Meneguhkan Akar Budaya Yogya Lewat Dunia Maya

Aroma khas malam tiba-tiba menyapa hidung ketika saya memasuki pelataran rumah produksi batik “Rokechi” beberapa waktu yang lalu. Seakan-akan menyambut kedatangan saya, puluhan helai kain batik yang sedang dijemur pun ikut melambai-lambai di halaman samping rumah.

Mangga pinarak, Mas,” sapa Suryanti—pemilik rumah produksi batik yang saya kunjungi itu—dengan ramah. Selepas mempersilakan duduk, wanita yang akrab dipanggil Mbak Yanti ini pun mulai berkisah banyak hal tentang batik.

Suryanti merupakan salah satu pembatik muda dari Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Konon, ia sudah bergelut dengan canting dan malam semenjak lulus dari SMK, sekitar tujuh tahun yang lalu. Saat itu, ia merasa prihatin terhadap minimnya generasi muda yang terjun di dunia produksi batik. Padahal pada masanya dulu, desa di ujung timur Yogyakarta ini merupakan desa yang nyaris semua wanitanya berprofesi sebagai pembatik.
(Suryanti, pembatik muda dari Desa Tegalrejo, Gedangsari/ Dok. Pribadi)

Berangkat dari keprihatinan itulah, Suryanti kemudian memutuskan untuk menjadi pembatik sambil melanjutkan pendidikannya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan kriya.

“Semakin fokus menggeluti batik, ya setelah selesai kuliah, Mas..” kata wanita lulusan ISI tahun 2016 ini menjelaskan.

Ibarat empedu lekat di hati, sejak saat itu Suryanti pun menjadikan batik sebagai salah satu bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Baginya, batik Gedangsari merupakan salah satu warisan budaya lokal yang harus tetap lestari. Maka berbeda dengan Sarjana Seni Kriya lainnya yang lebih memilih bekerja sebagai desainer di berbagai perusahaan, wanita seperempat abad ini justru memilih untuk membuka rumah produksi batik di kampung halamannya.
(Seorang pembatik di rumah produksi batik 'Rokechi' sedang menyanting/ Dok. Pribadi)

Di rumah produksi batik tersebut, Suryanti dibantu oleh tujuh orang pembatik lain yang setiap harinya bergelut dengan canting dan malam. Produk kerajinan batik dari para pembatik ini, selain dijual di gerai batik "Rokechi", juga dipasarkan secara online melalui media sosial.

“Sering lakunya malah lewat internet, Mas..” katanya menjelaskan.
Tiga puluh tahun sebelum lahirnya makhluk bernama ‘internet’, Marshall McLuhan telah memprediksikan tentang hadirnya desa global. Desa global merupakan konsep mengenai perkembangan teknologi komunikasi yang menganalogikan dunia sebagai sebuah desa yang sangat besar. Kala itu, pencetus teori komunikasi ini menuturkan bahwa perkembangan teknologi informasi akan menghadirkan media baru yang bisa menyatukan seluruh dunia.

Nah, hari ini kita semua menjadi saksi akan terbuktinya prediksi ilmuwan asal Kanada itu. Hanya dengan sekali klik saja, internet mampu menghubungkan kita dengan orang lain di belahan dunia mana pun melalui sebuah ruang yang sangat besar, yaitu 'dunia maya'. Tak ayal, kehadirannya pun membawa banyak berkah bagi penggunanya. Termasuk bagi Suryanti dan para pembatik Desa Tegalrejo, Gedangsari lainnya.
(Salah satu media sosial yang digunakan oleh Suryanti untuk mempromosikan batik/ Dok. instagram.com/rokechi)

Dulu sebelum adanya internet, para pembatik ini hanya bisa mempromosikan hasil kerajinannya melalui pameran-pameran yang diikutinya saja. Namun sejak berkenalan dengan internet, mereka mampu mempromosikan salah satu warisan budaya Yogya ini kepada masyarakat luas. Alhasil, pesona batik Gedangsari yang dulu sempat mati suri pun mulai bangkit kembali.

Agaknya, sebagai bagian dari perkembangan teknologi informasi, internet memang menjadi sarana yang paling tepat untuk mempromosikan apa saja. Bagaimana tidak? Jangkauan internet itu benar-benar sangat luas dan tak pernah sepi.

Pada awal tahun 2019 yang lalu, We Are Social merilis data bahwa dari 268,2 juta populasi manusia di Indonesia, 150 juta di antaranya sudah menggunakan internet. Dan setiap 24 jam, mereka menghabiskan waktunya untuk berselancar di dunia maya rata-rata selama 8 jam, 36 menit!
(Jangkauan internet sangat luas dan tak pernah sepi/ Infografis: kangmasroer.com)

Melihat angka-angka tersebut di atas, tidaklah mengherankan jika pemanfaatan internet sebagai media promosi seperti yang dilakukan Suryanti dan para pembatik lainnya mampu memunculkan demand dari kerajinan batik yang mereka hasilkan. Akhirnya, secara tidak langsung terciptalah sebuah proses supply chain yang berkelanjutan untuk menjaga kelestarian seni dan budaya lokal Yogyakarta.
Batik Gedangsari hanyalah satu di antara ribuan ragam budaya Yogyakarta yang mesti tetap lestari. Ya, sebagai ASEAN City of Culture (Kota Budaya ASEAN) periode 2018-2020, Yogyakarta memang memiliki segudang warisan budaya, baik bendawi maupun non bendawi. Selain batik yang telah berhasil mengangkat Yogyakarta sebagai World Batik City (Kota Batik Dunia), daerah istimewa yang satu ini ternyata juga memiliki warisan budaya yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di dunia loh, yaitu Sumbu Filosofi. Kalian sudah pernah mendengar tentang Sumbu Filosofi?

Sumbu Filosofi adalah konsep penataan ruang Kota Yogyakarta yang membentang mulai Panggung Krapyak, Alun-alun Selatan, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Alun-alun Utara, hingga Tugu Pal Putih dalam satu garis lurus. Sebagaimana batik yang tiap motif dan prosesnya memiliki filosofi, tata ruang warisan Sultan Hamengku Buwana I ini juga sarat akan makna filosofis, yaitu gambaran tentang sebuah perjalanan hidup manusia.
(Konsep tata ruang kota Yogya warisan Sultan Hamengku Buwana I ini sarat akan makna filosofis/ Infografis: kangmasroer.com)

Konon, jalur dari Panggung Krapyak sampai ke Kraton menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak di dalam kandungan hingga menuju kedewasaan. Sementara jalur Kraton hingga Tugu Pal Putih mengandung filosofi fase kehidupan manusia dari masa dewasa sampai kembali kepada Sang Pencipta. Nah, di jalur ini juga terdapat dua bangunan yang tak kalah penting, yaitu Kepatihan yang menjadi simbol godaan kekuasaan dan Pasar Beringharjo yang melambangkan godaan materi duniawi. Filosofi yang luar biasa, bukan?

Itulah sebabnya mengapa sebuah maha karya yang membuat Yogyakarta semakin ‘istimewa’ tersebut diajukan oleh Pemerintah Provinsi DIY dan stakeholder terkait sebagai salah satu warisan dunia. Dan kini, Historical City Centre of Yogyakarta ini telah masuk ke dalam World Heritage Tentative List (Daftar Sementara Warisan Dunia) UNESCO per tanggal 14 Maret 2017. Sangat membanggakan ya? 
(Sumbu Filosofi Yogya telah tercatat sebagai World Heritage Tentative List UNESCO sejak 14 Maret 2017/ Infografis: kangmasroer.com)

Sayangnya, meskipun telah terdaftar sejak lebih dari dua tahun yang lalu, ternyata masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya. Padahal, Pemerintah Provinsi DIY sudah berupaya keras menata kawasan Sumbu Filosofi serta melengkapi semua dokumen yang dibutuhkan sebelum deadline-nya tiba, yaitu 1 Februari 2020. Melalui program Jogja Smart Province (JSP), Dinas Kominfo DIY juga sudah mengembangkan Smart Area Sumbu Filosofi dengan memasang fasilitas Wi-Fi gratis di berbagai titik sepanjang kawasan ini.

Oleh karena itu, kini peran masyarakat tentu sangat diharapkan untuk ikut serta mewujudkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai salah satu warisan dunia. Jika pemerintah dan masyarakat mampu bergotong royong untuk menjaganya dengan baik, kita semua tentu optimis, nama Sumbu Filosofi Yogyakarta pun akan segera terangkat layaknya batik yang telah lebih dahulu menjadi salah satu warisan budaya dunia.
Kalau boleh saya umpamakan, budaya itu ibarat sebuah pohon yang diwariskan oleh orang tua. Dulu, para orang tua menanam pohon dengan harapan agar buahnya dapat dimanfaatkan oleh anak cucunya. Tentu saja, sebagai pewariskita pun harus merawatnya dengan sebaik-baiknya, agar pohon tersebut bisa tetap tumbuh sehingga buahnya bisa dinikmati oleh generasi penerus kita.

Lantas, apa buahnya budaya? Buahnya, tak lain tak bukan adalah nilai-nilai moral yang bisa kita petik dari filosofi yang terkandung di dalam sebuah budaya:  religius, andhap asortepa selira, gotong royong serta nilai-nilai baik lainnya. Nilai-nilai ini tentu akan sangat bermanfaat bagi kita dan anak cucu kita untuk mengarungi pahit manisnya kehidupan. Dan ibarat sebuah pohon, agar budaya tidak mudah tercabut dari tanah, kita pun harus menguatkan akarnya dengan dua langkah nyata, yaitu mengenali dan mengabarkan.
(Mengenali dan mengabarkan, dua langkah nyata lestarikan warisan budaya/ Dok. Pribadi)

Pertama, kenali setiap ragam budaya beserta filosofinya. Misalnya saja untuk Sumbu Filosofi, maka kita harus belajar untuk mengenali setiap sudut ruang yang ada di sekitar kawasan Sumbu Filosofi sekaligus makna yang tersirat di dalamnya. Karena setiap bangunan, penataan jalan, bahkan pohon-pohon yang ditanam pada jalur tertentu di kawasan ini memiliki nilai historis yang penuh dengan filosofi.

Dengan mengenali filosofinya tersebut, maka kita pun akan lebih peduli terhadap keberadaan sebuah budaya. Oh iya, untuk mengenali ragam budaya Yogya, jika kalian belum sempat untuk mengunjunginya langsung, kalian juga bisa memanfaatkan aplikasi Jogja Istimewa yang sudah terinstall di smartphone loh. Melalui aplikasi ini, kita bisa mengenal apa saja tentang Yogya, termasuk ragam budaya dan filosofinya. Keren banget, kan?

Dan yang kedua, kabarkan kepada masyarakat luas tentang ragam budaya Yogya tersebut melalui berbagai media, termasuk media internet. Kehebatan internet sebagai sarana promosi tentu sudah tak diragukan lagi. Berkat pemanfaatan internet, Suryanti dan para pembatik dari Desa Tegalrejo berhasil memperkenalkan batiknya kepada masyarakat luas.
(Mari, meneguhkan akar budaya Yogya lewat dunia maya!/ Dok. Pribadi)

Oleh karena itu, kita semua yang berharap Sumbu Filosofi Yogyakarta menjadi salah satu warisan budaya dunia pun harus bisa memanfaatkan ‘dunia maya’ sebagai tempat untuk mempromosikan konten-konten budaya. Baik itu dalam bentuk foto, gambar, video, ataupun tulisan.

Dengan mengabarkannya melalui dunia maya, maka keunikan Historical City Centre of Yogyakarta ini pun akan lebih cepat dikenal oleh publik. Dan selanjutnya,jika publik telah mengenalnyamereka pun akan merasa memiliki dan berusaha untuk selalu menjaganya dengan baik, sehingga keberadaannya pun akan tetap lestari.

Mengabarkan sebuah budaya melalui internet itu memang ibarat menabur pupuk yang bisa menguatkan akarnya. Yuk, ikut serta meneguhkan akar budaya Yogya lewat dunia maya!




#PagelaranTIK2019 #DiskominfoDIY

***
*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019
**Referensi:
https://datareportal.com/reports/digital-2019-indonesia
- https://kniu.kemdikbud.go.id/?p=3747

1 Tanggapan untuk "Meneguhkan Akar Budaya Yogya Lewat Dunia Maya"

  1. Bangga sekali sama Kota Yogyakarta, mendukung penuh mempertahankan budaya Jogja dengan memanfaatkan teknologi informasi ya 😊

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel