung sungai di dalam gua, hingga memasang listrik, pipa dan pompa untuk menyedot air. Tak lupa, mereka juga bahu-membahu membuat beberapa bak untuk menampung air di luar gua.

(Pembuatan bendungan di sungai bawah tanah Gua Suruh/Dok.Joko Sulistyo)

Dengan iringan tangis haru warga, pada awal 2013 air Gua Suruh pun berhasil diangkat ke permukaan untuk kemudian disalurkan melalui pipa-pipa menuju hidran umum yang dipasang di setiap dusun. Pada tahap selanjutnya, air dari hidran-hidran ini disalurkan kembali menuju rumah-rumah warga. Pengelolaannya dilakukan oleh organisasi berbasis masyarakat yang diberi nama “Tirta Goa Suruh”.

Megaproyek senilai hampir Rp460-an juta itu pun terselesaikan dengan baik berkat kerjasama banyak pihak. Sebut saja, DDII Jawa Tengah dengan bantuan dana sebesar Rp89 juta, swadaya masyarakat Pucung senilai Rp44 juta, masyarakat umum Rp13 juta, KMPA Giri Bahama senilai Rp193 juta, serta Pemda Wonogiri senilai Rp162 juta. Satu lagi, adalah berkat semangat dan perjuangan Joko Sulistyo yang tak ternilai oleh apapun.

Semangat dan perjuangan itu kemudian mengantarkannya menerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2013 untuk bidang lingkungan. Ya, langkah besar Joko memang sejalan dengan Semangat Astra Terpadu untuk Indonesia. Ia telah berhasil mengangkat air sungai bawah tanah Gua Suruh untuk kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat sejumlah 2.354 jiwa kala itu.

(Warga memanfaatkan air Gua Suruh dari salah satu hidran umum/Dok.Joko Sulistyo)

Kini, setelah air sungai bawah tanah Gua Suruh berhasil diangkat dan dimanfaatkan oleh warga sepanjang tahun, lirik lagu “Kemarau” milik Prambors pun sepertinya menjadi tak relevan lagi untuk dinyanyikan oleh masyarakat Desa Pucung. Pasalnya, saat ini mereka tak perlu khawatir lagi terhadap kekeringan saat kemarau tiba.

Lebih dari itu, kegiatan penyaluran air sungai bawah tanah yang dilakukan Joko Sulistyo ternyata juga memberi keuntungan ekonomis sangat tinggi. Warga yang semula harus membayar Rp50 ribu untuk tiap 1 meter kubik air, kini hanya perlu merogoh kocek Rp3 ribu saja untuk tiap pemakaian 1 meter kubik air dari Gua Suruh. Tak ayal lagi, tabungan yang selama ini habis mereka keluarkan untuk membeli air pun dapat disisihkan untuk biaya pendidikan anak dan berbagai keperluan lainnya.

Saat ini sudah hampir tujuh tahun, air sungai bawah tanah Gua Suruh pun terus mengalir. Bahkan, keberadaannya kini tak hanya sekadar menyelesaikan masalah kekeringan. Melainkan, juga dapat mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi masyarakat dengan pemanfaatan air sisa pemompaan dari Gua Suruh. Salah satunya, adalah melalui kegiatan produktif yang dilakukan oleh ibu-ibu PKK di Dusun Kangkung.

(Warga juga memanfaatkan air sisa pemompaan dari Gua Suruh untuk kegiatan produktif seperti menanam tanaman sayur di halaman rumah)

Dengan memanfaatkan halaman rumahnya, para ibu PKK ini menanam berbagai sayuran seperti cabai, terong, kangkung, dan bayam. Hasil panennya, setelah dikurangi modal kemudian disetorkan ke kelompoknya untuk membantu operasional perawatan pompa air. Jika dirata-rata, setiap bulannya mereka dapat menyumbangkan Rp250 ribu kepada Pengelola Air Tirta Goa Suruh.

Tak ketinggalan juga, Kelompok Karang Taruna Dusun Mijil melalui sebuah usaha bersama, yaitu pengelolaan ternak lele. Dari hasil penjualan ternak lele ini, jika dirata-rata mereka dapat menyumbangkan Rp235 ribu per bulan kepada Pengelola Air Tirta Goa Suruh. Dana-dana ini, kemudian digunakan untuk menambah biaya perawatan mesin pompa agar ia terus mengalirkan air ke rumah-rumah warga. Dari setiap tetes air yang dialirkannya, tumbuh pula sejuta asa masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya ke arah yang lebih baik.


***
#KitaSatuIndonesia #IndonesiaBicaraBaik




1 Tanggapan untuk "Setetes Air, Sejuta Asa"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel